LOGIN“Belum, Teh. Tentunya Teteh bisa menilainya?” “Ya kalau menurut penilaian Teteh, Dik Bara itu seperti pemuda yang sudah berpengalaman,” jawab Salwa dengan wajah serius dan suara kecil namun jelas terdengar. “Tetapi memang, semburan laharmu sangat kuat. Teteh belum pernah merasakan persitiwa seperti itu sebelumnya. Bahkan dari suami Teteh ketika pertama kali kami melakukannya. Maka Teteh pun berpikir, bahwa Dik Bara adalah seorang perjaka. Tetapi di satu sisi, Teteh juga berpikir dan merasa heran ….” “Heran kenapa, Teh?” “Ya heran, di satu sisi permainan kamu seperti orang yang sudah sangat berpengalaman. Teteh pun sempat berpikir jika Dik Bara sudah biasa melakukannya.” “Oh itu? Ya kan akan otomatis saja, Teh, hukum alam. Sebagian besar juga karena aku sudah pernah melihat di film-film dewasa. Jadi aku tahu. Tapi semua adegan yang aku lihat, satu pelajaran yang aku dapat, yaitu model permainannya ya gitu-gitu saja. Yang berbeda adalah gaya permainannya, ada yang
Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia
Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya
Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw
Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa
Bagi Pak Anwar, berseng**ma adalah memasukan batang kemal**nnya yang tegang ke dalam kemal**n istri dengan tujuan mengeluarkan air mani di dalam lorong rahim secepatnya, dan tidak perlu bertanya apakah istrinya puas atau tidak. Sehingga selama bertahun-tahun, Bunda Yasmin tidak lebih dari hanya sebuah boneka pemuas saja bagi sang suami, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dan Bunda Yasmin sebagai seorang perempuan, yang ternyata mempunyai hasrat besar dan cenderung hyper, hanya bisa berkhayal bisa bercumbu dengan lelaki muda perkasa yang bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan maksimal. Ya, yang mampu menghempaskannya ke hamparan langit gelap yang penuh bintang gemintang. Karena itu, ketika pada akhirnya laki-laki perkasa itu benar-benar hadir, yaitu Bara, ia seolah-olah menemukan destinasi fantasinya selama ini. Bara itu seolah hadir dengan membawa telaga bening dan segar kepadanya yang sedang dalam kondisi sangat haus dan dahaga. Sebenarnya, dalam satu tahun
Bara menyebutkan nama kampusnya. Sebuah kampus ternama juga, baik di kota itu maupun di Indonesia. “Wah hebat, Nak Bara. Ambil fakultas apa? Maaf.” “Saya pertambangan, Bu.” “Wah mantap itu. Anak saya yang kerja di Turki itu dulu alumni situ juga, tapi dia di jurusan teknik informat
Tante Liana sendiri jadi curiga dengan kondisinya. Karena kondisi seperti itu pernah ia alami ketika ia hamil muda kedua anaknya. Om Hendra, suaminya, yang melihat kondisi istrinya, dibuat kaget juga, dan bertanya apa yang terjadi, “Mama baik-baik saja?” “Entahlah, Pap. Aku kok seperti m
Setelah Om Hendra mandi dan berpakaian, Tante Liana belum dulu dipijat oleh Bara, agar ia bisa mengantar suaminya itu pergi hingga di ruangan depan, seperti biasa. Om Hendra resmi keluar dari rumahnya sekitar dua puluh menit kemudian. Setelah mobil suaminya pergi, Tante Liana mengunci pi
Malam itu juga, setelah satu jam Bara balik ke kamar kosnya, Tante Liana mengirimkan pesan WA, memberitahukan kepada Bara jika suaminya, Om Hendra, memuji hasil pijatannya. “Jadi Om merasa cocok dengan pijetan saya, Tan?” balas Bara. “Cocok sekali katanya. Bahkan Om menyuruh







