Masuk“Kalau kamu nggak mau dimadu, ceraikan suamimu!” Hati Sandra terkoyak tatkala dipaksa berpisah dengan suaminya. Padahal dia sudah mengorbankan segalanya untuk keluarga sang suami. Harta, tenaga, karier, dan waktu. Namun semuanya sia-sia. Dia bahkan dilarang membawa apa-apa ketika diusir. Dibantu adiknya, Sandra berhasil bangkit. Dia kembali memulai kariernya dengan melamar sebagai asisten seketaris. Namun, takdir membawanya bertemu dengan Barra, seorang CEO arogan yang memiliki mood tak menentu. Meski memiliki pribadi yang tak bisa diprediksi, Sandra merasa nyaman di dekat Barra hingga timbulah perasaan cinta dan ingin memiliki. Namun, ia takut terhadap stigma masyarakat jika nekat mengungkapkan perasaannya. Apalagi Sandra menyembunyikan status jandanya kepada Barra maupun orang-orang di kantor. Namun, saat pesona Barra tak lagi mampu diredam, masa lalu Sandra kembali hadir, mengancam memporak-porandakan hidupnya sekali lagi
Lihat lebih banyak"Trissy, please don't send any messages to Lucas late at night. He's my husband."
Trissy was Lucas' first love, but she had married Lucas' elder brother, Max. Since Max died, Trissy had been pestering Lucas all the time. That troubled Jessica a lot, so she had to talk to Trissy in person. "Only legally. He is in love with ME. But you don't have to worry. I will make him leave you." Trissy sneered, not taking what Jessica said seriously. Today was the dinner for the announcement of the new CEO of the Thomas Group, the most famous enterprise in LA, to take over the affairs of the group. Justin Thomas, the original CEO, Lucas' grandfather, announced that the new CEO is Lucas in front of the entire upper—class circle in LA. Suddenly, the banquet was interrupted by some servants out in the garden. "Help! Help! Jessica and Trissy fell down the stairs!" People hurried to the garden. Before everyone else could react, Lucas had already picked up Trissy, who was unconscious on the floor. However, Lucas ignored his wife, Jessica, who was lying on the cold ground. Instead, Lucas carried Trissy and left without looking back. People finally came to their senses too and followed Lucas to the villa. After a long time, Jessica gradually came to her senses, she realized that she was lying on the cold ground. People had all left. Nobody cared about her life at all. Ever since married Lucas, Jessica had gotten used to being ignored by the Thomas family. Holding her sore arm, Jessica prepared to go back to her room to shower and check for cuts, but she had only reached the stairs when Lucas called out to her. "You are so vicious! How could you push Trissy downstairs? Don't you know she's ill?" Lucas looked at Jessica coldly. Jessica's whole body was full of dust. "How is Trissy? Lucas, listen to me. I didn't push her." Jessica explained eagerly. "Before she fainted, she said it was you that pushed her, and then she dragged you, that's why you both fell down the stairs together. I don't believe Trissy would lie." Lucas said angrily. "I didn't do that. Why don't you believe me?" With her eyes turning red, Jessica looked at Lucas sadly. "Isn't it just because Trissy was about to fall at the beginning of the party and I helped her, and you were jealous and looking for her to settle the score? Well I don't want to hear your sophistry. Keep your made—up story to Grandpa." Lucas ignored the despair in Jessica's eyes. He stood up and pulled Jessica's arm, intending to take her to the meeting room. As the most beloved grandson of Justin Thomas as well as the future heir of the Thomas Group, Lucas had always been impartial. Besides, Lucas hated Jessica, his wife, a lot. "I can walk by myself." Jessica got rid of Lucas' hand with her painful arm. "Then follow up." Lucas didn't give Jessica a second look. He turned around and walked quickly to the meeting room. Looking at Lucas' tall figure from the back, Jessica felt she was overwhelmed by sorrow. She used to be so obsessed with Lucas, yet Lucas hated her so much. The announcement procedure of the new CEO was interrupted. Justin was furious. Thus, when Justin saw Jessica walk in, he directly threw his mug over. The hot coffee splashed all over Jessica. Jessica couldn't help but cry out in