Share

Bab 6 Mas...

Author: Itsmoore
last update publish date: 2026-03-31 14:18:03

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Marcel membalikkan badan dan berjalan cepat menggandeng Aline ke kamar.

Laki-laki itu segera mengeluarkan sebuah koper hitam berukuran sedang dari rak paling bawah. 

Marcel melempar benda itu ke atas kasur tepat di sebelah Aline yang masih tersedu di lantai. Tumpukan kemeja kerja dan baju ganti segera dimasukkan begitu saja tanpa repot-repot dilipat.

"Kamu ngeluarin koper buat apa, Mas? Kamu mau pergi ke mana malam-malam begini?" tanya Aline dengan suara parau.

"Aku mau nginep di hotel selama beberapa hari kedepan. Aku harus pergi dari rumah ini sekarang juga."

Tangan Marcel bergerak sangat gesit membuka resleting koper tersebut. Dia memasukkan seluruh baju ganti dan keperluan kerjanya ke dalam sana dengan gerakan tergesa-gesa. Sedikit pun dia tidak menoleh ke arah istrinya yang masih meringkuk di lantai.

"Mas, kamu beneran tega ninggalin aku sendirian di rumah ini? Aku takut banget, Mas. Tolong temenin aku di sini aja."

"Aku nggak bisa nemenin kamu. Perjanjiannya tadi kan udah jelas. Aku harus ngasih ruang eksekusi secara penuh ke Mas Bastian biar dia leluasa ngelakuin tugasnya."

Marcel terus menumpuk kemejanya tanpa dilipat rapi, lalu bersiap pergi meninggalkan rumah malam itu juga demi mengamankan harta warisannya.

"Setidaknya kamu ada di kamar lain, Mas. Jangan tinggalin aku berduaan aja sama kakak tirimu di rumah sebesar ini."

"Mas Bastian kan udah ngasih syarat mutlak tadi siang. Dia minta kendali penuh atas kamu tanpa ada campur tangan siapa pun. Kalau aku tetap di sini, dia pasti nggak bakal mau nyentuh kamu sama sekali."

"Kamu bener-bener udah buang aku ya, Mas? Kamu dengan gampangnya nyerahin tubuh istrimu ke laki-laki lain terus kamu lari kabur menyelamatkan diri? Harga dirimu sebagai suami itu sebenarnya ada di mana?"

Aline menatap nanar punggung suaminya dengan dada sesak. Hatinya hancur berkeping-keping menyadari betapa pengecutnya laki-laki yang selama lima tahun ini dia layani dengan tulus.

"Ini semua juga demi kebaikan kita berdua! Demi nyawa bapakmu juga di kampung sana. Jadi berhentilah merengek dan lakuin aja tugasmu malam ini dengan benar."

"Tugas apa maksudmu? Aku ini istrimu, bukan pelacur yang bisa kamu sewa kamarnya terus kamu tinggal pergi gitu aja!"

"Anggap aja ini bentuk pengorbanan terakhirmu buat pernikahan kita. Kalau kamu berhasil hamil anak Mas Bastian, hidup kita berdua bakal aman selamanya dari omongan Mami."

Perdebatan itu rasanya sudah tidak ada gunanya lagi.

Aline hanya bisa meremas kuat ujung bajunya sendiri menahan luapan emosi yang tertahan di kerongkongan. Suaminya benar-benar sudah buta oleh harta dan ego!

"Lagian Mami juga udah pulang ke rumahnya sendiri sejak sore tadi. Jadi nggak bakal ada satu orang pun yang ganggu kalian berdua di rumah ini. Kamu fokus aja ngelayanin Mas Bastian sampai dia puas dan ngasih benihnya ke rahimmu."

"Tega banget kamu, Mas. Jahat banget kamu lakuin ini ke aku," isak Aline semakin keras.

"Aku lagi nyelamatin nyawa bapakmu dari serangan jantung. Inget itu baik-baik kalau kamu mulai ragu."

Kalimat pamungkas itu langsung membungkam mulut Aline seketika. Marcel menutup paksa kopernya dan menarik resletingnya hingga rapat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menenangkan istrinya, Marcel langsung menarik gagang koper tersebut. Laki-laki itu melangkah keluar dari kamar dengan sangat cepat.

Suara roda koper bergesekan dengan lantai terdengar menjauh menyusuri lorong dan Aline dibiarkan menangis sendirian di dalam kamar.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara mesin mobil dihidupkan dari arah garasi bawah. Marcel benar-benar pergi meninggalkan rumah dengan kendaraan pribadinya malam itu juga.

Kini, rumah mewah itu terasa sangat sepi dan mencekam.

Hawa dingin perlahan merayap masuk menusuk kulit Aline. Wanita itu ditinggalkan sendirian menanggung beban mental yang sangat berat dan menyiksa kewarasannya.

Aline telah kehilangan sosok suami pelindung yang selama ini dia cintai dengan tulus.

Dengan sisa tenaga yang ada, Aline merangkak naik. Dia duduk gemetar sendirian di tepi kasur kamarnya. Tatapannya kosong memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin lemari pakaian yang sedikit terbuka.

"Tuhan, kenapa nasibku harus serendah ini? Aku cuma mau jadi istri yang berbakti, tapi kenapa balasannya malah disuruh selingkuh?" gumam Aline meratapi nasibnya sendiri.

Air mata terus mengalir membasahi pipi pucatnya tanpa henti. Dia meratapi nasibnya yang kini berubah menjadi sekadar alat reproduksi bagi keluarga suaminya.

"Bapak, Ibu. Maafin Aline ya. Aline terpaksa ngelakuin dosa besar ini demi beli obat jantung Bapak. Aline kotor, Pak."

Isak tangis Aline terdengar sangat memilukan memecah keheningan kamar. Pikiran wanita itu sangat kacau balau memikirkan kejadian yang akan segera menimpanya sebentar lagi.

Bastian pasti akan segera datang menagih kesepakatan gila tersebut.

Mengingat sorot mata tajam dan tubuh kekar kakak iparnya siang tadi, perut Aline mendadak mual karena tegang. Dia sama sekali belum siap menyerahkan kesuciannya kepada laki-laki selain suaminya.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah suara tiba-tiba memecah kesunyian lantai dua.

Tubuh wanita itu seketika menegang kaku seperti patung es. Darahnya berdesir hebat merinding ketakutan di ujung ranjang.

Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di balik daun pintu kamarnya.

Aline menahan napasnya tanpa sadar. Matanya terbelalak lebar menatap lurus ke arah gagang pintu besi di depannya. Dia menunggu kedatangan sang eksekutor dengan tubuh bergetar hebat.

KLEK!

Terdengar suara kunci pintu kamar Aline diputar dari arah dalam dan saat itu juga, Bastian berdiri tegak di depan pintu sambil melonggarkan ikatan dasinya secara perlahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 13 Mas Bastian...

    Sambil terus memanjakan area dada, tangan Bastian yang lain mulai bekerja di bagian bawah tubuh wanita itu.Usapan lembut dan konsisten di titik sensitif tersebut langsung membuahkan hasil. Lembah rahasia Aline merespons cepat dengan memproduksi cairan bening yang melimpah ruah membasahi kain pelindungnya.Merasakan wanitanya sudah siap sedia, Bastian segera menyingkirkan celana dalamnya sendiri. Kejantanan pria itu langsung berdiri tegak menantang udara dingin di dalam kamar. Ukurannya yang sangat besar dan panjang dihiasi oleh urat-urat tebal yang menonjol mengerikan.Bastian mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha Aline yang sudah mengangkang lebar.Melihat pusaka berwarna merah gelap itu bersiap menerobos masuk, jantung Aline berdetak semakin brutal."Ma-Mas, itu berapa ukurannya? Ke-ke-kenapa punya kamu besar banget?""Panjang 20 centi dan lebar tiga setengah centi." Bastian hanya tersenyum, sementara Aline menelan ludah be

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 12 Lakukan Itu Padaku! (2)

    Bastian bersikeras menolak permohonan tersebut. Kedua tangannya naik memegang bahu sempit Aline dan mencoba menjauhkannya secara halus. Sikap keras kepala wanitanya benar-benar menyiksa kewarasannya."Ini salah besar. Kamu cuma lagi emosi sesaat."Kesabaran Aline akhirnya habis tak bersisa. Napasnya memburu cepat seiring dengan rasa sesak yang menghantam dada. "Aku cinta sama kamu, Mas!"Teriakan putus asa itu menggema nyaring memenuhi keheningan kamar."Sejak awal kita pisah tujuh tahun lalu sampai detik ini, cintaku cuma buat kamu. Nggak pernah ada laki-laki lain di hatiku.""Tapi nyatanya kamu nikah dan ngabdi sama Marcel selama lima tahun penuh."Air mata kembali menetes membasahi pipi pucat Aline. Tatapan tajam wanita itu menusuk langsung ke dalam manik mata sang kakak ipar."Pernikahanku selama ini murni cuma sandiwara kotor! Aku kepaksa ngelakuin semua ini demi lunasin tagihan operasi jantung bapak.""Lalu buat apa kamu bertahan selama ini kalau rasanya kayak di neraka?""Kamu

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 11 Lakukan Itu Padaku

    Bastian menahan diri sekuat tenaga agar tidak bertindak terlalu jauh. Tangannya hanya menetap di pinggang Aline tanpa berani meraba area sensitif lainnya.Setelah beberapa menit saling menyesap saliva, Bastian melepaskan ciumannya secara tiba-tiba.Laki-laki itu menjauhkan wajahnya dengan napas tersengal-sengal. Dada bidangnya naik turun dengan sangat cepat mencari pasokan oksigen yang nyaris habis."Ada apa, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?""Aku harus berhenti sekarang sebelum semuanya jadi kelewat batas.""Batas apa maksudmu? Bukannya kamu sendiri yang bilang mau rebut aku seutuhnya malam ini?""Iya. Cuma aku nggak mau ngelakuinnya dengan cara nidurin kamu, sekarang." Basti

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 10 Pejamkan Matamu, Sekarang Waktunya!

    Marcel terhenyak mendengar Aline yang terus menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. "Perusahaan suami Mami Veronica hampir bangkrut total karena banyak hutang. Aku hadir pakai identitas baruku buat nyelamatin perusahaan keluarga mereka."Aline menatap lekat wajah pria di sampingnya. Dia baru menyadari betapa luar biasa besar pengorbanan yang disembunyikan Bastian dari semua orang. Laki-laki ini memikul beban penderitaan yang sangat berat sendirian."Kamu malah nolongin keluarga yang udah rebut aku dari kamu?""Aku lakuin itu murni buat mastiin kamu terjamin aman di rumah ini. Aku mau pastiin ayahmu bisa terus berobat pakai uang keluarga Subagja."Rahang Bastian mengeras menahan emosi yang kembali naik ke ubun-ubun. Urat-urat di lehernya terlihat menonjol. Mengingat kela

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 9 Demi Kebaikan Aline

    Bastian menahan luka sendirian mengawasi wanita pujaannya dari jauh. Bahkan rela melihat cinta pertamanya disiksa batin oleh pria tidak tahu diri seperti Marcel.Bahkan ketika pernikahan itu terjadi, Bastian tidak jadi pulang ke Indonesia demi melegakan hatinya. Dia gila-gilaan membangun bisnis di luar negeri, sampai akhirnya dia tidak kuasa menahan itu sendirian dan kembali.Tiga tahun.Bukan waktu yang singkat untuk Bastian selama itu memendam perasaan.Mungkin Aline tidak begitu mengerti apa yang ada di pikiran Bastian, tapi dia benar-benar yakin, Bastian sengaja meninggalkannya, padahal itu hanya pikiran sesaat Aline saja."Kamu jahat banget biarin aku menderita sama Marcel selama ini! Kamu lihat sendiri gimana dia nyiksa

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 8 Kenapa Kamu Berubah, Mas?

    Tiba-tiba setetes air bening jatuh membasahi permukaan foto itu.Bahu tegap Bastian bergetar pelan menahan isakan. Kakak iparnya yang terkenal dingin, kejam, dan sangat dominan itu ternyata sedang menangis sendirian di ujung kasur.Kenyataan ini langsung menghantam akal sehat Aline dengan keras. Kepingan memori masa lalu yang sengaja dia kubur dalam-dalam mendadak berputar kembali memenuhi isi kepalanya.Tujuh tahun silam, tepat saat dirinya masih menjadi mahasiswi semester akhir. Ada satu laki-laki berpenampilan sangat sederhana yang menjadi cinta pertamanya. Laki-laki kurus kerempeng berkacamata tebal yang selalu memperlakukannya bak seorang ratu."Aku harus berangkat S2 ke London bulan depan buat nerusin bisnis keluargaku. Kamu mau kan nungguin aku pulang?"Suara berat dari masa lalu itu kembali mengiang jelas di telinga Aline. Dia mengingat detail momen perpisahan mereka di bandara hari itu."Aku pasti nungguin kamu selesai kuliah.""Jaga kalung separuh hati ini baik-baik. Kalau a

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 7 Sekamar dengan Kakak Ipar

    Melihat hal tersebut, Aline langsung beringsut mundur. Punggungnya membentur sandaran ranjang dengan nafas memburu cepat."Tolong, Mas. Jangan malam ini," isaknya memohon. Kedua tangannya bersilang rapat menutupi dada.Langkah sepatu kulit itu mendekat perlahan. Ujung sepatu Bastian berhenti tepat

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 5 Hamili Dia, Kakak!

    BRAK!"Kalian berdua benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya minta hal sekotor ini padaku?" bentak Bastian dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi."Tolonglah, Bas. Cuma kamu harapan Mami satu-satunya sekarang buat nutupin aib ini." Veronica langsung menyatukan kedua tangannya, memohon dengan w

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 4 Marcel Memohon-Mohon

    "Tolong aku, Mas Bastian. Aku bener-bener udah nggak punya jalan keluar lain sekarang," isak Marcel dengan suara serak.Bastian menunduk menatap adik tirinya dengan sebelah alis terangkat. Pria bertubuh tegap itu sama sekali tidak berniat menyingkirkan pelukan di kakinya.Sementara itu, Veronica da

  • Jangan Lakukan Itu, Kakak!   Bab 3 Suami Tidak Tahu Diri

    Bastian mencengkeram kuat pergelangan tangan adiknya yang sedang memegang piring keramik tersebut. Urat-urat di punggung tangan Bastian menonjol saking kerasnya cengkeraman itu."Lepasin, Mas! Aku mau buang makanan sampah ini ke lantai biar perempuan ini sadar diri.""Duduk. Taruh piringnya kembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status