LOGINLima tahun menikah dan tak kunjung hamil, Aline difitnah mandul, padahal suaminya yang selama ini mandul. Aline dituntut sempurna, sementara suaminya hanya diam tak pernah membela, apalagi saat Aline diminta cerai. Namun justru Bastian, sang Kakak Ipar, ternyata adalah kakak tiri suami Aline. Dia diminta menghamili Aline dengan alasan balas budi. Tidak disangka, Bastian adalah cinta pertama Aline, dibuktikan dengan kalung kenangan mereka waktu SMA dulu. Kini, Aline dimanja oleh Bastian dan Bastian selalu melindungi Aline dari segala bahaya mantan suami dan mertuanya dulu!
View More"Jangan bawa-bawa mandul. Mau tidak mau, bulan ini, kamu harus bisa hamil, meski harus berhubungan dengan laki-laki lain!"
Sudah lima tahun ini Aline menikah dengan Marcel, tapi lima tahun ini juga Aline tak kunjung diberi momongan. Hal itu terjadi karena Marcel sebenarnya mandul, tapi dia tidak pernah memberitahukannya pada siapapun.
Pun selama lima tahun ini, Aline tak pernah sekalipun mendapat kepuasan di ranjang, karena suaminya seringkali loyo.
Diancam cerai sekalipun, Aline tidak pernah bisa menerimanya. Dia sangat butuh uang perawatan, mengingat pernikahan ini adalah demi biaya pengobatan ayahnya yang sudah lima tahun ini dirawat melalui terapi khusus.
Aline terus berandai-andai, jika dirinya bersabar sampai ayahnya sembuh, niscaya dia mau melakukan cerai dari suami seperti Marcel.
Apalagi kata-kata Marcel barusan, sangat-sangat menyayat hati Aline.
Aline mendongak menatap wajah bengis suaminya. Air mata sudah menggenang penuh di pelupuk matanya. "Aku udah berusaha jelasin ke Mami kalau kita masih berjuang buat punya anak. Tapi tiap kali aku jelasin, Mami selalu motong omongan aku, terus nyudutin aku."
"Halah, alasan! Tiap kali ada Mami, selalu aja gitu. Kamu mau bikin aku kelihatan jadi suami yang gagal ngasih keturunan, kan?"
"Sumpah, aku nggak ada niat kayak gitu, Mas!"
"Terus kenapa kamu biarin Mami ngomongin soal anak terus di depan Mas Bastian?"
Marcel berkacak pinggang dengan napas memburu. Dadanya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak. "Dengerin aku baik-baik. Jangan pernah kamu berani buka mulut soal urusan ranjang kita ke siapapun, terutama ke Mami atau Mas Bastian!"
Aline menelan ludah dengan susah payah mendengar ancaman tersebut. Dadanya berdenyut nyeri mengingat kenyataan pahit rumah tangganya selama lima tahun ini.
"Tapi sampai kapan kita harus nutupin ini semua, Mas? Mami udah nyuruh kamu nikah lagi. Padahal kamu yang mandul, tapi kenapa aku yang kena imbasnya?"
"Ya kamu tahan aja! Itu tugas istri buat nutupin aib suami." Marcel mengatakan itu, sangat-sangat enteng, padahal dirinya yang selama ini jadi penyebab kenapa Aline tak kunjung habil.
"Aku cuma minta kamu jujur ke Mami supaya aku nggak terus dituduh mandul dan disuruh urus surat cerai, apalagi sampai biaya perawatan ayahku dihentikan total."
"Kamu gila ya? Kalau Mami tahu aku yang mandul, warisan itu pasti langsung jatuh ke tangan Mas Bastian. Aku nggak akan biarin itu terjadi, sampai kapanpun!"
Marcel selalu gagal ereksi setiap kali mencoba berhubungan badan dengan istrinya. Kemampuannya di atas ranjang benar-benar nol besar dan tidak berguna.
Pun Aline juga merasakannya, di mana dia tidak pernah mendapat kepuasan batin selama lima tahun menjalani pernikahan dengan Marcel. Setiap kali Aline ingin meminta, Marcel memang menurutinya. Namun, baru beberapa menit percobaan, bahkan belum sempat penetrasi, Marcel seringnya sudah loyo duluan.
Kenyataan pahit ini tidak pernah bisa diterima oleh Marcel, meski Aline sudah sangat-sangat tersiksa. Andai bukan karena ayahnya, mungkin dia sudah memilih bercerai karena laki-laki itu sangat takut… takut harga dirinya tercoreng jika aibnya di ranjang terbongkar.