pain. Justin yelled at Jessica, "You son of a bitch." Jessica asked calmly, "I don't know what I've done wrong." Justin looked at Lucas angrily and said, "Lucas, are you waiting for me to explain to your wife?" "If you can't calm Grandpa down today, I'll divorce you." Lucas kicked Jessica in the knee, causing her already painful legs to sit limply on the ground because they couldn't take the force. "I am your wife! How can you do this to me?" Although Jessica knew that Lucas did not love her, she could not bear it when her husband, to whom she had been married for three years, was so merciless to her. Jessica felt a sharp pain in her knees, even though it was far less than the pain in her heart. "Jessica, if you confess to Trissy and are willing to accept punishment, I may still allow you to stay in this house," Justin said to Jessica. "I already said that I didn't push Trissy, so I won't apologize." Before Jessica could finish, Justin had already thrown another mug over. The mug shattered on the ground, and the shards hit Jessica, but she did not move. "Lucas, I hope you can persuade your wife. For God's sake, Trissy is still in a coma in the hospital. What a poor child!" Justin stood up and left the meeting room.Wuri bilang pada Sandra untuk tidak usah khawatir. Namun, tetap saja, Sandra gelisah. Dia sudah menelepon Barra beberapa kali, namun panggilannya tak dijawab. Dia juga sudah mengirim pesan, memberi embel-embel kata penting. Namun, sampai jam kantor usai, Barra tak kunjung membalas. Notifikasinya terbaca pun tak ada. Terlihat hanya tanda centang dua pada pesannya.Saat masuk ke bus untuk pulang, Sandra tak tenang. Perasaannya tidak enak. Pikiran buruk mulai menghantuinya. Kenapa Barra tidak menjawab telepon maupun pesannya? Apakah terjadi apa-apa dengannya? Mungkinkah dia tertimpa musibah, kecelakaan misalnya? Kapan? di mana? Apakah saat hendak menemui klien? Atau ketika rapat dadakan? Kenapa pula tadi dia tidak pamit keluar kantor? Apa yang terjadi?Sandra menjadi mual memikirkannya. Ia tak bisa membayangkan tubuh Barra terluka di dalam mobil yang jatuh ke jurang, menunggu bantuan yang tak kunjung datang hingga akhirnya .... Tidak. Sandra tak sanggup. Ia menelepon nomor Barra lagi, tet
Aku harus percaya diri, Sandra bertekad. Ia ingat percakapannya dengan Bu dina dulu. Sebagai kekasih Barra, banyak yang bakal menekannya. Dia tak boleh menyerah atau melempem. Mentalnya harus kuat. Bukankah dia sudh pernah diperlakuka dengan kejam oleh Bu Utami dulu? Seharusnya, Sandra sudah mampu menyesuaikan diri dengan hinaan yang menjtuhkan mentalnya. Dulu, ia sudah bisa menerima omongan kejam mantan mertua dan mantan suaminya. Jadi, seharusnya ia lebih kuat menerima hinaan dari orang lain. Toh, mereka tidak ada hubungannya dengan Sandra.Berbeda dengan Alex dan Bu Utami yang dulu adalah orang terdekatnya. Orang yang dipercayanya, orang yang mestinya melindungi Sandra. Jadi, penghinaan mereka pastinya lebih kejam dari penghinaan yang diterimanya oleh orang luar. Maka dari itu, Sandra bertekad akan menghadapinya dengan percaya diri.Toh, apa sih cacian yang mereka lontarkan padanya? Statusnya sebagai janda? Sandra memang seorang janda. Namun, dia tetaplah wanita terhormat. Dia tak
Dengan lesu, Sandra merebahkan dirinya ke kasur. Hari ini terasa panjang dan melelahkan. Orang-orang seolah menekannya. Ia tahu dirinya hanya orang biasa dan tak pentas mendaptkan Barra. Ia ingin menyerah dan mengakhiri saja. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk pergi ke tempat yang jauh, kembali memulai hidup baru. Namun, saat memikirkan berjauhan dengan Barra, dadanya terasa sesak. Sepertinya ia tak sanggup. Meski begitu, bertahan di sisisnya pun rasanya sulit sekali.Ponselnya bergetar sekejap, menandakan sebuah pesan masuk. Rupanya dari Barra. Ia membacanya dan tersenyum. Kemudian, ia menyadari bahwa hanya dengan membaca pesan dari lelaki itu saja mampu membuat hatinya menjadi ringan. Bagimana kalau ia tak lagi berhubungan dengannya? Pasti lebih sulit.Ia mengetik balasan. tetapi sebelum sempat mengirimnya, Barra sudah meneleponnya."Kangen ...," nada manja sang CEO terdengar begitu Sandra menempelkan ponsel ke telinganya. Bibirnya tak bisa menahan senyuman. "Udah makan, belum?
