Share

Ada Peluang

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-09-28 22:58:12

Jarum suntik steril itu terangkat sedikit, memantulkan pendar lampu ruangan pemeriksaan yang serba putih. Bening memalingkan wajah, menyembunyikan dahinya yang berkerut di lipatan kemeja Banyu.

Meskipun sudah bersahabat dengan jarum suntik dalam beberapa minggu ini, tetap saja itu terlihat menakutkan buat Bening.

Dari genggaman tangan suaminya di atas paha, ia menyalurkan rasa tegang yang menumpuk sejak melangkah masuk ke klinik.

"Sedikit lagi, Bu Bening... tahan, ya," ujar Dokter Ratna tenang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Sebuah Kisah Hangat

    Mesin SUV hitam milik Bagas mendengung halus saat memasuki pelataran rumah bergaya modern minimalis milik adiknya. Lampu jalan yang mulai menyala memantulkan pendar jingga di atas kap mobil, membiaskan bayangan dedaunan yang bergoyang pelan tertiup angin sore.Di kursi penumpang depan, Nawang membenahi letak tas selempangnya. Belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, pintu samping penumpang di baris kedua lebih dulu terbuka dari luar."Mbak Nawanangg!"Gadis kecil berusia empat tahun dengan kuncir dua melompat turun begitu pintu terbuka, berlari kecil menghampiri pintu depan. Gaun katun kuning bermotif bunga yang dikenakannya berkibar seiring langkah-langkah kecilnya yang tidak sabaran.Nawang buru-buru membuka pintu dan membungkuk, menyambut tubuh mungil Lily yang langsung menubruk lututnya. tawa renyah khas anak-anak seketika mengudara, memecah hening sore di pelataran."Kangen Mbak Nawang!" seru Lily dengan nada menggebu, menengadahkan wajahnya yang bulat dan menggemaskan.Naw

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Hanya Duda

    Bagas terkekeh pelan, tawa rendah bergetar di dalam dadanya saat melihat raut panik Nawang yang begitu polos. Ia mengusap sudut bibir bawahnya yang masih menyisakan sensasi perih halus, lalu menggeleng pelan. Rasa nyeri kecil itu justru seketika meluruhkan sisa ketegangan dan gairah berlebih yang sempat menguasai kepalanya."Sudah... tidak apa-apa. Jangan memasang muka panik begitu," ujar Bagas halus. Ia meraih kedua tangan Nawang yang menyatu kaku di dada gadis itu, menggenggamnya erat dalam kedua telapak tangannya yang hangat. "Aku yang salah, terlalu terburu-buru."Nawang membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering, matanya masih menatap bibir Bagas dengan rasa bersalah yang memancar jelas. "Tapi bibir Mas Bagas merah... pasti sakit banget, ya?""Sedikit," jawab Bagas jujur, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan permakluman. "Tapi lebih sakit kalau kamu terus-terusan cemas dan mikir yang aneh-aneh seperti tadi."Nawang menunduk rapat, menyembunyikan wa

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Penundaan dan Kepastian

    Banyu meletakkan sendoknya ke dalam cangkir, menyisakan denting halus yang cepat reda di ruang tengah yang terasa sangat sunyi.Ia meraih ponsel di meja kerja, mengusap layar untuk memanggil kontak adiknya, lalu menempelkannya ke telinga seraya menunggu nada sambung berganti dengan suara Nawang."Halo, Mas Banyu?""Wang," Banyu memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggung ke kursi kayu. "Soal rencana lamaran kemarin... Abang sudah bicarakan lagi sama Mbak Bening.""Iya, Mas. Tadi Mas Bagas juga sempat tanya," sahut Nawang, suaranya terdengar antusias dari seberang. "Kalau dari Mas Bagas dan ibunya, mungkin dalam satu atau dua minggu ini mereka bisa datang lagi ke rumah."Banyu mengusap tengkuknya pelan. "Kalau bisa... kita jadwalkan bulan depan saja, Wang."Jeda sejenak di ujung telepon. Nada bicara Nawang berubah heran. "Bulan depan, Mas? Kenapa mundur agak lama? Mas Bagas sebenarnya sudah siap kalau minggu depan...""Mbakmu sedang jalan program hamil, Wang," potong Banyu denga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Ada Peluang