"Kita bisa ke dokter spesialis buat obatin masalah kamu diam-diam, Mas. Biar Mami nggak tahu."
"Diam kamu! Berani-beraninya kamu ngerendahin harga diriku!" Marcel memotong pembicaraan itu dengan suara melengking. Pria itu langsung mengangkat tangan kanannya bersiap menampar wajah istrinya dengan keras.
Aline refleks memejamkan mata dan melindungi kepalanya menggunakan kedua tangan. Dia sudah pasrah menerima pukulan telak tersebut tanpa bisa melawan.
"Ehem."
Terdengar suara dehaman berat dari arah pintu kamar yang ternyata masih terbuka lebar.
Marcel langsung menghentikan gerakannya di udara. Pria itu menoleh cepat dengan wajah pucat pasi.
Bastian berdiri bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat santai di depan dada. Kebetulan sekali pria bertubuh kekar itu baru saja berjalan melewati lorong lantai atas. Tatapan Bastian sangat dingin menusuk tepat ke mata adik tirinya.
"Aku paling nggak suka lihat laki-laki kasar sama perempuan. Apalagi beraninya main tangan kayak gitu," ucap Bastian pelan.
"Mas Bastian nggak usah ikut campur urusan rumah tanggaku," sahut Marcel dengan nyali ciut.
Tanpa berani menatap mata kakaknya lebih lama, Marcel langsung menarik daun pintu. Dia mengurungkan niatnya memukul Aline karena takut berurusan dengan sang pemegang kendali keuangan keluarga.
BRAK!
Pria itu menutup pintu kamarnya dengan sangat kasar. Marcel memutar kunci lalu merebahkan diri ke atas kasur dengan bantingan keras.
Dia langsung menarik selimut tebalnya sampai sebatas leher. Marcel tidur membelakangi Aline tanpa rasa bersalah sedikit pun membiarkan istrinya di lantai.
Kini ruangan itu terasa sangat hening. Aline duduk terdiam di atas lantai kamar sendirian.
Air matanya perlahan menetes deras membasahi kedua pipinya. Wanita itu menangis meratapi nasib pernikahannya yang semakin memburuk dan hancur berantakan. Suami yang dulu mencintainya kini berubah menjadi sosok kasar yang egois.
***
Aline pulang dari pasar lebih awal dari jadwal biasanya. Kedua tangannya menenteng plastik besar berisi sayuran segar dan bumbu dapur. Kondisi jalanan raya yang lancar membuatnya cepat sampai di rumah.
Suasana rumah mewah itu terasa sangat sepi. Marcel tentu saja sedang bekerja di kantor saat jam makan siang begini.
Aline berjalan menyusuri lorong utama menuju dapur. Dia harus segera merapikan semua belanjaannya ke dalam kulkas sebelum membusuk akibat cuaca panas di luar.
Untuk menuju dapur, Aline harus berjalan melewati kamar Bastian. Langkahnya mendadak melambat saat tiba di depan kamar kakak iparnya tersebut.
Pintu kayu kamar Bastian ternyata sedikit terbuka. Celahnya menyisakan ruang sekitar sepuluh sentimeter dari kusen pintu.
Aline beringsut mendekati celah pintu tersebut. Niatnya murni ingin menutup pintu itu rapat-rapat agar debu koridor tidak masuk ke dalam kamar.
Ketika tangan kanan Aline baru saja terangkat menuju gagang besi pintu, telinganya menangkap suara bising dari dalam kamar luas tersebut.
Terdengar suara derit per ranjang yang berbunyi sangat cepat dan berulang-ulang tanpa jeda. Disusul kemudian dengan suara helaan napas berat laki-laki yang terdengar tertahan. Suara itu seolah sedang menikmati sesuatu yang sangat enak.
Rasa penasaran mengalahkan akal sehat Aline. Wanita itu menahan napasnya lalu memberanikan diri mengintip dari balik celah pintu.
Seketika mata bundar Aline terbelalak lebar.
Bastian sedang berbaring bersandar di kepala ranjang tanpa mengenakan pakaian atas sama sekali. Dada bidangnya yang dipenuhi otot tebal tampak basah oleh keringat. Perut pria itu menampilkan pahatan otot kotak-kotak yang sangat keras dan maskulin.
