Home / Romansa / JANGAN NAKAL, TUAN CEO! / 4. Hukuman Apa, Pak?

Share

4. Hukuman Apa, Pak?

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2026-01-20 16:55:11

Di ruang meeting, Shanum benar-benar kehilangan fokus meski raga dan suaranya mencoba bertahan di depan jajaran orang-orang penting.

Sebagai sekretaris, ia mengemban tanggung jawab untuk mempresentasikan Laporan Evaluasi Produk yang telah ia kerjakan satu minggu belakangan.

Suaranya terdengar stabil saat menjelaskan grafik pertumbuhan pengguna, namun ia tak bisa membohongi Michael yang terlalu teliti mengamati ekspresinya.

Di mata Michael, jemari Shanum begitu gemetar saat memegang laser pointer di bawah sorot lampu proyektor. Ia mengamati setiap gerak-gerik Shanum dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Melihat sekretarisnya nyaris kehilangan napas karena ketakutan di depannya sudah memberinya kepuasan tersendiri.

Dan ketika pandangan mereka bertemu, Shanum sangat gugup. Ia bahkan menghindari tatapan bos-nya yang terkunci padanya.

“Dia pasti gak sabar buat pecat aku!” batin Shanum sembari terus memberikan jawaban ketika salah beberapa eksekutif bertanya padanya. Tentu ia tak mau terlihat gugup di saat penting seperti ini.

Usai melakukan presentasi, Shanum duduk kembali di tempat duduknya, persis di sebelah Michael.

Saat Shanum mendaratkan bokongnya, ia mengerjap lambat selagi matanya mengunci pada Michael yang tak memberi respon apa-apa. Pria itu mengabaikan keberadaannya sepenuhnya, seolah insiden memalukan di depan lift tadi tidak pernah terjadi.

“Lanjutkan laporannya,” kata Michael singkat pada salah satu eksekutif, disusul dengan presentasi kedua, ketiga, dan keempat yang membahas kelanjutannya.

Dan selama rapat berlangsung, Michael hanya mendengarkan dengan tangan tertaut di depan dagu. Ia hanya berbicara sesekali, memberi arahan yang hanya terdiri dari satu atau dua kalimat saja, sambil sesekali mengangguk pada poin-poin teknis yang disampaikan oleh direktur pemasaran.

Sikap acuh Michael selama meeting berlangsung membuat Shanum merasa kerdil. Ia seperti dihakimi oleh sikap Michael yang begitu tenang, namun seolah penuh intimidasi.

Selama 45 menit terbelenggu dalam situasi yang tak mengenakkan, akhirnya meeting selesai.

Michael menutup map di depannya dengan tanpa menimbulkan suara. Disusul dengan ucapan, “Cukup, meeting kita hari ini selesai.”

“Baik, Pak.”

Michael pun berdiri, ia mengabaikan Shanum dan para eksekutif yang berkemas meninggalkan ruangan.

Lalu, ia melangkah tenang menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu. Tanpa membalikkan badan, ia berucap, “Shanum, ke ruangan saya sekarang. Bawa laporan yang kamu presentasikan tadi.”

Shanum mendongak. Meski jantungnya berdebar kencang lantaran dipenuhi dengan rasa takut yang menyesakkan, ia tetap menyanggupinya. “B–baik, Pak.”

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Michael kembali melangkah pergi. Begitu punggung tegap itu menghilang di balik pintu, barulah Shanum bisa mengembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan di tenggorokan.

“Mau apa ya Pak Michael panggil aku ke ruangannya? Jangan-jangan ….” Sambil menggelengkan kepala, Shanum menolak berspekulasi buruk.

Ia segera membereskan barangnya dengan teliti dan memastikan kejadian memalukan tadi tidak terulang lagi di tempat ini.

Lalu, ia keluar dari ruang meeting dan menghadap ke ruangan bosnya—seolah ia hendak melakukan sidang skripsi yang amat menakutkan.

“Permisi, Pak. Ini saya, Shanum,” ucapnya pelan setelah mengetuk pintu dua kali.

“Masuk.”

Suara bariton Michael terdengar me yahut dari dalam.

Lalu, Shanum mendorong pintu dan melangkah masuk. Ia mendapati Michael sedang duduk di sofa dengan kacamata bertengger di pangkal hidung, tampak sangat fokus pada layar laptop di hadapannya.

Tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari pekerjaannya, Michael hanya memberikan isyarat singkat dengan satu kata saat Shanum sudah mendekat.

“Duduk!”

“B—baik, Pak,” sahut Shanum kaku.

Shanum segera mengambil posisi duduk di sisi sofa yang berseberangan dengan Michael. Keheningan yang menyesakkan langsung menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat. Ia menanti dengan cemas apa yang akan diucapkan oleh bosnya itu.

Saat sang bos bahkan tak mengatakan apa-apa setelah satu menit mereka berada di ruangan yang sama, Shanum akhirnya memiliki keberanian berbicara sambil menyodorkan berkas yang pria itu minta.

“Pak, ini dokumennya.” Shanum menghentikan gerakan tangannya saat Michael akhirnya menutup laptop dengan gerakan pelan.

Michael melepas kacamatanya, lalu menyandarkan punggung ke sofa sambil menatap Shanum lurus-lurus. “Gugup, tidak percaya diri, dan jauh dari kata profesional. Itu bukan standar kerja yang saya terapkan di sini.”

Tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan, maka Shanum mengakuinya. Sambil menunduk, ia meremas jari jemari yang bertaut di atas pangkuan. “M–maafkan saya, Pak. Saya tidak akan melakukannya lagi lain kali.”

Michael melontarkan pertanyaan lagi sambil terus memandangi Shanum yang ketakutan. “Apa ada hal lain yang mengganggu konsentrasimu?”

“I–iya, Pak. Saya rasa kurang sehat pagi ini. Sedikit pusing karena saya melewatkan sarapan dan … sisa mabuk semalam masih membuat saya pengar,” bohong Shanum pelan, bahkan ia sendiri merasa alasan itu terdengar sangat payah.

Michael tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap Shanum selama beberapa detik. Kemudian, ia meraih cangkir kopinya, menyesapnya pelan sekali, lalu meletakkannya kembali tanpa suara di atas meja.

“Begitu?” Michael bertanya pendek, skeptis. “Saya kira karena benda yang kamu jatuhkan di depan saya tadi pagi.”

Shanum akhirnya mendongak. Ia memberanikan diri menatap sepasang mata biru terang di depannya, mencoba mencari celah untuk memberikan alasan yang masuk akal. Namun, tatapan Michael yang tenang dan sangat tajam justru mengunci lidahnya.

“T–tidak ada hal lain, Pak,” jawab Shanum pada akhirnya. “Saya hanya ... kurang istirahat. Hanya itu.” Setelah bicara demikian, Shanum tersenyum canggung, menunggu respon lawan bicaranya.

Michael tidak segera menyahut. Ia tidak mendebat atau bertanya lebih jauh seperti orang yang sedang penasaran.

“Hm ....” Michael hanya bergumam pelan sembari meraih dokumen di meja, lalu membukanya tanpa mengalihkan pandangan dari Shanum. “Kalau begitu, saya harap ‘kelelahan’ itu tidak membuat kamu melakukan kecerobohan yang sama dua kali. Terutama di depan saya.”

“Baik, Pak.”

Shanum kembali terkejut saat Michael tiba-tiba berdiri. Ia melangkah tenang menghampiri Shanum.

Tubuhnya yang tinggi menjulang merunduk, lalu Michael berbisik tepat di dekat telinga wanita itu. Posisi mereka begitu dekat hingga Shanum bisa merasakan deru napas bosnya yang hangat.

“Karena jika sampai terulang, saya sendiri yang akan memberi kamu hukuman.”

Shanum membeku. Napasnya tercekat. “H–hukuman? Hukuman apa, Pak?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   9. Penyatuan Dua Raga

    “Hmmmmph.” Shanum terdengar merintih. Kedua tangannya mendekap erat raga gagah Michael yang kini mulai mendobrak pertahanannya, membuatnya blingsatan ke kiri dan ke kanan saat c*mb*an terus-menerus datang tanpa jeda.Meski setengah sadar karena terpengaruh alkohol dan obat per*ngs*ng, tapi Shanum tetap bisa merasakan ‘benda pusaka’ Michael yang hangat mulai menyeruak masuk pelan ke liangnya.Perlahan, pinggul Michael bergerak maju, melesakkan se-inchi demi se-inchi ‘barangnya’ ke dalam tubuh Shanum. “Ssssssh …,” desis Shanum, terasa sakit, namun jelas ia sangat menginginkannya.Tak hanya melenguh, Shanum juga mencakar otot bisep Michael dengan kuat, dan Michael pun tahu Shanum sedang kesakitan karenanya. Dibayangi rasa bersalah, Michael pun bertanya, “Perlu kita hentikan?”Menggeleng lemah, Shanum tersenyum malu-malu, kedua mata terlihat sayu di bawah cahaya temaram yang menyorot tubuh polos keduanya. “No! Teruskan ….”Mendapat persetujuan, Michael tentu saja Michael akan meneruska