    Jarum suntik steril itu terangkat sedikit, memantulkan pendar lampu ruangan pemeriksaan yang serba putih. Bening memalingkan wajah, menyembunyikan dahinya yang berkerut di lipatan kemeja Banyu. Meskipun sudah bersahabat dengan jarum suntik dalam beberapa minggu ini, tetap saja itu terlihat menakutkan buat Bening.Dari genggaman tangan suaminya di atas paha, ia menyalurkan rasa tegang yang menumpuk sejak melangkah masuk ke klinik."Sedikit lagi, Bu Bening... tahan, ya," ujar Dokter Ratna tenang, mencabut jarum usai mengambil sampel darah untuk evaluasi hormon.Banyu mengusap lembut punggung tangan Bening dengan ibu jarinya, memberi ruang bagi istrinya untuk bernapas lega.Dokter Ratna melepas sarung tangan latex-nya, membuangnya ke tempat sampah medis sebelum berbalik menghadap meja kerja. Ia meraih lembaran hasil pemeriksaan USG transvaginal dan grafik perkembangan folikel yang baru saja selesai dianalisis."Mari duduk di meja sebelah sini, Pak Banyu, Bu Bening," panggil Dokter Ratna

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Ninggalin Aku

    Pagi harinya, suasana kamar utama terasa begitu tenteram. Cahaya matahari membias hangat lewat celah tirai yang tersingkap sedikit, menimpa selimut tebal yang masih membungkus Banyu dan Bening.“Mas…bangun…” Bening mencoba membangunkan Banyu namun, dia tidak bergerak sedikitpun.Akhirnya, Bening terbangun lebih dulu. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan, merasakan lengan kokoh Banyu masih melingkar protektif di pinggangnya. Menatap wajah suaminya yang tertidur lelap tanpa sisa ketegangan seperti kemarin sore, Bening menyunggingkan senyum tipis. Dibelainya perlahan rahang tegas itu dengan ujung jarinya.“Nggak mau bangun ya udah..” gerutu Bening pelan.Banyu melenguh pelan, matanya terbuka perlahan. Senyum sayu khas bangun tidur langsung terbit begitu iris matanya menangkap sosok Bening tepat di hadapannya."Pagi, Ning..." suara Banyu terdengar parau dan dalam. Ia mendekatkan wajah, mendaratkan kecupan hangat yang lama di dahi Bening. “Pagi-pagi jangan kebanyakan ngomel nanti cantiknya hi

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Penawar Cemas

    Suara mensin mobil Bagas yang membawa Nawang kembali ke kota perlahan menghilang dari ujung jalan. Pintu depan sudah terkunci rapat, dan lampu ruang tamu telah dipadamkan, menyisakan keremangan di kamar utama.Banyu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, merengkuh Bening dari belakang. Lengannya melingkar erat di perut istrinya, menempelkan dada bidangnya ke punggung Bening. Aroma minyak kayu putih dan harum tubuh Bening yang khas perlahan mengurai ketegangan di kepalanya setelah seharian menahan cemas."Sudah merasa lebih lega sekarang?" tanya Bening pelan. Jemarinya mengusap lembut lengan Banyu yang melingkar di perutnya.Banyu menarik napas dalam, membiarkan dadanya naik-turun selaras dengan napas Bening. "Banget, legaaah banget Ning... Mas cuma harap Nawang benar-benar menemukan pria yang tepat. Mas cuma mau dia bahagia.""Nawang sangat bahagia memiliki Kakak kaya Mas Banyu, kaya aku yang bahagiaaaa banget punya suami kaya Mas Banyu" Setelah mengatakan itu, Bening memiring

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status