Share

Bab 5. Sang Tawanan

Di dalam kantor itu, Sandra duduk dengan menangkupkan tangannya ke lutut. Walau AC menyala dingin, telapak tangannya berkeringat. Ia duduk di kursi tunggal di depan meja Barra, sedangkan lelaki itu dengan tidak sopannya duduk di sudut meja. Tangannya sibuk membolak-balik kertas yang berisi riwayat hidup Sandra.

“Jadi, namamu Tawanan?” tanyanya kemudian.

“Hah?” Sanda hanya bisa melongo. Otaknya memproses secara lambat. Kemudian, ketika ia tahu apa yang dimaksud calon bosnya itu, ia menggeleng. “Bukan Tawanan, Pak, tapi Sandra.”

“Ya kan artinya sama saja.” Barra ngotot, seolah ingin menunjukkan bahwa di sini dialah yang berkuasa.

Wanita itu memutar bola matanya. “Maaf ya Pak, setahuku sinonim tawanan itu sandera, pakai e. Bukan sandra”

Namun, Barra malah mengedikkan bahu. Matanya tak lepas dari tulisan dalam kertas-kertas yang dipegangnya. “Kau masih single?”

“Ng ....” Sandra ragu sejenak. Sebenarnya ia ingin jujur. Tetapi mengingat penolakan-penolakan yang terlontar dari para HRD sebelum ini membuatnya tak berani ambil risiko. Ia lantas mengangguk. “Iya, Pak.”

Tak disangka, Barra malah mendengkus. “Kasihan,” komentarnya singkat.

Sandra menggigit pipi bagian dalamnya, mencegah dirinya mengumpat. Apa-apaan lelaki itu? batinnya sedikit kesal. Ia mencoba sabar.

“Kau juga pernah bekerja sebagai kepala pemasaran?” lanjut Barra. Ia masih membaca riwayat hidup calon asisten seketarisnya.

“Iya, Pak.”

“Kok, keluar?”

 Sandra diam sejenak. Ia mempertimbangkan jawabannya dengan saksama. “Saya mencoba peruntungan dengan membuka bisnis sendiri.”

“Pasti gagal.”

Bibir Sandra berkedut-kedut. Kalau sukses, saya tidak di sini, Pak, batinnya. Ia sampai menggigit bibirnya agar tidak mengungkapkan pikirannya.

“Sebagai informasi," Barra melanjutkan, "meski umurku lebih muda darimu, aku nggak suka dipanggil Dik.”

Siapa juga yang mau panggil kamu Dik. Namun, Sandra hanya bisa tersenyum. “Baik, Pak.”

“Aku juga nggak suka dipanggil Sayang.”

Ya ampun, bos macam apa ini? Sandra memijat keningnya sebentar sebelum menjawab, “Siap, Pak.”

“Jangan tawari aku rokok karena aku nggak merokok.”

Sandra mengangguk-angguk khidmat.

“Meski di kantorku ada mini bar, aku nggak minum minuman keras. Itu hanya buat tamu. Jadi, jangan coba-coba jebak aku dengan mencekokiku miras lalu ngajak tidur bareng,” tambah Barra.

“Pak!” Oke, hilang sudah kesabaran wanita itu. Ia berdeham untuk menahan emosinya, lalu berkata, “Maaf, Pak. Sebagai informasi saja, saya bukan ped*fil.”

Barra menengok. Satu alisnya terangkat satu. Sudut mulutnya berkedut. Ia lantas mendengkus. “Sebagai informasi juga, asisten seketarisku yang terakhir kupecat karena menawariku vodka yang dicampur obat per4ngsang.”

Mata Sandra membulat. “Oh, ya, masa? Emang siapa namanya? Orang--“

“Jangan suka menggosip,” potong Barra segera yang membuat Sandra langsung menutup mulut.

Lelaki itu lantas membanting map yang sudah selesai dibacanya. Ia membungkukkan badan, mendekatkan kepalanya ke kepala Sandra. “Katakan, bagaimana kamu bisa mendapatkan roti itu padahal tokonya sudah tutup.”

Jadi, dia tahu? batin Sandra heran. Kalau memang begitu, mengapa masih menyuruh seketarisnya membelinya? Ia lalu mendongak, menatap lawan bicaranya tetapi kemudian menyesal karena jantungnya berdetak keras. Wajah Barra berada dekat sekali dengan wajahnya sehingga ia dapat merasakan embusan napas lelaki itu yang hangat. “Sa-saya ....” Ia berdeham untuk menutupi kegugupannya. Ia beringsut mundur, menjaga jarak dari calon atasannya.

