author-banner
Kalang Langit
Kalang Langit
Author

Novels by Kalang Langit

JASA PIJAT BRONDONG NAKAL

JASA PIJAT BRONDONG NAKAL

“Please, Sayang, mohon lakukan, Tante benar-benar sudah tidak tahan,” rengek Tante Liana dengan ekspresi wajah begitu sayu. Wanita itu sangat gelisah, menantang Bara untuk berbuat lebih jauh lagi. “Iya, Tan, saya juga merasakan keinginan yang sama. Saya ingin mala mini membuat Tante benar-benar bahagia,” sahut Bara dengan suaranya yang sudah bergetar karena menahan gejolak bir*hinya. Ia adalah singa jantan muda yang pantang menolak untuk bertarung.
Read
Chapter: PART 31
Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: PART 30
Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: PART 29
Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: PART 28
Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: PART 27
Bagi Pak Anwar, berseng**ma adalah memasukan batang kemal**nnya yang tegang ke dalam kemal**n istri dengan tujuan mengeluarkan air mani di dalam lorong rahim secepatnya, dan tidak perlu bertanya apakah istrinya puas atau tidak. Sehingga selama bertahun-tahun, Bunda Yasmin tidak lebih dari hanya sebuah boneka pemuas saja bagi sang suami, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dan Bunda Yasmin sebagai seorang perempuan, yang ternyata mempunyai hasrat besar dan cenderung hyper, hanya bisa berkhayal bisa bercumbu dengan lelaki muda perkasa yang bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan maksimal. Ya, yang mampu menghempaskannya ke hamparan langit gelap yang penuh bintang gemintang. Karena itu, ketika pada akhirnya laki-laki perkasa itu benar-benar hadir, yaitu Bara, ia seolah-olah menemukan destinasi fantasinya selama ini. Bara itu seolah hadir dengan membawa telaga bening dan segar kepadanya yang sedang dalam kondisi sangat haus dan dahaga. Sebenarnya, dalam satu tahun
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: PART 26
Selorohan Bara itu membuat Bunda Yasmin jadi tertawa. “Ya faktor usia. Dia juga menderita diabet, sudah lama. Tapi ya belum stadium tinggi. Tapi tetap saja cukup berpengaruh pada fungsi itunya.” “Oh pantesan. Dan ini, Bun, kok usia Bunda dengan Om terpaut jauh? Om menikahi Bunda pada usia beliau keberapa? Dan Bunda keberapa?” “Bunda saat itu dua puluh empat tahun. Beliau umur hampir empat puluh tahun. Bunda ini istri kedua beliau, karena istri pertamanya meninggal. Beliau duda mati saat itu.” “Hm. Om punya anak dengan istri pertamanya?” “Ada, anak perempuan. Ya Bunda yang merawat dan membesarkan. Alhamdulillah, dia sudah berkeluarga dan hidupnya cukup mapan, karena suaminya punya pisisi penting di tempatnya bekerja.” “Syukurlah, Bun. Tapi Bunda saya yakin bukan ibu tiri yang jahat buat anak tiri Ibu itu.” “Oh, bagi Bunda, dia seperti anak kandung Bunda sendiri, karena kan dia Bunda asuh sejak usia balita. Dan dia juga merasa Bunda ini sebagai ibu ka
Last Updated: 2026-03-01
SANG DEWA PENYEMBUH

