Share

Bab 28. Gejolak api

Author: Nanitamam
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-25 11:14:08
“Kupikir kamu rubah betina paling cerdik di kota ini, Celina. Kenapa bisa sebodoh itu sampai menelan racun dari jebakan murahan keluarga Sanjaya?”

Percikan air dingin menyembur deras hingga membasahi lantai marmer saat punggung Celina terhempas ke dalam bathtub porselen yang meluap. Sentakan suhu beku itu seketika memotong rintihan panasnya, membuat gaun merah anggur yang sobek itu kini melekat sangat ketat, mencetak jelas siluet lekuk tubuhnya yang menggoda.

Samudera berdiri menjulang di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS    Bab 55. Tragedi di tengah hujan

    Tangan Bisma melayang keras menghantam pipi Karina. Hantaman itu begitu kuat dan bertenaga hingga tubuh Karina langsung tersungkur jatuh di atas lantai pualam yang dingin. Sudut bibirnya pecah, merona oleh tetesan darah segar yang mengalir pelan di bawah sorot lampu kristal.“Dasar memuakkan! Tukang selingkuh menjijikan!”Tragedi memilukan itu terjadi tepat di depan mata Celina kecil yang gemetar ketakutan, mendekap erat lututnya di balik tirai beludru tebal ruang tengah.Karina memegangi pipinya yang lebam dan panas. Napasnya tersengal-sengal, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya seolah sosok di hadapannya adalah orang asing yang baru ia kenal.“Kamu berani menampar aku, Mas? Setelah semua yang aku berikan dan pertaruhkan untuk membangun keluarga ini selama bertahun-tahun?!” rintih Karina dengan suara yang pecah oleh isak tangis.Bisma Sanjaya meraung tanpa belas kasihan, dadanya naik turun menahan amarah palsu yang dibuat-buat. “Pergi dari sini, wanita pengkhianat! Berani sek

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 54. Bayang masa lalu

    “Pulanglah, Tuan Samudera. Aku sedang ingin sendirian.”Cengkeraman tangan Samudera di rahang Celina mengendur perlahan. Ruang di antara mereka terasa menyempit oleh napas yang memburu dan sisa ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Dengan tatapan dingin tanpa getaran sedikit pun di manik matanya, Celina memangkas keheningan lift yang telah berdenting di lantai dasar.Samudera berdiri kaku. Terasa luka di dadanya yang telak menerima penolakan mentah-mentah kini berpadu dengan gejolak amarah posesif yang mendidih di balik kulit. Pria bertubuh tegap itu menatap wanita di hadapannya seolah ingin menelannya bulat-bulat.Sebelum benar-benar memutar tubuh dan melangkah keluar dari kotak baja tersebut, Samudera menunduk. Dia merapatkan bibirnya ke tepi telinga Celina, membisikkan sebuah kalimat berat yang tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.“Baik, aku akan pulang … tapi kamu harus ingat satu hal, Celina, kamu hanya milikku. Jangan pernah berpikir untuk berpaling.”Tanpa menunggu

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 53. Pengakuan

    “Apa aku tidak salah dengar? Seorang Tuan Samudera Alexander bisa merasa cemburu? Apalagi ... cemburu dengan seorang dokter yang tidak seterkenal kamu.”Tawa dingin Celina pecah, bergema di antara dinding sempit lift yang terus meluncur turun ke lantai dasar. Tawa itu penuh luka dan ketidakpercayaan. Dengan gerakan tegas, Celina mendorong pelan dada bidang Samudera, melepaskan diri dari pelukan erat yang sempat membuat pertahanannya goyah.Dia mendongak, menatap lurus mata pria di hadapannya dengan sorot yang menusuk. “Jangan lupa, Tuan Samudera … Anda sendiri yang membuat aturan sejak awal untuk tidak pernah melibatkan perasaan dalam transaksi ini. Kita berdua terikat oleh kesepakatan dan dendam, bukan cinta. Tidak ada cinta berarti tidak ada rasa cemburu.”Samudera terpaku. Alih-alih melepaskan Celina, tangan pria bertubuh tegap itu justru bergerak kembali dengan cepat. Dia meraih tubuh Celina tanpa ampun dan memenjarakannya jauh lebih erat ke dalam dekapannya, seakan-akan takut ke

