Share

Bab 26

Author: Syaard86
last update Last Updated: 2025-12-25 10:17:48

Akira duduk membisu di pojok kamar kos yang remang, matanya menatap laptop terbuka di meja. Formulir cuti akademik terpampang, kursor berkedip-kedip seolah mengejek keraguannya. Napasnya tercekat, tangan kanan gemetar menahan beban keputusan yang tak kunjung datang dengan keyakinan.

Jari-jarinya berhenti di atas tombol kirim, tapi berat sekali untuk menekannya. Ia tahu, satu klik itu sama saja mengakui dirinya tak sekuat yang selama ini dia kira.

Ponsel di sampingnya bergetar sesaat, layar memperlihatkan pesan dari Naya, Lintang, dan Arka. Tapi Akira memilih diam, belum membalas. Bukan karena ia acuh, melainkan kali ini dia ingin memilih sendiri, tanpa suara orang lain mengganggu.

Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan Azka menyeruak di benaknya, tawa kecil yang hangat, pelukan tanpa ragu yang membuat dunia terasa aman, sapaan 'Mama Akira' yang seakan jadi nama paling indah di hidupnya. Tapi justru kenangan itu yang membuat dadanya sesak.

Akira takut.

Takut kehilangan keber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 38

    Pagi menyelinap tanpa permisi, cahaya matahari merayap halus lewat celah tirai kamar rawat Azka. Sinar hangat itu jatuh lembut di wajah kecilnya yang kini sedikit lebih berwarna, pipi pucat semalam berubah menjadi merah jambu. Nafasnya teratur, berirama bersama deru mesin di samping ranjang, bunyi pelan yang memberi rasa tenang sekaligus mengingatkan betapa rapuhnya hidup itu. Arka duduk tegak di kursi, jemarinya menggenggam tangan mungil Azka yang hangat. “Kamu tidur nyenyak,” ucapnya pelan, suaranya penuh kasih dan lega. Mata Azka mengerut, lalu terbuka perlahan. “Papa?” suara kecil itu pecah di keheningan. “Iya, Papa di sini,” balas Arka cepat, menahan haru di dada yang terasa sesak. Senyum tipis dari Azka muncul, seakan menyalakan bara hangat di hati Arka yang tiba-tiba mencengkeram kuat di dadanya. “Mama Akira?” tanya Azka lirih, ragu. Arka menelan liur, tak langsung menjawab. “Dia di luar. Lagi nunggu.” Azka mengangguk, tapi suaranya pelan, hampir berbisik, “Jangan

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   bab 37

    Lorong rumah sakit membentang panjang, seolah menantang kesabaran Akira. Langkahnya pelan, kaki terasa berat, seolah lantai putih itu bisa tiba-tiba ambruk di bawahnya. Matanya sembab, kepala berdengung penuh gema ruang Dewan Etik, tatapan tajam para dosen, dan sosok Arka yang berdiri teguh membelanya. Nama Arka tak lagi sekadar label dosen killer di pikirannya. Kini, nama itu mengikat takut, lega, hangat, dan rasa bersalah dalam satu perasaan yang membingungkan. Ia berhenti di depan mesin minuman, bibirnya bergerak pelan seolah membaca, tapi tak satupun kata itu meresap ke dalam pikirannya. “Kamu belum pulang.” Suara itu lembut namun tegas, muncul dari belakang dengan keakraban yang akrab menusuk. Akira menutup mata sesaat, menenangkan nafas, lalu menoleh perlahan. Arka berdiri beberapa langkah di belakangnya, jas sudah dilepas, kemeja putihnya kusut dan wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, sebuah kejujuran yang jarang ia tunjukkan. “Saya... mau lihat Azka sebentar,”

