LOGINSetelah pertemuan di ruang konferensi, atmosfer di kantor TV swasta itu terasa tegang. Medina merasa sedikit cemas dengan beragam reaksi yang mereka terima dari rekan-rekan kerjanya. Namun, dia merasa lega karena sebagian besar dari mereka tampak memahami dan menerima hubungannya dengan Arga.Pak Dharma, sang pimpinan redaksi, memberikan tatapan serius kepada Medina. "Medina, saya harap Anda tetap memahami pentingnya menjaga profesionalitas di tempat kerja. Hubungan pribadi Anda dengan Arga tidak boleh mempengaruhi kinerja Anda di sini."Medina mengangguk dengan serius. "Ya, Pak Dharma. Saya akan memastikan untuk tetap profesional dalam setiap tindakan saya di kantor."Arga memberikan senyuman menguatkan kepada Medina. "Saya akan selalu mendukung Medina dalam menjaga profesionalitasnya di tempat kerja. Anda bisa percayakan padanya, Pak Dharma."Pak Dharma mengangguk, menunjukkan bahwa dia percaya pad
Medina tidak bisa menahan senyum bahagianya. "Saya juga, Arga," jawabnya dengan suara yang bergetar karena emosi.Mereka saling memandang sejenak, sebelum akhirnya merangkul satu sama lain dan beralih ke kasur yang terletak di ujung kamar hotel. Ketika mereka berada di atas kasur, ciuman dan belaian mereka semakin intens. Arga dengan lembut mencumbu bibir, leher, dan seluruh tubuh Medina, sementara Medina menanggapi dengan erangan halus yang memperdalam keintiman mereka."Pakaianmu," bisik Arga di telinga Medina, suaranya dipenuhi dengan desiran gairah.Medina hanya tersenyum tipis, mengetahui apa yang diinginkan Arga. Dengan gerakan gemulai, dia membiarkan Arga melepaskan pakaian satu per satu, membiarkan keintiman antara mereka semakin dalam dan tak terhindarkan.Saat keduanya telanjang bulat di atas kasur, kehangatan tubuh mereka saling bersentuhan, menciptakan sensasi yang tak terlukiskan dengan
"Selamat datang, Medina. Silakan masuk," sambut Arga dengan ramah.Medina mengucapkan terima kasih sambil masuk ke dalam kamar hotelnya. Dia merasa sedikit gugup, tapi juga sangat bahagia karena kesempatan ini."Saya sangat senang bisa memiliki kesempatan untuk mewawancarai Anda, Arga," ucap Medina sambil tersenyum."Saya juga senang bisa berbicara dengan Anda, Medina. Mari duduk dan kita mulai wawancara ini," kata Arga sambil mengajak Medina untuk duduk di sofa yang nyaman di sudut kamar.Wawancara berlangsung selama sekitar satu jam, di mana Medina bertanya tentang berbagai hal terkait karir dan kehidupan pribadi Arga. Setiap jawaban Arga membuat Medina semakin terkesan oleh kepribadian dan kedewasaannya.Namun, yang membuat Medina merasa deg-degan adalah bagaimana Arga terus memperhatikannya dengan tatapan lembutnya. Setiap kali mereka saling berpandangan, Medina bisa merasaka
Medina duduk di meja kerjanya yang berantakan di ruang redaksi stasiun televisi swasta tempatnya bekerja. Dua tumpukan buku dan stapler berserakan di sekitarnya, menambah kekacauan di meja yang seharusnya rapi itu. Matanya terpaku pada layar komputer di depannya, sibuk mengetik berita terbaru tentang kejuaraan Formula 3 yang akan segera digelar."Medina, apa kabar berita yang kamu kerjakan?" suara Manajer Redaksi, Pak Dharma, terdengar dari belakang.Medina mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Sudah hampir selesai, Pak. Saya akan segera mengirimkannya."Pak Dharma mengangguk. "Baik. Tapi jangan lupa, kami butuh laporan yang mendetail tentang pembalap top, termasuk Arga.""Pasti, Pak. Saya akan pastikan untuk menyertakan informasi terbaru tentang Arga dalam berita ini," Medina menjawab dengan yakin.Pak Dharma mengangguk puas sebelum meninggalkan ruangan Medina. Setelah beberapa s
Suatu hari giliran Tania yang mulai nekat menggoda Beni untuk mau bercinta dengannya. Saat itu rumah sedang sepi karena pak sastro dan bu sandra sedang pergi keluar kota dibantu bu parti menginap selama 2 malam di luar kota di rumah kerabat pak sastro. saat itu Tania yang sudah cukup lama menunggu momen itu mencoba menggoda Beni dengan siasat jitunya.Tania duduk di sofa dengan pose yang menggoda, mengenakan lingerie merah marun yang melengkapi lekuk tubuhnya yang indah. Dia sengaja memilih baju tersebut, mengetahui bahwa malam itu rumah akan sepi, tanpa kehadiran orang tua atau pun pembantu. Tania merasa waktunya telah tiba untuk melakukan langkah yang telah lama dia rencanakan.Saat Beni keluar dari kamar mandi, dia terkejut melihat Tania duduk di sofa dengan pakaian yang sangat seksi. Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan yang sunyi, dan Tania bisa melihat kejutan yang melintas di mata Beni."Tania, apa yang kau la
Bu Parti menjelaskan bahwa dia perlu memindahkan lemari di kamarnya karena menduga adanya tikus yang masuk ke dalamnya. Meskipun sedikit ragu, Beni setuju untuk membantunya. Dia mengikuti Bu Parti ke kamarnya yang tidak jauh dari kamarnya sendiri.Setibanya di kamarnya Bu Parti, Beni membantu menggeser lemari sebagaimana permintaan Bu Parti. Mereka mencari-cari tanda-tanda keberadaan tikus, tetapi tidak ada yang ditemukan. Beni merasa lega, tapi di dalam hatinya ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikirannya.Saat itulah, Bu Parti mulai melancarkan rayuannya. Dengan senyum yang menggoda, dia mendekati Beni dengan langkah yang gemulai. "Beni, kamu tahu, sebenarnya saya merasa kesepian di sini," bisiknya dengan suara yang lembut.Beni merasa jantungnya berdebar kencang. Dia merasa terpikat oleh keanggunan dan pesona Bu Parti yang begitu memikat. Dalam kamar yang diterangi oleh cahaya remang-re







