แชร์

Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah
Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah
ผู้แต่ง: Strawberry

Lurah Tampan

ผู้เขียน: Strawberry
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-08 11:20:13

"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hatinya mencelos. 

“Iya, Ning. Kan kamu janda. Kali aja kamu berniat cari lagi yang lebih muda dan seger, ya kan, Bu?” sahut seorang tetangga dari balik pagar bambu, suaranya dibumbui tawa renyah yang terdengar sangat menghina.

Seminggu lalu, Bu RT dan Mira, kakak ipar dari almarhum suaminya sengaja datang memperingatkan Bening bahwa Lurah yang baru akan tinggal sementara di paviliun belakang rumahnya karena rumah dinas masih diperbaiki. 

Alih-alih sekadar memberi informasi, mereka justru berulang kali menyindir agar Bening tidak mencoba menggoda sang Lurah.

“Pantesan dari tadi dandannya rapi. Mau memancing ikan di air keruh, ya?” timpal yang lain, diikuti gelak tawa kelompok ibu-ibu yang sedang mencuci piring di sungai kecil depan rumah Bening.

Padahal, alasan Bening membeli daster ini yang lebih panjang hari ini murni untuk menghormati keberadaan Lurah baru sebagai tamu di rumahnya, bukan karena ingin bertingkah gatal seperti dituduhkan Mira.

Sudah tiga ratus enam puluh lima hari sejak suaminya—yang menjadikannya istri ketiga lewat perjodohan—meninggal dunia.

Namun, bagi warga desa, label janda itu seperti noda. 

Mereka selalu mengaitkan setiap langkahnya dengan hal-hal yang tidak senonoh, seolah-olah menjadi janda adalah kesalahan miliknya.

Mira yang sedari tadi memperhatikan dari teras, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh. "Dengar itu, Ning? Jangan sampai kamu bikin malu keluarga almarhum suami saya. Kamu itu cuma numpang hidup dari warisannya, jangan berlagak seperti perempuan yang mencari jodoh."

Bening hanya menunduk, meremas kain daster batiknya hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kata yang dilemparkan warga seperti duri yang masuk ke bawah kulitnya. 

Dia sudah terbiasa dengan cemoohan itu. 

Baginya, rumah besar yang ia tinggali hanyalah sebuah penjara emas, tempat ia dipandang sebelah mata oleh keluarga besar almarhum suaminya yang merasa berhak mengatur setiap detik napasnya. 

Warga desa selalu berbisik jika ia melintas, menyebutnya pembawa sial, meski dialah satu-satunya yang merawat kebun dan rumah besar itu sendirian tanpa bantuan siapa pun.

"Jangan genit ya, Ning!" teriak Mira dari balik pagar rumah. Istri dari kakak almarhum suaminya itu berjalan mendekat dengan wajah ditekuk. 

"Ingat, tugasmu cuma melayani Pak Lurah sampai rumah dinasnya selesai diperbaiki. Jangan berani-berani cari muka, apalagi menarik perhatiannya.”

"Bening cuma mau menjalankan kesepakatan, Mbak," jawab Bening pelan, nyaris tak terdengar.

"Kesepakatan apa? Halah, semua orang tahu kalau keluarga kamu cuma benalu yang beruntung dapat warisan." Mira meludah ke samping, ekspresinya penuh kebencian.

Beruntung? Siapa yang beruntung dengan yang tersisa adalah label janda? Bahkan setelah perjodohan itu ayah dan ibunya ikut menyusul suaminya.

Bagian mana ia harus merasa pantas beruntung?

Wanita itu melangkah mendekat, jemarinya yang kasar mencengkeram lengan Bening. 

"Ingat ya, kamu menikah dengan keluarga saya udah naikin martabat kamu. Jangan mimpi bisa mendapatkan pria seperti Pak Lurah. Dia itu orang kota yang berpendidikan, sedangkan kamu?“

Bening menunduk, meremas jemarinya yang dingin. 

“Kamu bahkan cuma lulusan SMA, kan?” imbuhnya sambil tertawa.

Deg.

Tiba-tiba, suara raungan mesin mobil memberhentikan cemoohan Mira. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan gerbang, menepi dengan tenang di tengah debu yang beterbangan. 

Ibu-ibu di kerumunan itu langsung terdiam, mata mereka membelalak mobil sedan yang terparkir di desa yang gersang.

Mereka menahan napas, seolah kehadiran mobil itu adalah sebuah peristiwa besar yang akan mengubah tatanan hidup mereka yang membosankan.

Saat pintu terbuka. Pria itu keluar. Ia mengenakan kemeja biru dongker dengan lengan digulung, memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh. Tubuhnya tinggi tegap, jauh lebih impresif daripada pria-pria desa yang biasa Bening lihat. 

Kulitnya kecoklatan matang, kontras dengan rahang tegas yang menyiratkan wibawa absolut. 

Pria itu tampak seperti penguasa yang turun dari kota.

Mira yang sedetik lalu sibuk memaki, langsung mengubah wajahnya menjadi senyuman paling manis. Dia berlari kecil menghampiri pria itu, tidak peduli pada martabatnya sendiri.

"Selamat datang, Pak Lurah! Saya Mira, yang sudah menyiapkan paviliun untuk Bapak. Ini adik ipar saya, yang akan membantu kebutuhan Bapak selama di sini." Mira menunjuk Bening dengan penuh penekanan, seolah sedang memamerkan barang dagangan yang rusak.

“Namanya Bening. Tapi hati-hati ya, Pak. Soalnya dia janda." ucap Mira dengan penekanan yang sengaja dikeraskan.

Batin Bening jengah. 

Dadanya terasa sesak, namun ia hanya bisa menunduk, tak berani mengeluarkan sanggahan. 

“Kalau wanita itu menggoda bapak, jangan segan untuk ngomong ya, Pak.”

Bening baru maju selangkah namun Mira masih menambah-nambahkan dirinya. 

Bahunya terasa kaku. Dia bisa merasakan tatapan menghina dari kerumunan warga yang kini berbisik lebih keras. 

Dia ingin sekali berlari, bersembunyi di balik dinding rumah, dan menutup telinganya rapat-rapat. Dia merasa tidak berdaya di bawah tatapan mata orang-orang yang menganggapnya sebagai aib yang harus dikucilkan.

Mira mendekat ke samping telinga Bening, suaranya berdesis pelan, "Ingat apa yang saya bilang tadi, Ning. Jangan macam-macam kalau nggak mau diusir dari rumah ini."

Setelah membisikkan ancaman itu, Mira segera memutar tubuh. "Pak Lurah, saya ada urusan mendadak di kantor desa, biar Bening saja yang menunjukkan paviliunnya. Saya permisi dulu, ya."

Tanpa menunggu jawaban, Mira melenggang pergi, meninggalkan Bening sendirian di bawah pengawasan tajam warga desa. Pria itu tidak menoleh pada Mira yang menjauh. Matanya justru terkunci pada Bening.

Pria itu melangkah mendekat. Ia mengulurkan telapak tangannya.

"Mbak Bening. Saya Banyu Biru," ucapnya mengulurkan tangan. “Salam kenal. Semoga bisa bekerja sama dengan baik.” 

Bening ragu menyambut uluran tangan itu. 

Kulit Banyu terasa hangat dan sedikit kasar, menghantarkan desiran aneh yang membuat bulu kuduk Bening meremang seketika. 

Rasanya seperti ada aliran listrik yang merambat dari jemarinya, naik hingga ke nadi, lalu berhenti tepat di jantung Bening. Pria itu....

Setelah setahun hidup sebagai janda, hanya saat ini Bening berharap dirinya bukan janda.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Dipanggil Ibu

    “Mbak Nawang mau jadi Bunda Lily?”Pertanyaan polo itu terucap dari bibir mungil Lily sambil mainin tali pengaman seat car-nya.Ini bukan pertama kalinya Lily melontarkan kalimat tersebut dengan mata bulatnya yang jernih tanpa beban. Namun malam ini, dalam perjalanan pulang usai makan malam bertiga, pertanyaan itu terasa jauh lebih bergema.Dari balik kemudi, Bagas tidak langsung mengalihkan pandangan dari jalanan kota yang kian lengang. Namun, jemarinya yang mencengkeram roda kemudi tampak sedikit mengencang.Di sampingnya, Nawang menahan napas. Ia memutar tubuhnya ke belakang, menatap Lily yang sedang memeluk boneka kelincinya dengan mata mengantuk, menunggu jawaban dengan sangat jujur."Mbak Nawang..." panggil Lily lagi, suaranya makin parau menahan kantuk. "Boleh manggil Bunda? Kan katanya bentar lagi Mbak Nawang jadi Mama-nya Lily."Nawang merasakan tenggorokannya mendadak menyempit. Sebuah nama yang begitu sarat bobot, penuh tanggung jawab, dan teramat sakral seolah dihamparkan b

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Sebuah Kisah Hangat

    Mesin SUV hitam milik Bagas mendengung halus saat memasuki pelataran rumah bergaya modern minimalis milik adiknya. Lampu jalan yang mulai menyala memantulkan pendar jingga di atas kap mobil, membiaskan bayangan dedaunan yang bergoyang pelan tertiup angin sore.Di kursi penumpang depan, Nawang membenahi letak tas selempangnya. Belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, pintu samping penumpang di baris kedua lebih dulu terbuka dari luar."Mbak Nawanangg!"Gadis kecil berusia empat tahun dengan kuncir dua melompat turun begitu pintu terbuka, berlari kecil menghampiri pintu depan. Gaun katun kuning bermotif bunga yang dikenakannya berkibar seiring langkah-langkah kecilnya yang tidak sabaran.Nawang buru-buru membuka pintu dan membungkuk, menyambut tubuh mungil Lily yang langsung menubruk lututnya. tawa renyah khas anak-anak seketika mengudara, memecah hening sore di pelataran."Kangen Mbak Nawang!" seru Lily dengan nada menggebu, menengadahkan wajahnya yang bulat dan menggemaskan.Naw

