LOGIN"Tolong aku, Mas Bastian. Aku bener-bener udah nggak punya jalan keluar lain sekarang," isak Marcel dengan suara serak.
Bastian menunduk menatap adik tirinya dengan sebelah alis terangkat. Pria bertubuh tegap itu sama sekali tidak berniat menyingkirkan pelukan di kakinya.
Sementara itu, Veronica dan Aline hanya bisa mematung di tempat mereka masing-masing.
"Kamu ini ngapain nangis sambil sujud begitu? Bangun sekarang juga dan jelasin ke Mami apa maksudnya ini!" bentak Veronica memecah keheningan.
Marcel menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat. Pria itu menolak bangun dan justru semakin mengeratkan pelukannya di kaki Bastian. Air matanya menetes membasahi celana bahan milik sang kakak tiri.
"Aku mandul, Mi. Aku yang bermasalah selama ini dan nggak bisa ngasih keturunan."
Pengakuan itu meluncur lancar dari mulut Marcel.
Seketika itu juga, mata Veronica terbelalak sangat lebar. Napas wanita paruh baya itu seakan tercekat di tenggorokan karena syok berat.
"Kamu jangan ngarang cerita buat ngelindungin istrimu, Marcel! Mami nggak mau denger kebohongan konyol lagi pagi ini."
"Aku bener-bener nggak bisa berdiri sama sekali selama lima tahun nikah sama Aline. Pun saat berdiri, hanya sebentar saja, tidak bertahan lama. Surat dari rumah sakit tadi emang sengaja aku palsukan buat nutupin aibku sendiri."
Kenyataan pahit itu sukses membuat lutut Veronica mendadak lemas tak bertulang. Dia menahan rasa malu yang amat sangat mengetahui cacat fisik anak kandungnya tersebut.
Hancur sudah semua kebanggaan dan kesombongannya selama ini. Anak kebanggaannya ternyata laki-laki lemah dan tidak perkasa sama sekali!
Pantas Aline tak kunjung hamil, ternyata yang problem adalah Marcel.
Di sudut ruangan, Aline langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan. Dia menangis lega karena suaminya akhirnya mau jujur soal masalah ranjang mereka berdua.
Beban berat soal tuduhan mandul akhirnya terlepas dari pundaknya. Namun, kelegaan Aline hanya bertahan beberapa detik saja, karena tiba-tiba…
"Tolong hamilin istriku, Mas Bastian. Cuma Mas yang bisa nyelamatin posisiku di keluarga ini."
Aline terkesiap hebat mendengar ucapan suaminya barusan. Dia menatap Marcel dengan tatapan horor dan penuh rasa jijik.
"Kamu udah gila ya, Mas?! Aku ini istrimu yang sah." teriak Aline histeris dari sudut ruangan. "Kenapa kamu malah nyuruh laki-laki lain buat nidurin aku? Tega banget kamu jual istrimu sendiri layaknya pelacur murahan!"
Marcel menoleh ke arah istrinya dengan wajah berurai air mata dan ingus.
"Ini satu-satunya cara biar Mami nggak nyoret namaku dari hak waris. Cuma Mas Bastian yang bisa ngasih bibit unggul dan nyelamatin namaku sekarang. Kamu turutin aja permintaanku kali ini."
"Aku nggak mau, brengsek! Harga diriku di mana kalau harus hamil dari anak kakak tirimu sendiri?"
Aline menolak keras ide menjijikkan tersebut demi menjaga sisa harga dirinya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala suaminya yang sudah rusak karena harta.
Mengabaikan penolakan istrinya, Marcel kembali menatap Bastian yang masih terdiam membisu di atasnya. Pria itu mengguncang pelan kaki sang kakak tiri dengan putus asa.
"Tolong tidurin Aline sampai dia hamil anakmu, Mas. Aku bakal tutup mata dan biarin kalian ngelakuin itu kapan aja di rumah ini asal rahasia kemandulanku aman. Aku rela sujud di kaki Mas tiap hari buat bayar hutang budi ini."
