Compartir

3. Bos yang Rese

Autor: Piemar
last update Fecha de publicación: 2026-10-25 18:09:49

Nara menaiki lift menuju lantai enam belas di mana ruang kerja Bara berada. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton. Namun, bukan karena merasa terintimidasi, melainkan emosi yang tertahan selama tiga tahun ini.

Ketika tiba di depan pintu kayu mahoni tebal bertuliskan Vice President of Creative, ia mengetuk pintu dengan ritme pelan dan hati-hati.

Tok, tok, tok.

“Masuklah!”

Suara bariton dari dalam menggema. Sama sekali tidak ada yang berubah dari intonasi bicaranya yang tenang tapi dingin.

Nara memutar gagang pintu lalu melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangannya sejenak ke ruangan bergaya minimalis-modern yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Di balik meja kebesarannya, Bara duduk bersandar. Setelan jas midnight navy-nya tampak membungkus tubuh kekarnya. 

Beberapa tahun tidak bersua, pria itu tetap sama. Penampilan yang selalu menarik perhatian para wanita dan aura dingin yang penuh kharismatik. 

Saat iris hazel pria itu terangkat dan mengunci pandangan Nara, dada Nara berdesir. Ada banyak perasaan menumpuk di balik dadanya. Namun, ia berusaha menahannya rapat-rapat dan mengendalikan raut wajahnya agar tetap terlihat profesional. Saat ini hubungan mereka hanyalah sebatas atasan dan bawahan. 

“Kenapa kamu tidak langsung datang ke ruangan saya begitu pengumuman town hall selesai?” Bara membuka percakapan. 

“Maaf, Pak Bara. Sesuai alur birokrasi umum dan arahan HRD, staf baru terlebih dahulu berkoordinasi dengan Senior Creative Director,” jawab Nara dengan intonasi seformal mungkin. Ia sengaja menekankan frasa Pak Bara dan Creative Director untuk menegaskan jarak di antara mereka. Ia tidak akan memberikan celah sedikit pun bagi pria itu untuk menindasnya meski atas nama kepentingan pekerjaan. 

Bara menghela napas halus tatkala mendengar panggilan resmi itu mendarat di telinganya. Sudah tiga tahun lamanya Nara menutup seluruh akses komunikasi. 

Wanita cantik di depannya ini dulu memanggilnya dengan nada hangat dan manja. Namun, sekarang dia memanggilnya layaknya orang asing. 

Berusaha mempertahankan ekspresi wajah tenangnya, Bara meraih berkas portofolio Nara di sudut meja, membukanya perlahan. “Saya sudah melihat berkas dan portofolio kamu. Sebetulnya, dari belasan kandidat Senior Graphic Designer, pengalaman kerja resmimu masih tergolong minim, baru satu tahun. Pendekatan visualmu juga terlalu berani dan berisiko untuk standar Vanguard yang lebih menyukai desain dengan konsep konservatif.”

Nara menaikkan sebelah alisnya. Pria di hadapannya ini masih sama. Ia selalu menilai seseorang dari deretan riwayat formal dan sudut pandang korporat yang kaku. Namun, Nara yang berada di ruangan ini bukan lagi wanita dulu yang akan diam saat potensinya diragukan.

Nara melangkah mendekati meja. Ketika tatapan mereka bertemu, Nara berbicara dengan nada penuh percaya diri. “Pengalaman kerja resmi saya memang baru satu tahun, Pak Bara,” potong Nara tenang tetapi tegas. “Tapi deretan portofolio yang ada di tangan Bapak itu adalah karya-karya yang menjuarai berbagai kompetisi desain visual tingkat nasional dan internasional dalam dua tahun terakhir secara independen. Gaya visual yang Bapak sebut ‘beresiko’ itu justru terbukti memenangkan juri-juri profesional dan mengalahkan ratusan desainer senior lainnya.”

Nara menatap lurus iris hazel milik Bara tanpa gentar. “Dunia kreatif saat ini bergerak dinamis, Pak. Jika Vanguard hanya bertahan pada konsep konservatif dan menilai kapasitas seseorang murni dari berapa lama dia duduk di kursi kantor, kita akan tertinggal dari kompetitor.”

