ANMELDENBeberapa orang refleks menoleh ke arah Bara, termasuk Nara yang dibuat tertegun melihat raut kaku pria itu. Pandangan Nara lalu turun pada pulpen di genggaman Bara yang kini sudah terbelah dua.
Tanpa mengalihkan tatapan dinginnya dari Nara, Bara membersihkan jemarinya yang basah terkena lelehan tinta hitam.
Nara sangat hafal gestur itu. Ingatan lama mendadak melintas di kepalanya. Dulu, pria itu pernah melakukan hal serupa ketika melihat Nara keasyikan menggambar. Tanpa sepatah kata, Bara mematahkan pensil 7B milik Nara begitu saja. Ia marah karena Nara lebih memilih menggambar ketimbang mendengarkan ceritanya. Dan, gestur Bara saat ini menunjukkan raut kemarahan yang persis sama.
Aneh. Seharusnya pria itu senang karena presentasi tim berhasil.
“Jadi, kita mau merayakan keberhasilan hari ini pakai apa?” suara salah satu staf junior memecahkan ketegangan yang sempat menggantung di ruangan.
“Bagaimana kalau makan siang di resto Jepang?” usul yang lain bersemangat.
“Aku sih setuju saja. Tapi ... kita harus tanya dulu nih sama Bu Nara selaku bintang utama presentasi.” Rian memotong antusias, lalu menoleh hangat pada Nara.
Alih-alih merasa bahagia, Nara justru makin canggung. Tatapan Bara masih tertancap lurus padanya. Sebuah tatapan tajam yang makin sulit ia terjemahkan.
“Bagaimana, Bu Nara?” ulang Rian.
Nara berdeham pelan, berusaha mengalihkan fokus. “Sebaiknya kalian bertanya langsung pada Pak VP.”
Seketika seluruh anggota Tim Alpha mengalihkan pandangan ke sudut meja tempat Bara duduk.
Bara menjawab singkat, suaranya datar. “Bisa.”
“Gimana kalau resto Jepang yang di koridor utama?” timpal Kalina, staf junior desainer grafis dengan mata berbinar.
Rian mengangguk setuju. “Resto Jepang dekat area Vanguard itu enak-enak loh”
Tak lama kemudian, tim Alpha termasuk Bara sudah berada di sebuah restoran cozy yang menyajikan menu hidangan khas negeri Sakura itu.
Mereka duduk mengelilingi meja booth besar dekat jendela kaca yang lebar dan menampilkan pemandangan taman yang asri.
Para staf junior sedang asik membolak balik menu dengan antusias, sedangkan Nara hanya tersenyum tipis menatap mereka.
Di sudut paling ujung, Bara duduk dengan tegap dan aura yang Intimidatif. Jas hitamnya sudah dilepas, tinggal menyisakan kemeja berwarna putih yang digulung hingga ke siku.
Tak berselang lama, seorang pelayan datang membawa nampan besar berisi menu pertama di depan Bara.
“Chicken katsu untuk Pak Bara. Saus pedasnya dipisah, ya,” ujar pelayan sambil mencatat pesanan.
Tanpa berpikir panjang, tangan Nara refleks terulur menggeser wadah saus pedas itu jauh-jauh dari hadapan Bara, lalu menggantinya dengan saos tomat.
“Pak VP kan tidak bisa makan pedas, nanti lambungnya—”
Mata Nara membelalak pelan. Kalimatnya terputus di udara. Ia baru menyadari kebodohannya. Kebiasaan lama saat melayani Bara rupanya masih melekat, sampai-sampai ia hafal betul makanan favorit pria itu.
Atmosfer meja mendadak hening dua detik. Bara membeku. Mata hazelnya yang dingin mendadak meredup, menatap jemari Nara yang baru saja menyenggol wadahnya.
Canggung, Nara dengan cepat menarik tangannya kembali dan memoles raut wajahnya menjadi sedingin es. “Maaf, Pak VP. Saya cuma tidak ingin atasan saya sakit di tengah proyek.”
Sebelum Bara sempat menanggapi, pelayan kembali datang membawa pesanan utama Nara.
Semangkuk spicy ramen mengepul di hadapannya, dengan irisan daun bawang segar yang memenuhi permukaan kuah.
Nara bahkan belum sempat meraih sumpit ketika Rian yang duduk di sebelahnya lebih dulu mengambil mangkuk itu.