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   8. Penyatuan Dua Raga

    “Mungkinkah Mr. Sawyer memberi obat per4ngs4ng ke dalam minumanku? Tapi, itu mustahil. Minuman itu tersegel dan gelasnya pun bersih,” tanya Shanum dalam hati. Kedua matanya menyipit, lalu kecurigaan ia tujukan pada sang bos. Masih tak yakin, Shanum kembali bertanya dalam hati, “Atau justru … Pak Michael-lah yang melakukan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanku— karena dia telah menyadari aku mengambil cel4na d4l4mnya dan … membawa peng4m4n ke kantor?”Saat beranjak, Shanum sedikit oleng, hendak jatuh ke samping, Michael mendekati menarik lengannya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael sambil memegangi lengan kanan Shanum.Shanum bergeming. Telapak tangan halus Michael yang kemudian mengusap lengannya, membuat sesuatu dalam dirinya menekan hebat dan membuatnya cukup gelisah. Ia tertegun susah payah, sebelum menghela napas berat sambil beranjak dari sofa. “Maaf, tapi aku harus pulang, Pak.”Michael menyusul berdiri, masih memegangi lengan Shanum agar gadis ini tidak jatuh. “Y

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   7. Meeting Di Bar

    “Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis.“Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.”Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’. “Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis.“Pukul delapan malam nanti, Pak.”..Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut,

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   6. Jangan Menyusahkan!

    Usai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi. Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?”Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi.Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.” Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.”Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya me

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   5. Reaksi Biologis

    “H–hukuman? Hukuman apa, Pak?” Shanum menggigit bibir bawahnya, agak sanksi kalau Michael membahas ‘hukuman’ yang disebutkan tadi. Sedangkan Michael tidak menjawabnya. Ia menarik diri, membiarkan pertanyaan sekretarisnya itu menggantung di udara. Setelah duduk, ia kembali membuka laptopnya sambil berujar, “Kembalilah ke ruanganmu.” Shanum pun segera tersadar dari lamunannya. Ia berpikir, setelah melakukan kesalahan fatal tadi pagi, ia akan dihukum berat seperti pemotongan gaji, dipindah tugaskan ke cabang lain yang jauh dari rumahnya, di tempat pelosok, atau lainnya yang menurutnya buruk. Tapi, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi. Jadi, Shanum bisa bernapas lega. Begitu ia merapikan penampilannya, ia segera berpamitan. “Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Tidak ada sahutan, dan Shanum makin kesal karena sikap bosnya yang sangat dingin. Begitu ia keluar ruangan bosnya, ia merutuki, “Dasar kanebo kering!” Shanum berjalan cepat menuju ruangannya, mengabaikan seorang wanita cantik

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   4. Hukuman Apa, Pak?

    Di ruang meeting, Shanum benar-benar kehilangan fokus meski raga dan suaranya mencoba bertahan di depan jajaran orang-orang penting.Sebagai sekretaris, ia mengemban tanggung jawab untuk mempresentasikan Laporan Evaluasi Produk yang telah ia kerjakan satu minggu belakangan.Suaranya terdengar stabil saat menjelaskan grafik pertumbuhan pengguna, namun ia tak bisa membohongi Michael yang terlalu teliti mengamati ekspresinya.Di mata Michael, jemari Shanum begitu gemetar saat memegang laser pointer di bawah sorot lampu proyektor. Ia mengamati setiap gerak-gerik Shanum dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Melihat sekretarisnya nyaris kehilangan napas karena ketakutan di depannya sudah memberinya kepuasan tersendiri.Dan ketika pandangan mereka bertemu, Shanum sangat gugup. Ia bahkan menghindari tatapan bos-nya yang terkunci padanya. “Dia pasti gak sabar buat pecat aku!” batin Shanum sembari terus memberikan jawaban ketika salah beberapa eksekutif bertanya padanya. Tentu ia tak mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status