Masuk“H–hukuman? Hukuman apa, Pak?” Shanum menggigit bibir bawahnya, agak sanksi kalau Michael membahas ‘hukuman’ yang disebutkan tadi.
Sedangkan Michael tidak menjawabnya. Ia menarik diri, membiarkan pertanyaan sekretarisnya itu menggantung di udara. Setelah duduk, ia kembali membuka laptopnya sambil berujar, “Kembalilah ke ruanganmu.” Shanum pun segera tersadar dari lamunannya. Ia berpikir, setelah melakukan kesalahan fatal tadi pagi, ia akan dihukum berat seperti pemotongan gaji, dipindah tugaskan ke cabang lain yang jauh dari rumahnya, di tempat pelosok, atau lainnya yang menurutnya buruk. Tapi, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi. Jadi, Shanum bisa bernapas lega. Begitu ia merapikan penampilannya, ia segera berpamitan. “Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Tidak ada sahutan, dan Shanum makin kesal karena sikap bosnya yang sangat dingin. Begitu ia keluar ruangan bosnya, ia merutuki, “Dasar kanebo kering!” Shanum berjalan cepat menuju ruangannya, mengabaikan seorang wanita cantik asing yang berjalan ke arah ruangan bosnya, lalu masuk tanpa mengetuk, menghiraukannya. Benaknya bertanya, “Siapa wanita itu? Apa kekasih Pak Michael?” Tak mau terlihat makin penasaran, Shanum masuk ke ruangannya. Ia segera menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya ini. **** Dua hari berselang, Shanum pergi ke kantor seperti biasa. Ia mengerjakan tugas secepat yang ia bisa, sangat teliti, dan penuh konsentrasi. Sejak pagi, ia sudah berkutat menyiapkan materi presentasi untuk meeting siang ini. Sebelum menyerahkannya pada Michael, ia memeriksa kembali dengan teliti, tidak ada lagi kesalahan kecil, tidak ada lagi kecerobohan. Ia ingin membangun benteng profesionalisme yang kuat agar Michael tidak punya alasan untuk menegurnya lagi lain kali. Pukul 13.20, Shanum berdiri di depan pintu kaca tebal yang memiliki aksen frosted atau blur di bagian tengahnya. Melalui bagian kaca yang bening di sisi atas, ia bisa melihat bayangan Michael yang sedang merapikan lengan kemejanya. Shanum mengetuk. Setelah Michael memberikan isyarat masuk, ia mendorong pintu kaca itu. Aura dingin langsung menyergapnya begitu ia melangkah ke dalam. “Pak, meeting dengan Mr. Cho sebentar lagi. Apa kita harus pergi sekarang—mengingat perjalanan menuju tempat pertemuan yang sudah dijanjikan memakan waktu sekitar 35 menit,” lapor Shanum begitu ia mencapai meja CEO. Michael perlahan berbalik. Tatapan mata birunya yang tajam sempat terpaku sejenak pada Shanum sebelum ia memeriksa jam tangan peraknya. “Hm. Berkasnya?” Shanum mengetuk map di tangannya, menunjukkan kalau berkasnya telah siap. “Sudah siap, Pak. Semua sudah saya teliti. Perlu Anda cek ulang, Pak?” “Nanti saja, kita pergi sekarang.” Michael meraih jasnya, lalu melangkah lebar melewati pintu kaca itu. Shanum segera mengekor di belakang, mencoba mengimbangi langkah tegap sang CEO menuju lift pribadi. Mereka masuk ke bagian belakang SUV mewah yang sudah menunggu di lobi. Michael duduk di sisi kanan, sementara Shanum di sisi kiri. Karena kepalanya masih dipenuhi jadwal yang sangat padat dan ketakutan akan terlambat bertemu Mr. Cho, Shanum bergerak sangat terburu-buru. Ia langsung sibuk merapikan tumpukan berkas di pangkuannya tanpa sempat menarik sabuk pengaman. Mobil melaju cukup kencang. Di dalam kabin yang sunyi, tidak ada interaksi antara Michael dan Shanum. Michael sibuk dengan ponsel di tangannya, terlihat mengecek bursa saham, sementara Shanum kembali mengecek tab-nya, memastikan poin-poin meeting nanti sudah sesuai dan tidak ada kesalahan sekecil apa pun. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua kilometer, kesunyian di dalam kabin pecah oleh lengkingan tajam ban yang bergesekan hebat dengan aspal, menciptakan suara memekik yang memekakkan telinga. “Ya ampun! Aaaaa!” Pengereman mendadak yang dilakukan sang sopir secara impulsif itu seketika merenggut keseimbangan Shanum, melempar tubuhnya ke depan hingga ia hanya sempat memekik panik saat gravitasi memaksa kendalinya runtuh dalam sekejap. Tubuh Shanum yang tidak terikat sabuk pengaman tersentak hebat ke depan, lalu terpelanting keras ke samping karena guncangan mobil yang berhenti mendadak. Tubuhnya merosot dari jok kulit yang licin, tersungkur jatuh tepat di dekat lutut Michael. Refleks ia mencari tumpuan agar kepalanya tidak membentur joki mobil di depannya, lalu telapak tangan Shanum mencengkeram tumpuan terdekat yang bisa ia temukan. Namun di saat yang sama, napas Shanum tercekat. Ia menyadari bahwa telapak tangannya tidak mendarat di jok mobil, melainkan tepat di atas area sensitif—antara kedua paha Michael. Bahkan, ia sempat meremas bagian ‘junior’ pria itu dengan cukup kuat karena dorongan gravitasi. Mata Shanum terangkat, menatap wajah bosnya yang menampilkan sorot kemurkaan. Dengan gugup, ia mencicit lirih, “M–maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Saya—” “Lepas,” kata Michael dingin, tidak membentak pun meninggikan intonasi nada bicaranya. Ia bersikap biasa saja. Kemudian, pria itu memejamkan mata sejenak, berusaha keras mengendalikan diri setelah merasakan gelenyar aneh yang merambat ke dadanya. Sentuhan yang dilakukan oleh Shanum kala itu memang tidak disengaja, tapi memunculkan sengatan kecil yang membuat ia merasa terganggu secara insting. Tentu ia menyadari, kalah tindakan Shanum kali ini bisa memicu reaksi lain dalam dirinya— bahkan bisa membuatnya pusing kalau tidak segera dituntaskan segera. Dan ia tak mau itu terjadi di sini, di tempat yang tidak semestinya. Demi Tuhan! Michael tak pernah berhadapan dengan sekretaris seceroboh Shanum. Selama bertahun-tahun memimpin Arcadia Land & Development, Michael selalu dikelilingi oleh orang-orang yang presisi, kaku, dan perfeksionis. Namun wanita di bawahnya ini adalah pengecualian yang sangat berbahaya. Shanum tersentak, tangannya ditarik kembali secepat kilat seolah ia baru saja menyentuh bara api yang membara. Wajahnya memanas, merah padam hingga ke telinga. Ia mencoba bangkit kembali ke joknya dengan tubuh gemetar hebat. Sambil terus merunduk, merutuki kebodohannya yang terjadi berulang kali, ia meminta maaf lagi, dan lagi. “M–maaf, Pak ….” “Duduk di tempatmu,” potong Michael tajam. Jemarinya mencengkeram pinggiran jok kulit mobil hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha membuang sisa-sisa sensasi tak terduga yang baru saja menyerang sarafnya. “Pakai sabuk pengamanmu sekarang!” “I–iya, Pak.” Selama perjalanan menuju tempat pertemuan, Michael mendesah berat dan berulang kali mengembus panjang. Suasana di dalam kabin yang dingin, mendadak menjadi panas membara, membuatnya berkeringat meski AC di mobil itu telah disetel paling dingin. Pasalnya, gerakan impulsif Shanum tadi membangunkan sesuatu yang ada di antara kedua pahanya. Sentuhan tidak sengaja itu justru memberi stimulasi yang terlalu tiba-tiba, terlalu kuat, dan entah mengapa memicu reaksi biologis yang tidak mampu ia bendung—meski dengan akal sehatnya yang paling kuat sekalipun. Namun alih-alih menunjukkan kegelisahannya yang bisa merusak citra harga dirinya sebagai pemimpin Arcadia Land & Development, Michael justru menutupinya dengan map yang disodorkan Shanum tadi, meletakkan tepat di atas pangkuannya agar tidak mencurigakan. Di bawah lindungan map itu, telapak tangan kiri Michael diam-diam meraba ke arah resleting celananya yang sedikit terdesak, mencoba memberikan sedikit ruang agar rasa sesak itu berkurang. Michael menyentil pelan bagian yang menegang itu dari balik kain untuk meredakan gelenyar panas yang keras kepala. Sembari terus mengamati laporan yang Shanum buat dan membolak balikkannya, bibirnya terus merapalkan kata, “Sabar ... sabar …,” berulang kali dalam hati, menekan egonya yang bergejolak. Saat Shanum membuang muka—memilih mengamati gedung pencakar langit yang mereka lewati, Michael membuang napas kasar melalui hidung. Dalam hatinya, Michael merutuk dengan geram, “Awas kamu nanti.”“Sekarang, aku paham mengapa Allah mempertemukan kita, Shine. Itu karena... kita memang sudah ditakdirkan bersama, bahkan sejak kita belum dilahirkan.”Shanum mendongak, menatap lekat manik mata suaminya yang berkilat di bawah cahaya lampu kristal. “Dan apa kau bersyukur karena itu?” tanyanya dengan senyum tipis yang menggoda.“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena sekarang kamu resmi menjadi istriku. Kita akan bersama selamanya,” jawab Michael mantap.Seolah tak lagi memedulikan ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka, Michael langsung menangkup wajah Shanum dengan kedua tangannya. Di atas lantai dansa yang megah itu, ia mendaratkan ciuman dalam yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh emosi yang sempat tertahan sejak pagi tadi.Disaksikan oleh seluruh tamu undangan di tengah dekorasi biru muda yang magis, Michael tak ragu lagi menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan hangat, merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah sah Kilat lampu blitz menyambar bertubi-tubi, men
“Memberi cucu untuk Mama?” Shanum mengulang kalimat itu. Dia lantas tersenyum simpul ke arah Michael yang juga tersenyum malu-malu.Michael maka mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu, pelan sekali, “Tentu saja kami akan memberikannya. Bukankah sejak dulu, kami sudah membuatnya? Jadi, potensi Mama memiliki cucu tahun depan akan terlaksana.”Lucy tersenyum bahagia mendengarkan itu. Kini, ia peluk anak dan menantunya itu dengan penuh kasih. “Ya sudah kalau begitu. Berbahagialah kalian berdua.”Usai pelukan itu terlepas, Shanum dan Michael mengambil tempat duduk di samping Damar, ayahnya Shanum.Tak lama berselang, penghulu pun tiba. Setelah mengecek kelengkapan berkas-berkas pernikahan dan memastikan tak ada yang salah, barulah penghulu itu memulai acara dengan cara menjabat tangan Michael dan mengucapkan ikrar ijab kabul.Dan dalam satu tarikan napas, Michael akhirnya mampu melakukannya. Lancar, dan tanpa hambatan. Begitu para saksi berkata ‘Sah’, ia menangis lantaran haru. Usai p
“Mempelai wanita sudah siap, Tuan. Anda harus segera turun.”Suara ketukan di pintu itu memecah keheningan di dalam ruang ganti. Pukul 07.45, Michael sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia tampil berbeda dengan setelan baju kurung putih lengkap dengan kopyah berwarna senada. Biasanya, ia lebih akrab dengan potongan jas atau tuksedo yang kaku, namun pagi ini, kesederhanaan pakaian tradisional itu justru membuatnya tampak jauh lebih tenang sekaligus berwibawa.Ia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri, sembari sesekali membetulkan posisi kopyah yang sebenarnya sudah pas. Jemarinya sedikit bergetar saat ia mencoba mengatur napas yang mulai pendek. Tidak ada persiapan yang berlebihan, fokusnya hanya satu: kalimat ijab kabul nanti harus tuntas dalam satu tarikan napas.“Saya terima nikahnya Shanum ….”Kalimat itu terus ia tancapkan dalam memori, mengulanginya berulang kali di dalam hati. Ada ketakutan konyol yang membayangi. Jika ia sampai salah berucap ijab kabul sebanyak tiga
“Bajingan kamu, Mike! Mikeeee! Lepaskan aku! Lepaskan!”Di dalam jet pribadi, Felice diikat kencang oleh bawahan Michael. Ia meronta berulang kali meminta dilepaskan. Bahkan saat Michael mendekat, ia meludahi pria itu hingga membuatnya marah.Telapak tangan kanannya kemudian bergerak mencapit dagu wanita itu. “Kamu menyebutku bajingan, tetapi kamu sendiri brengsek, Sialan. Kalau kamu tidak membuatku marah—mengadu dombaku dengan Shanum, mungkin aku tidak akan begini.”Sebelum Felice meludahinya lagi, ia menambahkan, “Sekarang, kamu tahu kemarahanku, ‘kan? Aku bukan pria yang bisa kamu singgung, Felice. Sudahi kegilaanmu itu!”Michael segera mengempaskan wajah Felice. Dengan napas terengah, ia bersiap pergi dari kabin itu. Tapi, langkahnya melambat ketika ia mendengar rintihan wanita itu yang menyayat hati.“Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaanku, sementara sejak dulu aku sangat-sangat menginginkanmu,” katanya getir. Felice kembali terisak dan dia berteriak-teriak, “Bahkan, kita sejak
“Apa itu tidak akan mengganggu bayi kita?” tanya Michael dengan nada yang benar-benar khawatir. Ia kemudian menyentuh perut Shanum dengan telapak tangannya, lembut sekali. Takut kalau gerakannya akan membuat bayinya terkejut.“Hah?” Shanum sempat melongo selama beberapa detik, namun sedetik kemudian tawanya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Michael yang tampak sangat polos dan tulus mengkhawatirkan hal itu. Saking gelinya, ia sampai merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tak lupa, ia juga sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.Michael sama sekali tidak ikut tertawa. Ia justru menegakkan punggungnya dan menatap Shanum dengan serius. “Apanya yang lucu? Bukannya itu larangan dokter, ya? Tidak boleh berhubungan saat kandungan masih muda. Jadi untuk beberapa bulan ke depan, aku akan menyimpan hasratku. Dan kumohon, jangan memancingku, Shine.”Mendengar permintaan serius itu, Shanum perla
“Bagaimana? Sanggup atau tidak? Kalau tidak, silakan keluar dan carilah istri baru.”Michael terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia terjebak dalam keheningan yang menyesakkan.Di dalam benaknya, gejolak batin sedang bertarung hebat. Tentu saja, ia sudah bersumpah dalam hati untuk menjaga Shanum seumur hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan tangannya bertindak kasar atau hatinya berpaling.Namun, syarat yang diajukan Damar terasa seperti jerat yang mustahil. Bagaimana mungkin ia bisa menjamin Shanum tidak akan pernah menangis? Hidup tidak pernah selembut itu. Tangis bisa terjadi karena rindu, karena duka kehilangan, atau bahkan karena perselisihan kecil yang lumrah dalam sebuah pernikahan.Michael tahu, satu tetes air mata Shanum yang jatuh karena kesalahannya dan sekecil apa pun itu bisa berarti maut jika ia mengiyakan sumpah berdarah sang calon mertua.“Tuan Damar ....” Michael memulai dengan suara serak, mencoba mencar







