แชร์

Bab 96

ผู้เขียน: Syaard86
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-05 22:16:29

Malam itu, kamar kos Akira terasa lebih sunyi dari biasanya. Amplop putih tergeletak tak bergerak di sampingnya, sementara brosur S2 terbuka setengah dengan kertas yang bergetar pelan oleh angin kipas tua yang berdengung lirih.

Ponselnya bergetar lagi, menampilkan nama Arka.

“Udah dibuka?”

Akira menatap layar dengan jari berhenti sejenak, lalu membalas. “Kamu sengaja ya bikin aku mikir semalaman?”

Balasan cepat menyusul. “Iya.”

Senyum tipis mengembang di wajah Akira, seolah menemuka
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 155

    Pagi itu sinar matahari menyusup lembut melalui jendela, menerangi ruang tamu yang kini dipenuhi suara tawa dan langkah kaki kecil. Rumah yang dulu hening berubah menjadi pusat keramaian yang tak pernah padam sejak kabar kehamilan Akira tersebar. Dari dapur, suara Bu Sari memecah keheningan, tegas namun penuh perhatian, “Akira! Jangan banyak gerak!” Akira, yang baru saja melangkah menuju dapur dengan tangan menggenggam gelas kosong, seketika berhenti. Wajahnya memerah, sedikit cemas namun berusaha tenang. “Bu… aku cuma ambil minum…” suaranya lembut, namun terdengar ragu. Tanpa menoleh, Bu Sari memerintah, “Duduk!” Akira menuruti, menurunkan tubuhnya ke kursi kayu dengan gerakan pelan seperti anak kecil yang baru ketahuan berbuat salah. Matanya menatap ke lantai, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup cepat. Di sekelilingnya, suara kendaraan di jalan depan tersamarkan oleh suara percakapan serta langkah kaki yang menyatu, mengisi ruang yang dulu sunyi d

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 154

    Pagi itu sinar matahari menembus tirai jendela dengan lembut, menciptakan garis-garis emas di lantai ruang tamu yang rapi. Udara hangat pagi menyelinap masuk, membawa aroma kopi dan kue panggang dari dapur. Azka, dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih setengah mengantuk, berdiri di tengah ruang, suaranya menggema saat ia berteriak, "Ma! Sepatu aku mana?" Akira yang sedang sibuk mengaduk adonan di meja dapur, berhenti sejenak dan menoleh ke arah Azka. Wajahnya yang biasa tenang menampakkan sedikit kelelahan, namun suara balasannya tetap penuh kesabaran, "Di rak! Coba lihat dulu, jangan langsung teriak!" Suasana seketika hening. Azka mengernyit, lalu melangkah menuju rak sepatu di dekat pintu, matanya menyapu setiap pasang sepatu dengan teliti. Senyum kecil terbentuk di bibirnya saat akhirnya menemukan sepatu favoritnya yang berwarna biru tua. "OH IYA ADA," serunya penuh lega, suaranya kini lebih ceria. Di sudut dapur, Akira menghela napas ringan, matanya menatap putranya

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 153

    Ruang sidang terasa hening, hanya suara langkah hakim yang menggema di antara deretan kursi kayu. Aluna berdiri tegak di depan meja terdakwa, wajahnya yang dulu penuh semangat kini berubah menjadi topeng kosong tanpa ekspresi. Matanya menatap lurus ke depan, seolah menolak untuk menangkap setiap kata yang keluar dari mulut hakim. "Aluna, Anda dinyatakan bersalah atas penculikan berencana, manipulasi data, dan pencemaran nama baik," suara hakim tegas namun dingin, menembus keheningan yang menyesakkan. Detik-detik itu seperti berjalan lambat, menahan nafas seluruh hadirin yang menyaksikan. Tak ada lagi senyum tipis yang dulu sering menghiasi bibir Aluna saat menghadapi masalah. Tidak ada perlawanan, hanya ketenangan yang terasa membeku, seperti seseorang yang telah menyerah pada nasibnya sendiri. Tangan Aluna menggenggam erat, namun tubuhnya tetap diam, menahan segala rasa yang mungkin berkecamuk di dalam. Di antara kerumunan, beberapa orang menahan napas, ada yang menatap iba, tapi

