แชร์

Bab 39

ผู้เขียน: Itsmoore
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-01 19:10:45
Kami berjalan beriringan menuju parkiran mobil dosen yang mulai sepi karena hari sudah semakin sore.

Argan membukakan pintu mobil untukku dan memastikan aku duduk dengan nyaman sebelum dia menutup pintu. Saat dia berjalan memutari mobil aku bisa melihat dari kaca jendela bahwa raut wajahnya masih terlihat sangat serius.

Argan masuk ke kursi kemudi dan langsung menyalakan mesin mobil tanpa banyak bicara. Dia memutar tubuhnya sedikit ke arahku sebelum mulai menjalankan mobilnya keluar dari area pa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Wahyuningsih D.Sumitro
serem bgt Argan kl udh begini, dr rasa kasihan lama2 timbul rasa cinta Nara
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 158

    Ibu-ibu yang ikut masuk mulai berteriak memanggil namaku dengan kata-kata yang sangat kasar."Cari di semua kamar lantai bawah dan langsung naik ke lantai dua sana!"Pak RT memberikan instruksi kepada para pemuda untuk segera menggeledah ruangan rumah mewah ini.Sebab mendengar perintah penggeledahan itu, rasa panik berukuran sangat besar langsung memenuhi seluruh isi kepalaku. Tubuhku langsung merangkak mundur menjauhi pagar kaca agar keberadaanku tidak terlihat dari bawah. Lututku terasa sangat lemas saat mencoba berdiri tegak di atas permukaan karpet lantai dua ini."Kalian semua cepat keluar dari rumahku sekarang juga! Tindakan penggeledahan ini namanya pelanggaran wilayah pribadi orang lain!"Argan menarik kerah kemeja salah satu pemuda dan melempar badannya ke arah luar pintu utama."Kami punya hak penuh buat ngurus lingkungan kami sendiri dari perbuatan kotor kalian berdua!"Pak RT membalas teriakan Argan tanpa menunjukkan rasa

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 157

    Teriakan kasar seorang pria dari arah luar terdengar memekakkan telingaku sampai ke lantai dua. Suara langkah kaki banyak orang juga terdengar berjalan paksa memasuki area taman depan rumah."Nah, warga perumahan udah mulai hilang kesabaran di luar sana," ucap Dokter Hadi sambil merapikan kerah bajunya.Argan langsung memutar badannya dan menatap lurus ke arah pintu utama rumah yang terbuka. Pria tinggi itu mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk menghadapi amukan massa secara langsung.Sementara itu, aku hanya bisa bersembunyi ketakutan di lantai dua sambil menutup telingaku menggunakan kedua telapak tangan.Suara langkah kaki puluhan orang itu terdengar semakin mendekati arah pintu utama rumah. Aku menekan dadaku sendiri dari balik pagar kaca lantai dua bangunan ini. Jantungku berdetak sangat kencang karena takut melihat amukan massa warga perumahan tersebut.Argan berdiri tegak menghalangi akses masuk di ambang batas pintu kayu jati. Tubuh bes

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 156

    Mataku menyipit dari lantai dua untuk mencoba membaca logo di bagian atas kertas itu. Logo di kertas tersebut terlihat sangat persis dengan lambang resmi kampus tempatku menuntut ilmu.Argan langsung mengambil kertas itu menggunakan tangan kanannya dan membaca isinya secara teliti. Otot di sekitar leher pria tinggi itu langsung menegang setelah membaca paragraf pertama dokumen tersebut."Ini surat pemecatan resmi dari pihak rektorat kampus buat Nara, kan?"Argan memastikan isi surat tersebut dengan suara baritonnya yang menggema di ruang tamu."Tepat sekali tebakanmu itu, Argan! Pihak kampus nggak mau nunggu sidang kode etik besok pagi karena tekanan netizen terlalu besar."Dokter Hadi tertawa pelan saat membenarkan fakta pemecatan kampus tersebut secara langsung."Dekan fakultas langsung tanda tangan surat pemutusan studi itu siang ini juga. Gadis miskin itu udah resmi bukan mahasiswi kampus kita lagi mulai detik ini."Sebab mendenga

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 155

    Sebab mendengar nama penaku disebut secara jelas, kedua mataku langsung membulat sempurna karena kaget. Pria berkacamata itu benar-benar membocorkan rahasia nama penaku ke stasiun televisi nasional. Identitas rahasiaku sebagai penulis cerita dewasa kini sudah diketahui oleh seluruh masyarakat."Pihak kampus pasti bakal makin marah sama aku karena tulisan novel dewasaku itu, Pak Argan."Aku menoleh ke arah dosen pembimbingku dengan wajah yang sangat pucat pasi."Vickry sengaja jadiin kamu tumbal biar perusahaannya nggak diboikot sama masyarakat luas. Dia pria pengecut yang cuma mikirin uang jabatannya sendiri."Argan memberikan tanggapan santai sambil mematikan televisi besar itu menggunakan remote di tangannya. Layar kembali menjadi hitam dan ruangan ini kembali menjadi sangat sepi seketika."Semua kerja kerasku nulis ratusan bab novel hilang begitu aja hari ini. Aku beneran udah kehilangan semua harga diriku di depan banyak orang."Badanku

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 154

    Argan menatap wajahku dengan senyuman yang terlihat sangat mengerikan siang ini. Fakta ini membuktikan bahwa dia membiarkan kosanku diserang Felicia agar aku terpaksa mengikutinya ke sini."Kamu nggak bakal butuh tempat kosan sempit itu lagi, Nara. Sekarang, rumah ini bakal jadi tempat tinggal kamu, untuk selamanya.""Pak Argan sengaja biarin kosanku dihancurin sama orang-orang itu tadi siang, kan?" Aku menuduh pria tinggi ini dengan nada suara yang lumayan keras."Aku cuma mau mempercepat proses kepindahan kamu ke rumah ini aja, Nara. Tempat kosan kamu itu udah pasti jadi target amukan massa mulai besok pagi."Pria itu menjawab tuduhanku dengan raut wajah yang sangat santai. Dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah memanipulasi keadaan burukku hari ini. Argan malah berjalan mendekat dan mengambil tas punggungku dari atas meja kaca."Tapi Bapak tega banget biarin aku ketakutan setengah mati dikejar preman tadi. Aku pikir nyawaku beneran bakal

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 153

    Polisi itu menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan permintaan maaf secara langsung. Argan hanya mengangguk pelan menerima permintaan maaf dari petugas keamanan tersebut. Pria itu memang selalu memiliki cara instan untuk keluar dari masalah hukum negara."Silakan kalian berdua pergi dari kamar ini, sekarang juga." Argan mengusir kedua polisi itu dengan gerakan usapan dari telapak tangannya."Baik, Pak. Kami permisi undur diri dulu."Kedua polisi itu langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari kamar penginapan kami. Mereka menutup pintu kayu ini dari arah luar secara pelan-pelan. Suasana di dalam ruangan kumuh ini kembali menjadi sangat sunyi dan aman.Aku menghela napas panjang untuk melepaskan sisa rasa panik di dadaku. Koneksi pertemanan Argan benar-benar sangat luas dan juga berbahaya. Pria ini bisa mengendalikan aparat hukum hanya dengan satu kali panggilan telepon singkat."Kita udah aman dari polisi, Pak Argan. Tapi kita nggak bisa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status