Samar-samar, Aline melihat potret dirinya dari jauh, walau sedikit samar. Karena rasa penasarannya, dia pun ceroboh dan tidak sengaja menjatuhkan kantong plastik berisi sayuran.
SREEEK.
Plastik itu menyenggol daun pintu kayu dengan suara gesekan yang cukup nyaring.
Bastian menoleh cepat ke arah celah pintu tersebut dengan tatapan tajam. Matanya langsung menangkap sosok Aline yang sedang memandangi bagian bawahnya dari luar kamar.
Sambil terus memanjakan area dada, tangan Bastian yang lain mulai bekerja di bagian bawah tubuh wanita itu.Usapan lembut dan konsisten di titik sensitif tersebut langsung membuahkan hasil. Lembah rahasia Aline merespons cepat dengan memproduksi cairan bening yang melimpah ruah membasahi kain pelindungnya.Merasakan wanitanya sudah siap sedia, Bastian segera menyingkirkan celana dalamnya sendiri. Kejantanan pria itu langsung berdiri tegak menantang udara dingin di dalam kamar. Ukurannya yang sangat besar dan panjang dihiasi oleh urat-urat tebal yang menonjol mengerikan.Bastian mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha Aline yang sudah mengangkang lebar.Melihat pusaka berwarna merah gelap itu bersiap menerobos masuk, jantung Aline berdetak semakin brutal."Ma-Mas, itu berapa ukurannya? Ke-ke-kenapa punya kamu besar banget?""Panjang 20 centi dan lebar tiga setengah centi." Bastian hanya tersenyum, sementara Aline menelan ludah be
Bastian bersikeras menolak permohonan tersebut. Kedua tangannya naik memegang bahu sempit Aline dan mencoba menjauhkannya secara halus. Sikap keras kepala wanitanya benar-benar menyiksa kewarasannya."Ini salah besar. Kamu cuma lagi emosi sesaat."Kesabaran Aline akhirnya habis tak bersisa. Napasnya memburu cepat seiring dengan rasa sesak yang menghantam dada. "Aku cinta sama kamu, Mas!"Teriakan putus asa itu menggema nyaring memenuhi keheningan kamar."Sejak awal kita pisah tujuh tahun lalu sampai detik ini, cintaku cuma buat kamu. Nggak pernah ada laki-laki lain di hatiku.""Tapi nyatanya kamu nikah dan ngabdi sama Marcel selama lima tahun penuh."Air mata kembali menetes membasahi pipi pucat Aline. Tatapan tajam wanita itu menusuk langsung ke dalam manik mata sang kakak ipar."Pernikahanku selama ini murni cuma sandiwara kotor! Aku kepaksa ngelakuin semua ini demi lunasin tagihan operasi jantung bapak.""Lalu buat apa kamu bertahan selama ini kalau rasanya kayak di neraka?""Kamu
Bastian menahan diri sekuat tenaga agar tidak bertindak terlalu jauh. Tangannya hanya menetap di pinggang Aline tanpa berani meraba area sensitif lainnya.Setelah beberapa menit saling menyesap saliva, Bastian melepaskan ciumannya secara tiba-tiba.Laki-laki itu menjauhkan wajahnya dengan napas tersengal-sengal. Dada bidangnya naik turun dengan sangat cepat mencari pasokan oksigen yang nyaris habis."Ada apa, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?""Aku harus berhenti sekarang sebelum semuanya jadi kelewat batas.""Batas apa maksudmu? Bukannya kamu sendiri yang bilang mau rebut aku seutuhnya malam ini?""Iya. Cuma aku nggak mau ngelakuinnya dengan cara nidurin kamu, sekarang." Basti
Marcel terhenyak mendengar Aline yang terus menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. "Perusahaan suami Mami Veronica hampir bangkrut total karena banyak hutang. Aku hadir pakai identitas baruku buat nyelamatin perusahaan keluarga mereka."Aline menatap lekat wajah pria di sampingnya. Dia baru menyadari betapa luar biasa besar pengorbanan yang disembunyikan Bastian dari semua orang. Laki-laki ini memikul beban penderitaan yang sangat berat sendirian."Kamu malah nolongin keluarga yang udah rebut aku dari kamu?""Aku lakuin itu murni buat mastiin kamu terjamin aman di rumah ini. Aku mau pastiin ayahmu bisa terus berobat pakai uang keluarga Subagja."Rahang Bastian mengeras menahan emosi yang kembali naik ke ubun-ubun. Urat-urat di lehernya terlihat menonjol. Mengingat kela
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.