Bara tertegun sejenak melihat bagaimana sosok mantan istrinya bisa mempertahankan keyakinannya. Tanpa sadar bibirnya mengulas senyum teramat tipis, kagum pada pendiriannya yang teguh. 

Bara berdehem untuk menetralisir perasaannya. Lalu ia menutup berkas itu pelan. “Pendapat yang bagus. Namun, riwayat lomba tetap butuh pembuktian konsistensi di eksekusi industri.”

Nara tersenyum tipis, getir. “Kalau menurut Pak Bara kualifikasi saya belum memenuhi standar yang diharapkan, saya tidak keberatan membatalkan kontrak kerja sekarang juga. Saya rasa, daripada membuang waktu kedua belah pihak, lebih baik kita mengakhiri kerja sama sebelum benar-benar dimulai."

Bara menegakkan posisi duduknya. Sorot matanya mendadak goyah. Rasa panik yang asing merayapi dadanya. Nara begitu mudah mengucap kata ‘mengakhiri’. Persis seperti tiga tahun lalu, ketika wanita itu mengemas kopernya setelah menandatangani akta cerai, lalu pergi tanpa menoleh lagi dan menutup semua akses bagi Bara. 

“Bisa saja,” sahut Bara cepat, mencoba menguasai suaranya agar tetap terdengar tenang meski jantungnya berdegup kencang. “Tapi kamu membatalkan kontrak sepihak sebelum masa percobaan selesai.”

“Tentu, karena atasan saya sendiri yang menyatakan kualifikasi saya tidak sesuai,” balas Nara lugas.

“Tapi … batas hukum kontrak tetap berlaku,” Bara menyandarkan punggungnya, menatap Nara lurus. “Pembatalan sepihak sebelum proyek berjalan mewajibkan pembayaran klausul ganti rugi rekrutmen dan penalti ikatan dinas sebesar seratus juta rupiah.”

Nara mengepalkan jemarinya di balik punggungnya. Dugaannya tepat. Pria ini memanfaatkan celah klausul kontrak untuk menguncinya. Uang seratus juta bukan nominal kecil yang bisa ia keluarkan saat ini. 

Jangankan seratus juta. Uang tabungannya hanya tersisa untuk biaya kebutuhan pokok selama dua bulan ke depan. 

Namun, alih-alih menunjukkan kepanikan konyol atau meminta keringanan, Nara menyunggingkan senyum formal. “Baik. Jika itu konsekuensi hukumnya, saya akan bertahan dan menyelesaikan masa kontrak satu tahun ini secara profesional,” tegas Nara. “Jadi, apa bentuk koordinasi resmi yang Pak Bara inginkan dari posisi saya di Tim Alpha?”

Bara berdehem pelan, mengalihkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Nara. “Sebagai bentuk penyesuaian standar kerja, untuk setiap draf proyek utama yang kamu tangani, buat draf evaluasi teknis dan serahkan langsung kepada saya sebelum masuk ke tahap eksekusi akhir.”

Nara menatap Bara dalam-dalam. Ia tahu pria ini sedang mencoba menciptakan alasan interaksi. Namun, Nara tidak akan membiarkan Bara menggunakan wewenang pekerjaan ini untuk menyentuh kehidupan pribadinya. Lagipula hubungan mereka sudah khatam. Ia tidak berniat membuka kembali luka lama yang sukar sekali disembuhkan. Bara hanyalah bagian dari kepingan masa lalu yang ingin ia tinggalkan. 

“Hanya laporan evaluasi teknis proyek, Pak Bara?” tanya Nara dengan nada penegasan.

“Ya. Hanya urusan pekerjaan,” jawab Bara singkat.

“Diterima,” sahut Nara singkat dan tegas. Ia merapikan blazer dusty pink-nya, lalu memberikan anggukan sopan. “Jika tidak ada hal lain yang perlu dibahas mengenai pekerjaan, saya izin kembali ke lantai lima belas untuk berkoordinasi dengan Senior Creative Director saya.”

