LOGINAku terus memaksakan kakiku untuk berlari menuju arah pintu kaca otomatis di depan sana.
Beberapa orang di ruang tunggu lobi langsung menoleh ke arah keributan kami berdua siang ini. Namun, mereka semua hanya diam menonton tanpa berniat membantu penangkapan ini sama sekali.
Jarak pintu keluar gedung kaca ini hanya tersisa sekitar sepuluh meter lagi dari posisiku. Tiba-tiba, tiga orang pria berbadan besar masuk melewati pintu otomatis tersebut dengan langkah lebar. Mereka kompak
Sinar matahari pagi akhirnya menembus masuk melalui celah tirai kaca apartemen yang besar. Aku membuka kedua mataku perlahan dan bangun dari atas kasur empuk ini. Argan ternyata belum kembali ke apartemen ini sejak kepergiannya tadi malam.Suasana unit mewah ini terasa sangat sepi dan juga sedikit mencekam telingaku. Aku berjalan keluar kamar dan duduk di depan meja kerja sudut ruang tamu. Laptop baru pemberian Argan masih menyala menampilkan halaman awal portal kampus fakultasku."Aku harus cari cara buat ngubungin orang luar pakai portal jaringan kampus ini."Aku berbicara pelan kepada diriku sendiri di tengah keheningan pagi. Tanganku menggerakkan kursor tetikus untuk membuka menu perpustakaan digital fakultas kedokteran.Mataku langsung tertuju pada fitur obrolan langsung antar mahasiswa di pojok kanan layar. Fitur ini biasanya dipakai untuk diskusi tugas kelompok secara daring dari rumah. Aku langsung mengetik nama Fika di kolom pencarian daftar tema
Argan merangkul bahuku dan memaksaku memegang kertas foto USG tersebut."Aku nggak mau unggah kebohongan ini ke akun media sosial pribadiku, Pak. Teman-teman kampusku pasti tahu kalau aku belum hamil sama sekali bulan ini."Aku menolak perintahnya sambil meletakkan kembali kertas itu ke atas permukaan meja kaca."Cuti kuliah kamu udah aku urus tuntas sampai pertengahan tahun depan. Kamu nggak bakal ketemu teman kampusmu lagi sampai bayi bohongan ini waktunya lahir ke dunia."Argan langsung mematahkan alasanku dengan fakta cuti paksa yang dia urus di belakang punggungku. Aku hanya bisa diam menelan ludah karena semua kehidupanku benar-benar sudah dikunci rapat olehnya.Dokter wanita itu segera membereskan semua peralatannya dan langsung pamit pulang meninggalkan apartemen. Ruang tamu luas ini kembali menjadi sangat sepi hanya menyisakan kami berdua saja malam ini."Bapak beneran mau kurung aku di apartemen ini selama sembilan bulan penuh?"
Pria bertopi hitam itu meludah tepat ke arah ujung sepatu kulit mahal milik Argan.Argan hanya mengangguk pelan memberikan isyarat kepada salah satu pengawalnya di sana. Pengawal itu langsung mendaratkan satu pukulan keras tepat di perut pria bertopi hitam tersebut. Pria malang itu langsung terbatuk parah dan mengeluarkan sedikit cairan darah segar dari bibirnya."Bapak jangan siksa dia lagi! Dia udah luka parah kayak gitu dari semalam!"Aku mencoba turun dari mobil untuk menolongnya, tetapi Argan langsung mendorong bahuku kembali ke dalam."Kalau kamu mau dia tetap hidup, kamu yang harus bujuk dia buat sebutin letak dokumen itu, Nara."Argan memberikan pilihan yang sangat menyudutkan posisi mentalku pada malam hari ini. Pria ini sangat menikmati posisinya sebagai penguasa yang memegang kendali atas nyawa orang lain."Tolong kasih tahu aja letak tas itu sekarang. Aku beneran nggak mau kamu mati murni gara-gara bantuin urusanku."Aku m
