Mag-log inBu Ratih mengangguk. Dengan ragu dia menatap Ilalang."Dijemput Cindy katanya nanti diajak jenguk Bunda ke sini.""Cindu yang jemput?" Ilalang justru yang bertanya. Sementara Linggar sudah dapat menduga saat Bu Ratih menyebut Rania. Ilalang menatap Linggar yang membuang pandangannya. Bu Ratih menelisik Ilalang dan Linggar bergantian. "Kalian sedang ada masalah?"Ilalang menatap Linggar tak enak hati. "Bukannya Cindy sekarang sudah jadi customer kalian? Tadi dia cerita soal kerjasama dengan perkebunan."Ilalang kebingungan harus menjawab apa. Diamnya Linggar sudah membuatnya bingung. Terlebih sekarang saat tahu Lintang tidak ke rumah sakit, malah ikut Cindy ke taman. "Nenek pulang saja. Mungkin Lintang tak jadi ke sini, dan langsung pulang, Nek. Ini sudah malam." Akhirnya Linggar bicara saat sampai malam Bu Ratih yang menunggu Cindy datang masih tak terlihat. Ilalang bahkan begitu cemas saat menelpon Cindy dan tidak tersambung. Dia berkali-kali menatap Linggar yang hanya membua
“Bayinya tidak selamat.”Tubuh Ilalang seketika kaku.Untuk beberapa detik, ia hanya memandang Sean tanpa suara. Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi maknanya terasa seperti menghantam seluruh pertahanan yang selama ini ia bangun.“Apa maksudmu?”Sean menarik napas berat.“Aku turut berduka, Lang. Tim medis sudah berusaha menangani kondisi Linggar, tetapi bayinya tidak bisa diselamatkan.”Ilalang menggeleng pelan.“Tidak mungkin.”Sean tidak langsung menjawab. Sebagai dokter, ia memahami bahwa ada kabar yang tidak bisa diterima seseorang hanya dengan satu kali penjelasan. Namun, sebagai sahabat, ia juga tahu betapa besar harapan Ilalang terhadap bayi yang selama ini mereka nantikan.“Aku tahu ini berat,” ujar Sean lirih. “Aku pun berharap hasilnya berbeda.”Ilalang mengalihkan pandangan menuju pintu ruang perawatan.Anaknya.Bayi yang selama ini ia nantikan bersama Linggar.Bayi yang membuatnya semakin berhati-hati menjaga istrinya, memastikan perempuan itu makan teratur, be
“Lang, sabar."Ilalang dengan mata mengaca menatap Sean. "Linggar, Sean."Ilalang mencengkeram lengan Sean tanpa sadar. Seolah mencari pegangan. "Iya, aku tahu kamu sangat mengkhawatirkan dia. Untungnya dia tidak mengalami benturan keras di kepala. Untung dia tidak tertabrak langsung hingga ia luka ringan. Kami sudah melakukan penanganan awal dan sedang memantau kondisinya.”“Sean, tolong jawab saya dengan jelas. Apakah Linggar akan baik-baik saja?”“Mohon tenang dulu, Lang. Kami masih perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui dampak kecelakaan tersebut. Saat ini, pasien belum sadar.”Wajah Ilalang seketika pucat.“Belum sadar?”Sean mengangguk.“Kami juga perlu memperhatikan kondisi kehamilannya. Karena pasien sedang mengandung, kami harus memastikan keadaan ibu dan janinnya melalui pemeriksaan yang sesuai.”Ilalang melepaskan tangan Sean perlahan.Kehamilan.Ia bahkan belum sempat memikirkan bayi mereka ketika melihat Linggar terbaring dengan darah m netes. Sekarang, k
Mata Linggar membelalak. Tubuhnya membeku, sementara cahaya kendaraan itu semakin dekat.“Ah...!”Benturan keras terdengar.Tubuh Linggar terlempar, tasnya terlepas dari genggaman. Ponselnya jatuh dan meluncur ke tepi jalan, sementara suara orang-orang yang berteriak terdengar semakin jauh.Sebelum pandangannya menggelap, satu nama melintas dalam pikirannya.Mas Ilalang....Lalu semuanya menjadi hitam.“Linggar!”Ilalang berlari menghampiri tubuh yang tergeletak di jalan. Napasnya tercekat saat melihat darah mengalir dari kaki istrinya, membasahi pakaian yang dikenakannya.“Linggar, buka matamu!”Ilalang berlutut, mengangkat kepala istrinya dengan tangan gemetar. Tubuh Linggar terkulai lemas, tanpa jawaban sedikit pun meski Ilalang berkali-kali memanggil namanya.“Pak, jangan digerakkan dulu! Kami sudah menghubungi ambulans!”“Aku tidak bisa menunggu!” bentak Ilalang.Ia mengangkat tubuh Linggar dengan hati-hati, lalu membawanya menuju mobil yang berhenti tak jauh dari sana. Darah pad
Rania mengangguk pelan.“Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Tapi aku rasa Cindy punya bukti kuat bahwa Ilalang adalah ayah kandung Lintang. Dia tidak mungkin bicara tanpa bukti."Linggar memejamkan mata. Kalimat itu terngiang dalam kepalanya.Ayah kandung Lintang adalah Ilalang. Lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Lelaki yang selalu mencium kening Lintang sebelum berangkat bekerja. Lelaki yang memanggilnya putri kecil dan menggenggam tangannya setiap kali mereka berjalan bersama.Apakah Ilalang tahu?Apakah selama ini lelaki itu menyayangi Lintang tanpa mengetahui hubungan darah mereka?Atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya?Linggar membuka mata. Air mata mulai menggenang, tetapi ia berusaha menahannya.“Rania, jawab aku dengan jujur. Mas Ilalang tahu tentang ini?”Rania menggeleng.“Aku tidak tahu apakah Ilalang pernah mendengar cerita kehamilan Cindy. Tapi sejauh yang kuketahui, Cindy pergi sebelum sempat memberitahunya.”Linggar menunduk. Napasnya tak be
Besuknya. “Mas, hari ini aku kamu tinggal di sekolah Lintang."Ilalang yang sedang merapikan jam tangannya langsung menoleh. Tatapannya berhenti cukup lama pada wajah Linggar, seolah sedang memastikan ia tidak salah mendengar.“Kenapa?”“Ada rapat wali murid. Aku mengantar Lintang, sekalian ikut rapatnya.”“Kamu yakin ada rapat?” Ilalang bertanya seolah ragu. Linggar mengangguk sambil merapikan kerah baju suaminya. “Namanya juga orang tua murid, Mas. Sesekali harus ikut kegiatan sekolah.”“Kenapa tidak bilang sejak kemarin?”“Aku baru ingat.”Ilalang menyipitkan mata. Tangannya meraih pinggang Linggar, lalu menarik perempuan itu mendekat.“Kalau kamu merasa tidak enak badan, jangan memaksakan diri. Rapat bisa diwakilkan atau ditinggalkan.”“Aku baik-baik saja.”“Linggar.”“Iya, Mas?”“Jangan membuatku khawatir.”Kalimat sederhana itu membuat jemari Linggar terhenti sesaat. Ia menatap lelaki yang beberapa waktu terakhir selalu memperlakukannya seolah dirinya bisa pecah hanya karena s