Dengan santai, pria itu menyingkirkan irisan daun bawang menggunakan sumpit, memindahkannya ke piring kecil. Setelah itu, ia menambahkan dua sendok chili oil ke dalam kuah ramen Nara.
“Daun bawangnya sudah tak sisihkan semua,” ucap Rian hangat, menggeser mangkuk ramen itu kembali ke hadapan Nara sambil tersenyum. “Ini chili oil-nya. Kamu kan paling tidak bisa makan kalau tidak pedas gila.”
Nara terkekeh pelan. “Wah, terima kasih banyak, Pak Rian! Peka banget, memang paling tahu saja selera saya.”
Prang
Ujung sumpit kayu di genggaman Bara menabrak mangkuk keramiknya cukup keras.
Bara tak lagi menyentuh makanannya. Jemarinya masih menggenggam sumpit, tetapi tatapannya terpaku pada Nara yang menikmati ramen pedas di hadapannya.
Nara tidak menyadari perubahan ekspresi pria itu. Ia terlalu asyik menikmati makanannya, seolah tak ada yang aneh dengan kebiasaan yang baru saja ia tunjukkan.
Suara dentingan logam dan tawa staf junior di sekitar mereka mendadak samar di telinga Bara. Pria itu menggeser kursinya ke belakang, berdiri secara tiba-tiba hingga menarik perhatian seluruh meja.
“Permisi sebentar,” ucap Bara singkat dengan suara berat yang tertahan.
Sebelum ada yang sempat merespons, Bara sudah berbalik dan melangkah lebar menuju lorong area toilet.
Namun, saat melewati belakang kursi Nara, buku jari tangannya yang mengepal sempat menyenggol sandaran kursi wanita itu.
“Aku mendengar semuanya tadi.” Suaranya terdengar berat. “Sejak kapan kamu lebih memilih meminta bantuan pria lain daripada mantan suamimu sendiri?”Nara tercekat. Belum sempat menjawab, Bara kembali bersuara. “Tiga tahun, Nara.” Suara Bara terdengar dingin. “Tiga tahun kamu menghilang begitu saja, menutup akses komunikasi.”Tatapan pria itu berubah gelap, seolah menahan napas yang terasa sesak. “Sekarang setelah kita bertemu, kamu berpura-pura seperti tidak mengenalku?”“Pak Bara, tolong jaga sikap Anda!” Jawaban Nara membuat Bara terdiam dengan napas yang berat. Tatapan matanya yang dingin tak berpaling sedikitpun dari wajah mantan istrinya. “Nara, begitu mudah kamu melupakanku.” Tukas Bara dengan nada yang dingin sarat akan kemarahan yang terpendam. “Aku Bara … mantan suamimu! Haruskah aku mengingatkanmu lagi?” Bara semakin mencondongkan tubuhnya, memerangkap tubuh Nara. Alih-alih merasa terintimidasi, Nara tampak tenang meski jantungnya berdetak maraton. “Tidak perlu, Pak Bara.
“Bu Nara, pasti belum terbiasa ya melihat bos seperti Pak Bara? Maklum ya, dia memang galak dan judes, tapi aslinya... ya gitu deh, tetep aja menyebalkan.” Kalina, junior graphic designer meringis pelan, menatap Nara seakan tengah menenangkan seorang anak magang yang baru saja kena mental usai makan siang yang hot.Mereka kini sudah kembali ke kubikel masing-masing di Vanguard, disibukkan dengan tumpukan moodboard desain.“It’s okay, Kalina. Aku gak apa-apa.”“Btw, menurut rumor yang beredar di lantai ini, Pak Bara itu makin kejam dan dingin karena hobi diputusin.”“Patah hati?” Nara memicingkan matanya, setengah kaget setengah geli. Di lingkungan kerja baru seperti Vanguard, tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa Nara adalah mantan istri sang VP. Satu-satunya yang tahu masa lalu mereka cuma Rian. Itu pun Rian tipikal mantan pacar yang tahu batas, tidak semeresahkan Kalina yang doyan gosip kantor.Kalina mengangguk mantap, gayanya sudah seperti pengamat percintaan senior yang hidup
Beberapa orang refleks menoleh ke arah Bara, termasuk Nara yang dibuat tertegun melihat raut kaku pria itu. Pandangan Nara lalu turun pada pulpen di genggaman Bara yang kini sudah terbelah dua.Tanpa mengalihkan tatapan dinginnya dari Nara, Bara membersihkan jemarinya yang basah terkena lelehan tinta hitam.Nara sangat hafal gestur itu. Ingatan lama mendadak melintas di kepalanya. Dulu, pria itu pernah melakukan hal serupa ketika melihat Nara keasyikan menggambar. Tanpa sepatah kata, Bara mematahkan pensil 7B milik Nara begitu saja. Ia marah karena Nara lebih memilih menggambar ketimbang mendengarkan ceritanya. Dan, gestur Bara saat ini menunjukkan raut kemarahan yang persis sama.Aneh. Seharusnya pria itu senang karena presentasi tim berhasil.“Jadi, kita mau merayakan keberhasilan hari ini pakai apa?” suara salah satu staf junior memecahkan ketegangan yang sempat menggantung di ruangan.“Bagaimana kalau makan siang di resto Jepang?” usul yang lain bersemangat.“Aku sih setuju saja.