Tanpa menunggu balasan panjang dari Bara, Nara berbalik arah dan melangkah keluar ruangan dengan langkah mantap.

Saat pintu mahoni tertutup rapat di belakangnya, Nara memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang. Dulu, ia selalu gemetar dan sibuk mencari validasi dari pria itu. Kini, ia sadar dirinya jauh lebih berharga daripada sekadar bayang-bayang masa lalunya.

Sementara itu di balik pintu, Bara tetap terpaku. Rahangnya mengeras kaku saat menatap pintu yang baru saja tertutup, memegang pulpennya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jangan Goda Aku, Mantan Suamiku!    8. Tiga Tahun yang Membisu

    “Aku mendengar semuanya tadi.” Suaranya terdengar berat. “Sejak kapan kamu lebih memilih meminta bantuan pria lain daripada mantan suamimu sendiri?”Nara tercekat. Belum sempat menjawab, Bara kembali bersuara. “Tiga tahun, Nara.” Suara Bara terdengar dingin. “Tiga tahun kamu menghilang begitu saja, menutup akses komunikasi.”Tatapan pria itu berubah gelap, seolah menahan napas yang terasa sesak. “Sekarang setelah kita bertemu, kamu berpura-pura seperti tidak mengenalku?”“Pak Bara, tolong jaga sikap Anda!” Jawaban Nara membuat Bara terdiam dengan napas yang berat. Tatapan matanya yang dingin tak berpaling sedikitpun dari wajah mantan istrinya. “Nara, begitu mudah kamu melupakanku.” Tukas Bara dengan nada yang dingin sarat akan kemarahan yang terpendam. “Aku Bara … mantan suamimu! Haruskah aku mengingatkanmu lagi?” Bara semakin mencondongkan tubuhnya, memerangkap tubuh Nara. Alih-alih merasa terintimidasi, Nara tampak tenang meski jantungnya berdetak maraton. “Tidak perlu, Pak Bara.

  • Jangan Goda Aku, Mantan Suamiku!    7. Stranger to You

    “Bu Nara, pasti belum terbiasa ya melihat bos seperti Pak Bara? Maklum ya, dia memang galak dan judes, tapi aslinya... ya gitu deh, tetep aja menyebalkan.” Kalina, junior graphic designer meringis pelan, menatap Nara seakan tengah menenangkan seorang anak magang yang baru saja kena mental usai makan siang yang hot.Mereka kini sudah kembali ke kubikel masing-masing di Vanguard, disibukkan dengan tumpukan moodboard desain.“It’s okay, Kalina. Aku gak apa-apa.”“Btw, menurut rumor yang beredar di lantai ini, Pak Bara itu makin kejam dan dingin karena hobi diputusin.”“Patah hati?” Nara memicingkan matanya, setengah kaget setengah geli. Di lingkungan kerja baru seperti Vanguard, tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa Nara adalah mantan istri sang VP. Satu-satunya yang tahu masa lalu mereka cuma Rian. Itu pun Rian tipikal mantan pacar yang tahu batas, tidak semeresahkan Kalina yang doyan gosip kantor.Kalina mengangguk mantap, gayanya sudah seperti pengamat percintaan senior yang hidup

  • Jangan Goda Aku, Mantan Suamiku!    6. Hot Lunch

    Beberapa orang refleks menoleh ke arah Bara, termasuk Nara yang dibuat tertegun melihat raut kaku pria itu. Pandangan Nara lalu turun pada pulpen di genggaman Bara yang kini sudah terbelah dua.Tanpa mengalihkan tatapan dinginnya dari Nara, Bara membersihkan jemarinya yang basah terkena lelehan tinta hitam.Nara sangat hafal gestur itu. Ingatan lama mendadak melintas di kepalanya. Dulu, pria itu pernah melakukan hal serupa ketika melihat Nara keasyikan menggambar. Tanpa sepatah kata, Bara mematahkan pensil 7B milik Nara begitu saja. Ia marah karena Nara lebih memilih menggambar ketimbang mendengarkan ceritanya. Dan, gestur Bara saat ini menunjukkan raut kemarahan yang persis sama.Aneh. Seharusnya pria itu senang karena presentasi tim berhasil.“Jadi, kita mau merayakan keberhasilan hari ini pakai apa?” suara salah satu staf junior memecahkan ketegangan yang sempat menggantung di ruangan.“Bagaimana kalau makan siang di resto Jepang?” usul yang lain bersemangat.“Aku sih setuju saja.

  • Jangan Goda Aku, Mantan Suamiku!    5. Bara yang Mulai Terbakar

    “Nara, kamu memang tinggal di mana sekarang?” Dari balik kemudi Rian melongokan kepalanya tatkala melihat Nara tengah berjalan sendirian di area parkiran Vanguard.“Um... daerah Tangsel.” Nara menjawab singkat. “Kebetulan aku mau ke arah sana. Mau ke rumah kakakku. Sekalian aja bareng aku,” ajak Rian to the point, melemparkan senyum ramah yang hangat.Nara sempat menimbang sejenak. Bukankah menghemat ongkos ojek online adalah pilihan bijak untuk dompetnya yang makin menipis? Namun, mengingat statusnya saat ini, ia tahu diri. Ia tidak ingin bergantung pada siapa pun lagi.“Makasih tawarannya, Ian. Tapi aku sudah tanggung pesan ojek, kok,” tolak Nara halus seraya menunjukkan layar ponselnya dengan terkekeh pelan.Rian mengangguk mengerti, tak memaksakan. “Ya sudah, see you tomorrow, Nara! Hati-hati di jalan!”Sedan hitam Rian melaju meninggalkan area pelataran Vanguard. Nara melangkah ke luar gerbang, berdiri mematung di bawah naungan pohon rindang di tepi trotoar yang mulai temaram. U

  • Jangan Goda Aku, Mantan Suamiku!    4. Berlian di dalam Lumpur

    Suasana di ruang rapat kecil lantai lima belas terasa hangat. Di atas meja kaca, beberapa lembar draft visual untuk salah satu proyek yang ditangani Tim Alpha, proyek rebranding Renata Apparel terhampar rapi.Rian menyandarkan tubuhnya santai di kursi, membolak-balik lembar moodboard yang dikerjakan Nara. Di sebelahnya, Nara memperhatikan dengan cermat sambil memegang stylus pen.“Eksekusi palet warna rose gold ini tajam banget, Ra,” puji Rian tulus. Ia tidak menyangka di hari pertama Nara bergabung ke dalam timnya, ia langsung beradaptasi dan memberikan ide-ide fresh untuk desain proyek mereka.Rian tersenyum kemudian menambahkan. “Gaya Quiet Luxury yang kamu usung berani, tapi tetap estetik. Sejak zaman kampus dulu, sense desain kamu memang selalu brilian.”Nara mengulas senyum lega tatkala mendengar pujian dari Rian. Setidaknya, perlahan ia mulai percaya diri lagi untuk masuk ke dalam dunia kerja yang dulu sangat dimimpikannya. “Aku sempat khawatir tipografinya agak terlalu berat b

  • Jangan Goda Aku, Mantan Suamiku!    3. Bos yang Rese

    Nara menaiki lift menuju lantai enam belas di mana ruang kerja Bara berada. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton. Namun, bukan karena merasa terintimidasi, melainkan emosi yang tertahan selama tiga tahun ini.Ketika tiba di depan pintu kayu mahoni tebal bertuliskan Vice President of Creative, ia mengetuk pintu dengan ritme pelan dan hati-hati.Tok, tok, tok.“Masuklah!”Suara bariton dari dalam menggema. Sama sekali tidak ada yang berubah dari intonasi bicaranya yang tenang tapi dingin.Nara memutar gagang pintu lalu melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangannya sejenak ke ruangan bergaya minimalis-modern yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Di balik meja kebesarannya, Bara duduk bersandar. Setelan jas midnight navy-nya tampak membungkus tubuh kekarnya. Beberapa tahun tidak bersua, pria itu tetap sama. Penampilan yang selalu menarik perhatian para wanita dan aura dingin yang penuh kharismatik. Saat iris hazel pria itu terangkat dan mengunci

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status