Beranda / Romansa / JANGAN NAKAL, TUAN CEO! / 3. Sekotak Pengaman Jatuh

Share

3. Sekotak Pengaman Jatuh

Penulis: OTHOR CENTIL
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 16:51:24

“Kalau saya gak bawa kamu ke sini, lalu saya harus bawa kamu ke mana? Saya tinggal kamu di restoran, gitu?”

Perasaan canggung membuat Shanum menyahut kikuk, “Oh, gitu ya?”

“Hm,” sahut Michael singkat. Ia kemudian memerintah dengan nada dingin, “Kalau sudah lebih baik, silakan pulang.”

Shanum terkejut. Pria ini terlihat begitu perhatian padanya semalam. Kenapa sekarang berubah?

“Bapak ngusir saya, ya?” tanya Shanum.

Michael menaikkan sebelah alisnya. “Apa saya terlihat mengusir? Saya menyuruh kamu pulang karena saya pikir keluarga kamu pasti khawatir karena kamu gak pulang.”

Shanum membulatkan bibirnya membentuk huruf O besar. “Oh, iya ya, Pak. Kenapa saya gak kepikiran?”

Michael memperingatkan Shanum lagi. “Hari ini ada meeting, ‘kan? Ada baiknya kamu bergegas. Saya tidak mau kamu terlambat.”

Sambil mengerucutkan bibir, bahu Shanum terkulai. Ia pikir, setelah mabuk dan ketiduran di kediaman bosnya, ia bisa cuti. Ternyata, tidak sama sekali.

Shanum akhirnya menyahut lesu, “Baik, Pak.”

Setelahnya, Shanum pergi dari sana. Ia tak habis pikir, kenapa Michael seperti memiliki kepribadian ganda?

Di taksi online yang Shanum tumpangi, ia mengecek kelengkapan barang di dalam tote bag-nya.

Semuanya utuh, Shanum tersenyum lega, “Syukurlah.”

Saat hendak menutup resleting tote bag-nya, jantung Shanum mendadak berdebar kencang. Celana dalam milik bosnya masih ada di sana.

Ia menatap lekat ukuran kain yang begitu lebar, membuat ingatannya terlempar pada postur tinggi tegap Michael yang selama ini tampak tak tersentuh.

Bayangan tentang seberapa besar ukuran yang tersembunyi di balik setelan mahal bosnya itu mendadak memicu obsesi yang tak masuk akal di kepalanya.

Didorong oleh rasa penasaran yang sudah di luar kendali, Shanum memantapkan niat impulsifnya.

Bukannya pulang dan berganti pakaian, lalu bergegas ke kantor, Shanum justru meminta sopir taksi berhenti di apotek terdekat untuk membeli ‘pengaman’ dengan ukuran terbesar, hanya demi membuktikan apakah fantasinya tentang Michael benar-benar nyata atau tidak?

****

Gara-gara fokus pada pengaman tadi setibanya di rumah, Shanum nyaris terlambat!

Kini, ia tiba di kantor dengan napas memburu. Detik jam terasa mengejarnya, waktu sudah menunjuk ke angka 07.59. Tersisa enam puluh detik sebelum waktu absen berakhir.

Ia terpaksa bergerak secepat kilat tanpa sempat lagi memeriksa kerapian tas selempangnya yang setengah terbuka.

Begitu jempolnya menekan mesin absensi di lobi, lampu hijau menyala. Shanum mengembuskan napas panjang, lega.

“Untung nggak telat!” gumamnya sambil menyeka keringat tipis di dahi.

Shanum berlari kencang menuju lift, menekan tombol berulang kali dengan jemari yang gemetar.

Begitu pintu lift terbuka, Shanum berlari tunggang langgang menuju ruangannya. Sementara di dalam tasnya, ponsel berdering nyaring.

Ia panik, tangannya merogoh ke dalam tas dengan terburu-buru hingga tidak fokus pada jalan di depannya. Namun, langkahnya terhenti paksa saat ia secara tiba-tiba menghantam dada bidang seseorang.

“Aaawh!”

Shanum jatuh terjengkang di lantai, sementara isi tasnya berhamburan liar di atas lantai marmer yang mengkilap. Mendadak, dunianya seolah berhenti berputar.

Matanya memelotot saat menangkap sebuah kotak pink magenta tergelincir, lalu berhenti tepat di depan ujung sepatu kulit milik Michael, hanya berjarak beberapa mili.

Shanum memekik panik, “Ya ampun, Pak, maaf. Itu—”

Tanpa pikir panjang, ia bermaksud menyambar benda keramat yang tak seharusnya ada di antara mereka sebelum Michael menyadarinya.