Bastian belum memberikan respons apa pun. Pria itu hanya menatap datar wajah adiknya yang sudah berantakan. Tidak ada raut kasihan sedikit pun di wajah tegas sang CEO.
Melihat Bastian terdiam, Veronica perlahan bangkit berdiri dari sofanya.
Rasa gengsi dan ego tingginya tiba-tiba runtuh seketika hari itu juga. Ancaman kehilangan muka di depan teman-teman arisannya jauh lebih menakutkan dari sekedar warisan.
"Tolong bantu adikmu kali ini, Bas. Mami juga mohon sama kamu." Suara Veronica terdengar sangat pelan dan bergetar menahan tangis. Dia ikut memohon kepada Bastian demi menjaga nama baik keluarga besar mereka dari aib kemandulan memalukan ini.
Bastian menoleh menatap ibu angkatnya dengan tatapan tajam.
"Ini satu-satunya cara biar keluarga besar kita nggak jadi bahan omongan orang di luar sana. Kamu anak sulung di rumah ini yang paling bisa diandalkan. Tolong selamatkan masa depan adikmu dan nama baik keluarga kita…"
Mendengar dukungan tidak masuk akal dari ibu mertuanya, tangis Aline semakin pecah. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali menolak kekacauan ini.
Veronica langsung berbalik badan dan berjalan cepat menghampiri Aline. Wanita itu mencengkeram kuat kedua bahu menantunya dengan tatapan sangat mengintimidasi. Kukunya bahkan menancap tajam menembus baju Aline.
"Kamu harus mau ngelakuin ini, Aline! Ini bentuk pengabdian terakhir kamu buat nutupin kekurangan suamimu."
"Aline nggak mau, Mi! Aline mending cerai aja sekarang daripada harus tidur sama Mas Bastian."
Aline mencoba melepaskan cengkeraman mertuanya sekuat tenaga. Sayangnya, tenaga Veronica jauh lebih kuat karena didorong rasa panik.
"Berani kamu minta cerai setelah lima tahun numpang makan enak di sini? Kamu harus bayar semua fasilitas mewah yang udah kamu nikmatin selama ini pakai rahimmu itu!"
"Tolong jangan paksa Aline ngelakuin dosa besar ini, Mi. Aline mohon sama Mami."
"Nggak ada dosa buat nyelamatin aib keluarga sendiri! Kalau kamu nolak, Mami bakal bikin hidup keluarga miskinmu di kampung hancur berantakan hari ini juga. Mami bakal tagih semua uang bulanan yang udah Mami kirim ke bapakmu."
Ancaman mematikan itu sukses membungkam mulut Aline seketika.
Lututnya langsung lemas tak bertulang. Tubuh mungilnya luruh ke atas lantai karpet tanpa bisa ditahan lagi. Dia merasa kehilangan seluruh harapan dan harga dirinya hari itu juga.
Wanita cantik itu terus menangis tanpa henti di sudut ruangan. Dia memeluk kedua lututnya erat-erat untuk mencari sedikit ketenangan yang tersisa. Nasibnya benar-benar terasa seperti seekor binatang ternak yang dipaksa untuk berkembang biak oleh pemiliknya.
Situasi rumah itu menjadi sangat kacau balau akibat permintaan gila Marcel.
Sementara itu, Marcel masih terus merengek di bawah kaki Bastian tanpa memedulikan harga dirinya sebagai laki-laki. Hal ini diperparah dengan Veronica yang terus menatap anak tirinya dengan pandangan memelas penuh harap.
Bastian hanya berdiri diam seperti patung sejak tadi. Matanya merekam jelas bagaimana keluarga kaya raya ini rela membuang moral mereka demi sebuah gengsi dan harta warisan.
Diam-diam, sudut bibir Bastian berkedut menahan senyum sinis. Mata Bastian beralih menatap sosok Aline yang sedang meringkuk di lantai. Pria itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh untuk mengontrol emosinya.
