Masuk“Kamu yakin tidak mau tambah bedak atau riasan lagi, Ning?”Tangan Mbak Lastri yang sedang memegang kuas bedak mendadak berhenti. Sepupunya itu menatap wajah Bening dari pantulan kaca dengan alis berkerut ragu.Bening mengulas senyum tipis seraya menggeleng pelan. “Tidak usah, Mbak. Begini saja sudah cukup. Mas Banyu juga lebih suka yang alami.”Mbak Lastri mendesah pelan, namun tangannya kembali telaten membenarkan posisi kain kerudung transparan di kepala Bening. “Kamu itu mau nikah, Ning, bukan mau pergi arisan. Tapi ya sudah, dari dulu kamu memang tidak suka yang aneh-aneh. Lagian dengan atau tanpa make up udah cantik dari sananya.”Dua hari yang melelahkan memang berlalu dengan cepat. Setelah proses kepindahan Pak Harjanto, Bu Retno, dan Nawang ke rumah desa tuntas, hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Tidak ada terop besar yang menutupi jalanan dusun, tidak ada dekorasi bunga impor yang mahal, dan tidak ada lantunan musik yang menggema. Pernikahan digelar secara sang
Pagi harinya, Banyu mengantar Bening pulang ke desa menggunakan mobilnya. Setelah keributan panjang dan keputusan besar yang diambil keluarga Hardjono semalam, Bening memilih untuk pulang lebih dulu guna merapikan rumah sederhana miliknya di kampung. Rumah itu nantinya akan menjadi tempat beralih sementara bagi Pak Harjanto, Bu Retno, dan Nawang sebelum mereka benar-benar menata ulang kehidupan dari nol.Mobil Banyu melaju pelan menyusuri jalanan tanah berkerikil di dusun tempat Bening tinggal. Begitu mesin mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumah Bening, beberapa tetangga yang sedang mengobrol di depan pos ronda refleks menoleh.Banyu turun lebih dulu, memutar untuk membukakan pintu samping bagi Bening. Pria itu mengeluar kantong plastik berisi bahan makanan dan dua tas kain milik Bening dari bagasi belakang.“Mas tidak bisa mampir lama, Ning,” kata Banyu seraya menyerahkan tas tersebut. “Pagi ini aku harus ke kantor dinas untuk urus surat pengajuan rumah dinas, sekalian koor
“Keluar dari rumah saya sekarang, Om!” desis Banyu di depan wajah Hanung. “Jangan pura-pura jadi paman yang baik di sini. Saya tidak akan pernah membiarkan Bening pergi ke Jakarta! Simpan cek busuk Om itu!”Hanung menepis tangan Banyu dari kerah kemejanya secara perlahan. Senyum miring yang sempat terkembang di bibirnya memudar seketika saat menyadari ancamannya tidak langsung merobohkan Banyu.Bening melangkah maju, memecah ketegangan yang membendung di antara paman dan keponakan itu.“Mas Banyu... saya punya beberapa sertifikat tanah perkebunan di kampung yang masih produktif,” potong Bening pelan, memecah hening. “Apa kita mau coba ajukan itu untuk modal awal atau agunan pinjaman lain?”“Bening, tidak...” sela Banyu cepat. “Aku tidak mau pakai aset pribadimu.”“Tidak apa-apa, Bening... pakai saja dulu kalau memang bisa mencairkan dana cepat,” sahut Bu Retno cepat. Suaranya menyiratkan kepanikan yang teramat sangat.“Ma…mana bisa begitu. Mama ini….” Banyu meremas rambutnya sendiri.
“Syarat apa?”Banyu melempar pertanyaan itu dengan nada dingin. Posisinya masih berdiri tegap, memblokir pandangan Hanung agar tidak bisa leluasa menatap Bening yang ada di belakangnya.Hanung tidak langsung menjawab. Pria itu dengan santai membuka buku cek di tangannya, memutar tutup pena, lalu menuliskan nominal angka di atas kertas berharga tersebut sebelum menyandarkan punggungnya di tepi meja.“Saya lunasi seluruh utang perusahaan Mas Harjo ke bank hari ini juga, tanpa bunga, tanpa batas waktu pengembalian yang mencekik,” ujar Hanung seraya mengangkat pandangannya, menatap Banyu lurus. “Tapi Bening harus bekerja di bawah perusahaan saya di Jakarta selama dua tahun.”Ruang tamu itu seketika hening. Bu Retno terperangah, sementara Nawang yang berdiri di dekat pintu langsung membelalakkan mata.“Ben-Bening…kenapa Bening? Ada Nawang yang bisa…” pertanyaan Bu Retno itu seperti ditujukan pada dirinya sendiri.“Maksud Om apa?” Banyu maju satu langkah, suaranya makin menekan. “Bening pu
“Maksud Om Hanung apa?” tanya Bening. Rasa tidak nyaman menjalar di tengkuknya. Ia mundur satu langkah ke belakang, menatap Hanung dengan dahi berkerut dalam.Hanung tidak menjawab. Ia hanya tersenyum samar, merapikan kerah kemejanya sendiri sebelum berbalik berjalan menuju pintu keluar butik.Tangan Bening mengepal kaku di atas meja kasir. Ia menatap punggung Hanung yang masuk ke dalam mobil milik Tara, lalu melaju pergi menyusuri jalan raya. Ucapan pria yang umurnya hanya beda beberapa tahun dari Banyu dan Tara itu terasa seperti ancaman terselubung yang merusak ketenangannya.Sore harinya, Banyu datang ke butik. Pria itu melangkah masuk dengan bahu meluruh dan wajah yang amat lelah. Tanpa mengeluarkan patah kata pun, Banyu berjalan mendekati Bening yang sedang merapikan beberapa design yang tercecer di atas meja mesin jahit, lalu langsung memeluk wanita itu dari belakang dan menyandarkan dahinya di bahu Bening.Bening menghentikan tangannya. Ia mengusap lengan Banyu yang melingkar
“Seharusnya pria seperti Banyu bisa membelikanmu gedung butik yang lebih luas dari ini.”Suara Hanung terdengar santai, memecah denting lonceng pintu yang baru saja ia dorong. Bening menoleh dan sedikit terkejut, “Om Hanung?” Pria matang itu melangkah masuk dengan tangan kanan menyusup ke saku celana, matanya mendatangi sekeliling ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Bening.Bening tertegun. Pagi ini Hanung datang mengendarai mobil milik Tara. Sebelum menuju klinik tempat Tara bekerja, pria itu mendadak mampir tanpa mengabari lebih dulu.“Tempat ini sudah lebih dari cukup untuk saya, Om,” balas Bening sopan seraya mengulas senyum tipis. “Ada yang bisa saya bantu?”“Masa sih istri Banyu butiknya sempit begini” ucapnya “Seharusnya sih tidak, ya? Banyu punya banyak aset. At least di kawasan kelas atas seharusnya”Bening tidak menanggapi. Sebagai keluarga dekat Banyu, pasti Hanung tahu keadaan keuangan keluarga Banyu. Dia memilih diam.Hanung berjalan mendekati rak gantung d
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat







