로그인Hendri masih di sana, tertawa parau dengan tatapan mata yang liar karena pengaruh alkohol dan dendam. Dia mengira tindakannya barusan akan membuat Arga mengamuk dan Siska menangis malu. Namun, yang dia lihat justru pemandangan yang membuatnya merasa semakin kecil. "Mas Hendri," suara Siska terdengar sangat stabil dan dingin. Tidak ada lagi nada ketakutan yang biasanya menghiasi suaranya jika berhadapan dengan pria itu. "Kau meludah karena kau tahu kau sudah kalah, Mas. Kau melakukannya karena kau tidak lagi memiliki kata-kata untuk membela dirimu sendiri. Kau tidak lagi memiliki kuasa untuk menjatuhkan kami dengan caramu yang dulu," ujar Siska sambil menatap lurus ke dalam mata Hendri yang memerah. Hendri hendak menyela, namun Siska mengangkat tangannya, membungkam pria itu dengan wibawanya yang baru. "Ludahmu tadi tidak menghina Arga. Sedikit pun tidak. Tindakanmu justru memperlihatkan kepada semua orang di ruangan ini betapa rendahnya kelasmu. Kau datang ke sini dengan jas m
Beberapa hari ini adalah hari yang menenangkan untuk Siska dan Arga. Dan tepat di malam ini adalah acara Gala Diner yang dihadiri para pengusaha muda. Arga dan Siska tampil sangat memukau, Siska memakai gaun merah dengan belahan yang tinggi dan memperlihatkan tato baru dikakinya, Siska tampil begitu cantik dan percaya diri, sedangkan Arga tampil menggunakan setelan jas hitam yang memperlihatkan wibawanya. Dalam kehangatan suasana Gala Diner itu, tiba-tiba suara teriakan kasar dan bunyi benturan benda keras merusak keanggunan malam itu. Para tamu undangan serentak menoleh ke arah pintu kayu jati besar yang kini terbuka lebar. "Mana Siska?! Di mana kalian menyembunyikan wanita jalang itu?!" Sesosok pria muncul dengan langkah sempoyongan. Dia adalah Hendri. Penampilannya sangat mengenaskan. Jas mahalnya tampak kusut dan tidak terkancing, dasinya miring, dan rambutnya yang biasa klimis kini berantakan menutupi dahi. Bau alkohol yang sangat menyengat langsung tercium bahkan dari jara
Siska duduk di kursi empuk ruang kerja Arga, menatap rintik hujan yang membasahi kaca jendela besar di depannya. Kehadiran Arga di ruangan itu seperti pelindung yang tak kasat mata namun sangat kuat. Arga berjalan menghampiri Siska sambil membawa dua cangkir teh hangat. Aroma melati yang menenangkan menyeruak ke seluruh ruangan. Dia meletakkan cangkir itu di meja, lalu berlutut di depan Siska. Dia menggenggam kedua tangan Siska yang terasa dingin. Siska menatap mata Arga yang dalam. "Kenapa kamu begitu baik padaku, Ga? Padahal hidupku hanya membawa masalah bagimu." Arga tersenyum, sebuah senyuman yang sanggup meluluhkan beban di pundak Siska. "Karena mencintaimu adalah hal paling masuk akal yang pernah kulakukan dalam hidupku. Masalahmu adalah masalahku juga. Kita akan menghadapi badai ini bersama-sama, sampai matahari terbit lagi untuk kita berdua." Siska merasa hatinya seperti dipeluk. "Terima kasih. Aku benar-benar beruntung memilikimu." Tiba-tiba, ponsel Arga bergetar di
Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi ini tampak lebih ramai dari biasanya. Para pemburu berita sudah berkumpul di depan pagar, berharap mendapatkan gambar atau pernyataan dari pasangan yang kasusnya sedang menjadi perbincangan nasional. Di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir agak jauh dari kerumunan, Siska duduk dengan tenang. Rambut bob barunya membingkai wajahnya dengan sangat cantik, memberikan kesan wanita karier yang sukses dan tangguh. Jantung Siska berdegup kencang, namun bukan karena takut. Itu adalah debaran kegembiraan karena akhirnya dia berani mengambil langkah paling nyata untuk memutus rantai penderitaannya. Arga, yang duduk di sampingnya, menggenggam tangan Siska. Dia bisa merasakan sedikit keringat dingin di telapak tangan wanita itu. Arga menarik tangan Siska dan mengecupnya.. "Ingat, Siska. Hari ini bukan tentang dia. Hari ini adalah tentang kemerdekaanmu," bisik Arga dengan suara baritonnya yang menenangkan. Siska menatap Arga, pria yang telah me
Siska berdiri di depan sebuah cermin besar yang menghiasi dinding kamar Arga. Dia menatap bayangannya sendiri, namun yang dia lihat bukan lagi Siska yang tegar. Dia melihat sisa-sisa perempuan yang dulu selalu merunduk, selalu merasa rendah diri, dan selalu menyembunyikan bekas luka di bawah kain panjang yang menutupi betisnya. Meskipun Arga telah berjanji akan melindunginya, Siska merasa ada sesuatu yang harus dia selesaikan dengan dirinya sendiri, dia harus menyelamatkan identitasnya yang telah lama dicuri oleh Hendri. "Kenapa diam melamun, sayang?" Arga melingkarkan tangannya di pinggang Siska. Dagu Arga bertumpu di bahu Siska, mereka berdua menatap cermin yang sama. "Aku merasa... aku masih membawa bayang-bayang Siska yang dulu, Ga. Siska yang lemah, yang rambutnya ditarik oleh Hendri, yang kakinya selalu dihina. Aku ingin membuang semua itu," bisik Siska dengan suara yang bergetar. Arga mencium leher Siska dengan lembut, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh
Pagi itu, udara di Jakarta terasa sangat menyesakkan bagi seorang Veni. Wanita yang biasanya tampil dengan riasan tebal dan pakaian bermerek itu kini tampak sangat kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Dia duduk di ruang tamu apartemen mewahnya, menatap tumpukan tas bermerek dan kotak perhiasan di atas meja kaca.Veni baru saja melihat berita pagi. Nama Hendri disebut sebagai tersangka utama dalam kasus pencucian uang dan korupsi. Semua rekening Hendri sudah dibekukan. Veni tahu betul, sebentar lagi pihak berwenang pasti akan melacak aset-aset yang dialirkan Hendri kepada orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya."Aku tidak boleh ikut jatuh. Aku harus pergi dari sini sebelum polisi datang," gumam Veni dengan suara gemetar.Dia meraih sebuah tas tangan berwarna merah marun, salah satu koleksi terbatas yang harganya mencapai ratusan juta rupiah. Tas itu adalah hadiah ulang tahun dari Hendri tahun lalu. Dulu, dia memakainya dengan bangga di depan teman-teman
Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap. Kehancuran itu bermula b
"Jadi, menurutmu ke mana perginya kalung berlian senilai tiga ratus juta itu jika tidak ada di dalam tas suamimu semalam, Siska?" Pertanyaan Arga itu masih menggema di telinga Siska seperti lonceng kematian. Siska tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai matras dengan pandangan kosong sementar
"Tidurlah yang nyenyak, Siska, karena besok adalah awal dari kebenaran yang akan merobek hatimu sampai tidak bersisa."Siska membisikkan kembali isi pesan Arga itu dengan bibir yang gemetar. Ia baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden ka
Kalimat dingin dan menusuk dari Arga itu membuat suasana lobi utama Iron & Orchid Wellness Center mendadak hening. Siska menahan napasnya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di dada. Ia menatap pria berondong di sampingnya itu dengan perasaan campur aduk. Veni membelalakkan mat







