Share

Alasan Arlan

Auteur: Olivia
last update Date de publication: 2025-11-04 22:48:40

Mobil Arlan melaju pelan di bawah langit sore yang mulai memudar warnanya. Langit tampak kusam, menyiratkan hujan yang belum jadi turun, dan udara di luar terasa lembap seolah menggantungkan sesuatu yang belum selesai.

Di dalam mobil, suasana begitu sunyi, hanya diisi oleh dentuman lembut dari radio yang bahkan tak ia dengarkan.

Kedua tangannya menggenggam kemudi, namun pikirannya melayang entah ke mana.

Bayangan wajah Alya terus muncul di benaknya, bersama dengan kata-kata yang ia ucapkan sian
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Goodnovel Awesomegirl
semoga berjodoh ya ..
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Jadi Basah

    “Mau..” Ucap Sevi sambil mendusal pelan di leher Arlan.“Mau apa sayang?” Arlan dengan lembut mengelus surai hitam Sevi, memberinya kecupan singkat di kening dan pipi nya. Dengan sengaja Sevi menggoyangkan pinggul nya dengan ritme yang pelan. Tak disangka, di bawah sana sudah menonjol kuat hingga terasa oleh Sevi."Ja-jangan sayang, nggak sekarang ya.” Arlan mendorong tubuh Sevi pelan, mereka berdua bertatapan beberapa menit. Senyum ceria Sevi tadi seketika hilang digantikan cemberut di wajahnya. “Oh yaudah.” Jawab Sevi sesingkat mungkin.Lalu ia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar, pun pintu sengaja ia tutup. “Apaan coba, giliran aku yang mau, dia nya nolak. Nggak jelas banget” Gerutu Sevi sembari menarik selimut.Disisi lain Arlan terkekeh pelan, melihat wanita nya yang ia tolak tadi langsung berubah drastis.Tangan Arlan bergerak mengelus benda keras miliknya, “Nggak sekarang waktunya.”Sebenarnya bisa saja Arlan menerkam Sevi sekarang, namun pikirannya masih mengingat apa

  • Bos, Jangan di Sini!   Takut, Tapi Lebih ke Manja

    Terik matahari mulai beranjak turun, menyisakan awan oranye yang pelan-pelan mulai muncul. Suasana yang tadi ramai oleh obrolan kini perlahan menipis.Bima berdiri dari kursinya, menepuk pelan celana pendeknya.“Aku pamit ya, Sev… Mbak… Nitip salam ke Mama kalau aku pulang, jangan dibangunin kasihan capek.”Sevi mengangguk pelan, senyumnya tipis.“Iya, hati-hati ya, Bim.”Namun sebelum benar-benar pergi, Bima melirik ke arah Arlan. “Lan, anter bentar yok.”Nada suaranya berubah lebih serius. Tanpa basa basi Arlan langsung menyambar kunci mobil nya.“Iya,” jawabnya singkat.\\\Langkah mereka berdua keluar rumah terasa berbeda dingin dan serius. Hanya suara kerikil kecil yang terinjak dan angin menjelang sore yang berembus pelan.Sampai di dekat motor Bima, pria itu belum juga langsung naik. Ia berdiri, menatap ke depan, rahangnya mengeras.“Aku masih nggak terima, Lan.”Arlan menatapnya. “Siapa pun itu… berani banget anjing nyentuh Sevi.” Nada suara Arlan rendah seperti tertahan dan

  • Bos, Jangan di Sini!   Bima dan Arlan

    Siang itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mbak sudah lebih dulu menyiapkan makan siang di dapur. Aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana terasa hangat walaupun di dalamnya ada seseorang yang justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sevi duduk di kursi makan, ia diam, tangannya memainkan ujung sendok tanpa benar-benar berniat makan. Mama sempat melirik.“Kok nggak dimakan, Sev?”Sevi tersenyum tipis. “Eh iya ma...”Namun sendok itu hanya bergerak pelan, seperti enggan untuk masuk ke dalam mulut.Tidak berselang lama, pintu depan terbuka. Arlan masuk dengan langkah cepat.“Udah pada makan?”“Iya, kamu sini cuci tangan dulu,” sahut mama.Arlan mengangguk, tapi matanya langsung mencari satu orang, Sevi. Ia memperhatikan beberapa detik, ia paham kalau Sevi yang biasanya paling banyak bicara di meja makan. Namun sekarang justru paling diam.Arlan mengernyit heran, namun ia tidak langsung bertanya. Ia duduk di sebelah Sevi setelah mencuci tangan.“Makan apa hari ini