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 152

    Perjalanan pulang kali ini berbeda. Kabin mobil terasa hampa, sunyi yang memeluk tanpa ampun. Akira duduk di samping jendela, tatapannya kosong menembus pemandangan yang bergerak perlahan, namun pikirannya malah tersesat jauh ke tempat yang tak bisa dijangkau. Bibirnya yang biasa meluncurkan candaan ringan kini terkatup rapat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Arka duduk diam. Tak ada kata yang terucap, hanya keheningan yang menekan udara di antara mereka. Namun, tangannya tetap erat menggenggam jari Akira, seolah ingin menyampaikan sesuatu tanpa suara. Sesekali Arka menoleh ke arah Akira, matanya mencari respons, ingin memastikan keberadaan satu sama lain di tengah kesunyian itu. Setiap kali tatapan itu bertemu, Akira membalas dengan anggukan kecil lembut, penuh pengertian seolah ingin mengatakan, “Aku masih di sini. Jangan pergi.” Meski kata-kata tak terucap, kehangatan itu mengisi ruang kosong di antara mereka, menjadi jembatan sunyi yang mengikat hati tanpa perlu sua

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 151

    Ruang keamanan itu sesak bukan oleh dindingnya, melainkan oleh ketegangan yang menyelimuti udara. Lampu neon yang redup memantulkan bayangan samar di wajah Akira, yang duduk kaku di kursi logam dengan mata yang sesekali menatap kosong ke depan. Tangannya gemetar halus, seolah berusaha menahan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Di sampingnya, Arka berdiri tegak, tubuhnya membentuk benteng pelindung yang tak terlihat. Jemarinya menggenggam tangan Akira dengan kuat, memberi sinyal bahwa dia tak akan melepasnya dalam keadaan apapun. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan yang berusaha menembus keheningan, "Sayang, kamu yakin nggak kenapa-kenapa?" "Iya..." Akira mengangguk, tapi napasnya yang tersengal mengkhianati kepura-puraannya. Dalam ruang itu, waktu seolah melambat, dan ketakutan yang tersembunyi di balik ketenangan membuat ruang itu terasa semakin sempit, menekan dada tanpa ampun. Arka menatap Akira dengan tatapan yang begitu dalam, seolah berusaha menyimpan seti

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 150

    Pagi merayap masuk pelan lewat celah tirai kamar hotel. Cahaya hangat menerpa lantai, menciptakan suasana yang tenang, seolah semua akan berjalan biasa saja. Tapi tiba-tiba, suara kecil pecah, “Aduuhh…” Akira terbangun dan duduk di tepi ranjang, wajahnya mengerut penuh sakit. Tangannya otomatis memegang pinggang, dipijit pelan. “Pinggang gue... rasanya kayak mau copot,” keluhnya, suaranya hampir berbisik. Dia mencoba berdiri, tapi langsung berhenti, meringis lagi. Matanya melirik ke arah ranjang, di mana Arka masih terlelap, napasnya tenang seperti tak punya beban. Akira menghela napas, ada sedikit iri yang tak tersampaikan. Akira menyipitkan mata, alisnya mengerut menahan kesal. “Gara-gara pak dosen…” gumamnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar, “badan berasa remuk semua.” Bahunya yang biasanya tegap tampak sedikit membungkuk, tanda lelah yang ia rasakan sejak semalam. Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah perlahan. Senyum kecil merekah di bibirnya, m

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 58

    Kos Akira kembali hening saat suara motor listrik menghilang dan langkah kaki Arka serta Azka menjauh. Pintu kamar ditutup dengan pelan, tapi dadanya masih bergemuruh tak henti. Akira bersandar lemah di balik pintu, matanya kosong menatap deretan catatan kuliah dan jadwal yang sudah pudar menempe

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-27
  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 62

    Malam merayap turun dengan dingin yang menusuk tulang. Hujan sudah tak henti sejak sore, tetesannya membuat aspal mengkilat dan lampu jalan berubah jadi bayangan buram, seolah memaksa kenangan lama bangkit dari tidur panjang. Di rumah Arka, lampu ruang tamu menyala begitu terang, terlalu taja

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-27
  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 52

    Meja makan yang panjang itu terasa begitu sempit, seolah setiap inci ruang menyimpan ketegangan yang sulit terucapkan. Arka duduk di ujung meja, tubuhnya tegak tapi bahunya kaku menahan beban yang tak terlihat. Di sebelah kanannya, Aluna mengenakan gaun krem sederhana, wajahnya tenang, terlalu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-25
  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 51

    Arka menatap layar ponselnya, napasnya tercekat saat nama ibunya tertera jelas. Bukan pesan biasa yang dia harapkan, “Arka, pulang ya.” Kali ini hanya tertulis singkat, penuh perintah. “Datang ke rumah sekarang.” Nada pesan itu dingin dan tanpa kompromi, seolah menutup ruang untuk alasan apa pun.

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-25
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status