MasukSuster itu menggeleng pelan. “Belum terlalu.”
Ekspresi wajahnya terlihat lelah.
“Dia belum sadar,” lanjutnya. “Padahal operasi sudah berhasil.”
Aku menoleh cepat. "Apakah dia akan bangun?"
“Ya,” jawab suster itu. “Penyumbatan di jantungnya sudah kami tangani.”
"Kondisinya sudah lepas dari masa kritis, jadi kalian bisa sedikit lega, namun masih tetap harus dipantau."
Perawat itu membuka dokume
Kak Lora mengangkat wajahnya perlahan. Menatapku dalam-dalam lalu berkata pelan, "terima kasih , Bayu."Matanya masih sembap, tetapi kali ini ia tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan."Iya..."Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung dalam suasana yang sunyi. Kak Lora duduk di kursi belakang bersama Sephia.Sesekali aku melirik melalui kaca spion dan melihat perempuan itu menatap kosong ke luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya.Mungkin ancaman Richard. Mungkin bayi yang diyakininya sedang tumbuh di dalam kandungannya. Atau mungkin keduanya sekaligus."Semalam, Richard menunjukkan foto kamu menginap di rumah Sephia," ucap Lora memecah keheningan di antara kami.Aku sedikit terkejut, namun pada saat aku ingin menjelaskan sesuatu, Kak Lora menyela dengan cepat."Awalnya aku memang cemburu, tapi aku tahu tidak memiliki hak untuk melarangmu menginap di rumah siapa pun."Aku menghela napas dengan berat. Semua
Aku melihat wajahnya yang berubah pucat, karena selama ini ia selalu bisa mengendalikan situasi di ruang tertutup.Tetapi sekarang semuanya terjadi di depan publik.Di depan ratusan bahkan ribuan orang yang sedang menonton.Komentar terus berdatangan tanpa henti.Sebagian menanyakan identitasnya. Sebagian lagi mengaku merasa pernah melihat wajahnya.Ada juga yang mulai membagikan potongan-potongan informasi yang membuat ekspresi Richard semakin memburuk.Aku melihat senyum percaya dirinya perlahan menghilang, dan jelas sekali pancaran ketakutan di matanya."Awas kamu, Bayu!"Suara teriakannya terdengar serak."Aku akan menghancurkan hidupmu! Aku akan membalas dendam!"Aku menatapnya tanpa berkedip."Lakukan kalau kamu sudah bisa keluar dari penjara kali ini!"Richard menggertakkan gigi. "PERSETAN!"Pembuluh darah di lehernya sampai terlihat menonjol."KALIAN SEMUA AKAN KUH
Sephia menunjuk sudut plafon di mana CCTV berkedip merekam tanpa henti."Kak Lora pasti diancam saat menandatangani perjanjian itu, semua itu tidak legal, tidak ada pengacara mau pun saksi. Ini pemaksaan!"Richard mulai pucat pasi, karena ancaman yang selama ini ia sembunyikan kini didengar semua orang yang berada di ruangan itu.Aku menarik napas panjang lalu mundur satu langkah.Sephia benar!Petugas keamanan masih memegang Richard dengan kuat.Sementara Kak Lora terus menangis dalam pelukan Sephia.Dan saat aku melihat perempuan itu akhirnya berani mengatakan kebenaran, aku sadar bahwa pertarungan sebenarnya bukan lagi soal perusahaan.Ini tentang melindungi Kak Lora dan bayi yang sedang ia kandung.Dan kali ini, Richard tidak akan lepas dari semua ini walau punya koneksi yang cukup tebal!Petugas keamanan akhirnya menyeret Richard keluar dari gedung di tengah tatapan puluhan pasang mata.Beberapa karyaw