Namun, gerakannya terhenti seketika lantaran gerakan Michael jauh lebih cepat dari yang ia kira. Jemari kokoh pria itu sudah lebih dulu memungut benda itu dari lantai.

Michael memutar benda itu dengan gerakan lambat. Seolah ia sedang mengagumi desain artefak kuno yang baru saja ditemukan oleh arkeolog.

Shanum tahu Michael sedang membaca setiap detail informasinya. “Pak, itu—”

Gegas Shanum menegakkan badan, mencoba meraih benda di tangan Michael itu dengan gerakan kikuk, berharap sang bos akan melepaskannya begitu saja.

Namun, Michael justru menarik tangannya menjauh, memberi jarak hingga Shanum harus condong ke arahnya.

“Ini—milik kamu?” tanya Michael, alis tebalnya terangkat.

Menggeleng, bernapas terengah, wajah kuyu Shanum menunduk lesu, sama sekali tak berani menatap lelaki tinggi besar di hadapannya. “B–bukan, Pak. I–itu ... itu titipan teman saya.”

Shanum tahu Michael tak akan percaya sebab ia memberi alasan paling klise yang pernah ada. Memalukan sekali!

“Oh.” Michael menyahut singkat.

Meski sebenarnya Michael tak percaya, namun ia langsung mengembalikan benda itu ke atas telapak tangan Shanum yang masih menengadah kaku di depan dada, seperti seorang atasan yang mengembalikan pulpen milik bawahannya.

Sebelum pergi, Michael bertanya pada Shanum tanpa ekspresi, “Meeting dimulai 15 menit lagi. Sudah siap presentasi-nya?”

Shanum sadar bahwa ia telah melakukan hal yang paling memalukan. Ia mengangguk, menunduk. “S–sudah, Pak. Sudah.” Setelahnya, bibir dikulum ke dalam menahan sebuah emosi yang tengah membungkus sekujur batin perihnya.

Kemudian, Michael melangkah pergi tanpa sepatah kata pun.

Setelah Michael pergi, Shanum memejamkan mata erat. Ia merutuki rentetan kebodohannya di kepala, memaki dirinya sendiri dalam keheningan lorong yang mencekam.

“Gila! Kamu benar-benar sudah gila, Shanum!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   150. I Love You For Now, Tomorrow, And Forever (TAMAT)

    “Sekarang, aku paham mengapa Allah mempertemukan kita, Shine. Itu karena... kita memang sudah ditakdirkan bersama, bahkan sejak kita belum dilahirkan.”Shanum mendongak, menatap lekat manik mata suaminya yang berkilat di bawah cahaya lampu kristal. “Dan apa kau bersyukur karena itu?” tanyanya dengan senyum tipis yang menggoda.“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena sekarang kamu resmi menjadi istriku. Kita akan bersama selamanya,” jawab Michael mantap.Seolah tak lagi memedulikan ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka, Michael langsung menangkup wajah Shanum dengan kedua tangannya. Di atas lantai dansa yang megah itu, ia mendaratkan ciuman dalam yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh emosi yang sempat tertahan sejak pagi tadi.Disaksikan oleh seluruh tamu undangan di tengah dekorasi biru muda yang magis, Michael tak ragu lagi menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan hangat, merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah sah Kilat lampu blitz menyambar bertubi-tubi, men

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   149. Jodoh Lauhul Mahfudz

    “Memberi cucu untuk Mama?” Shanum mengulang kalimat itu. Dia lantas tersenyum simpul ke arah Michael yang juga tersenyum malu-malu.Michael maka mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu, pelan sekali, “Tentu saja kami akan memberikannya. Bukankah sejak dulu, kami sudah membuatnya? Jadi, potensi Mama memiliki cucu tahun depan akan terlaksana.”Lucy tersenyum bahagia mendengarkan itu. Kini, ia peluk anak dan menantunya itu dengan penuh kasih. “Ya sudah kalau begitu. Berbahagialah kalian berdua.”Usai pelukan itu terlepas, Shanum dan Michael mengambil tempat duduk di samping Damar, ayahnya Shanum.Tak lama berselang, penghulu pun tiba. Setelah mengecek kelengkapan berkas-berkas pernikahan dan memastikan tak ada yang salah, barulah penghulu itu memulai acara dengan cara menjabat tangan Michael dan mengucapkan ikrar ijab kabul.Dan dalam satu tarikan napas, Michael akhirnya mampu melakukannya. Lancar, dan tanpa hambatan. Begitu para saksi berkata ‘Sah’, ia menangis lantaran haru. Usai p