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 52. Perkelahian dua predator

    “Tutup mulutmu! Jangan bicara seolah kamu tahu segalanya!” geram Samudera dengan suara berat yang menggetarkan fondasi ruangan.Gigi sang CEO berkerut keras hingga rahangnya menegang kaku. Tatapan matanya yang merah padam memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat. Namun, Alih-alih gemetar atau mundur selangkah, Yudha justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memprovokasi. Tatapan sang dokter tetap tenang, lurus membalas sorot mata murka pria di hadapannya tanpa ada setitik pun rasa gentar.“Saya tahu semuanya, Tuan Samudera,” balas Yudha dengan intonasi datar yang teratur, menelanjangi kenyataan yang selama ini disembunyikan. “Hubungan Anda dengan Celina hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Anda memaksanya berada di sisi Anda menggunakan kekuasaan, bukan karena dia menginginkannya.”Bugh!Pukulan mentah menghantam telak rahang kiri Yudha. Benturan keras itu menggema nyaring di dalam apartemen yang semula tenang. Kepala Yudha terlempar ke samping, beberapa tetes darah s

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 51. Kedamaian yang terganggu

    “Wah, kelihatannya sedap sekali aroma sup ini. Kalau bukan karena Dokter Yudha tadi, gaunmu pasti sudah hancur total, Cel.”Suara tawa renyah Dinda memecah ketegangan di dalam dapur apartemen Celina, saat uap masakan beraroma harum membubung ke udara. Dinda menyenggol lengan Celina pelan seraya berbisik dengan nada khawatir yang tertahan di balik senyumnya.“Ngomong-ngomong, apa tidak masalah mengundang Dokter Yudha langsung ke apartemenmu, Celina? Maksudku … bagaimana kalau Tuan Samudera tahu? Kamu tahu sendiri pria itu pencemburu kalau sudah menyangkut dirimu.”Celina yang baru saja menyeka sisa noda kotor di ujung gaunnya, kini sudah berganti dengan sweater rajut longgar yang nyaman. Dia menjawab dengan tenang sambil menuangkan air ke dalam gelas kaca tanpa menunjukkan ekspresi cemas.“Dokter Yudha sudah menolongku di jalan tadi, Dinda. Mana mungkin aku membiarkannya pergi begitu saja setelah kemejanya ikut terkena cipratan kopi gara-gara membelaku? Lagi pula, gara-gara amukan gadi

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 50. Cemburu

    Tepat setelah suara tut-tut panjang mengakhiri panggilan secara sepihak dari Tuan Galen, Samudera menghempaskan ponselnya ke atas meja porselen. Bunyi benturan keras itu memecah keheningan ruang kerja eksekutif, memantulkan ketegangan pekat yang kini menyelimuti dirinya.“Hadi!” panggil Samudera dengan nada bariton rendah yang bergetar menahan gejolak amarah.Asisten kepercayaannya itu melangkah masuk dengan cepat dari balik pintu kayu mahoni, membungkuk hormat. “Saya di sini, Tuan Samudera.”“Minta tim cyber security SINS Group meretas dan membatasi penyebaran video viral itu dalam waktu sepuluh menit. Pastikan nama perusahaan kita bersih total dari kekacauan murahan yang dibuat Agatha,” titah Samudera dingin, matanya menyipit tajam. “Lalu … lacak keberadaan Dokter Yudha dan Celina sekarang juga. Aku ingin laporan akurat dalam genggamanku sebelum aku tiba di mansion utama.”“Baik, Tuan. Segera dilaksanakan.” Hadi mengangguk patuh, memutar tubuh dan bergegas keluar untuk menjalankan p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status