Share

​Bab 2 Halusinasi? 

Author: Cynta
last update publish date: 2026-09-22 02:30:30

“Kamu yakin tidak perlu dirawat malam ini?”

Gisella berdiri di ambang kamar sambil memperhatikan Leon yang baru duduk di tepi ranjang. Sejak meninggalkan rumah sakit, dan kini berada di rumah. Tangan pria itu beberapa kali menyentuh pelipisnya yang diperban. Apalagi sampai memintanya malam ini tidur seranjang!

Ia yakin pria itu benar-benar terbentur parah!

Namun, setiap kali ditanya, Leon selalu menyangkal masih merasa sakit.

“Aku hanya mengalami benturan ringan,” jawab Leon sembari melepaskan jam tangan.

​“Dokter bilang begitu karena kamu terus-menerus menolak mengaku kalau merasa pusing,” pangkas Gisella.

​“Aku memang tidak pusing,” sahut Leon begitu yakin.

Leon tidak membantah. Perhatiannya justru tertuju pada wajah istrinya yang tetap terlihat tenang meskipun sejak tadi tidak berhenti mengurus segala kebutuhannya.

'Kalau dia pingsan lagi, aku harus mengangkatnya sendiri atau memanggil orang? Dengan tubuh sebesar itu, sepertinya lebih aman kubiarkan tergeletak sampai bantuan datang.'

​Gisella menatapnya beberapa detik saat sudut bibir pria itu naik, tersenyum kecil. “Apa yang lucu?” tanya Gisella.

“Tidak ada.”

Gisella menatapnya curiga, lalu mengambil bantal tambahan dari sisi ranjang. Ia menaruh bantal tersebut di belakang punggung Leon dan membantu pria itu bersandar.

“Nyaman?”

Leon mengangguk kecil.

‘Syukurlah, setidaknya aku tidak perlu menjelaskan kepada keluarganya bahwa anak satu-satunya habis geger kepala! Bisa bisanya meminta seranjang!? Pria itu… benar-benar—'

​Leon berkedip cepat. Matanya membelalak, menatap Gisella dengan tatapan tidak percaya.

​Perempuan di depannya sama sekali tidak menggerakkan bibir. Ekspresi wajahnya masih terlihat sangat tenang dan anggun.

“Gisella.” panggil Leon membuatnya mengangkat wajah.

“Ya.”

Leon mengambil sebuah kotak obat dari nakas dan menyembunyikannya di belakang tubuh. Ia perlu memastikan suara yang didengarnya benar-benar berasal dari pikiran Gisella, bukan efek benturan pada kepalanya.

“Kotak obat yang tadi ada di sini warnanya apa?”

Gisella mengerutkan dahi. “Putih…?”

“Bukan biru?” sanggahnya.

“Putih dengan garis biru.” Sahut Gisella turun ke tangan Leon yang disembunyikan. “Kenapa kamu menanyakannya?”

Leon tidak menjawab.

'Apa benturannya membuat dia lupa warna? Jangan bilang kemampuan berpikirnya ikut rusak?'

​Leon menelan ludah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir. Benar.

​“Kenapa?” tanya Gisella, menyadari perubahan di raut wajah suaminya.

​“Tidak apa apa,” jawab Leon datar. “Hanya memastikan sesuatu.”

Jawaban itu membuat Gisella memekik di kepala. Aneh! Pria itu aneh!

​Leon kembali mengusap keningnya yang mendadak keringat dingin mendengarnya. Selama ini, Gisella hampir tidak pernah mengumpat apalagi berteriak.

​“Obatnya sudah diminum kan?” Gisella kembali memastikan, meraih deretan obat diatas nakas.

​“Sudah,” Leon kembali mengangguk.

​“Lampu mau diredupkan?” tanya Gisella lagi,tangannya terulur hendak menyentuh tombol lampu.

​“Gisella,” pangkas Leon.

​Gerakan tangan Gisella terhenti di udara. “Apa?”

Ia menatap Leon. ‘Suaminya… tidak memintanya… untuk tidur seranjang malam ini kan?’

​Lagi..?!

​Suara itu muncul lagi.. Jelas, sangat jelas, bahkan intonasinya persis seperti gaya bicara Gisella, hanya saja jauh lebih tajam dan blak-blakan.

​“Kamu... mengatakan sesuatu?” tanya Leon, memastikan.