Pria itu memberikan instruksi langsung kepada sopir yang duduk membelakangi kami di depan.Sopir berjaket hijau itu hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu patah kata pun malam ini. Mobil ini langsung melaju meninggalkan area kawasan apartemen mewah milik keluarga Argan. Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi sambil memejamkan kedua mataku sejenak.Namun, mobil ini tiba-tiba berbelok tajam ke arah sebuah gang gelap yang lumayan sempit. Laju kendaraan ini langsung berhenti total di tengah jalan buntu tersebut tanpa alasan jelas. Aku langsung membuka mataku karena merasa sangat panik dan juga sangat kebingungan."Pak Sopir, kenapa kita malah berhenti di gang buntu yang gelap ini? Ini sama sekali bukan jalan ke arah gerbang tol luar kota kan?"Aku bertanya dengan nada suara yang bergetar hebat menahan rasa takut di kerongkongan.Sopir berjaket hijau itu mematikan mesin mobil dan mencabut kunci kontaknya secara perlahan. Dia menoleh ke belakang da
Pria bertopi hitam itu membenarkan strategiku sambil menggelengkan kepalanya pelan."Argan beneran pintar banget cara mainin emosi netizen negara ini pakai isu keluarga dan kehamilan. Skandal pelakor dan penyuapan pasti langsung dilupain sama ibu-ibu pengajian di luar sana."Trik kehamilan palsu ini benar-benar menutup semua celah hukum untukku secara instan. Jika aku membantah di internet, netizen pasti akan menuduhku sebagai istri durhaka yang menutupi anugerah anak."Besok pagi dia pasti bakal bawa dokter kandungan palsu ke apartemen ini buat bikin bukti medis. Kalau kamu nggak kabur malam ini, kamu beneran bakal terjebak di skenario hamil palsu ini."Pria itu memberikan peringatan waktu yang sangat mendesak kepadaku siang ini. Aku memutar otakku untuk mencari jalan keluar darurat dari apartemen tinggi ini."Terus kita mau kabur lewat mana sekarang dari gedung ini? Lift pribadi itu cuma bisa diakses pakai kartu khusus milik Pak Argan aja."
Argan kembali melontarkan ancaman mematikan itu sebelum melangkah masuk ke dalam lift pribadinya.Pintu lift langsung tertutup rapat meninggalkan diriku sendirian di dalam unit apartemen raksasa ini. Aku menghela napas sangat panjang dan menjatuhkan tubuhku ke atas sofa ruang tamu yang empuk. Badanku terasa sangat lelah setelah melewati semua drama penipuan di stasiun televisi tadi.Waktu terus berjalan lambat hingga langit di luar jendela kaca berubah menjadi gelap gulita. Suasana malam di dalam apartemen ini terasa sangat sunyi dan juga mencekam. Aku hanya duduk diam memeluk kedua lututku di atas sofa sambil melihat lampu kota Jakarta.Tiba-tiba, suara bel pintu apartemen berbunyi sangat nyaring memecah keheningan ruangan luas ini.Jantungku langsung berdetak cepat karena Argan seharusnya bisa masuk menggunakan sensor sidik jari. Aku melangkah pelan mendekati layar interkom yang menempel di sebelah dinding pintu utama. Layar kecil itu menyala dan menamp
"Pintar. Sekarang buka mulut lagi untuk suapan kedua," perintahnya sambil kembali menyendok bubur dari mangkuk.Disuapinya aku sesendok demi sesendok dengan kesabaran yang luar biasa, padahal biasanya dia adalah orang yang sangat tidak sabaran dan menghargai waktu.Setiap kali ada s
Wajah Argan bergerak turun mendekati leherku kembali. Hembusan napas hangatnya menerpa kulitku, membuat bulu kudukku meremang seketika. Bibirnya yang hangat menempel tepat di atas tanda kemerahan itu, mengecupnya dengan sangat lembut dan hati-hati. Tidak ada gigitan atau hisapan kasar seperti bia
Tak lama kemudian, Argan pulang ke penthouse.Aroma parfum wanita yang menyengat dan noda samar kemerahan di kerah kemeja Argan itu menghantam kesadaranku lebih keras daripada demam yang baru saja reda. Tubuhku yang tadinya rileks dalam pelukannya mendadak kaku. Rasa curiga yang tajam lang
Argan mengangguk paham, lalu dia melanjutkan kegiatan menyekanya hingga ke pinggang sampingku. Dia memiringkan tubuhku sedikit agar bisa menjangkau punggungku yang terasa pegal akibat terlalu lama berbaring.Handuk hangat itu menyusuri tulang punggungku dari atas ke bawah, memberikan efek







