Share

Bab 47

Author: Syaard86
last update Last Updated: 2026-01-15 13:58:12

Sore menyusup perlahan, membawa pulang Azka dengan langkah ringan yang tak lagi berat seperti pagi tadi. Akira duduk bersandar pada motor listriknya di depan sekolah, helm tergantung santai di lengan. Ketika Azka muncul di gerbang, bocah itu langsung berlari kecil, tasnya berguncang tak beraturan.

“Mama Akira!” teriak Azka, tubuh kecilnya menubruk Akira dalam pelukan penuh semangat.

Akira berjongkok, membuka tangan lebar-lebar, merasakan kehangatan dan energi yang membanjiri.

“Gimana sekolahnya?” tanyanya lembut sambil merapikan rambut Azka yang berantakan karena lari.

“Baik!” jawab Azka mantap, mata berbinar. “Azka bilang ke Bu Guru kalau Mama Akira yang antar.”

Akira terkekeh pelan, wajahnya memerah tipis. “Terus Bu Guru bilang apa?”

“Dia senyum. Terus bilang, ‘wah’,” kata Azka sambil menirukan ekspresi guru mereka.

Akira mengangguk serius, merasa bangga. “Berarti itu respon positif.”

Azka melompat naik ke motor dengan wajah puas, sementara di kaca spion, tanpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 51

    Arka menatap layar ponselnya, napasnya tercekat saat nama ibunya tertera jelas. Bukan pesan biasa yang dia harapkan, “Arka, pulang ya.” Kali ini hanya tertulis singkat, penuh perintah. “Datang ke rumah sekarang.” Nada pesan itu dingin dan tanpa kompromi, seolah menutup ruang untuk alasan apa pun. Baru saja selesai mengoreksi tumpukan tugas mahasiswa, ponselnya kembali bergetar. Pesan selanjutnya muncul, membuat dadanya semakin berat. "Sore ini keluarga Aluna datang. Kita akan makan malam bersama." Arka menutup mata sejenak, menahan desah yang enggan keluar. Udara di ruang kerja mendadak terasa sesak, seperti dinding ikut menekan dan merekam beban di dadanya. Makan malam itu bukan sekadar acara biasa. Arka tahu benar, itu adalah langkah yang sudah lama direncanakan orang tuanya sebuah keputusan yang siap dipaksakan padanya. Pikirannya melayang pada Azka, putranya. Ingatan tentang tawa ceria Azka kemarin, cerita-cerita kecil tentang “Mama Akira”, serta wajah cerah anak itu yang

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 50

    Akira baru menyadari ada yang aneh ketika senyumnya mengembang sendiri saat menyeduh kopi pagi itu. Bukan karena ada yang lucu, bukan juga dari notifikasi yang masuk. Matanya terpaku pada bayangan Arka yang kemarin menatap Azka dengan tatapan hangat di mobil, tenang, penuh arti, seperti menemukan rumah. Dada Akira tiba-tiba terasa sesak, seperti ditekan sesuatu. “Gue nggak boleh sejauh ini,” bisiknya pelan, suara nyaris tenggelam dalam keheningan pagi Minggu yang seharusnya santai. Tapi hatinya berat, penuh perasaan yang sulit ia tempatkan. Ia pun kabur ke kafe langganan, ditemani Naya dan Lintang. Lintang datang lebih dulu, tangannya sibuk mengaduk es kopi tanpa ekspresi. Tak lama, Naya datang dengan mata mengamati Akira penuh rasa ingin tahu. “Ekspresi lo tuh,” kata Naya tajam, menatap Akira, “ekspresi orang yang baru jatuh… tapi masih ngotot ngelawan.” Akira mendengus, menjatuhkan tas ke kursi tanpa semangat. “Gue cuma capek.” Lintang mengangkat alis, senyum nakal te

