Home / Romansa / Jagad dan Selaras / Bab 18: Sidang Etik dan Gelombang yang Tak Terbendung

Share

Bab 18: Sidang Etik dan Gelombang yang Tak Terbendung

Author: Sfrauf
last update Huling Na-update: 2026-01-14 20:39:05

Selasa pagi di SMA Cakrawala biasanya dimulai dengan suara bel yang membosankan dan barisan siswa yang malas-malasan menuju kelas. Tapi hari ini beda total. Atmosfernya kayak lagi ada konser *boyband* besar yang bakal datang. Begitu Jihan menginjakkan kaki di koridor, semua mata langsung tertuju padanya. Siswa-siswa kelas sepuluh sampai kelas dua belas berhenti ngobrol, beberapa bahkan terang-terangan nunjuk-nunjuk layar HP mereka ke arah Jihan.

"Han! Gila lo, Han!" Sari lari nyamper
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jagad dan Selaras   Bab 60: Jantung Api

    Kapal *The Melodic Wind* meluncur membelah kegelapan ruang angkasa menuju bola raksasa pijar yang menjadi sumber segala kehidupan di Tata Surya. Matahari. Dari kejauhan, ia tampak seperti kelereng emas yang tenang, namun semakin dekat mereka terbang, kenyataan mengerikan mulai terlihat. Permukaan Matahari yang biasanya bergejolak dalam harmoni nuklir kini tampak seperti luka terbuka. Bintik-bintang hitam—virus keheningan Malakor—menyebar seperti kanker di atas fotosfer, menyedot energi panas dan mengubahnya menjadi kekosongan yang dingin.Di dalam kabin, suhu mulai merangkak naik meski sistem pendingin Lyran bekerja maksimal. Udara terasa berat dan berbau seperti logam yang terbakar."Jihan, sistem perisai kita berada di kapasitas 85%," teriak Kael, keringat bercucuran dari balik kacamata datanya. "Begitu kita masuk ke korona, kita nggak bakal punya jalan pulang lewat cara konvensional. Kita bakal bergantung sepenuhnya pada aliran angin surya."Jihan berdi

  • Jagad dan Selaras   Bab 59: Balapan Cahaya

    Dermaga Aethelgard bergetar bukan karena mesin, melainkan karena frekuensi purba yang dilepaskan saat para teknisi Lyran memasangkan "Sayap Suara" pada lambung *The Melodic Wind*. Kapal layar kayu jati yang sebelumnya tampak antik itu kini bertransformasi. Di sisi kanan dan kirinya, terbentang layar transparan yang terbuat dari jalinan foton musik, berpendar dengan warna aurora yang terus berubah mengikuti suasana hati para penumpangnya.Jihan berdiri di ruang kemudi, menatap instrumen baru yang dipasang oleh *The First Harmonizer*. Alih-alih tuas besi, kini ada serangkaian dawai cahaya yang melayang di udara. "Kael, lo yakin kita bisa kendaliin benda ini?" tanya Jihan, suaranya sedikit gemetar saat melihat angka-angka spektrum frekuensi yang melonjak di layar hologram Clarissa.Kael menyeka keringat di dahinya, kacamata datanya memantulkan ribuan baris kode Lyran. "Secara teori, Jihan, kapal ini nggak lagi bergerak lewat ruang, tapi lewat 'Lipatan Nada'. Kita ngga

  • Jagad dan Selaras   Bab 58: Simfoni di Stasiun Aethelgard

    Pintu palka *The Melodic Wind* terbuka dengan desisan uap aromatik yang berbau seperti campuran kayu cendana dan ozon. Saat kaki Jihan menyentuh lantai dermaga Aethelgard, ia tidak merasakan dinginnya logam, melainkan kehangatan material organik yang terasa hidup di bawah sol sepatunya. Stasiun ini bukan sekadar pangkalan luar angkasa; ini adalah sebuah mahakarya arsitektur akustik yang dibangun dari kristal hidup yang tumbuh mengikuti harmoni bintang raksasa di pusatnya.Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk dari berbagai penjuru galaksi berlalu-lalang. Ada yang berbentuk seperti ubur-ubur cahaya yang melayang, ada pula yang menyerupai raksasa batu dengan banyak tangan. Namun, mayoritas penduduk di sini adalah ras *Lyrans*—makhluk tinggi ramping dengan kulit berwarna perak kebiruan dan jari-jari panjang yang berjumlah tujuh di setiap tangan. Mereka tidak berbicara dengan kata-kata; setiap kali mereka membuka mulut, yang terdengar adalah rangkaian nada *pentatonis* yang mer

