Share

Batal Nikah?

Hari yang padat dilalui Gavin dan Yeni hari ini. Mereka harus berlomba dengan waktu untuk mempersiapkan pernikahannya. Sesuai kata Gavin tadi, begitu istirahat makan siang Gavin dan Yeni sudah keluar kantor. Mereka berencana ke percetakan untuk mengambil undangan kemudian janjian dengan WO untuk ke tempat katering.

“Maaf, kami terlambat,” ucap Gavin begitu sudah bertemu dengan pihak WO.

Mereka sudah berada di salah satu katering ternama di kota ini yang akan ditugasi untuk menyediakan menu makanan pada pesta pernikahan nanti.

“Gak papa, Mas. Saya juga baru saja datang. Kita masuk dulu supaya langsung mengetest rasa dan menu apa saja yang diinginkan,” ucap pihak WO dengan ramah.

Gavin dan Yeni hanya mengangguk kemudian sudah menurut mengikuti pihak WO tersebut. Mereka sudah masuk ke sebuah ruangan seperti ruang makan dengan meja panjang yang besar. Di sana sudah berjajar macam-macam menu makanan yang sudah diminta oleh Gavin dan Yeni sebelumnya.

“Ini menu yang diminta sesuai dengan permintaan Mas Gavin dan Mbak Yeni,” kembali pihak WO itu menerangkan kini didampingi oleh pihak katering.

Gavin dan Yeni hanya manggut-manggut kemudian sudah mulai mencicipi satu demi satu menu yang tersedia di sana. Mulai dari capcay, udang asam manis, ayam kecap hingga sampai ke menu tambahan lainnya sudah mereka cicipi dan sepertinya tidak ada masalah mengenai rasa.

“Bagaimana, Mas? Sudah cocok?” tanya pihak WO.

“Iya, sudah cocok. Saya suka semuanya,” Yeni yang menjawab mewakili Gavin.

Pihak WO dan katering tampak senang dengan tanggapan calon pengantin ini.

“Lalu apa kuenya juga ada? Saya mau mencicipinya sekalian,” ucap Yeni lagi.

Pihak katering mengangguk, ia sudah tergopoh masuk ke dalam kemudian tak berapa lama sudah keluar dengan sebuah kue yang terlihat manis dan indah di tangannya.

“Astaga! Ini terlihat enak sekali,” seru Yeni sambil tersenyum.

Ia sudah menyendok kue tersebut kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Mata Yeni langsung terpejam begitu kelembutan kue meluncur masuk ke mulutnya.

“Hmm ... enak sekali. Aku suka, Mas,” sahut Yeni sambil menatap Gavin yang duduk di sampingnya.

Gavin ikut tersenyum dan membiarkan Yeni menghabiskan kuenya.

“Ya sudah kalau begitu. Kita pilih kue yang ini,” tegas Gavin.

Yeni mengangguk sambil tersenyum namun belum sempat senyumnya terkembang dengan sempurna di wajah. Tiba-tiba Yeni langsung memegang tenggorokannya dan batuk tidak berhenti. Gavin ikut bingung melihatnya. Apalagi wajah Yeni sudah memerah, matanya juga berair.

“Sayang, ada apa? Kamu kenapa?” tanya Gavin kebingungan.

Yeni tidak menjawab dan tiba-tiba pingsan. Sontak Gavin segera menangkap tubuhnya. Ia sudah bergegas membopong tubuh Yeni, menaikkan ke mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

“Tunangan Anda alergi kacang, Tuan. Untung saja segera dibawa ke sini dan diberi pertolongan,” jelas dokter yang menangani Yeni.

Gavin hanya diam mendengarkan, padahal dia sudah menjelaskan ke pihak katering dan WO kalau Yeni punya alergi kacang kenapa juga memberi kue dengan kacang di dalamnya. Begitu kini pertanyaan yang memenuhi benak Gavin.

“Mas ... ,” panggilan Yeni membuyarkan lamunan Gavin.

“Aku sudah gak papa, kok. Jangan marah begitu. Mungkin pihak kateringnya lupa kalau aku alergi kacang,” ucap Yeni lirih sambil meraih tangan Gavin yang berdiri terdiam di sampingnya.

“Saya tinggal dulu ya, Tuan,” ucap dokter membuyarkan lamunan Gavin.

“Iya, terima kasih, Dok,” jawab Gavin.

Yeni tampak tersenyum sambil menatap Gavin yang terlihat khawatir sedari tadi.

“Sudah. Jangan cemberut gitu. Aku sudah tidak apa-apa, kok,” rengek Yeni sambil menarik tangan Gavin lagi.

Gavin sudah tersenyum kemudian duduk di tepi kasur dan berulang mengusap lembut kening Yeni.

“Syukurlah kalau kamu sudah tidak apa-apa. Jujur aku sangat panik tadi. Lain kali jangan buat aku bingung lagi, ya?”

Yeni langsung mengangguk sambil tersenyum menatap Gavin penuh cinta.

“Sehari ini kamu istirahat di sini dulu, ya? Aku takut tubuhmu belum fit benar. Sebentar lagi kita akan semakin sibuk dan aku tidak mau kalau di hari H nanti kamu jatuh sakit,” jelas Gavin.

Yeni langsung tersenyum mendengarnya.

“Hmm ... sepertinya ada yang sedang khawatir, nih,” goda Yeni.

Gavin tersenyum lalu meraih tangan Yeni dan mengecupnya sekilas.

“Jelas aku khawatir, Sayang. Aku tidak mau kita menunda honeymoon hanya gara-gara kamu jatuh sakit nanti,” desis Gavin setengah berbisik.