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   148. Berikan Mama Cucu Segera

    “Mempelai wanita sudah siap, Tuan. Anda harus segera turun.”Suara ketukan di pintu itu memecah keheningan di dalam ruang ganti. Pukul 07.45, Michael sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia tampil berbeda dengan setelan baju kurung putih lengkap dengan kopyah berwarna senada. Biasanya, ia lebih akrab dengan potongan jas atau tuksedo yang kaku, namun pagi ini, kesederhanaan pakaian tradisional itu justru membuatnya tampak jauh lebih tenang sekaligus berwibawa.Ia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri, sembari sesekali membetulkan posisi kopyah yang sebenarnya sudah pas. Jemarinya sedikit bergetar saat ia mencoba mengatur napas yang mulai pendek. Tidak ada persiapan yang berlebihan, fokusnya hanya satu: kalimat ijab kabul nanti harus tuntas dalam satu tarikan napas.“Saya terima nikahnya Shanum ….”Kalimat itu terus ia tancapkan dalam memori, mengulanginya berulang kali di dalam hati. Ada ketakutan konyol yang membayangi. Jika ia sampai salah berucap ijab kabul sebanyak tiga

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   147. Butuh Kehangatanmu

    “Bajingan kamu, Mike! Mikeeee! Lepaskan aku! Lepaskan!”Di dalam jet pribadi, Felice diikat kencang oleh bawahan Michael. Ia meronta berulang kali meminta dilepaskan. Bahkan saat Michael mendekat, ia meludahi pria itu hingga membuatnya marah.Telapak tangan kanannya kemudian bergerak mencapit dagu wanita itu. “Kamu menyebutku bajingan, tetapi kamu sendiri brengsek, Sialan. Kalau kamu tidak membuatku marah—mengadu dombaku dengan Shanum, mungkin aku tidak akan begini.”Sebelum Felice meludahinya lagi, ia menambahkan, “Sekarang, kamu tahu kemarahanku, ‘kan? Aku bukan pria yang bisa kamu singgung, Felice. Sudahi kegilaanmu itu!”Michael segera mengempaskan wajah Felice. Dengan napas terengah, ia bersiap pergi dari kabin itu. Tapi, langkahnya melambat ketika ia mendengar rintihan wanita itu yang menyayat hati.“Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaanku, sementara sejak dulu aku sangat-sangat menginginkanmu,” katanya getir. Felice kembali terisak dan dia berteriak-teriak, “Bahkan, kita sejak

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   146. Mencicil Buat Bayi

    “Apa itu tidak akan mengganggu bayi kita?” tanya Michael dengan nada yang benar-benar khawatir. Ia kemudian menyentuh perut Shanum dengan telapak tangannya, lembut sekali. Takut kalau gerakannya akan membuat bayinya terkejut.“Hah?” Shanum sempat melongo selama beberapa detik, namun sedetik kemudian tawanya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Michael yang tampak sangat polos dan tulus mengkhawatirkan hal itu. Saking gelinya, ia sampai merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tak lupa, ia juga sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.Michael sama sekali tidak ikut tertawa. Ia justru menegakkan punggungnya dan menatap Shanum dengan serius. “Apanya yang lucu? Bukannya itu larangan dokter, ya? Tidak boleh berhubungan saat kandungan masih muda. Jadi untuk beberapa bulan ke depan, aku akan menyimpan hasratku. Dan kumohon, jangan memancingku, Shine.”Mendengar permintaan serius itu, Shanum perla

  • JANGAN NAKAL, TUAN CEO!   145. Aku Hamil

    “Bagaimana? Sanggup atau tidak? Kalau tidak, silakan keluar dan carilah istri baru.”Michael terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia terjebak dalam keheningan yang menyesakkan.Di dalam benaknya, gejolak batin sedang bertarung hebat. Tentu saja, ia sudah bersumpah dalam hati untuk menjaga Shanum seumur hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan tangannya bertindak kasar atau hatinya berpaling.Namun, syarat yang diajukan Damar terasa seperti jerat yang mustahil. Bagaimana mungkin ia bisa menjamin Shanum tidak akan pernah menangis? Hidup tidak pernah selembut itu. Tangis bisa terjadi karena rindu, karena duka kehilangan, atau bahkan karena perselisihan kecil yang lumrah dalam sebuah pernikahan.Michael tahu, satu tetes air mata Shanum yang jatuh karena kesalahannya dan sekecil apa pun itu bisa berarti maut jika ia mengiyakan sumpah berdarah sang calon mertua.“Tuan Damar ....” Michael memulai dengan suara serak, mencoba mencar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status