"Lari, Siska! Jangan seperti mayat hidup yang hanya membuang buang oksigen di sini!" Teriakan Arga menggelegar di seluruh penjuru area VIP, memecah kesunyian pagi yang dingin. Siska tersentak, mencoba memacu kakinya lebih cepat di atas karpet treadmill yang terus berputar tanpa ampun. Napas wanita itu mulai terasa panas di kerongkongan, sementara keringat bercucuran membasahi pakaian olahraga ketat yang Arga paksa untuk ia kenakan. Setiap langkah terasa berat, seberat beban pikiran yang menggelayuti kepalanya sejak tadi malam. Siska tidak bisa berhenti memikirkan Hendri. Bayangan suaminya yang tertawa bersama Veni di restoran itu terus berputar seperti kaset rusak di benaknya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat daripada rasa sakit di otot kakinya. Ia merasa dikhianati, dibuang, dan diabaikan di rumahnya sendiri. Ia merasa begitu tidak berharga sebagai seorang istri, bahkan setelah ia mencoba memberikan segalanya. "Fokus pada langkahmu, bukan pada bayangan bajingan itu!" bentak
Last Updated : 2026-02-22 Read more