로그인"Daddy itu cuma terlalu protektif.""Makanya pengawalmu banyak?""Iya.""Sejak kecil aku ke mana-mana dijaga.""Capek?""Banget."Jelita mengembuskan napas panjang lalu menyadarkan kepalanya ke bahuku, sebelah tangannya memegang pinggangku."Aku bahkan sering iri melihat teman-temanku bisa jalan sendiri.""Sedangkan aku..."Dia menunjuk ke luar kamar."...ke mana pun selalu ada orang mengikuti."Aku mengangguk pelan.Dalam hati aku mencatat setiap informasi yang keluar dari mulutnya.Nada bicaranya terdengar tulus.Tidak tampak seperti seseorang yang mengetahui sisi gelap ayahnya.Atau...Mungkin Joshua memang sengaja menyembunyikan semuanya dari putri semata wayangnya.Kalau itu benar, berarti Jelita hanyalah gadis yang hidup di dalam sangkar emas.Memiliki segalanya.Tetapi tidak benar-benar bebas.Aku kembali meneguk air di tanganku.Pembicaraan malam itu baru saja dimulai.Dan aku merasa, sedikit demi sedikit, aku mulai mengenal siapa sebenarnya Jelita.Dia perempuan yang masih po
Aku keluar dari kamar mandi setelah mengenakan kaus hitam dan celana santai yang tadi diberikan Jelita. Rambutku sudah tidak terlalu basah, hanya menyisakan sedikit embun di ujungnya.Jelita masih duduk di atas ranjang.Kedua kakinya dilipat ke samping, sementara jemarinya sibuk menggulir layar ponsel. Begitu melihatku keluar, senyumnya langsung mengembang."Sudah ganteng lagi."Aku tertawa kecil. "Memangnya tadi jelek?""Enggak, tadi lebih menggoda. Aku saja sampe menelan ludah, cuma sekarang lebih rapi."Aku berjalan ke arah nakas di samping ranjang. Di sana tersedia sebotol air mineral yang masih tersegel. Tanpa berpikir macam-macam, aku membukanya lalu meneguk beberapa kali.Rasa hausku langsung sedikit berkurang."Daddy menelepon tadi," ujar Jelita sambil meletakkan ponselnya."Oh ya?"Aku kembali meneguk air. "Apa katanya?""Dia cuma tanya aku ngapain hari ini."Aku mengangguk. "Lalu?""Ya kujawab saja kalau aku belanja dan masak."Aku menoleh. "Apakah kamu menceritakan tentang
Dia masih diam.Aku membalikkan badan hingga kami saling berhadapan.Kutatap kedua matanya yang penuh harap."Ini tidak benar.""Kenapa?""Kita baru saling mengenal."Jelita menundukkan kepala. "Tapi..."Aku menggeleng pelan."Aku senang kamu mempercayaiku. Aku harus menghormatimu juga.""Benarkah?""Iya." Aku tersenyum tipis. "Iya, Sayang. Kamu sangat cantik dan menggiurkan. Lihat tubuhmu, pria mana yang mau menolakmu? Dia pasti buta. Aku menghargaimu dan menghormatimu, Jelita. dan justru karena itu, aku tidak mau terburu-buru."Jelita menatapku bingung."Kalau aku benar-benar menghargaimu, aku juga harus menghargai batasanmu," lanjutku."Tapi aku tidak keberatan. Aku menginginkanmu, Bay. Sejak pertama kita bertemu, kamu terasa sangat istimewa."Jelita mengelus perutku dan aku tahu, betapa perempuan itu ingin sekali mencumbuku."Aku tahu. Jangan begitu, Jelita." Aku menarik tangannya yang sudah mulai menurun perutku dan hendak membuka handuk yang masih melilit di pinggangku.Aku meng
Aku keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambut yang masih basah.Handuk putih hanya melilit pinggangku. Beberapa tetes air masih mengalir dari rambut hingga ke pundak.Tubuhku mulai terasa segar dan tenagaku sudah kembali.Begitu membuka pintu, langkahku langsung terhenti.Jelita sudah duduk di tepi ranjang.Dia mengenakan piama sutra berwarna krem. Modelnya sederhana, tetapi membuatnya terlihat anggun. Tapi piama itu terlalu pendek.Saat aku melihatnya, aliran panas mulai bergetar sampai ke bawah perutku bagaikan sengatan listrik berkekuatan 600 watt.Aku menelan salivaku.Sosok Jelita bagaikan sedang diterpa cahaya.Rambutnya yang tergerai menutupi sebagian bahunya, sementara kedua kakinya yang disilangkan membuatku sedikit terkejut.Kulitnya putih mulus tanpa ada cacat gigitan nyamuk sama sekali.Perempuan ini... masih belum termasuk dewasa, masih berusia sebayaku, tapi dia benar-benar cantik.Jelita menoleh begitu mendengar pintu terbuka. Ekspresinya mematung sejenak, seolah d
Aku menelan salivaku, tentu saja aku tahu artinya dan aku juga melihat sendiri bagaimana bentuk buaya yang ada di depan rumahnya tadi. Gendut!Aku mengangguk pasrah lalu menjawab, "Iya, aku menginap dhe."Jelita langsung tersenyum penuh kemenangan sementara aku hanya bisa menghela napas.Gadis ini benar-benar aneh.Namun saat melihat senyum bahagia di wajahnya, entah kenapa aku tidak tega meninggalkannya sendirian.Aku masih belum tahu apa yang sebenarnya ada di balik sikap Jelita.Apakah dia hanya merasa nyaman karena aku memperlakukannya dengan baik?Atau... Apakah dia benar-benar mulai menyukaiku?Aku tidak tahu.Yang jelas, malam ini aku akan menginap di rumah Joshua.Dan aku bahkan belum tahu apa yang akan terjadi ketika pria itu akhirnya pulang.Jelita menghampiriku dengan langkah ringan. Senyum di wajahnya masih sama seperti saat kami selesai makan."Kamu pasti lelah?"Aku mengangguk pelan. "Iya, lumayan.""Mau mandi dulu?""Itu ide bagus."Jelita segera menarik tanganku, "Yuk,
"Iya. Kenapa? Sudah malam, loh!" Aku berdiri lalulanjut berkata, "Apakah Sebastian bisa mengantarku?"Jelita terdiam. "Kamu tidak mau menginap?"Aku menggeleng. "Besok aku ada urusan. Lagian kita baru kenal, rumahku tidak jauh juga, seandainya Sebastian mungkin sibuk, aku bisa pulang sendiri."Jelita terlihat kecewa. "Aku bisa menyiapkan kamar. Menginaplah, Bay...""Tidak perlu."Aku tersenyum. "Terima kasih sudah mengajakku makan. Kapan-kapan, kita akan makan bersama lagi. Senang berkenalan denganmu, Jelita."Aku berjalan menuju pintu. Sebastian mengekori langkahku."Aku antar kamu sampai ke gerbang depan kompleks saja, dari sana ada bus yang lewat.""Baik."Namun tiba-tiba terdengar suara.**Bruk!**Aku langsung menoleh.Jelita duduk di lantai. Aku langsung terkejut. "Jelita!"Aku segera menghampirinya. "Kenapa kamu duduk di lantai? Kamu jatuh?"Jelita terdiam dan menunduk.Aku baru menyadari kedua matanya sudah basah."Hei..." Aku segera berjongkok di hadapannya seemntara Sebastian







