
Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK
"Dulu aku menjual tubuhku demi nyawa Ibu dan IPK. Sekarang, aku memberikan jiwaku demi pria yang tak bisa kumiliki."
Demi menyelamatkan ibunya yang sekarat dan mempertahankan beasiswanya, Soraya Adhitama terpaksa menukar harga dirinya dengan nilai A dan uang dari tiga dosen penguasa kampus: Subagyo yang korup, Rian yang manipulatif, dan Brata yang dingin namun logis.
Namun, rahasia kelam itu hancur ketika Gilang, kekasih masa mudanya yang tulus, memergoki dosanya di sebuah hotel. Demi menyelamatkan masa depan Gilang agar tidak terseret dalam kehancurannya, Soraya memilih menjadi penjahat: ia mencampakkan Gilang dengan kejam, membiarkan pria itu membencinya agar bisa bangkit dari kemiskinan.
Lima Belas Tahun Kemudian...
Skenario Soraya berhasil, namun dengan harga yang mahal. Ia kini adalah seorang Profesor muda yang disegani dan janda kaya raya, warisan dari pernikahan dengan mendiang Prof. Brata. Ia memiliki segalanya, kecuali kebahagiaan.
Di sisi lain, Gilang telah bangkit menjadi Arsitek ternama dengan keluarga yang tampak sempurna bersama Amara. Namun, di balik kesuksesannya, Gilang hidup sebagai mayat hidup yang merindukan masa lalu.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, pertahanan mereka runtuh. Kebencian Gilang dulu berubah menjadi obsesi untuk memiliki. Ia nekat menghancurkan karir dan rumah tangganya, hanya demi mendapatkan Soraya kembali.
Di hadapan tubuh Gilang dan istri sah yang menyerah kalah, Soraya dihadapkan pada pilihan terakhir yang paling berdosa:
Lari menjauh demi moralitas, atau merengkuh cinta terlarang itu selamanya?
Soraya memilih jalan ketiga. Jalan sunyi yang tak termaafkan.
"Biarlah istrimu memiliki harimu di siang hari. Tapi malammu, tubuhmu, dan jiwamu... adalah milikku selamanya."
Ini adalah kisah tentang penebusan dosa yang dibayar dengan dosa baru. Sebuah Dark Romance di mana akhir bahagia tidak ditemukan di pelaminan, melainkan dalam kesetiaan tersembunyi sebagai kekasih gelap abadi.
Basahin
Chapter: Garis Paralel yang Abadi (TAMAT)Enam tahun kemudian. Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. Usianya sudah menginjak 44 tahun. Dia masih sendiri. Setida
Huling Na-update: 2026-02-03
Chapter: Arsitektur Dua DuniaJumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger
Huling Na-update: 2026-02-03
Chapter: Cincin Berlian yang DitolakSejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema
Huling Na-update: 2026-02-03
Chapter: Potongan KueUlang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat."Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia"."Makasih, Ra," jawab Gilang.Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.Akan tetapi, di dalam kep
Huling Na-update: 2026-02-03
Chapter: Ritual Jumat SiangEnam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber
Huling Na-update: 2026-02-02
Chapter: Vonis Tanpa Palu HakimMalam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere
Huling Na-update: 2026-02-02
Chapter: Bab 25"Tentu saja boleh, Nyonya Siska. Tapi besok jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh yang tidak memar-memar karena hukuman atas kebohonganmu selama tiga hari ini." Kalimat ancaman dari Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia mencoba membuka matanya di pagi buta. Siska ingin segera bangun, ia ingin memenuhi janjinya untuk datang ke gym jam enam pagi demi meredam amarah Arga. Namun, saat ia mencoba menggerakkan lengannya, tubuhnya terasa seberat timah. Kepalanya berdenyut-denyut sangat hebat, seolah-olah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke dalam otaknya secara bersamaan. Siska mengerang pelan, mencoba menyentuh dahinya sendiri. Panas. Kulitnya terasa seperti membara, namun di saat yang sama, ia merasa kedinginan yang amat sangat hingga ke tulang sumsum. Tubuhnya benar-benar sudah mencapai batasnya. Stres batin yang menumpuk, diet ketat yang dipaksakan Arga, serta tekanan dari Hendri akhirnya meledakkan pertahanan kesehatannya. Siska jatuh sakit, dan kali ini bukan bohon
Huling Na-update: 2026-03-09
