LOGINNara membuka matanya yang masih terasa berat. Tubuhnya remuk redam akibat ulah Giorgio semalam. Pria itu terus menginginkannya dan tak ingin berhenti. Jika tidak memiliki pekerjaan yang menumpuk tentu dia lebih memilih tidur ketimbang bangun.“Apa dia sudah berangkat?” gumam Nara saat mendapati kasur sebelahnya kosong.“Hist…dasar pria menyebalkan. Habis manis sepah dibuang!” omel Nara.“Akhh….” Nara merintih bagian sensitifnya terasa perih dan sakit bersamaan. Kakinya bahkan terasa lemas seolah tak memiliki tulang.Nara yang terduduk di lantai hanya bisa menghela napas berat, tidak ada yang bisa menolongnya. Suaminya bahkan meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan, entah kemana perginya. “Kenapa nasibku begitu menyedihkan sekali,” gerutu Nara.Tepat saat Nara berusaha bangkit, pintu kamar terbuka. Giorgio berdiri di sana dengan wajah terkejut. “Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa ada di bawah?” cecar Giorgio khawatir.“Aku ingin ke kamar mandi, tapi aku justru terjatuh,” jawab
Nara menelan ludahnya susah payah. Kakinya mundur beberapa langkah ke belakang mencoba menghindari Giorgio yang tampak serius dengan ucapannya.“Gio, bagaimana kalau kita bicara tentang ini,” kata Nara mencoba mengalihkan keinginan Giorgio.Giorgio tersenyum tipis. Langkah kakinya terus maju mendekati Nara. Matanya mengunci pergerakan sang istri. Dia tahu jika Nara gelisah dan takut, namun nafsunya mengalahkan segalanya.“Aku sudah menunggu lama untuk ini Nara, dan malam ini aku tidak akan menundanya,” balas Giorgio.Nyali Nara semakin mengkerut, kakinya tak lagi bisa melangkah ke belakang. “Gi–Gio…aku….”“Aku apa Nara?” potong Giorgio.Giorgio menarik pinggang Nara, membawa wanita itu ke dalam dekapannya. “Kamu terlalu menggoda Nara,” kata Giorgio dengan suara seraknya.Nara menggigit bibirnya. Jantungnya berdetak semakin cepat hanya karena hembusan napas Giorgio yang menerpa kulit wajahnya. “Gio, ingatlah, ada Saras yang menunggumu,” ucap Nara yang masih berusaha untuk menggagalkan
Giorgio tersenyum miring. “Menurutmu apa yang bisa aku lakukan Nara?”“Gi–gio, berhenti sampai di situ Gio,” perintah Nara tergagap. Langkahnya semakin sempit, punggungnya hampir membentur tembok.“Kenapa Nara, bukankah kita ini suami istri?” sahut GIorgio. Langkahnya semakin mendekat. Matanya menatap lurus Nara, seolah mengunci wanita itu.Nara menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya meremang, takut jika GIorgio melakukan hal yang aneh-aneh. “Gi–Gio, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh.” Nara masih mencoba membujuk Giorgio agar pria itu tidak berbuat hal di luar keinginannya.Giorgio tersenyum miring. “Aneh-aneh?” Giorgio semakin mendekat. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengunci tubuh Nara agar wanita itu tidak bisa pergi kemanapun. Senyum miring tercetak jelas di wajah Giorgio, membuat Nara semakin bergidik ngeri.“Gio ingat, ada kekasihmu yang menunggumu untuk menikahinya,” kata Nara. Ia tak tahu lagi harus berkata apa untuk menghentikan aksi Gio
“Pak Gio….” Moana menatap tak berkedip Giorgio yang baru saja keluar dari ruangannya. Aura pria itu terlihat dingin dan mematikan.“Nara akan lembur bersamaku membahas kerja sama dengan klien baru . jadi batalkan janji yang sudah kalian sepakati.”“Bukan begitu Nara,” tambah Giorgio memberikan tekanan pada setiap kalimat yang diucapkannya.Nara hanya bisa menghela napas beratnya. Meski tidak suka dengan keputusan sepihak Gio, ia tak bisa berbuat apa-apa. Komentarnya ataupun pendapatnya tidak akan berarti jika sudah disangkutkan dengan pekerjaan.“Be–benar,” jawab Nara.Wajah Revan tampak murung. Namun pria itu tetap berusaha untuk tersenyum di depan Nara. “baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama,” kata Revan tetap tidak ingin menyerah.Revan dan Moana langsung pergi usai Giorgio datang. Di meja kerja Nara hanya tinggal dirinya dan Giorgio, Nara menatap malas pria yang masih betah berdiri di depannya dengan wajah tanpa dosanya itu.“Apa?” ucap Giorgio saat Nara