“Nara, kamu memang tinggal di mana sekarang?” Dari balik kemudi Rian melongokan kepalanya tatkala melihat Nara tengah berjalan sendirian di area parkiran Vanguard.“Um... daerah Tangsel.” Nara menjawab singkat. “Kebetulan aku mau ke arah sana. Mau ke rumah kakakku. Sekalian aja bareng aku,” ajak Rian to the point, melemparkan senyum ramah yang hangat.Nara sempat menimbang sejenak. Bukankah menghemat ongkos ojek online adalah pilihan bijak untuk dompetnya yang makin menipis? Namun, mengingat statusnya saat ini, ia tahu diri. Ia tidak ingin bergantung pada siapa pun lagi.“Makasih tawarannya, Ian. Tapi aku sudah tanggung pesan ojek, kok,” tolak Nara halus seraya menunjukkan layar ponselnya dengan terkekeh pelan.Rian mengangguk mengerti, tak memaksakan. “Ya sudah, see you tomorrow, Nara! Hati-hati di jalan!”Sedan hitam Rian melaju meninggalkan area pelataran Vanguard. Nara melangkah ke luar gerbang, berdiri mematung di bawah naungan pohon rindang di tepi trotoar yang mulai temaram. U
Suasana di ruang rapat kecil lantai lima belas terasa hangat. Di atas meja kaca, beberapa lembar draft visual untuk salah satu proyek yang ditangani Tim Alpha, proyek rebranding Renata Apparel terhampar rapi.Rian menyandarkan tubuhnya santai di kursi, membolak-balik lembar moodboard yang dikerjakan Nara. Di sebelahnya, Nara memperhatikan dengan cermat sambil memegang stylus pen.“Eksekusi palet warna rose gold ini tajam banget, Ra,” puji Rian tulus. Ia tidak menyangka di hari pertama Nara bergabung ke dalam timnya, ia langsung beradaptasi dan memberikan ide-ide fresh untuk desain proyek mereka.Rian tersenyum kemudian menambahkan. “Gaya Quiet Luxury yang kamu usung berani, tapi tetap estetik. Sejak zaman kampus dulu, sense desain kamu memang selalu brilian.”Nara mengulas senyum lega tatkala mendengar pujian dari Rian. Setidaknya, perlahan ia mulai percaya diri lagi untuk masuk ke dalam dunia kerja yang dulu sangat dimimpikannya. “Aku sempat khawatir tipografinya agak terlalu berat b
Nara menaiki lift menuju lantai enam belas di mana ruang kerja Bara berada. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton. Namun, bukan karena merasa terintimidasi, melainkan emosi yang tertahan selama tiga tahun ini.Ketika tiba di depan pintu kayu mahoni tebal bertuliskan Vice President of Creative, ia mengetuk pintu dengan ritme pelan dan hati-hati.Tok, tok, tok.“Masuklah!”Suara bariton dari dalam menggema. Sama sekali tidak ada yang berubah dari intonasi bicaranya yang tenang tapi dingin.Nara memutar gagang pintu lalu melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangannya sejenak ke ruangan bergaya minimalis-modern yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Di balik meja kebesarannya, Bara duduk bersandar. Setelan jas midnight navy-nya tampak membungkus tubuh kekarnya. Beberapa tahun tidak bersua, pria itu tetap sama. Penampilan yang selalu menarik perhatian para wanita dan aura dingin yang penuh kharismatik. Saat iris hazel pria itu terangkat dan mengunci