  • Jagad dan Selaras   Bab 57: Gerbang Andromeda

    Kehampaan ruang angkasa ternyata tidak sesunyi yang digambarkan buku-buku pelajaran di SMA Cakrawala. Di atas geladak *The Melodic Wind*, kapal layar dimensi yang kini menjadi rumah baru bagi Tim Resonansi, suara adalah napas. Kapal ini tidak digerakkan oleh pembakaran kimia, melainkan oleh tekanan radiasi suara yang ditangkap oleh layar-layar sutra peraknya. Layar itu berkibar bukan karena angin, tapi karena gelombang frekuensi sisa dari ledakan bintang di kejauhan.Jihan berdiri di haluan, jemarinya meraba ukiran kayu jati kuno yang terasa hangat. Di bawah telapak kakinya, ia bisa merasakan getaran mesin inti kapal—sebuah kotak kayu berisi pasir hitam dari pusat galaksi yang terus bergeser menciptakan nada statis yang menenangkan."Masih belum percaya kita beneran ninggalin Bumi?" suara Jagad memecah lamunan Jihan.Jagad datang sambil memantulkan bola basket kristalnya. Di gravitasi buatan kapal ini, bola itu memantul dengan irama yang sedikit lebih lamb

  • Jagad dan Selaras   Bab 56: Konser di Kawah Tycho

    Permukaan bulan adalah tempat di mana keheningan bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah entitas yang menindas. Di sini, tidak ada molekul udara yang bisa digetarkan untuk menciptakan melodi. Jagad berdiri di ambang pintu palka *Resonance-0*, menatap hamparan abu vulkanik abu-abu dan kawah-kawah yang tampak seperti luka di wajah rembulan. Di kejauhan, Bumi menggantung seperti kelereng biru yang rapuh, satu-satunya sumber warna di tengah monokrom kosmik ini."Ingat, di sini suara tidak merambat lewat udara," suara Kael terdengar di dalam helm taktis mereka melalui sistem *bone conduction* (konduksi tulang). "Kalian tidak akan mendengar drible bola atau dentuman drum dengan telinga. Kalian harus merasakannya lewat getaran di telapak kaki dan tanah bulan yang kalian pijak. Kita akan menggunakan tanah ini sebagai medium transmisi."Jihan melangkah keluar, diikuti oleh instrumen pianonya yang kini melayang menggunakan teknologi antigravitasi. Di belakangnya, Gala

  • Jagad dan Selaras   Bab 55: Oksigen dan Nada Terakhir

    Guyana Prancis menyambut mereka dengan kelembapan hutan tropis yang menyesakkan, sebuah kontras yang tajam dari dinginnya Himalaya yang baru saja mereka tinggalkan. Di tengah rimbunnya hutan Amazon yang tersembunyi dari radar publik, berdiri sebuah fasilitas yang lebih menyerupai katedral futuristik daripada pangkalan antariksa. Inilah proyek "Solitude", pangkalan peluncuran rahasia milik konsorsium Mr. Singh yang telah dikembangkan selama dua dekade menggunakan cetak biru terlarang milik Ardi Selaras.Di tengah hangar raksasa itu, *Resonance-0* berdiri tegak. Pesawat itu tidak berbentuk seperti roket konvensional NASA. Bentuknya lebih menyerupai tetesan air yang memanjang, dengan lambung yang terbuat dari paduan keramik dan kristal kuarsa transparan. Tidak ada tangki bahan bakar hidrogen raksasa; sebagai gantinya, di bawahnya terdapat sebuah ruang resonansi berbentuk bola yang akan mengubah getaran suara menjadi daya dorong kinetik."Ini gila," gumam Bagas sambil

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status