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 36

    Pagi itu, rumah sakit terasa hening sampai sunyi. Azka duduk di ranjang, kedua kaki mungilnya bergoyang pelan tanpa tujuan. Matanya terpaku ke pintu, seakan yakin kalau dengan menatap lama, Papa akan muncul dari balik sana. Sejak semalam, Papa belum juga kembali. Yang datang cuma Oma dan Opa, dengan wajah tegang dan senyum yang tampak dipaksakan. “Kamu harus sarapan, Nak,” suara Oma lembut, sambil mengulurkan sendok berisi bubur. Azka menatap sendok itu, lalu menggeleng pelan. “Azka mau Mama Akira.” Sendok berhenti di udara. Opa menghela napas panjang, suaranya berat dan serak. “Azka, Mama Akira nggak selalu bisa ada. Kamu harus belajar terima kenyataan.” Azka menunduk, kepalanya membulat, tangannya mengepal erat di atas selimut. Dadanya sesak sampai sulit bernapas, tapi ia menguatkan diri dengan kata-kata yang pernah Papa ucapkan. “Papa bilang…” suaranya kecil namun penuh tekad, “perasaan Azka nggak salah.” Oma menatap cucunya dalam-dalam, terdiam. Di mata Azka, bukan

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 35

    Azka duduk di tepi ranjang rumah sakit, kakinya menggantung tanpa menyentuh lantai. Tangannya meremas boneka robot kesayangannya, tapi wajahnya tak menunjukkan sedikit pun ekspresi. Sudah dua hari sejak Azka bertanya tentang Mama Akira, dan dua hari juga Arka berusaha memberikan jawaban yang bisa dimengerti oleh anak seusianya. Tiba-tiba, suara kecil Azka memecah keheningan. “Papa bohong,” ucapnya datar. Arka yang sedang menandatangani berkas medis terhenti seketika, pandangannya beralih ke anak itu. “Papa nggak bohong,” jawabnya tegas, berusaha meyakinkan. Azka menoleh perlahan, matanya menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang aneh untuk seorang anak berusia lima tahun. “Papa bilang Mama Akira sibuk. Tapi Mama Akira biasanya tetap datang, walau sibuk,” katanya dengan suara polos. Kata-kata sederhana itu menusuk dada Arka seperti pisau, membuatnya terdiam sesaat. Ia lalu merendahkan badan, berjongkok di depan Azka, mencoba menatap mata anak itu. “Mama Akira... lagi butu

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 34

    Lima menit terasa seperti lima detik. Akira berdiri di sisi ranjang Azka, matanya terpaku pada wajah kecil itu yang tampak begitu rapuh. Hatinya bergejolak, campuran rindu yang mendalam, ketakutan yang merayap, dan kesadaran pahit bahwa kebersamaan itu kini jadi hak yang ia genggam dengan sangat hati-hati. Tangannya terangkat perlahan, ingin sekali mengusap pipi lembut Azka, tapi tiba-tiba ragu menghentikannya. Ia menunduk, suaranya hampir tenggelam dalam hening. “Cepat sembuh ya, Dek.” Napasnya sesak, bibirnya bergetar saat melanjutkan, “Mama...” namun kata itu tertahan, ia menelan ludah dalam-dalam. “Tante Akira selalu doain kamu.” Langkahnya mundur pelan, ia menghindari tatapan siapa pun dan keluar dari kamar tanpa sekali pun menoleh kembali. Begitu pintu terkunci rapat, tubuhnya langsung lemas, bahu merosot oleh beban yang tak terlihat. Lorong rumah sakit itu menyambutnya dengan bau antiseptik yang menusuk dan suara langkah kaki orang-orang yang seolah tak menghiraukan dun

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 33

    Rumah sakit pagi itu terasa aneh di matanya. Suaranya terlalu hening untuk disebut tenang, tapi langkah-langkah pasien dan suara alat medis di kejauhan tetap membuat suasana tak pernah benar-benar nyaman. Akira menapak dengan pelan keluar dari lift, jemarinya menggenggam plastik berisi bubur hangat dan susu kotak, pesanan khusus Azka. Semalam, Azka cuma mau makan kalau Akira yang menyuapi. “Tarik napas, Kira. Jenguk anak sakit itu hal biasa,” ia gumam pelan, mencoba menenangkan diri. Namun langkahnya langsung membeku saat melihat dua sosok berdiri di depan kamar Azka. Seorang perempuan berpenampilan anggun dengan setelan gelap berdiri tegap, punggungnya lurus dan aura kewibawaannya membuat lorong rumah sakit terasa sesak. Di sampingnya, pria berambut perak dengan mata tajam sibuk membaca sesuatu di ponsel. Oma dan opa Azka. Orang tua Arka. Jantung Akira seperti tercebur ke dasar perut, bukan berdetak biasa, tapi ambruk tak berdaya. "Astaga, kenapa harus sekarang?" T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status