author-banner
Tinta Senyap
Tinta Senyap
Author

Novels by Tinta Senyap

JERAT MANIS BERONDONG POSESIF

JERAT MANIS BERONDONG POSESIF

Setelah bertahun-tahun hidup dalam cemoohan dan siksaan suaminya, Siska melarikan diri di malam pesta itu ke bar dan berakhir di pelukan Arga, pemuda misterius yang memberinya satu malam penuh gairah. Dalam rengkuhannya, ia merasa kembali dihargai dan diinginkan. Kini Siska berada di tepi jurang, tetap mati perlahan dalam pernikahan yang menyiksa, atau hidup kembali dalam dosa perselingkuhan yang mematikan.
อ่าน
Chapter: Bab 100
Malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan opini publik berubah menjadi malam yang paling sibuk di penthouse mewah milik Arga. Tidak ada lagi alunan musik klasik yang lembut atau makan malam romantis di bawah cahaya lilin. Ruang makan yang luas itu telah berubah fungsi menjadi sebuah pusat komando atau ruang perang. Meja kayu jati yang biasanya bersih kini tertutup tumpukan map cokelat, dokumen legal, laptop yang menyala, dan kabel-kabel yang melintang di mana-mana.Siska berdiri di dekat jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Pikirannya masih melayang pada kejadian-kejadian sebelumnya, namun kini matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada api baru yang menyala di sana, api keberanian untuk mengakhiri semuanya.Arga menghampiri Siska dari belakang. Dia tidak langsung bicara. Pria itu menyampirkan jaket wol lembut ke bahu Siska, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menghirup aroma lavender dari rambut wa
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-23
Chapter: Bab 97
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden penthouse, membawa kehangatan yang terasa asing bagi Siska. Setelah badai emosi semalam, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tenang. Kini, masalah internal di antara mereka telah tuntas. Rahasia kotak besi itu telah menjadi jembatan, bukan lagi jurang. Arga duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Siska yang baru saja terbangun. Tangannya yang hangat mengusap dahi Siska dengan penuh kasih sayang. "Kita tidak bisa terus bersembunyi di sini, Siska," ujar Arga dengan suara yang lembut namun penuh wibawa. Siska menarik selimutnya sedikit lebih tinggi. "Aku takut, Ga. Di luar sana, orang-orang masih menganggapku sebagai istri yang melarikan diri. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Arga menggeleng pelan. Dia menggenggam tangan Siska dan mengecup punggung tangannya lama sekali. "Kamu tidak salah, sayang. Kamu adalah pahlawan. Kamu menyelamatkan nyawaku dulu, dan kamu menyelamatkan dirimu serta Grace dari monster sep
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-23
Chapter: Bab 96
Di sore yang syahdu itu, Tiba-tiba ada panggilan telepon dari kantor Arga, "Oke, aku akan segera kesana sekarang". "Ada apa, Ga? Selidik siska. "Biasalah, ada teman lama yang datang mampir ke kantor," jawab Arga. Arga berlalu bergegas ke kantor, tak lupa Arga pun memberikan kecupan manis di kening Siska. "Hati-hati dijalan, Ga." Jantung Siska masih berdegup kencang. Selama ini dia merasa terjebak dalam obsesi seorang pria muda yang berbahaya. Dia merasa seperti korban penipuan, atau lebih buruk lagi, seperti wanita simpanan yang hanya dijadikan alat pemuas ego. Namun sekarang, setelah melihat bekas luka yang sama di kulit mereka, segalanya berubah. Dunia Siska yang tadinya gelap dan penuh prasangka mendadak terang benderang. Dia bukan lagi "tante-tante simpanan" seperti yang sering dibisikkan orang-orang di luar sana. Dia adalah alasan Arga bertahan hidup selama lima belas tahun. "Apa aku pantas mendapatkan cinta sehebat ini?" bisik Siska pada kesunyian ruangan. Tiba-tib
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-22
Chapter: Bab 95
Keheningan kembali menyergap ruang kerja itu setelah badai pengakuan Arga mereda. Siska masih berdiri mematung, menatap pria di depannya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, hatinya bergetar melihat pengabdian Arga yang begitu luar biasa selama belasan tahun. Namun di sisi lain, ada sebuah tembok besar yang menghalangi logikanya. Perbedaan usia mereka, masa lalu yang kelam, dan kenyataan bahwa Arga telah mengawasinya seperti sebuah objek selama ini membuat Siska merasa hubungan ini terasa salah. "Ga, ini terlalu berat untukku," bisik Siska sambil memalingkan wajah. "Kita berbeda. Aku adalah wanita yang sudah hancur oleh pernikahan yang gagal. Aku jauh lebih tua darimu. Masa laluku penuh dengan noda, sementara kamu... kamu punya masa depan yang begitu gemilang. Kenapa harus aku yang menjadi tujuan hidupmu?" Arga tidak menjawab dengan kata-kata kasar atau bantahan yang keras. Dia memper erat pelukannya, lalu Dia berlutut di depan Siska, bukan untuk memohon, melainkan untu
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-22
Chapter: Bab 94
Suara napas Arga terdengar berat di ruangan yang kini terasa semakin sempit bagi Siska. Pengakuan tentang kebakaran itu masih terngiang di telinganya, namun Arga belum selesai. Pria itu menatap foto-foto yang berhamburan seolah setiap lembarannya adalah potongan nyawa yang ia kumpulkan selama belasan tahun. "Setelah malam itu, Siska... setelah kebakaran, Satu-satunya hal yang aku ingat adalah wajahmu. Wanita yang menerobos api hanya untuk anak kecil yang tidak dikenal. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mencarimu." Siska mundur selangkah, namun matanya tetap tertuju pada Arga. Dia melihat luka yang jauh lebih dalam dari sekadar bekas luka bakar di punggung pria itu. "Aku belajar seperti orang gila. Aku merangkak, tertatih hanya untuk bisa masuk ke lingkaran sosial yang sama denganmu," lanjut Arga. Matanya kini berkaca-kaca. "Dan saat aku akhirnya menemukanmu sepuluh tahun yang lalu, aku pikir aku akan datang padamu, memeluk kakimu, dan mengucapkan terima kasih. Ta
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-22
Chapter: Bab 93
Keheningan di dalam ruang kerja itu terasa begitu tebal, seolah-olah udara telah membeku di sekitar mereka. Siska masih berdiri mematung, jemarinya yang dingin mencengkeram erat foto candid dirinya yang diambil bertahun-tahun lalu. Di depannya, Arga berdiri tegak. "Apa yang kamu mau, Arga?" suara Siska pecah, terdengar seperti bisikan yang penuh luka. "Kenapa kamu punya foto-foto ini? Kenapa kamu mengikutiku selama bertahun-tahun tanpa aku sadari? Kamu... kamu penguntit?" Siska merasa terjebak. Pria yang selama ini dia anggap sebagai tempat berlabuh paling aman, kini terlihat seperti orang asing yang menyimpan ribuan rahasia gelap di balik matanya. Arga tidak langsung membela diri. Dia tidak tampak marah atau tersinggung. Pria itu justru melangkah mendekat secara perlahan. Setiap ketukan langkah kaki Arga di lantai kayu terasa seperti detak jantung kematian bagi Siska. "Jangan mendekat!" teriak Siska, meskipun suaranya tidak memiliki kekuatan. Arga berhenti tepat di hadapan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-20
Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK

Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK

"Dulu aku menjual tubuhku demi nyawa Ibu dan IPK. Sekarang, aku memberikan jiwaku demi pria yang tak bisa kumiliki." Demi menyelamatkan ibunya yang sekarat dan mempertahankan beasiswanya, Soraya Adhitama terpaksa menukar harga dirinya dengan nilai A dan uang dari tiga dosen penguasa kampus: Subagyo yang korup, Rian yang manipulatif, dan Brata yang dingin namun logis. Namun, rahasia kelam itu hancur ketika Gilang, kekasih masa mudanya yang tulus, memergoki dosanya di sebuah hotel. Demi menyelamatkan masa depan Gilang agar tidak terseret dalam kehancurannya, Soraya memilih menjadi penjahat: ia mencampakkan Gilang dengan kejam, membiarkan pria itu membencinya agar bisa bangkit dari kemiskinan. Lima Belas Tahun Kemudian... Skenario Soraya berhasil, namun dengan harga yang mahal. Ia kini adalah seorang Profesor muda yang disegani dan janda kaya raya, warisan dari pernikahan dengan mendiang Prof. Brata. Ia memiliki segalanya, kecuali kebahagiaan. Di sisi lain, Gilang telah bangkit menjadi Arsitek ternama dengan keluarga yang tampak sempurna bersama Amara. Namun, di balik kesuksesannya, Gilang hidup sebagai mayat hidup yang merindukan masa lalu. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, pertahanan mereka runtuh. Kebencian Gilang dulu berubah menjadi obsesi untuk memiliki. Ia nekat menghancurkan karir dan rumah tangganya, hanya demi mendapatkan Soraya kembali. Di hadapan tubuh Gilang dan istri sah yang menyerah kalah, Soraya dihadapkan pada pilihan terakhir yang paling berdosa: Lari menjauh demi moralitas, atau merengkuh cinta terlarang itu selamanya? Soraya memilih jalan ketiga. Jalan sunyi yang tak termaafkan. "Biarlah istrimu memiliki harimu di siang hari. Tapi malammu, tubuhmu, dan jiwamu... adalah milikku selamanya." Ini adalah kisah tentang penebusan dosa yang dibayar dengan dosa baru. Sebuah Dark Romance di mana akhir bahagia tidak ditemukan di pelaminan, melainkan dalam kesetiaan tersembunyi sebagai kekasih gelap abadi.
อ่าน
Chapter: Garis Paralel yang Abadi (TAMAT)
​Enam tahun kemudian. ​Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. ​Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. ​Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. ​Usianya sudah menginjak 44 tahun. ​Dia masih sendiri. Setida
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-03
Chapter: Arsitektur Dua Dunia
​Jumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. ​Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. ​Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. ​Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-03
Chapter: Cincin Berlian yang Ditolak
​Sejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. ​Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. ​Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. ​Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-03
Chapter: Potongan Kue
​Ulang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.​Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat.​"Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.​Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.​Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia".​"Makasih, Ra," jawab Gilang.​Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.​Akan tetapi, di dalam kep
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-03
Chapter: Ritual Jumat Siang
Enam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-02
Chapter: Vonis Tanpa Palu Hakim
Malam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-02
บางทีคุณอาจจะชอบ
CLIENTKU DOSENKU
CLIENTKU DOSENKU
Romansa · Bhumi Crita
532 views
Memori Yang Menghukum
Memori Yang Menghukum
Romansa · Nisa Fitri
530 views
Istri Siri Yang Ternodai
Istri Siri Yang Ternodai
Romansa · Rakyat Jelata
530 views
Antara Cinta dan Luka
Antara Cinta dan Luka
Romansa · Gavin Gandatapa
523 views
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status