SANG DEWA PENYEMBUH

“Gak bisa, Run ….” Tiba-tiba istrinya Paman Hanif, Bibi Isti, bersuara sembari keluar dari ruang dalam rumahnya, langsung memotong kalimat Harun. “Kami juga sedang butuh dana untuk membesarkan usaha kami. Tolong kamu cari dulu pinjaman di tempat lain, ya? Operasi jantung ibumu diundurkan dulu, sampai kamu mendapatkan biaya operasinya.” Kalimat itu sebuah penegasan, bahwa ia tak mungkin mendapatkan bantuan lagi di tempat itu. Harun pun pamit dengan perasaan kecewa dan putus asa. Pamannya pun tidak bersedia lagi mengulurkan tangan mereka, walau dalam bentuk pinjaman.
Read
Chapter: PART 18
Saat itu Harun telah tiba di sebuah taman kota. Tiba-tiba terdengar ada suara teriakan seorang ibu-ibu yang mengalami kecopetan. Namun Harun tidak menghentikan atau memelankan langkah kakinya. Karena saat itu ia sedang memikirkan banyak hal, terutama saat itu ia akan pergi ke mana. Akan tetapi teriakan itu makin dekat dan bukan saja satu orang yang berteriak. Ternyata copet itu berlari ke arahnya. Terpaksa Harun menghentikan langkahnya. Sang copet yang merupakan laki-laki muda larinya cukup kencang. Di belakangnya ia dikejar oleh banyak orang. Namun pengejar yang paling dekat dengan sang copet adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Jarak antara si copet dengan si gadis dan pemuda itu hanya sekitar sepuluh meter. Ketika copet itu akan melewatinya, Harun langsung menarik tubuhnya ke samping, membiarkan sang copet lewat di depannya. Ia tidak berusaha untuk menghentikan pelaku kriminal kelas receh itu dengan cara apa pun. Akan tetapi, ketika sang gadis pengejar
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: PART 17
Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian semua waerga yang makin banyak di depann rumah Bu Siti, Harun pun pamit. Namun sebelumjnya, ia mengajak Bu Siti untuk kedalam sebentar sembari membawa sebotol air mineral yang masih utuh (belum diminum). Dan ia memberitahukan tentang khasiat air itu untuk masalahan yang akan dijual. “Jadi, air ini dimasukkan ke dalam panci masalah soto?” “Benar, Bu. Ya hanya masukan beberapa tetes saja,” jawab Harun. Jika air ini sudah berkurang, bisa ditambah dengan air biasa, khasiatnya akan tetap sama. Tetapi tolong tentang hal ini Ibu rahasiakan dari siapa pun. Dan air ini disimpan baik-baik, misalnya dalam lemari pribadi ibu.” Tirta pun bercerita bahwa air itu juga yang membuat soto ibu menjadi terasa begitu lezat. “Baik, Dik Harum. Terima kasih, Dik Harun. Engkau seperti seorang dewa penyelamat bagi Ibu sekeluarga. Dik Harun hadir di kala kami nyaris menemui jalan buntu dalam kehidupan Ibu dan anak-anak Ibu.” “Sama-sama,
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: PART 16
Ucapan Ningrum itu membuat Harun tersenyum. Namun ia tak langsung menjawabnya, namun berkata, “Soal itu nanti saja dibahas. Sekarang saya mau menyembuhkan Ningrum dulu. Ning mau gak saya sembuhin?” Kedua kelopak mata gadis itu seolah tertarik ke berbagai arah sehingga membuat sepasang bola mata indahnya terbuka sempurna. Begitu pun yang terjadi pada ibunya, Bu Situ. “Beneran Kak Harun bisa menyembuhkan saya?” tanya Ningrum seolah-olah belum yakin. “Insya Allah,” ucap Harun. “Coba tangan Dik Ningrum ulurkan ke sini. Oh ya, Bu dan Dik Salwa, tubuh Ningrum diapit saja biar nanti untuk memegangnya dalam proses penyembuhan.” Bu Siti dan Salwa segera melakukan apa yang diminta Harun. Selanjutnya Harun meminta izin kepada Ningrum untuk menggenggam tangan kanan gadis itu sembari melakukan konsentrasi untuk mengumpulkan enekgi penyembuh dan mengalirkannya ke dalam tubuh hadis itu. Pada saat itu, Ningrum mulai merasakan seperti ada hawa sejuk yang masuk tapak tangan
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: PART 15
Seperti kebanyakan rumah di tempat itu, rumah itu tak berpagar halaman. Sehingga Harun bisa langsung mendorong masuk kerobaknya hingga di depan rumah. “Terima kasih, Nak Harun, atas bantuanya.” “Sama-sama, Bu. Oh, ini Dik Ningrum dan Salwa, ya?” “Iya, Kak,” sahut Salwa malu-malu. “Ini Mas Harun namanya. Dia tadi yang jualkan sotonya Ibu, pas Ibu ke mushola. Ramai sekali yang beli.” “Pantasan Ibu cepat sekali pulangnya. Terima kasih ya, Kak Harun,” ucap Ningrum. Gadis itu sejatinya memiliki wajah yang manis. Namun tubuhnya agak kurus, mungkin tergerus oleh penyakitnya. “Sama-sama, Dik Mirah. Kata Ibu, maaf, Dik Ningrum sakit?” “Iya, Kak, lumpuh. Sudah satu tahun lebih. Silakan duduk, Kak.” “Ya, terima kasih. Maaf, Bu, yang jualan di sini di mana, Bu? Maksud saya, warung atau toko.” “Oh di blok A di sebelah selatan sana. Nak Harun mau beli apa?” “Beli air mineral, Bu.” “Hm. Biar Salwa saja yang belikan,” ucap Bu Siti sembari m
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: PART 14
Teriakan-teriakan lain pun bersahut-sahutan. Pertarungan sengit satu lawan dua pun makin sengit. Terutama serangan dari pihak dua preman. Kedua preman peminta-minta itu mengempur Harun dengan sangat garang seolah-olah keduanya hendak menghabisi lawannya dalam waktu yang sangat singkat. Tetapi pada pihak Harun, ia melakukannya dengan santai saja. Baik ketika mengelak dan menangkis serangan, maupun saat melakukan serangan balasan dengan pukulan dan tendangan. Bagi pandangan orang awam, gempuran kedua preman itu sangatlah berbahaya. Namun bagi Harun, serangan kedua preman itu hanyalah serangan yang sama sekali tanpa teknik dan ilmu bela diri, sehingga dengan mudah saja ia menghindar dan berkelit. Dan terbukti, dengan sangat mudahnya ia terus permainkan kedua preman itu. Tampaknya ia memang ingin mempermainkan emosi kedua lawannya itu, Bahkan sembari mengeluarkan kalimat-kalimat menyepelekan, ia berhasil dengan mudahnya memasukan serangan balasan berupa tamparan-ta
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: PART 13
“Kalau saya soto sapi, Kak.” “Siap!” Ketika para gadis muda itu mencicipi soto itu, mereka pun spontan berkata bahwa soto itu memang benar-benar lezat. “Iya, benar, soto ini lezat sekali.” “Ho’oh. Padahal soto di tempat ini biasanya gak enak.” “Jangan-jangan Kakak yang tampan ini yang memasak dan punya resep khusus? Soalnya lezat sekali,” timpal yang lain. “Benar ya, Kak? Kakak yang punya resep?” “Iya, resep rahasia warisan dari leluhur saya, Kak, hehehe,” jawab Harun sembari tersenyum manis. “Serius nih, Kak?” Harun tak jadi menjawab pertanyaan itu karena harus melayani para pembeli lain. “Sekalipun umpamanya sotonya gak lezat pun, jika penjualnya setampan Arjuna kek gini ya dijamin sotonya tetap lezat, apalagi memang sotonya lezat kek gini?” lanjut komentar yang lain. Komentar-komentar yang berisi pujian tentang kelezatan soto itu seolah-olah tak usai. Para pembeli pun terus berdatangan. Hanya saja, stok sotonya tak banyak dan habis dala
Last Updated: 2026-03-10
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status