Chapter: Bab 24"Siska, apakah kamu sudah siap jika suatu saat nanti aku benar-benar mengambilmu dari rumah itu dan membuat Hendri berlutut memohon ampun di depan kaki kita berdua?" Pertanyaan Arga itu terus menggema di dalam kepala Siska layaknya kutukan yang tidak kunjung hilang. Sepanjang perjalanan pulang hingga ia merebahkan tubuh di ranjang, Siska merasa dunianya berputar dengan sangat cepat. Ia ketakutan. Bukan hanya karena keberanian Arga yang ingin menghancurkan Hendri, tetapi karena ia menyadari bahwa sebagian dari dirinya mulai menginginkan hal itu terjadi. Ia takut pada getaran di hatinya setiap kali Arga mengklaimnya sebagai milik pria itu. Siska menatap langit-langit kamarnya yang mewah. Ia sadar bahwa ia telah melampaui batas profesional. Perhatian Arga yang begitu detail, sentuhannya yang protektif, hingga caranya mendengarkan keluh kesah Siska telah menjadi candu yang berbahaya. Siska merasa dirinya seperti tawanan yang mulai mencintai penjaganya. "Aku tidak boleh seperti ini. Aku
Huling Na-update: 2026-03-08
Chapter: Bab 23Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap. Kehancuran itu bermula beberapa jam yang lalu di meja makan rumahnya yang mewah namun terasa mencekam. Grace, putri tunggalnya yang biasanya penurut, tiba-tiba meledak. Gadis remaja itu berteriak bahwa ia muak melihat Siska yang selalu terlihat menyedihkan dan lemah di depan ayahnya. Grace bahkan menyebut Siska sebagai ibu yang tidak punya harga diri karena terus memaafkan pengkhianatan Hendri yang sudah menjadi rahasia umum di sekolahnya. "Kamu tidak becus mendidik anak, Siska! Lihat bagaimana anakmu sendiri merendahkan ibunya!" bentak Hendri tadi pagi, alih-alih membela istrinya. Hendri justru menggunakan kemarahan Grace untuk kembali menyudutkan Siska, lalu pergi begitu saja meninggalkan Siska yang tersungkur d
Huling Na-update: 2026-03-07
Chapter: Bab 22"Jadi, menurutmu ke mana perginya kalung berlian senilai tiga ratus juta itu jika tidak ada di dalam tas suamimu semalam, Siska?" Pertanyaan Arga itu masih menggema di telinga Siska seperti lonceng kematian. Siska tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai matras dengan pandangan kosong sementara napasnya terasa berat. Arga tidak mengejarnya lebih jauh, pria itu membiarkan Siska pulang dengan membawa kepingan fakta yang merobek jantungnya. Pagi ini, dunia Siska terasa semakin sempit. Saat ia mencoba bangun dari tempat tidur, sebuah rasa nyeri yang tajam menusuk dari pinggang hingga ke punggung bagian atas. Siska meringis, memegangi pinggangnya dengan tangan gemetar. Stres yang bertubi-tubi, rahasia kalung berlian yang hilang, dan bayangan Veni seolah bermuara pada otot-otot tubuhnya yang kini mengeras karena tekanan batin. "Mas Hendri," panggil Siska lirih saat melihat suaminya sedang mematut diri di depan cermin, merapikan dasi sutranya yang mahal. Hendri hanya melirik dari pan
Huling Na-update: 2026-03-06
Chapter: Bab 21"Tidurlah yang nyenyak, Siska, karena besok adalah awal dari kebenaran yang akan merobek hatimu sampai tidak bersisa."Siska membisikkan kembali isi pesan Arga itu dengan bibir yang gemetar. Ia baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar yang mewah namun terasa dingin. Hendri sudah tidak ada di sampingnya. Siska menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak beraturan sejak pertengkaran mereka semalam.Ponsel di atas nakas bergetar pendek. Siska meraihnya dengan tangan yang masih terasa lemas. Ada notifikasi pesan WhatsApp dari nomor asing yang tidak tersimpan di kontaknya. Dengan ragu, Siska membukanya.Mata Siska membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Pesan itu hanya berisi sebuah foto. Bukan foto perselingkuhan, melainkan sebuah foto struk pembelian dari sebuah toko perhiasan berlian ternama di Jakarta. Di sana tertulis jelas jenis barangnya: sebuah kalung berlia
Huling Na-update: 2026-03-05
Chapter: Bab 20Kalimat dingin dan menusuk dari Arga itu membuat suasana lobi utama Iron & Orchid Wellness Center mendadak hening. Siska menahan napasnya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di dada. Ia menatap pria berondong di sampingnya itu dengan perasaan campur aduk. Veni membelalakkan matanya lebar lebar. Wajah wanita muda yang tadinya penuh dengan senyum kemenangan dan kesombongan itu, seketika berubah menjadi merah padam karena menahan malu. Beberapa staf resepsionis dan member gym yang sedang lewat terang terangan menatap Veni dengan pandangan merendahkan. "Apa apaan Anda ini?! Anda tidak tahu siapa saya?!" jerit Veni tidak terima. Suaranya melengking tajam memecah keheningan lobi. "Saya ini punya banyak uang! Saya bisa membeli tempat ini kalau saya mau!" "Simpan saja uang Anda untuk membeli sopan santun," jawab Arga tanpa ekspresi sedikit pun. Pria itu mengangkat tangannya, memberikan isyarat kecil ke arah dua orang petugas keamanan bertubuh besar yang berjaga di dekat
Huling Na-update: 2026-03-04