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 49

    Perjalanan ke mal baru saja dimulai, tapi Akira sudah merasakan gelisah. Ia duduk di kursi depan, posisi yang langsung ia sesali setelah lima menit berlalu. Dari kursi belakang, suara Azka memecah keheningan. “Papa,” suara kecil itu terdengar penuh tanya, “Mama Akira duduknya kok di depan?” Akira spontan menoleh, menahan napas. “Supaya nggak pusing,” jawabnya cepat. Azka mengerutkan dahi, raut wajahnya serius. “Tapi Mama itu harus di belakang. Sama Azka.” Arka menatap spion dengan dingin. “Mama Akira bukan mama kamu,” ucapnya singkat. Azka tak segera menjawab, malah menatap ayahnya dalam-dalam, penuh makna. “Belum,” katanya mantap, tanpa ragu. Akira nyaris tercekik, buru-buru menoleh ke belakang. “Azka,” suaranya terbata, “kata ‘belum’ itu berbahaya.” Azka malah tersenyum polos, seperti sedang mengutip pelajaran dari Oma. “Kata Oma juga gitu.” Arka menarik napas panjang, batuk kecil pecah di udara yang tiba-tiba hening. Akira menunduk, matanya tertuju pada jendela, b

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 48

    Hari Minggu datang tanpa pemberitahuan, seperti tamu yang mengetuk pintu di waktu yang belum semestinya, lalu duduk tanpa pamit. Azka duduk terpaku di karpet ruang keluarga, dikelilingi mainan yang biasanya bisa menghibur, tapi hari ini terasa hampa. Deretan mobil-mobil kecil tersusun rapi di lantai, buku gambar terbuka di meja, televisi menayangkan kartun favoritnya, tapi matanya kosong, tak satu pun menarik perhatian. Napasnya tertahan, lalu menghembus perlahan, terdengar desah kecil, kemudian makin berat. Ia menoleh ke jam dinding, masih pagi. Terlalu pagi untuk merasakan kebosanan, tapi sepi yang menghimpit membuatnya gelisah. “Papa,” suara kecilnya memecah sunyi. Arka yang tengah fokus pada tablet menoleh, matanya menyiratkan kesabaran. “Kenapa?” tanyanya. Azka menggeser badan, merapat ke kaki ayahnya, bersandar seolah mencari sandaran lebih dari sekedar tubuh. “Hari ini… kok lama banget, ya?” gumamnya dengan nada ragu. Arka tersenyum tipis, meletakkan tablet

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 47

    Sore menyusup perlahan, membawa pulang Azka dengan langkah ringan yang tak lagi berat seperti pagi tadi. Akira duduk bersandar pada motor listriknya di depan sekolah, helm tergantung santai di lengan. Ketika Azka muncul di gerbang, bocah itu langsung berlari kecil, tasnya berguncang tak beraturan. “Mama Akira!” teriak Azka, tubuh kecilnya menubruk Akira dalam pelukan penuh semangat. Akira berjongkok, membuka tangan lebar-lebar, merasakan kehangatan dan energi yang membanjiri. “Gimana sekolahnya?” tanyanya lembut sambil merapikan rambut Azka yang berantakan karena lari. “Baik!” jawab Azka mantap, mata berbinar. “Azka bilang ke Bu Guru kalau Mama Akira yang antar.” Akira terkekeh pelan, wajahnya memerah tipis. “Terus Bu Guru bilang apa?” “Dia senyum. Terus bilang, ‘wah’,” kata Azka sambil menirukan ekspresi guru mereka. Akira mengangguk serius, merasa bangga. “Berarti itu respon positif.” Azka melompat naik ke motor dengan wajah puas, sementara di kaca spion, tanpa

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 46

    Pagi itu dimulai dengan keributan kecil yang bikin Arka terus melirik jam dinding, kali kelima dalam dua menit. Azka duduk di tepi ranjang, seragam TK sudah rapi, tas sudah nyangkut di pundak, tapi wajahnya tetap muram, muram kayak bilang, “Aku nggak akan keluar rumah kalau Mama Akira nggak yang nganterin.” “Azka,” suara Arka bergetar sabar, “Papa telat, ya.” Azka menggeleng kuat. “Azka mau Mama Akira yang antar.” Arka mencoba meyakinkan. “Papa bisa kok.” “Nggak mau,” jawab Azka dengan nada yang sama tegasnya. Napas Arka pelan-pelan meluncur panjang, rasa capeknya bukan main. Jauh lebih melelahkan daripada rapat panjang di fakultas. Dengan berat hati, dia meraih ponsel dan memanggil satu nama yang sebenarnya ingin ia hindari pagi-pagi. Nada sambung berdering. Satu... dua... “Halo?” suara Akira terdengar berat, masih beratkan kantuk. “Maaf,” Arka buru-buru bilang, “Aku... butuh bantuan.” Di ujung sana, Akira terdiam sesaat lalu tertawa pelan. “Azka?” “Ngambek.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status