​Gisella menatapnya bingung. “Aku tidak bicara apa-apa.”

​“Benar-benar tidak bicara?” Leon memastikan dengan tatapan serius.

​Gisella menghela napas, dahinya berkerut tipis. Kemudian menutup laci nakas sedikit lebih keras. “Kalau aku ingin mengatakan sesuatu, aku akan menyampaikannya.”

Selama dua tahun menikah, Gisella memang tidak pernah menuntut apa pun. Ia tidak pernah mendengarnya mengeluh, memekik, apalagi berteriak. Ia akan mengangguk dan setuju.

Maka dari itu, Leon pikir Gisella adalah pilihan keluarganya yang tepat.. yang tak ada emosinya dan mempengaruhi bisnis keluarga berdua. Dan Leon mengira ketenangan tersebut menandakan Gisella nyaman dengan pernikahan mereka.

Kini ia mulai menduga bahwa dirinya keliru. “Gisella.”

​“Apakah kamu... tidak bahagia menikah denganku?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!   Bab 9 Apa Ini Kencan?

    ​Gisella melangkah masuk kedalam ruangan VIP restoran lalu duduk dengan punggung tegak sempurna di kursi yang disiapkan Leon untuknya. Ia memperhatikan ruangan itu sebelum pandangannya tertuju pada Leon yang duduk di sampingnya dengan santai. ​“Kenapa harus menyewa ruang privat hanya untuk makan siang, Leon?” Sementara, di dalam kepalanya mulai berisik. ​‘Biasanya juga makan di meja reguler biar cepat selesai lalu kembali bekerja. Kenapa sekarang pakai repot menyewa ruang VIP segala? Jendelanya tertutup rapat, lampunya temaram. Apa ini... Dia sedang mengajakku kencan?’ ​Mendengar tebakan batin istrinya, Leon hanya menanggapi dengan santai. ​“Aku hanya ingin makan siang yang tenang dengan istriku tanpa gangguan,” jawabnya singkat. ​Seorang pelayan masuk membawa buku menu. Namun, sebelum Gisella sempat membukanya, Leon sudah lebih dulu bersuara. ​“Dua porsi steak daging sapi medium well dengan saus jamur lada hitam. Minumnya sparkling water dengan irisan lemon,” pesan Leon lancar

  • Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!   Bab 8 Memastikan Sesuatu

    ​“Kamu benar-benar serius dengan ucapanmu semalam, Leon?” ​Gisella menoleh ke arah Leon. Gisella duduk tegak di mobil mewah suaminya, dengan balutan setelan blazer dan rok selutut berwarna nude membuatnya tampak sempurna sebagai istri Leon. ​Namun, di dalam kepalanya, rutukan kekesalan sudah terdengar sejak ia dipaksa bangun lebih pagi dari biasanya. ​‘Benar-benar diktator! Sekarang dia berpikir aku pajangan yang siap dibawa ke mana-mana? Kalau seperti ini kapan aku bisa merevisi sketsa ku sementara harus mengikutinya ke kantor tiap hari?!’ ​Leon memalingkan wajah ke arah jendela mobil, ia menekan bibirnya untuk menyembunyikan senyumannya. ​“Tentu saja aku serius, Gisella. Mulai hari ini, kamu harus selalu di sampingku,” jawab Leon tanpa menoleh. ​Mobil terus melaju cepat sampai akhirnya Gisella menyadari rute yang diambil sopir mereka bukanlah arah menuju gedung utama Gavyn Group. ​Gisella mengerutkan dahi bingung. “Pak, bukankah ini jalan menuju rumah sakit?” ​“Benar

  • Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!   Bab 7 Sebuah Permintaan

    ‘Memperbaiki dari awal katanya? Setelah dua tahun jadi pajangan, tiba-tiba Leon ingin memperbaiki dari awal? Ada apa dengannya..?’ Gisella menatap mata Leon yang terlihat sangat serius dengan ucapannya membuat Gisella tiba-tiba gugup, kepalanya justru menggeleng kecil. ​Leon memperhatikan wajah Gisella, ia merasa bingung dengan jawaban istrinya. ​Tapi, beberapa detik kemudian, suara Gisella terdengar sangat pelan, “Iya...” ​Leon mengernyitkan alis. “Kamu baru saja menggeleng, Gisella.” ​“Aku tahu...” gumam Gisella lirih. ​“Lalu kenapa bilang iya?” tanya Leon terheran. ​“Karena aku... Aku gugup!” suara Gisella nyaris tidak terdengar. Jawaban jujur Gisella membuat bibir Leon melengkung, mengusap senyum di depan istrinya. “Aku pikir kamu tidak akan memberikan aku kesempatan..” ​Gisella mendengus kecil, menunduk sedikit. “Aku tidak sekejam itu..” ucapnya lirih. ‘Aku akan memberikan kamu kesempatan setahun Leon, kalau masih tetap seperti dua tahun ini.. Aku menyerah

  • Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!   Bab 6 Memulai dari Awal

    ​Gisella berbalik begitu pintu utama penthouse tertutup rapat setelah mengantar Helena dan Serena sampai pintu utama penthouse. Di hadapannya, Leon berdiri tegak menatapnya nyaris tidak berkedip. ​Gisella menarik napas panjang, berusaha menjaga nada suaranya tetap anggun dan terkontrol. “Apa maksud kamu bicara seperti tadi di depan Mama dan Serena?” ​“Kenapa?” Leon memiringkan kepalanya. “Aku hanya bilang kita bisa mulai mengusahakannya malam ini. Bukankah itu jawaban yang paling Mama harapkan?” ​‘Dua tahun kamu mengabaikanku, membiarkanku tidur sendirian. Lalu setelah kepalamu terbentur, tiba-tiba kamu ingin mengusahakan malam ini? Ini sangat aneh, Leon.’ ​Suara itu terdengar nyaring, bergema jelas di kepala Leon. ​“Kenapa harus malam ini?” tanya Gisella akhirnya. ​Leon memajukan langkah. “Memangnya jawaban apa yang ingin kamu dengar, Gisella?” ​Pertanyaan sederhana itu sukses menghentikan napas Gisella selama beberapa detik. Bagaimana mungkin ia mengaku bahwa selama dua

  • Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!   Bab 5 Kedatangan Tamu

    Ting Tong! Bunyi bel membuyarkan fokus Gisella dari kejadian tadi. Ia baru saja selesai membasuh mukanya akibat merah padam. Saat mendengar bel, Gisella buru-buru merapikan rambut sebelum keluar dari kamar utama. Penthouse yang mereka tempati berada di lantai tertinggi Gavyn Residence, salah satu properti milik keluarga Leon. Sejak menikah, mereka memilih tinggal di sana daripada menempati mansion keluarga Gavyn di kawasan utara kota. Alasannya karena agar Leon ingin dekat dengan kantor pusat, sedangkan Gisella menginginkan ruang pribadi jauh dari campur tangan keluarga. Sayangnya, privasi tersebut tidak berlaku ketika ibu mertuanya datang. Begitu membuka pintu, Gisella mendapati mertuanya, Helena Gavyn berdiri bersama seorang perempuan muda berbalut setelan putih. Gisella tahu siapa perempuan itu. Serena Wijaya, Direktur komunikasi perusahaan Leon yang membawa keranjang buah dan beberapa kotak makanan di belakang mereka. “Mama,” sapa Gisella sambil mencium pipi Helena. “Kenap

  • Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!   Bab 4 Sentuhan Meresahkan

    Gisella terbangun ketika sesuatu yang berat menahan pinggangnya. Ia membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyelinap dari sela tirai, menerangi lengan Leon yang masih melingkar di tubuhnya. Entah sejak kapan posisi mereka berubah. Semalam Gisella tertidur membelakanginya, tetapi kini punggungnya menempel rapat pada dada suaminya. Napas hangat Leon menyentuh tengkuknya secara teratur. 'Jangan bergerak. Kalau aku bergerak, dia pasti bangun dan melepaskanku.' Gisella memejamkan mata lagi, berpura-pura masih tidur. Ia tahu seharusnya segera bangun dan memeriksa kondisi luka Leon. Namun, setelah dua tahun menunggu kedekatan sekecil ini, ia ingin menikmatinya beberapa menit lebih lama. Lengan di pinggangnya tiba-tiba mengerat. “Sudah bangun?” Suara serak Leon terdengar tepat di belakang telinganya. Tubuh Gisella menegang. “Belum.” “Sudah!” pekiknya mengoreksi perkataannya. Gisella berusaha bergeser, tetapi tangan Leon masih menahan pinggangnya. 'Kenapa.. Gak mau lepas? Ap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status