MasukAkan tetapi yang dilihatnya kemudian adalah, bahwa di meja makan itu Bara bukan hanya sedang ditunggu oleh Bunda Yasmin dan Teteh Salwa, namun juga terlihat seorang wanita lagi. Bara belum pernah melihat wanita itu. Usianya mungkin sama dengan Bunda Yasmin, karena itu pastilah itu temannya beliau. Bara belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. “Silakan ambil tempat, Nak Bara, tarik kursi yang di samping Teteh Salwa itu,” ucap Bunda Yasmin, yang langsung dilakukan oleh Bara. Ia menarik kursi yang ada di sebelah kursi yang diduduki Salwa, di seberang Bunda Salwa dan Wanita itu. Ia tak lupa menyapa wanita di seberang meja dengan sebutan “Tante …” sembari tersenyum dan mengangguk kecil. Wanita itu juga melakukan hal yang sama. “Oh ya, Nak Bara, kenalan dulu, ini namanya Bunda Retno. Beliau temannya Ibu, dan tinggal di komplek sebelah,” ucap Bunda Yasmin memperkenalkan wanita yang duduk di sebelahnya itu. Bara mengatupkan kedua tangannya sembari menyebutkan namanya,
“Belum, Teh. Tentunya Teteh bisa menilainya?” “Ya kalau menurut penilaian Teteh, Dik Bara itu seperti pemuda yang sudah berpengalaman,” jawab Salwa dengan wajah serius dan suara kecil namun jelas terdengar. “Tetapi memang, semburan laharmu sangat kuat. Teteh belum pernah merasakan persitiwa seperti itu sebelumnya. Bahkan dari suami Teteh ketika pertama kali kami melakukannya. Maka Teteh pun berpikir, bahwa Dik Bara adalah seorang perjaka. Tetapi di satu sisi, Teteh juga berpikir dan merasa heran ….” “Heran kenapa, Teh?” “Ya heran, di satu sisi permainan kamu seperti orang yang sudah sangat berpengalaman. Teteh pun sempat berpikir jika Dik Bara sudah biasa melakukannya.” “Oh itu? Ya kan akan otomatis saja, Teh, hukum alam. Sebagian besar juga karena aku sudah pernah melihat di film-film dewasa. Jadi aku tahu. Tapi semua adegan yang aku lihat, satu pelajaran yang aku dapat, yaitu model permainannya ya gitu-gitu saja. Yang berbeda adalah gaya permainannya, ada yang
Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia
Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya
Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw
Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa







