LOGINLampu-lampu rumah sakit menyala terang, terlalu terang bagi mata Felisha yang baru saja tiba dengan langkah tergesa. Aroma antiseptik menyergap, dingin dan asing, membuat dadanya semakin sesak.Suara roda brankar yang melintas, dengungan mesin medis, dan langkah kaki orang-orang yang tak saling mengenal berpadu menjadi kebisingan yang terasa jauh —seolah dunia berjalan tanpa peduli pada detik yang baru saja runtuh baginya.“Di mana dia?” suara Felisha terdengar parau, nyaris tidak seperti suaranya sendiri.Gina yang berjalan di samping refleks meraih tangan Felisha, menggenggamnya erat. “Feli, pelan-pelan … kita tanya baik-baik.”Namun Felisha sudah melangkah lebih dulu. Pandangannya menyapu lorong ICU hingga akhirnya menemukan sosok yang dikenalnya.Alvaro.Pria itu berdiri tegak, tapi jasnya kusut, dasinya longgar, dan sorot matanya kehilangan ketenangan yang biasa ia miliki. Begitu melihat Felisha, ia menunduk sedikit —sebuah gestur yang tak pernah ia lakukan sembarangan.“Nona,” u
Di sebuah rumah besar yang kini terasa lebih seperti bangunan kosong, Herman Sumitra duduk di ruang tamu dengan rahang mengeras. Lampu kristal di langit-langit menyala terang, tapi tak mampu mengusir hawa dingin yang menggantung di udara.Rumah yang sudah ia tempati selama bertahun-tahun, kini telah berpindah kepemilikan. Rumah itu telah kembali ke pemiliknya, tapi Herman Sumitra tampaknya tak terima. Ia telah berusaha keras membuat bangunan itu menjadi miliknya, tapi kemunculan Alan Tanujaya telah menghancurkan usahanya. "Kuranh ajar!" serunya, entah pada siapa. Ia sendirian di ruangan itu. Tak tahu di mana keberadaan istrinya. Sudah sejak kedatangan Felisha terakhir kali, ia selalu menangis. Terlebih masih tak ada juga kabar dari putri semata wayangnya. Berminggu-minggu sudah Dina menghilang.Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Nomor ponselnya mati. Apartemen yang biasa ia tempati kosong, seolah perempuan itu lenyap begitu saja ditelan kota.Herman mengepalkan tangan. “Ini semua gar
Felisha menyandarkan punggungnya ke pintu yang baru saja tertutup. Sunyi menyambutnya—bukan sunyi yang menakutkan, tapi sunyi yang terasa kosong.Ia menoleh ke meja kecil dekat jendela. Biasanya, di sana akan ada kotak makan dengan catatan singkat, kadang hanya satu kalimat formal, kadang tanpa nama. Hal kecil yang selama ini ia abaikan, namun ternyata telah menjadi penanda, bahwa lelaki itu masih begitu perhatian padanya. Kini, meja itu bersih.Felisha menghembuskan napas pelan. “Ternyata begini rasanya,” gumamnya lirih.Ia menanggalkan sepatu, duduk di tepi ranjang, lalu memeluk lututnya sendiri. Perasaan yang datang bukan sedih. Juga bukan kehilangan yang menyakitkan. Lebih seperti kesadaran bahwa sebuah fase benar-benar ditutup —tanpa kata, apalagi tanpa perpisahan.Alan telah menepati ucapannya. Ia mencoba untuk melepaskan. Tidak seutuhnya, tapi memberikan jeda dan jarak. Tak ingin menganggu, yang hanya akan membuat sang istri semakin membenci. Malam itu, Felisha memasak sendir
Pagi datang tanpa ada drama. Cahaya matahari menembus sela tirai tipis kamar kos, jatuh lembut di wajah Felisha. Ia terbangun dengan perasaan asing —ringan, tapi penuh. Seolah ada sesuatu yang akhirnya kembali ke tempatnya, meski belum sepenuhnya ia sentuh.Tangannya refleks menyentuh tas di sisi ranjang. Amplop cokelat itu masih ada. Nyata.Felisha duduk perlahan, membukanya sekali lagi. Ia membaca nama di sertifikat itu, memastikan huruf demi huruf tidak berubah semalaman.FELISHA PUTRIBukan sekadar kepemilikan. Tapi pengakuan. Tentang asal-usulnya. Tentang hak yang selama ini dirampas tanpa suara.Ia menghembuskan napas panjang.“Ayah… Ibu…” gumamnya pelan. “Aku sudah menemukannya kembali.”Tidak ada tangis kali ini. Hanya dada yang menghangat, seolah seseorang tengah menepuk bahunya dari kejauhan.Felisha bersiap berangkat kerja seperti biasa. Ia memilih pakaian sederhana, menyisir rambut rapi, lalu berhenti sejenak di depan cermin kecil. Pantulan di sana bukan perempuan yang sam
Felisha menutup pintu kamar kos perlahan, lalu meletakkan tas kerjanya di kursi. Tubuhnya lelah, kepalanya terasa penuh, tapi rasa aman kecil yang selama ini ia bangun membuatnya masih mampu berdiri tegak.Kedua matanya menatap Amplop cokelat yang tergeletak rapi di atas kasur.Namanya tertulis jelas di bagian depan. Tulisan tangan yang tegas, familiar, tanpa hiasan apa pun.Felisha menelan ludah. Ia kenal tulisan itu. “Apa lagi ini?” gumamnya pelan.Ia duduk di tepi ranjang, membuka amplop itu dengan gerakan hati-hati —seolah takut isinya bukan sekadar kertas. Begitu amplop terbuka, beberapa lembar dokumen terlipat rapi meluncur ke pangkuannya.Matanya menyapu baris pertama. SERTIFIKAT HAK MILIKNapas Felisha tertahan. Tangannya gemetar saat ia membuka lipatan berikutnya, membaca alamat yang tertera di sana. Alamat yang terlalu ia kenal. Rumah dengan halaman luas dan pepohonan di sudut pagar. Rumah tempat ia tumbuh, tempat kedua orang tuanya menghabiskan sisa hidup mereka sebelum a
Mobil Alan melaju lebih cepat dari biasanya, memotong arus lalu lintas sore dengan suasana dingin. Tangannya menggenggam setir terlalu erat —bukan karena takut kehilangan kendali, justru karena ia menahannya.Ia tahu satu hal sejak awal, Felisha berhak bekerja di mana pun ia mau. Ia tahu itu secara logika. Tapi perasaan —yang selama ini ia jinakkan dengan disiplin, kini memberontak.Perusahaan Wijaya. Nama itu bukan sekadar nama. Itu adalah simbol dari kerja sama yang pernah gagal, ego yang pernah beradu, dan sekarang kemungkinan lain yang terlalu dekat dengan Felisha.Alan memarkir mobilnya di seberang gedung kantor itu. Ia tidak turun. Hanya menunggu, menatap pintu keluar dengan rahang mengeras.Jam di dashboard menunjukkan pukul 16.47.“Jam lima,” gumamnya, mengulang laporan Luna.Ia menghela napas panjang, berusaha merapikan niat. Ia tidak datang untuk menjemput. Tidak datang untuk membawa pulang. Ia bahkan tidak tahu pasti mengapa ia datang, selain satu dorongan yang tak bisa ia