Tentu saja ucapan Gavin ini langsung membuat Yeni tersipu. Gadis berambut sebahu itu sudah sepenuhnya menunduk tak berani menatap wajah pria di depannya yang sedang menatap dengan intens.

Selang beberapa saat Gavin sudah dalam perjalanan menuju kantor. Ia masih harus mengurusi beberapa pekerjaan yang ditinggalnya tadi. Gavin sudah berada di ruangannya dan langsung sibuk menyelesaikan pekerjaan.

Baru beberapa menit, ia mengerjakan pekerjaannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan sebuah panggilan dari nomor tak dikenal sudah masuk.

“Hallo,” sapa Gavin di telepon.

[“Hallo, ini dengan Tuan Gavin Mahendra?”] tanya suara di seberang.

“Iya, saya sendiri. Ada apa? Ini dari mana?” kata Gavin balik bertanya.

[“Saya dari toko souvenir yang dipesan untuk pernikahannya, Tuan,”] jelas suara di seberang.

Gavin tersenyum dan sedikit bernapas lega. Ia pikir dari orang yang akan membawa kabar buruk tentang Yeni.

“Oh ... iya. Ada apa, Mas?” tanya Gavin ramah.

[“Begini, Tuan. Souvenir yang Anda pesan mengalami keterlambatan pengiriman. Saya mohon maaf. Jadi yang bisa saya kirim hanya sebagian saja,”] jelas orang itu.

Gavin terdiam berusaha menahan amarah yang tiba-tiba sudah ada di dadanya.

“Lalu sisanya kapan?”

[“Satu bulan setelah itu.”]

“Satu bulan lagi? Mas, saya nikahnya kurang tiga setengah minggu, loh. Kalau souvenirnya mau dikirim satu bulan lagi. Itu artinya setelah acara selesai baru dikirim. Lalu tamu yang datang harus saya kasih apa. Mas gak mikir, ya?” cercah Gavin penuh amarah.

Dadanya sudah kembang kempis, tangannya juga terus mengepal mencoba menahan amarah yang siap membludak.

[“Maaf, Tuan. Ini karena ada pesanan mendadak dalam jumlah banyak dan kebetulan karyawan kami juga banyak yang cuti. Jadi pembuatan tas rajutnya agak terlambat. Saya mohon maaf.”]

“Gak bisa. Kenapa juga pesanan mendadaknya itu gak ditolak? 'Kan saya duluan yang pesan. Aku sudah bayar penuh jauh-jauh hari loh, Mas,” sergah Gavin masih dengan amarah.

Dia benar-benar kesal dengan sikap pihak souvenir yang seakan meremehkannya.

[“Maaf, Tuan. Ini benar-benar bukan kehendak saya. Saya benar-benar minta maaf. Mungkin kalau Tuan berkenan sisanya diganti souvenir lain saja yang sama harganya bagaimana?”] saran si pemilik toko souvenir.

“Gak mau. Calon istri saya yang memilih souvenir itu dan saya gak mau dia kecewa. Pokoknya Mas harus menyiapkan semua pesanan saya tepat waktu. Kalau gak, saya akan menuntut Anda,” ancam Gavin.

Dia sudah sangat kesal dengan jawaban pemilik toko souvenir yang seenaknya saja.

[“Tapi, Tuan. Saya hanya pegawai di sini, saya juga disuruh atasan saya untuk mengatakan hal tersebut. Saya mohon kerjasamanya. Pihak kami tidak bisa mengirimkan semua pesanan Anda tepat waktu. Tapi kami berusaha memberi solusi dengan mengganti barang yang sama harganya. Kami juga akan memberi diskon lagi nanti.”]

Gavin terdiam, dia sudah tidak bisa menjawab lagi. Otaknya sudah penuh hari ini. Persiapan pernikahan ini ternyata sangat menguras konsentrasinya. Padahal pihak WO sudah jauh hari menawarkan jasa penyedia souvenir namun, Yeni lebih memilih membeli souvenir di toko langganannya. Kalau seperti ini Gavin tidak mau menyalahkan Yeni juga. Dia pasti tambah kepikiran nantinya. Sepertinya kejadian hari ini membuat ia batal nikah saja.

“Ya sudah. Terserah, Masnya. Pokoknya saya mau semua pesanan saya harus lengkap tidak kurang dan datang sebelum hari H,” tandas Gavin.

Setelah mendengar jawaban pasti dari toko souvenir, Gavin menutup teleponnya. Ia kembali menghela napas sambil menyandarkan kepala di punggung kursi. Gavin memejamkan mata berharap ingin merilekskan tubuhnya sejenak dan tanpa sepengetahuannya sudah ada seseorang yang masuk ke ruangan, langsung berdiri di belakang Gavin memijat lembut bahunya.

Perlahan Gavin membuka mata. Tampak sosok manis Alya, adik angkat Gavin sedang berdiri di belakangnya.

“Kamu belum pulang, Al?” lirih Gavin bertanya.

“Aku nunggu Mas,” jawab Alya sambil masih meneruskan pijatannya.

Gavin tersenyum dan meraih tangan Alya untuk menghentikan pijatannya. Alya menurut dan sudah berdiri di depan Gavin.

“Ada masalah, Mas?” tanya Alya penuh perhatian.

Gavin tersenyum sambil menggelengkan kepala. Alya hanya tersenyum datar sambil duduk di kursi depan Gavin.

“Apa Yeni baik-baik saja, Mas?” kembali Alya bertanya dan ini langsung membuat Gavin terkejut.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status