Richard mencoba berdiri lagi, tetapi kali ini aku berdiri di antara dirinya dan Kak Lora.Di belakangku, Sephia bergerak cepat. Ia langsung merangkul bahu Kak Lora yang mulai gemetar dan membawanya menjauh ke sudut ruangan."Kak Lora, tenang. Tarik napas dulu."Namun begitu melihat Richard masih berusaha mendekat sambil melontarkan ancaman, emosiku kembali memuncak.Aku sempat mendorongnya lagi lalu menendang perutnya sehingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai dengan keras.Keributan itu akhirnya menarik perhatian petugas keamanan yang berlari masuk ke dalam ruangan."Apa yang terjadi, Pak?""Tahan dia!" seruku sambil menunjuk Richard.Dua petugas keamanan langsung bergerak. Richard berusaha melepaskan diri sambil mengumpat, tetapi mereka berhasil menahannya."Bayu! Kau akan menyesal!""Kalian lepaskan aku! Aku Bos kalian sekarang!"Aku nyaris maju lagi kalau bukan karena suara tangisa
Ruangan langsung sunyi.Aku menatapnya.Richard menunjuk ke arahku. "Kamu."Kemudian pandangannya bergeser ke samping, tepat ke arah Sephia."Kamu juga."Sephia bahkan tidak berkedip. Sebaliknya, ia malah melipat kedua tangan di depan dada. "Wah, hebat!"Richard mengangkat alis. "Wah?""Ini pertama kalinya aku dipecat sebelum sempat bekerja," balas Sephia dengan tenang. Aku hampir tertawa kalau situasinya tidak seserius ini.Richard memandangnya beberapa detik lalu tersenyum."Seperti biasa, kamu tetap menyebalkan."Aku bisa melihat otot rahang Richard bergerak. Jelas dia tidak menyukai kenyataan bahwa Sephia tidak takut padanya.Namun lelaki itu segera mengalihkan perhatian kembali kepadaku."Aku sudah mengambil alih perusahaan ini pagi tadi."Kalimat itu membuatku membeku. "Apa?"Richard tampak menikmati reaksiku. "Jadi sekarang aku pemiliknya."Aku menoleh ke sek
Kami berjalan menuju pintu depan bersama. Udara pagi terasa segar setelah hujan semalaman. Halaman rumah masih menyisakan genangan kecil yang memantulkan cahaya matahari.Aku membukakan pintu mobil untuk Sephia sebelum berjalan memutar ke sisi pengemudi.Namun sebelum sempat masuk, instingku membuatku menoleh ke ujung jalan.Kosong. Tidak ada mobil hitam yang mengikuti kami semalam.Sama sekali tidak ada sosok mencurigakan.Tetapi perasaan waspada itu tetap ada.Sephia rupanya menyadari perubahan ekspresiku."Kamu memikirkan mereka lagi?"Aku menutup pintu mobil setelah masuk."Mungkin, mana tahu ada yang masih mengutit."Sephia menggeleng, "Kita tidak bisa hidup dengan terus menoleh ke belakang. Yakin aja, mereka menunggu kita pulang, bukan berangkat.""Hari ini kamu masih harus menginap di rumahku. Kita akan ... "Sephia menoleh ke arahku, sementara aku tidak merasa tertarik untuk membicarakan hal
Sejak semalam aku sudah cukup kesal dengan ucapan Julia. Sekarang Diana ikut-ikutan. Semua gara-gara Kak Lora yang memergokiku membeli obat untuk Ayah.Aku menarik napas keras lalu menahan emosiku beberapa detik. Namun rupanya kesabaranku benar-benar habis.Dengan kesal aku menarik
Pintu terbuka. Dia melangkah masuk.Tapi sebelum menutupnya, Julia menoleh sebentar.“Kamu masih mahasiswa yang bahkan belum menyelesaikan riset perpustakaanmu.”Aku mengerjap.“Jadi fokuslah pada itu.” Lalu dia tersenyum tipis.“Bu
Diana menghela napas, lalu menatapku dengan ekspresi setengah kesal, setengah canggung. “Tenang. Aku nggak aneh-aneh. Kamu duduk di depan pintu. Membelakangi. Aku cuma… nggak mau sendirian.”Diana menyatukan kedua telunjuknya dan menatapku dengan tatapan memohon. Sungguh
Aku menggeleng sambil menjatuhkan tubuh ke atas ranjang.Tubuhku benar-benar lelah.Hari ini terasa seperti satu minggu penuh kejadian aneh.Ayah di rumah sakit.Ciuman dengan Kak Lora.Panik karena Kak Diana hampir memergoki lalu janda toko lampu yang mencoba m