Sedetik kemudian, Bastian menatap tajam semua orang di ruang tengah tersebut secara bergantian.
Pria itu tiba-tiba melangkah maju dan menghempaskan pelukan Marcel di kakinya dengan kasar, lalu langsung menggebrak meja kaca di depannya dengan sangat keras.
Sambil terus memanjakan area dada, tangan Bastian yang lain mulai bekerja di bagian bawah tubuh wanita itu.Usapan lembut dan konsisten di titik sensitif tersebut langsung membuahkan hasil. Lembah rahasia Aline merespons cepat dengan memproduksi cairan bening yang melimpah ruah membasahi kain pelindungnya.Merasakan wanitanya sudah siap sedia, Bastian segera menyingkirkan celana dalamnya sendiri. Kejantanan pria itu langsung berdiri tegak menantang udara dingin di dalam kamar. Ukurannya yang sangat besar dan panjang dihiasi oleh urat-urat tebal yang menonjol mengerikan.Bastian mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha Aline yang sudah mengangkang lebar.Melihat pusaka berwarna merah gelap itu bersiap menerobos masuk, jantung Aline berdetak semakin brutal."Ma-Mas, itu berapa ukurannya? Ke-ke-kenapa punya kamu besar banget?""Panjang 20 centi dan lebar tiga setengah centi." Bastian hanya tersenyum, sementara Aline menelan ludah be
Bastian bersikeras menolak permohonan tersebut. Kedua tangannya naik memegang bahu sempit Aline dan mencoba menjauhkannya secara halus. Sikap keras kepala wanitanya benar-benar menyiksa kewarasannya."Ini salah besar. Kamu cuma lagi emosi sesaat."Kesabaran Aline akhirnya habis tak bersisa. Napasnya memburu cepat seiring dengan rasa sesak yang menghantam dada. "Aku cinta sama kamu, Mas!"Teriakan putus asa itu menggema nyaring memenuhi keheningan kamar."Sejak awal kita pisah tujuh tahun lalu sampai detik ini, cintaku cuma buat kamu. Nggak pernah ada laki-laki lain di hatiku.""Tapi nyatanya kamu nikah dan ngabdi sama Marcel selama lima tahun penuh."Air mata kembali menetes membasahi pipi pucat Aline. Tatapan tajam wanita itu menusuk langsung ke dalam manik mata sang kakak ipar."Pernikahanku selama ini murni cuma sandiwara kotor! Aku kepaksa ngelakuin semua ini demi lunasin tagihan operasi jantung bapak.""Lalu buat apa kamu bertahan selama ini kalau rasanya kayak di neraka?""Kamu
Bastian menahan diri sekuat tenaga agar tidak bertindak terlalu jauh. Tangannya hanya menetap di pinggang Aline tanpa berani meraba area sensitif lainnya.Setelah beberapa menit saling menyesap saliva, Bastian melepaskan ciumannya secara tiba-tiba.Laki-laki itu menjauhkan wajahnya dengan napas tersengal-sengal. Dada bidangnya naik turun dengan sangat cepat mencari pasokan oksigen yang nyaris habis."Ada apa, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?""Aku harus berhenti sekarang sebelum semuanya jadi kelewat batas.""Batas apa maksudmu? Bukannya kamu sendiri yang bilang mau rebut aku seutuhnya malam ini?""Iya. Cuma aku nggak mau ngelakuinnya dengan cara nidurin kamu, sekarang." Basti
Marcel terhenyak mendengar Aline yang terus menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. "Perusahaan suami Mami Veronica hampir bangkrut total karena banyak hutang. Aku hadir pakai identitas baruku buat nyelamatin perusahaan keluarga mereka."Aline menatap lekat wajah pria di sampingnya. Dia baru menyadari betapa luar biasa besar pengorbanan yang disembunyikan Bastian dari semua orang. Laki-laki ini memikul beban penderitaan yang sangat berat sendirian."Kamu malah nolongin keluarga yang udah rebut aku dari kamu?""Aku lakuin itu murni buat mastiin kamu terjamin aman di rumah ini. Aku mau pastiin ayahmu bisa terus berobat pakai uang keluarga Subagja."Rahang Bastian mengeras menahan emosi yang kembali naik ke ubun-ubun. Urat-urat di lehernya terlihat menonjol. Mengingat kela