Nara mengucek matanya. Tidurnya terasa nyenyak tak sama seperti biasanya. Nyawanya yang belum sepenuhnya sadar masih tidak menyadari jika ia tidur dengan posisi memeluk erat tubuh Giorgio. Baru beberapa detik kemudian wanita itu tersadar bahwa ia tengah tertidur dengan posisi memeluk tubuh Giorgio.Merasa malu dengan apa yang dilakukannya, Nara memilih menarik tangannya perlahan. Bibirnya bergumam pelan. “Kamu sungguh memalukan Nara.”Belum benar-benar memindahkan tangannya, Giorgio terbangun dengan suara serak khas orang bangun tidur. Bibirnya tersenyum tipis, menggoda Nara yang tampak malu-malu.“Selamat pagi istriku. Kemarin pasti tidurmu sangat nyenyak,” ucap Giorgio.Nara berdehem. Tangannya langsung ia tarik begitu saja. Tubuhnya juga bergeser beberapa centi dari tubuh GIorgio. “Aku mandi dulu. Kamu bisa mandi setelah aku selesai,” balas Nara mengalihkan pembicaraan.Nara langsung turun dari tempat tidur. Ia begitu malu sampai tak berani menatap Giorgio. Langkahnya yang terburu
“Ce–cemburu, siapa bilang?! Aku tidak cemburu ya. Hanya melihatmu keluar dari cafe tidak berpengaruh apapun untukku,” balas Nara sedikit tergagap.Giorgio mengulum senyumnya. Kakinya melangkah dua langkah lebih mendekat kepada Nara, matanya menatap intens istrinya yang tampak kikuk di depannya.“Jadi hari ini kamu melihatku keluar dari cafe bersama Saras dan kamu merajuk. Benar seperti itu?” tanya Giorgio dengan nada sedikit menggoda.Nara memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan Giorgio yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar kencang.“Ti–tidak! Jangan samakan aku denganmu. Aku sama sekali tidak merajuk. Aku hanya ingin lebih menikmati hidupku mulai sekarang. Jika kamu bisa berbuat sesukamu tanpa melaporkan apapun kepadaku, maka aku akan melakukan hal yang sama!” jawab Nara, nadanya kembali terdengar berapi-api.Giorgio mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya semakin merekah melihat sikap Nara yang terlihat mengemaskan. Wanita itu tampak cemburu namun tidak mau menga
“Dimana Nara?” Wajah dingin dan tegas Giorgio membuat penghuni ruang rapat mengkerut. Atasan mereka sudah seperti zombie yang siap memakan siapa saja yang ada di dekatnya.“Nara mengecek pabrik baru yang ada di desa argosari, Pak,” jawab Moana memberanikan diri untuk
Nara menatap penuh waspada pada sosok Giorgio yang sedang sibuk dengan tab di tangannya. Sebenarnya matanya sudah mengantuk ingin tidur, semalam dia tidak bisa tidur karena terlalu gugup memikirkan pernikahannya. Namun, keberadaan Giorgio membuatnya takut untuk memejamkan mata.“Kalau ingin tidur,
Seperti keinginan Giorgio, ia dan pria itu melakukan sesi pemotretan di butik tempat mereka memesan gaun. Beberapa gaya diambil mulai dari gaya saling memunggungi, duduk berdua sampai satu gaya yang tak pernah Giorgio lupakan, gaya dimana dia harus menggendong tubuh Nara. Wajah mereka yang begitu d
Nara melihat pantulan dirinya di depan cermin. Make-up flawless dan gaun pilihannya kemari membuat dirinya terlihat lebih cantik.Semburat senyum kecil terukir di bibirnya. Andai papanya masih hidup tentu beliau akan senang bisa melihatnya menikah. Namun, sayang semuanya hanya ada dalam bayangannya







