LOGIN“Ceppp..cupp..arhhhh!” tiba-tiba Silvi meraih bibir Dendi dan diciumnya.
“Mas Dendi luar biasa...kontolnya bikin aku kelojotan tadi!” ujar Silvi sambil tersenyum puas dan mengusap pipi Dendi.
“Besok-besok mau lagi gak?” tanya Dendi sambil mengedipkan satu matanya.
“Mau donk mas...heheh!” jawab Silvi dengan cepat.
“Kalo kapan-kapan aku ajak ngentot di pantai mau gak?” tanya Dendi sambil tertawa.
“Ehmm...boleh aja asal lagi sepi aja mas pantainya, hihih!” ucap Silvi yang akhirnya tertawa juga.
Sementara Dendi dan Silvi tenggelam dalam momen gairah mereka di sebuah kamar penginapan, Yoga juga terbangun oleh perasaan yang kuat. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan rencana yang pernah dia usulkan beberapa waktu yang lalu: bertukar pasangan dengan istri dari Dendi yaitu Sinta. Saat dia merenungkan hal ini, dia merasa perlu untuk mengontak Sinta, istrn
Idoh duduk termenung di teras rumah kontrakan, tatapan kosongnya mengarah pada langit yang mulai berwarna orange senja. Sinar matahari yang perlahan tenggelam itu seolah menambah kesan sepi yang melingkupi hatinya. Setahun pernikahannya dengan Marno, suaminya, terasa begitu singkat. Mereka belum sempat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya sebagai pasangan suami istri. Sekarang, Marno telah tiada, meninggalkan dirinya sendiri di dunia yang penuh kesedihan.Bu Haji Tini, pemilik rumah kontrakan tempat Idoh tinggal, duduk di sebelahnya dengan wajah prihatin. "Idoh, kamu harus kuat. Ini pasti tidak mudah bagimu, tapi kamu tidak sendiri. Kami di sini akan selalu mendukungmu," ucap Bu Haji Tini dengan lembut.Idoh tersenyum kecil, meskipun hatinya masih dilanda duka yang mendalam. "Terima kasih, Bu. Saya akan mencoba berusaha kuat," jawabnya pelan.Sementara itu, Haji Agus, suami Bu Haji Tini, datang membawa sebuah nampan b
Setelah puas bercinta di kamar hotel, Luki dan Mama Diana buru-buru mandi dan segera meninggalkan kamar hotel tersebut. Mereka merasa seperti sedang melayang di awan, masih terhanyut dalam kenikmatan yang mereka rasakan, tapi juga merasa tertekan oleh kewajiban dan tanggung jawab yang menanti di luar sana.Luki mengucapkan terima kasih kepada Mama Diana sambil memeluknya erat. "Terima kasih, Diana. Ini adalah momen yang luar biasa."Mama Diana tersenyum tipis, tapi di balik senyumnya, dia merasa sedikit cemas. "Ya, ini memang momen yang tak terlupakan. Tapi sekarang kita harus kembali ke kenyataan."Mereka berdua meninggalkan kamar hotel dengan hati yang berat, tapi juga penuh dengan kenangan yang indah. Luki kembali pulang ke rumahnya, sementara Mama Diana berusaha menenangkan diri untuk menghadapi situasi yang menantinya di rumah sakit.Sebelum sampai di rumah sakit, Mama Diana segera mencarikan da
Hari berikutnya, saat Dena masih terbaring lemah di rumah sakit, Luki diminta untuk pulang dan beristirahat di rumah. Meskipun agak enggan meninggalkan istrinya, dia akhirnya setuju setelah meyakinkan dirinya bahwa Dena akan baik-baik saja dengan perawatan yang diberikan oleh Mama Diana dan Papa Rudi."Saya akan segera kembali, Dena. Jika ada apa-apa, beri tahu Mama Diana, ya?" ucap Luki sambil mencium kening istrinya yang pucat.Dena mengangguk lemah, bibirnya terkatup rapat karena kelelahan. "Terima kasih, Luki. Aku akan baik-baik saja."Sementara itu, Mama Diana dan Papa Rudi mengambil alih penjagaan Dena di rumah sakit. Wajah Mama Diana penuh dengan perhatian dan kepedulian saat dia duduk di samping tempat tidur Dena, memberikan dukungan dan kenyamanan yang dibutuhkan oleh putri kesayangannya.Beberapa saat kemudian, saat Dena tertidur pulas, Mama Diana diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mengir
