เข้าสู่ระบบSuasana ruang tamu rumah Banyu terasa begitu tenang, hanya terdengar gemericik air dari pancuran kolam kecil di samping rumah. Namun, ketenangan itu justru menyimpan ketegangan halus. Banyu duduk di kursi kayu berukir dengan kemeja rapi, jemarinya tertaut erat di atas pangkuan. Di sisinya, Bening beberapa kali mengusap telapak tangannya sendiri yang dingin.Dua cangkir teh hangat yang baru disajikan Bening masih mengepulkan asap tipis di atas meja.Mobil hitam yang perlahan berhenti di depan pagar luar menyedot perhatian mereka berdua. Banyu menghembuskan napas panjang, merapikan tatanan kemejanya sebelum berdiri.Pintu depan terbuka, dan sosok Bagas melangkah masuk. Pria itu mengenakan kemeja batik bernuansa gelap yang pas di tubuh tegapnya. Sorot matanya tegas, pembawaannya matang dan penuh kendali, persis seperti reputasinya di dunia hukum. Di belakangnya, Nawang mengekor dengan menundukkan kepala, memegang erat tas kecilnya."Selamat sore, Banyu... Bening," sapa Bagas, menghentika
"Mas Banyu... kenapa diam di luar? Nanti masuk angin, anginnya lagi kencang banget..."Suara pelan Bening menyapa di pelataran paviliun. Ia melangkah pelan, merapatkan kain outer yang melapisi tubuhnya, lalu menyentuh hangat lengan Banyu yang sedang duduk menyendiri di kursi kayu.Banyu tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada deretan tanaman obat di sudut pekarangan—tempat yang selalu membawanya kembali pada kenangan masa awal tiba di Desa Lurih. Bayangan dirinya yang asing, dingin, dan penuh beban mendadak berkelebat, bertolak belakang dengan kehangatan yang kini melingkupi dadanya.Banyu tersenyum tipis. Ia menggeser duduknya, merengkuh Bening agar mendekat, lalu dengan penuh kasih membelai helai demi helai rambut istrinya. Matanya menatap Bening lurus-lurus, memancarkan pendar cinta yang begitu pekat dan dalam."Senyum-senyum sendiri?" tanya Bening heran, menyadari binaran jenaka di kelopak mata suaminya."Iya... Mas cuma ingat waktu itu. Ada perempuan yang pura-pura ma
Asap tipis mengepul dari cangkir yang diletakkan Bening di hadapan Banyu. Bunyi denting sendok beradu dengan piring nasi goreng mengisi heningnya pagi di dapur. Banyu yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya meraih cangkir tersebut, menyesap teh hangatnya perlahan."Mas, Nawang ada kirim pesan tidak pagi ini?" tanya Bening sembari mengambil tempat duduk di seberang suaminya."Belum," sahut Banyu, meletakkan kembali cangkirnya. "Mungkin dia masih riweuh bantu-bantu ngurus Lily di rumah Mas Bagas sebelum berangkat kantor.""Iya, kemarin kan katanya Lily sempat agak rewel pas ditinggal Mas Bagas," balas Bening mengangguk pelan.Belum sempat Banyu menyendok sarapannya, ponsel di samping piringnya bergetar nyaring, menampilkan nama Nawang di layar.Banyu terkekeh tipis. "Baru saja dibicarakan."Banyu menggeser tombol hijau, menekan ikon pengeras suara. "Halo, Wang?.""Bang... Mbak Bening..."Suara Nawang terdengar agak tertahan dari seberang. Bening yang menangkap nada canggung itu langsung
Bisikan Bagas yang serak di ceruk lehernya mengirimkan gelombang getaran baru ke seluruh tubuh Nawang. Rasa lega karena tahu Lily aman belum sepenuhnya memupus kepanikan, namun desakan fisik dan kehangatan tubuh Bagas di atasnya membuat pertahanan Nawang runtuh kembali."M-Mas Bagas... nanti Bu Asih..." gumam Nawang terbata-bata, mencoba mencari sisa-sisa alasan untuk menahan pria itu."Ibu sudah telepon Bu Asih waktu saya mandi," sela Bagas lembut, suara beratnya bergetar tepat di kulit leher Nawang. "Bu Asih sudah tahu Lily sama Ibu. Kamu tidak usah cemas lagi."Sebelum Nawang sempat merangkai kata-kata balasan, bibir Bagas sudah kembali membungkamnya. Ciuman kali ini tidak lagi terburu-buru oleh kepanikan, melainkan dipenuhi tempo yang teratur, dalam, dan menuntut kepasrahan penuh. Jemari Bagas menyelip di antara jemari Nawang di atas bantal, menguncinya erat-erat.Nawang mengerang pelan di dalam pertautan bibir mereka. Sensasi dominasi dari pria yang selama ini ia hormati sebagai
Hawa panas yang menyelimuti kamar mandi dan kamar utama perlahan surut, menyisakan napas terengah-engah yang memburu di antara keremangan ruangan. Bagas masih menindih tubuh Nawang dalam keheningan yang intim, keningnya bersandar pasrah pada celah leher gadis itu. Tetesan keringat dingin mengalir dari pelipis Bagas, jatuh menetes ke atas seprai yang kusut.Nawang terbaring kaku, dadanya naik-turun cepat. Kesadarannya yang sempat melayang oleh buaian sentuhan gairah kini tersentak kembali ke dunia nyata. Rasa hangat dan kepuasan yang menyapu tubuhnya mendadak berganti dengan sengatan kepanikan yang hebat.Jemari Nawang yang tadinya mencengkeram bahu tegap Bagas tiba-tiba mendorong chest pria itu pelan."M-Mas..." bisik Nawang, suaranya parau dan bergetar hebat. Matanya membelalak lebar menatap langit-langit kamar. "Lily... bagaimana Lily?"Bagas tersentak pelan. Pria itu menghentikan pergerakannya, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan matanya yang tadi kelam oleh gairah kini ber
Hembusan napas hangat Bagas yang menyapu leher belakang Nawang membuat seluruh bulu kuduk gadis itu meremang. Rasa dingin dari daun pintu jati yang menempel di telapak tangannya berbanding terbalik dengan hawa panas yang menguar dari tubuh tegap pria di belakangnya."M-Mas Bagas... tolong... jangan seperti ini," cicit Nawang pelan. Suaranya gemetar, tertahan di tenggorokan yang mendadak kering.Nawang berusaha mendorong pintu untuk membuka celah, namun lengan tegap Bagas yang mengunci pintu di samping kepalanya sama sekali tidak bergoyang. Pria itu justru melangkah setengah senti lebih dekat. Kulit dadanya yang basah kini hampir menyentuh kain tipis di bagian punggung Nawang."Sudah tiga tahun lebih, Wang..." bisik Bagas. Suaranya begitu rendah, serak, dan sarat akan dahaga yang dipendam terlalu lama. "Saya hidup bagai mayat hidup yang cuma mikirin pekerjaan dan Lily. Tapi berada didekatmu setiap hari... melihat kamu ada di rumah ini..."Bagas menghentikan kalimatnya. Tangannya yang m
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu







