LOGINAku menaikkan tanganku, melihat bungkus bakso masih kupegang, tetapi semakin dekat aku menuju pintu kamar, langkahku justru semakin berat.Aku tidak tahu apakah Julia akan menerimanya dan bagaimana aku menjelaskan waktu yang cukup lama kuhabiskan bersama Nara hari ini.Antrian yang cukup lama dan membosankan, sampai aku mendengar suara detak jantung bayi itu.Seolah semua rasa bosanku sudah terbayarkan.Aku mengetuk pelan pintu kamar Julia. “Julia, aku membawa bakso untukmu.”Tidak ada jawaban. Aku mengetuk sekali lagi sebelum akhirnya membuka pintu sedikit.Julia sedang duduk melamun di kursi rodanya. Pandangannya tertuju pada cermin di depan meja rias. Tatapannya kosong.Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Yang kulihat, dia hanya menatap bayangannya sendiri dengan tatapan kosong. Tidak ada ekspresi marah apalagi sedih.“Julia," panggilku pelan.Kepalanya perlahan meno
Aku terdiam sebentar. Lalu untuk pertama kalinya, tanpa merasa terpaksa, aku menjawab, “Aku harus berangkat besok pagi, tapi aku akan menjenggukmu, setidaknya sebulan sekali, bagaimana?”Nara menatapku. Aku baru menyadari kesalahan kecil dalam kalimatku.“Tidak adakah yang bisa kulakukan untuk mencegah kepergianmu, Bayu?”"Nara, aku...."Nara tersenyum, "tidak apa-apa, Bayu. Aku paham."“Iya. Aku dan anakmu, akan menunggu dengan sabar. Sebulan sekali, kamu janji ya?”Aku menghela napas sambil mengangguk. "Janji." Kali ini aku tidak membantah. Setidaknya, itu yang bisa kulakukan saat ini.Usai menghabiskan setengah baksonya, Nara tiba-tiba berhenti makan.Aku yang sedang duduk tidak jauh darinya langsung memperhatikan wajahnya.“Kenapa? Uda kenyang?”Nara memejamkan mata sebentar. “Pusing.&rdq
Nara sudah berdiri di dekat meja makan sambil menatapku. Tangannya mengelap meja yang sedikit berdebu itu.“Kamu tidak masuk?”"Hmm, kamu makan saja dulu, apa yang mau kubantu untuk angkat ke rumah sebelah?" “Oh.”Hanya satu kata. Namun aku bisa merasakan sesuatu di baliknya.“Aku cuma... Kak Julia sudah cukup lama menungguku,” jelasku.Nara mengangguk. “Aku tidak bertanya.”“Nara....”“Tidak apa-apa, kamu tadi membeli bakso untuk Kak Julia juga. Aku bisa mengangkat barangku sendiri."Sahutan Nara terdengar datar. Entah kenapa aku merasa bersalah atas sebungkus bakso.Aku terdiam sementara Nara tersenyum tipis, lalu duduk di kursi.“Sudah, sana. Antar dulu untuk Kak Julia. Hanya beberapa pakaian, aku akan memasukkannya ke dalam koper dan menariknya pegangannya ke sana, seperti mau ke Luar Negeri 'kan," jelasnya sambil membuka bungkusan bakso.Namun, aroma kuah bakso yang kental malah membuatnya mual seketika."Nara!"Nara menutup mulutnya lalu berlari buru-buru ke wastafel, lalu memu
Saat kami tiba di parkiran, Nara memanggilku sementara aku masih asyik berbicara dengan batin sendiri.“Bayu.”Panggilannya yang cukup keras akhirnya membuyarkan lamunanku.Aku menoleh dan sedikit terkejut.“Kok melamun, sih?”“Eh, tidak apa-apa. Kenapa? Kita pulang saja?”Nara melihatku dengan tatapan curiga. “Aku lapar dan aku sudah bilang tadi saat kita masih di depan pintu utama, tapi kamu mengacuhkanku.”“Oh ya?”Nara langsung mengerutkan kening. “Bayu.”“Hmm?” Aku memberikan helm kepadanya, tapi Nara tidak langsung menerima, melainkan menatapku dalam-dalam.“Kamu benar-benar tidak dengar?”Aku menggeleng pelan. “Hmm, tadi aku sedang berpikir.”“Berpikir tentang apa?”Aku terdiam. Sudah pasti aku berpikir tentang anak kita tadi, tetapi lidahku terasa kelu. Bagaimana aku menjelaskan aku sudah merindukan untuk mendengar kembali suara jantungnya.Tentang bagaimana untuk pertama kalinya aku merasa bahwa seseorang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya sudah mulai memengaruhi pikir
“Duk... duk... duk...”Aku menatap layar ponselku beberapa saat sebelum akhirnya menurunkannya. Aku tidak tahu untuk apa aku merekamnya.Mungkin karena aku takut suatu hari nanti aku akan melupakan suara ini. Atau mungkin karena aku sendiri belum siap mengakui bahwa suara sederhana itu sudah mulai memiliki tempat tertentu di kepalaku.“Bayu.”Suara Nara membuatku tersadar. Aku menoleh kepadanya.Dia masih berbaring sambil menatapku. Ada senyum kecil di wajahnya, tetapi kali ini senyum itu berbeda. Seolah dia baru saja melihat sesuatu yang selama ini dia tunggu-tunggu.“Apa?” tanyaku.“Kamu merekamnya?”Aku mengangguk sementara kulihat Nara tersenyum lebih lebar.“Kenapa?” tanya Nara.Aku terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru membuatku kesulitan menjawab.“Entahlah,” jawabku akhirnya. “Cuma ingin menyimpannya.”"Aku tidak pernah melihat yang seperti ini," ucapku pelan dan terasa canggung.Nara tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku beberapa detik sebelum mengalihkan pandangann
Kehidupan yang bahkan belum mengenal dunia, tetapi sudah membuat begitu banyak orang mengubah keputusan mereka.Aku masih mematung ketika tiba-tiba terdengar suara dari alat pemeriksaan.Duk... duk... duk... duk...Aku mengerutkan kening. Suara itu begitu cepat dan teratur.“Detak jantungnya bagus,” kata dokter.Itu detak jantung bayi?Aku tidak menjawab. Mataku tetap tertuju pada monitor, sementara suara itu terus terdengar memenuhi ruangan.Duk... duk... duk...Aku bahkan tidak tahu kenapa tenggorokanku tiba-tiba terasa tercekat.Itu hanya suara.Namun anehnya, suara itu terasa jauh lebih nyata daripada semua perkataan yang kudengar sejak mengetahui Nara hamil.Aku pernah mendengar suara orang menangis, tertawa, berteriak, bahkan suara orang yang sedang sekarat. Tetapi suara kecil seperti ini...Aku belum pernah mende