Acara wisuda itu amat lancar. Setelah para tamu datang, para wisudawan dan wisudawati duduk di tepatnya. Setelahnya para dekan dan tamu kehormatan melakukan sambutan-sambutan di depan mimbar yang telah disediakan. Kemudian mahasiswa pilihan menyampaikan pidato perpisahannya. Setelah semuanya selesai, acara penyerahan ijazah secara simbolik dilakukan. Masing-masing wisudawan dan wisudawati dipanggil namanya supaya ke depan. Prestasi mereka disebut, begitupun dengan pesan yang sebelumnya mereka tulis.Sandra tak bisa menyembunyikan air mata harunya ketika nama sang adik disebut. Chandra bukanlah mahasiswa yang pandai hingga mendapat cum laude. Meski begitu, ia disebut sebagai mahasiswa paling rajin dan bekerja paling keras.Sandra jadi teringat dulu, ketika dia berbicara berdua dengan adiknya perihal uang kulian.“Mbak minta maaf,” katanya duduk di rumah kontrakan yang mereka tinggali sampai sekarang. “Mbak nggak bisa lagi ikut bayar uang kuliahmu. Soalnya suami Mbak nggak ngizinin Mbak
Sandra seolah tengah berada di jembatan putus dengan ngarai di bawahnya. Ia serba salah. Andai ia memilih bergerak ke kiri, ia akan jatuh ke jurang. Ke kanan pun demikian. Ia tak bisa kembali. Jadi, ia merasa terjebak.Ia tahu bahwa cepat atau lambat, ia harus jujur terhadap Bu Dina tentang hubungann
Wajah Sandra memerah. Ia langsung menunduk begitu seorang gadis membuka pintu pintu ruangan Barra. Ia juga menggeser duduknya, menjauh dari lelaki itu.Berbeda dengannya, Barra justru marah. Mukanya tertekuk. “Kamu yang apa-apaan? Main masuk ke ruangan orang lain tanpa mengetuk pintu.” Ia bangkit, me
Sandra meremas jemarinya dengan gugup. Keringat sebiji jagung mengalur dari dahinya. Padahal, AC di tempatnya berada cukup dingin. Keringat itu muncul bukan faktor lingkungan, melainkan dari dalam diri Sandra sendiri. Takut, khawatir, dan rasa tak enak lain memicunya.Mata wanita itu tertuju pada Bu
Sandra melemparkan tasnya ke meja kantor sembarangan. Satu tangannya sibuk memegangi cangkir kopi untuk sang bos. Hari ini harus bekerja sendiri. Wuri tak hadir. Wanita itu bilang tubuhnya drop karena melembur selama Sandra ke Swiss.Jantung Sandra berdetak lebih kencang ketika membawa kopinya ke dep






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.