  • Bos, Jangan di Sini!   Kecewa

    Ruang CCTV itu terasa lebih sempit dari ukuran aslinya.Layar-layar monitor menyala berjajar, menampilkan sudut-sudut gym dari berbagai arah. Biasanya tempat itu hanya dipakai untuk pemantauan biasa, keamanan alat, keluar masuk member, hal-hal teknis.Namun kali ini,Ada sesuatu yang berbeda.Bima berdiri di depan layar dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya masih terasa nyeri, tapi ia bahkan tidak memedulikannya. Tatapannya tajam, berpindah dari satu layar ke layar lain.“Putar lagi yang tadi,” ucapnya tegas pada petugas.Rekaman diputar ulang.Area tempat Sevi berdiri tadi terlihat jelas.Sevi ikut memperhatikan, berdiri sedikit di belakang Bima. Tangannya saling menggenggam, berusaha menenangkan diri.Di layar, Ia terlihat sedang mengangkat barbel. Lalu tiba-tiba terkejut dan barbel jatuh.Namun…Tidak ada siapa pun di belakangnya. Bima mengernyit.“Zoom bagian sini.”Layar diperbesar.Tetap sama.Kosong.“Yang sudut kanan.”Dipindah.Tidak ada.“Belakang alat.”Diputar lagi.M

  • Bos, Jangan di Sini!   Ditoel

    Gedung gym itu berdiri megah, jauh dari bayangan Sevi sebelumnya. Dari luar saja sudah terlihat luas, dengan kaca besar yang memperlihatkan aktivitas di dalamnya. Orang-orang lalu lalang, sebagian membawa tas olahraga, sebagian lagi sudah mengenakan pakaian gym lengkap dengan earphone di telinga. Sevi berhenti beberapa langkah dari pintu masuk.“Ma…” ucapnya pelan.Mama ikut menatap ke dalam.“Ini… gede banget ya…”Sevi mengangguk. “Aku kira cuma gym biasa.”Belum sempat mereka melangkah masuk, seseorang dari belakang langsung merangkul bahu Sevi.“Dateng juga akhirnya yang ditunggu-tunggu.”Sevi refleks kaget. “Eh!”Ia menoleh cepat. “Bima!”Bima tertawa lepas melihat ekspresi Sevi. Mama yang melihat itu juga ikut tersenyum. “Kaget ya kamu.”“Ya kaget lah, tiba-tiba…” Sevi memukul pelan lengan Bima.Bima malah semakin santai. Ia merangkul keduanya, berjalan masuk bersama.“Gimana? Lumayan kan tempatnya?”“Lumayan apanya… ini gede banget,” jawab Sevi jujur.Bima tersenyum bangga. “P

  • Bos, Jangan di Sini!   Ngegym di Bima

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu kamar sudah dimatikan sejak lama, namun mata Arlan masih terbuka menatap langit-langit. Bayangan kata-kata Sevi terus berputar di kepalanya, seperti kaset rusak yang tidak bisa berhenti.“Kalau nanti kamu mau cari perempuan lain…”Kalimat itu sederhana. Bahkan terdengar seperti candaan ringan. Tapi entah kenapa menancap terlalu dalam.Arlan menghela napas panjang. Tangannya terlipat di bawah kepala. Ia menoleh ke samping, melihat Sevi yang sudah tertidur lebih dulu. Wajahnya tenang. Napasnya teratur.Seolah tidak ada beban apa pun.“Kenapa kamu ngomong gitu…” gumam Arlan pelan, nyaris tanpa suara.Ia memejamkan mata. Namun bukan gelap yang datang. Melainkan bayangan. Bayangan kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum terjadi.Apa itu hanya celetukan?Atau… sesuatu yang selama ini Sevi pendam?Dada Arlan terasa sesak.Ia membuka mata lagi. Menatap ke arah Sevi.“Siapa yang kamu pikirin, Sev…”Tidak ada jawaban.Hanya suara jam dinding

  • Bos, Jangan di Sini!   Bikin Anak Juga?

    Miko masih terpaku beberapa detik setelah melihat dua garis merah itu. Tangannya yang memegang alat tes kehamilan terasa dingin, sementara kepalanya justru panas oleh campuran syok dan kesadaran yang datang terlalu cepat.“Mila…” suaranya berat. “Ini… ini bener?”Mila berdiri di depannya dengan mat

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Hamil?

    Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Tobat kah?

    Suasana kafe kembali hening setelah Alya duduk lagi.Arlan masih terlihat waspada. Tatapannya tidak lagi setegang beberapa menit lalu, tapi tetap menyimpan jarak. Sevi bisa merasakan itu dari cara jemarinya menggenggam gelas kopi dengan kencang.“Aku tahu kamu masih nggak percaya sama aku,” ucap Al

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-03
  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-02
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status