Bastian menahan luka sendirian mengawasi wanita pujaannya dari jauh. Bahkan rela melihat cinta pertamanya disiksa batin oleh pria tidak tahu diri seperti Marcel.Bahkan ketika pernikahan itu terjadi, Bastian tidak jadi pulang ke Indonesia demi melegakan hatinya. Dia gila-gilaan membangun bisnis di luar negeri, sampai akhirnya dia tidak kuasa menahan itu sendirian dan kembali.Tiga tahun.Bukan waktu yang singkat untuk Bastian selama itu memendam perasaan.Mungkin Aline tidak begitu mengerti apa yang ada di pikiran Bastian, tapi dia benar-benar yakin, Bastian sengaja meninggalkannya, padahal itu hanya pikiran sesaat Aline saja."Kamu jahat banget biarin aku menderita sama Marcel selama ini! Kamu lihat sendiri gimana dia nyiksa
Tiba-tiba setetes air bening jatuh membasahi permukaan foto itu.Bahu tegap Bastian bergetar pelan menahan isakan. Kakak iparnya yang terkenal dingin, kejam, dan sangat dominan itu ternyata sedang menangis sendirian di ujung kasur.Kenyataan ini langsung menghantam akal sehat Aline dengan keras. Kepingan memori masa lalu yang sengaja dia kubur dalam-dalam mendadak berputar kembali memenuhi isi kepalanya.Tujuh tahun silam, tepat saat dirinya masih menjadi mahasiswi semester akhir. Ada satu laki-laki berpenampilan sangat sederhana yang menjadi cinta pertamanya. Laki-laki kurus kerempeng berkacamata tebal yang selalu memperlakukannya bak seorang ratu."Aku harus berangkat S2 ke London bulan depan buat nerusin bisnis keluargaku. Kamu mau kan nungguin aku pulang?"Suara berat dari masa lalu itu kembali mengiang jelas di telinga Aline. Dia mengingat detail momen perpisahan mereka di bandara hari itu."Aku pasti nungguin kamu selesai kuliah.""Jaga kalung separuh hati ini baik-baik. Kalau a
Melihat hal tersebut, Aline langsung beringsut mundur. Punggungnya membentur sandaran ranjang dengan nafas memburu cepat."Tolong, Mas. Jangan malam ini," isaknya memohon. Kedua tangannya bersilang rapat menutupi dada.Langkah sepatu kulit itu mendekat perlahan. Ujung sepatu Bastian berhenti tepat
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Marcel membalikkan badan dan berjalan cepat menggandeng Aline ke kamar.Laki-laki itu segera mengeluarkan sebuah koper hitam berukuran sedang dari rak paling bawah. Marcel melempar benda itu ke atas kasur tepat di sebelah Aline yang masih tersedu di lantai. Tumpuk
BRAK!"Kalian berdua benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya minta hal sekotor ini padaku?" bentak Bastian dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi."Tolonglah, Bas. Cuma kamu harapan Mami satu-satunya sekarang buat nutupin aib ini." Veronica langsung menyatukan kedua tangannya, memohon dengan w
Bastian mencengkeram kuat pergelangan tangan adiknya yang sedang memegang piring keramik tersebut. Urat-urat di punggung tangan Bastian menonjol saking kerasnya cengkeraman itu."Lepasin, Mas! Aku mau buang makanan sampah ini ke lantai biar perempuan ini sadar diri.""Duduk. Taruh piringnya kembali