Dulu, sewaktu pertama kali bertemu dengan Barra, ia tak merasa segugup ini. Mungkin karena waktu itu ia dalam kondisi emosi. “Saya pelanggan toko itu. Jadi, saya tahu kalau ada stok roti yang belum habis, pemiliknya akan menaruh ke warung sebelahnya agar dapat dijual murah.”

“Hm ....” Barra mengelus janggutnya yang licin. Ia lalu menghela napas panjang dan bangkit, berjalan memandang kota dari jendelanya yang besar. Tangannya dimasukkan ke saku. Mungkin, seandainya pertemuan mereka tidak diwarnai insiden memalukan, plus sikap Barra tidak seaneh ini, Sandra bakal jatuh cinta pada lelaki itu.

 “Kamu tahu siapa wanita itu?” Mendadak Barra bertanya.

"Wanita yang mana, Pak?" Sandra balik bertanya.

"Miss. Evelyn."

"Ng ...." Sandra diam sejenak. Apa ini ujian? Pikirannya berpacu. Ia mengingat-ingat nama Evelyn, yang mungkin adalah artis, atau pembisnis populer. Namun, ia tak menemukannya. “Maaf, enggak, Pak.”

“Dia itu mantan duta besar Irlandia untuk Indonesia. Pengaruhnya masih sangat besar di negaranya. Jadi, kalau kita bisa membuatnya senang, produk kita bisa masuk ke negera tersebut dengan mulus,” jelas Barra. Ia masih memandang kota di bawahnya. Karena sudah hampir petang, lampu-lampu kota menyala, tampak indah sekali.

Sandra membulatkan bibirnya, membentuk huruf o. Ia takjub kepada lelaki itu. Ia merasa Barra pantas menyandang jabatan CEO, walau wajahnya tampak seperti bocah.

 “Besok,” lanjut lelaki itu tanpa menoleh, “datanglah pukul delapan tepat. Temui Wuri, wanita yang duduk di luar kantor ini. Dia akan memberitahumu tugas-tugas yang mesti kau lakukan. Dia juga akan memberimu daftar orang-orang yang kusuka dan yang tidak.”

Senyum sumringah terpampang di wajah Sandra. “Jadi, saya diterima, Pak?”

Barra mendecakkan lidah. Ia menoleh, menatap Sandra dengan jengkel. “Memangnya ada kandidat lain yang kuwawancara selain kamu?”

Sandra segera bangkit. Ia melonjak sedikit sebagai rasa senangnya kemudian pamit. Ketika keluar, ia sempat lupa menutup pintu sebelum buru-buru berbalik dan menutupnya dengan pelan sekali.

Sudut mulut Barra sedikit terangkat ketika melihat tingkah asisten seketarisnya yang baru.

***

Sandra pulang dengan hati berbunga-bunga. Akhirnya ia mendapat pekerjaan. Di tempat yang diinginkan pula. Ia yakin, kalau Alex tahu, dia pasti iri. Ia tak sempat bertanya gaji tadi. Namun, mengingat posisinya yang lumayan, dia rasa gajinya pasti cukup tinggi. Ia bisa membeli produk perawatan diri. Dan ketika sudah cantik nanti, ia ingin berpura-pura bertemu Bu Utami, lalu menyombong. Ah, pasti bakal memuaskan.

Wanita itu lantas bertanya-tanya, seandainya ia kepergok jalan berdua dengan Barra, apa Alex akan cemburu dan menyesal telah menyia-nyiakannya?

Sandra menggeleng-gelengkan kepala, mengusir khayalannya yang bukan-bukan. Ia sudah diperingatkan oleh Barra tadi untuk tidak tergoda pesonanya. Ia tak mau pekerjaannya berlangsung singkat. Ia butuh banyak uang agar tak menjadi beban adiknya.

Ketika sampai di rumah, Chadra--adiknya--belum pulang. Sepertinya dia sibuk menggarap tugas lagi. maklum, sebentar lagi adiknya skipsi.

Sandra lalu membuka pintu. Selembar kertas jatuh di kakinya. Ia memungut kertas itu dan membacanya. Rupanya itu adalah undangan pernikahan Alex dengan wanita yang Sandra tak kenal. Seketika, hati wanita itu panas. Untuk apa Alex mengundangnya? Apakah dia ingin pamer?

Ia meremas undangan itu. Kebahagiaan yang sempat ia rasakan tadi lenyap seketika.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status