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Hanya Duda

    Bagas terkekeh pelan, tawa rendah bergetar di dalam dadanya saat melihat raut panik Nawang yang begitu polos. Ia mengusap sudut bibir bawahnya yang masih menyisakan sensasi perih halus, lalu menggeleng pelan. Rasa nyeri kecil itu justru seketika meluruhkan sisa ketegangan dan gairah berlebih yang sempat menguasai kepalanya."Sudah... tidak apa-apa. Jangan memasang muka panik begitu," ujar Bagas halus. Ia meraih kedua tangan Nawang yang menyatu kaku di dada gadis itu, menggenggamnya erat dalam kedua telapak tangannya yang hangat. "Aku yang salah, terlalu terburu-buru."Nawang membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering, matanya masih menatap bibir Bagas dengan rasa bersalah yang memancar jelas. "Tapi bibir Mas Bagas merah... pasti sakit banget, ya?""Sedikit," jawab Bagas jujur, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan permakluman. "Tapi lebih sakit kalau kamu terus-terusan cemas dan mikir yang aneh-aneh seperti tadi."Nawang menunduk rapat, menyembunyikan wa

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Penundaan dan Kepastian

    Banyu meletakkan sendoknya ke dalam cangkir, menyisakan denting halus yang cepat reda di ruang tengah yang terasa sangat sunyi.Ia meraih ponsel di meja kerja, mengusap layar untuk memanggil kontak adiknya, lalu menempelkannya ke telinga seraya menunggu nada sambung berganti dengan suara Nawang."Halo, Mas Banyu?""Wang," Banyu memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggung ke kursi kayu. "Soal rencana lamaran kemarin... Abang sudah bicarakan lagi sama Mbak Bening.""Iya, Mas. Tadi Mas Bagas juga sempat tanya," sahut Nawang, suaranya terdengar antusias dari seberang. "Kalau dari Mas Bagas dan ibunya, mungkin dalam satu atau dua minggu ini mereka bisa datang lagi ke rumah."Banyu mengusap tengkuknya pelan. "Kalau bisa... kita jadwalkan bulan depan saja, Wang."Jeda sejenak di ujung telepon. Nada bicara Nawang berubah heran. "Bulan depan, Mas? Kenapa mundur agak lama? Mas Bagas sebenarnya sudah siap kalau minggu depan...""Mbakmu sedang jalan program hamil, Wang," potong Banyu denga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Ada Peluang

    Jarum suntik steril itu terangkat sedikit, memantulkan pendar lampu ruangan pemeriksaan yang serba putih. Bening memalingkan wajah, menyembunyikan dahinya yang berkerut di lipatan kemeja Banyu. Meskipun sudah bersahabat dengan jarum suntik dalam beberapa minggu ini, tetap saja itu terlihat menakutkan buat Bening.Dari genggaman tangan suaminya di atas paha, ia menyalurkan rasa tegang yang menumpuk sejak melangkah masuk ke klinik."Sedikit lagi, Bu Bening... tahan, ya," ujar Dokter Ratna tenang, mencabut jarum usai mengambil sampel darah untuk evaluasi hormon.Banyu mengusap lembut punggung tangan Bening dengan ibu jarinya, memberi ruang bagi istrinya untuk bernapas lega.Dokter Ratna melepas sarung tangan latex-nya, membuangnya ke tempat sampah medis sebelum berbalik menghadap meja kerja. Ia meraih lembaran hasil pemeriksaan USG transvaginal dan grafik perkembangan folikel yang baru saja selesai dianalisis."Mari duduk di meja sebelah sini, Pak Banyu, Bu Bening," panggil Dokter Ratna

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Ninggalin Aku

    Pagi harinya, suasana kamar utama terasa begitu tenteram. Cahaya matahari membias hangat lewat celah tirai yang tersingkap sedikit, menimpa selimut tebal yang masih membungkus Banyu dan Bening.“Mas…bangun…” Bening mencoba membangunkan Banyu namun, dia tidak bergerak sedikitpun.Akhirnya, Bening terbangun lebih dulu. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan, merasakan lengan kokoh Banyu masih melingkar protektif di pinggangnya. Menatap wajah suaminya yang tertidur lelap tanpa sisa ketegangan seperti kemarin sore, Bening menyunggingkan senyum tipis. Dibelainya perlahan rahang tegas itu dengan ujung jarinya.“Nggak mau bangun ya udah..” gerutu Bening pelan.Banyu melenguh pelan, matanya terbuka perlahan. Senyum sayu khas bangun tidur langsung terbit begitu iris matanya menangkap sosok Bening tepat di hadapannya."Pagi, Ning..." suara Banyu terdengar parau dan dalam. Ia mendekatkan wajah, mendaratkan kecupan hangat yang lama di dahi Bening. “Pagi-pagi jangan kebanyakan ngomel nanti cantiknya hi

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status