Suatu hari kondisi Dena tiba-tiba menurun dimana badannya demam tinggi sehingga dengan terpaksa menginap beberapa hari di rumah sakit agar kondisi Dena bisa lebih cepat pulih terutama juga kehamilannya.Malam itu hari kedua di rumah sakit, Luki terpaksa pulang dulu ke rumah untuk membawa baju-baju kotor untuk ia ganti dengan baju yang bersih. Sedangkan malam kedua itu Dena gantian ditemani oleh sang ayah, yaitu papa Rudi.Sesampainya di rumah. Luki menelpon mama Diana kalo ia sedang sendirian di rumah, maka kesempatan itu pun akan dimanfaatkan oleh Mama Diana untuk segera datang ke rumah Luki untuk melampiaskan hasrat birahi Mama Diana dan Luki yang sempat tertahan beberapa hari lalu. Sesampainya di rumah Luki, Mama Diana meminta agar pintu rumah Luki agar dikunci dari dalam agar tidak ada yang mengganggu mereka.***Hari kedua di rumah sakit, suasana di ruangan Dena terasa tegang. Luki duduk di samping tempat tid
Seorang pria bernama Luki usia 26 tahun yang telah menikah dengan Dena usia 24 tahun selama 2 tahun dan kini mereka sedang menantikan kehadiran anak pertama mereka setelah Dena sedang hamil muda 4 bulan.Kebetulan Luki tipe pria yang sanat menyukai hubungan seks namun sayangnya sejak sang istri Hamil ia jarang mendapatkan jatah seksnya dari Dena yang lebih fokus menjaga kehamilannya daripada nafsu birahi sang suami. Sejak Dena hamil, ibunda Dena sering datang menengok kehamilan Dena sambil membawakan makanan kesukaan Dena dikarenakan jarak rumah mereka cukup dekat hanya beda kompleks saja.Mama Diana meski sudah menginjak usia 45 tahun, namun, Mama Diana masih nampak cantik plus bentuk tubuhnya yang masih sangat menggoda dengan kemontokan tubuhnya. Sayangnya, belakangan ini ayah Dena alias suami Diana yaitu papa Rudi di usia 49 tahun mulai loyo sehingga hasrat seksual yang tinggi dari mama Diana tak bisa terlayani.Hal i
Dion tersenyum, merasakan desakan hasrat yang sama. "Aku juga, Lisa. Aku juga pengen lagi."Mereka berdua saling mencium satu sama lain dengan penuh nafsu, tubuh mereka bergetar oleh keinginan yang membara. Dion meraih tubuh Lisa dengan penuh gairah, mencium setiap bagian tubuhnya dengan penuh keinginan.Lisa menanggapi dengan desahan-desahan yang menggairahkan, merasakan nikmatnya keintiman yang mereka bagi. Mereka menyatu dalam cinta dan nafsu, hilang dalam dunia mereka yang penuh dengan kehangatan dan keintiman.Setiap sentuhan, setiap ciuman, terasa begitu nyata dan begitu sempurna. Mereka mengeksplorasi tubuh satu sama lain dengan penuh keinginan, membakar api gairah yang semakin berkobar di dalam diri mereka.Dan akhirnya, dalam momen puncak keintiman, mereka mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, merasakan ledakan kepuasan yang melampaui segalanya yang pernah mereka bayangkan.







