MasukLampu-lampu kota Kurta menyala seperti hamparan cahaya tak berujung di kejauhan. Dari balkon apartemen lantai tinggi itu, malam tampak tenang, nyaris indah.Angin berhembus lembut, membawa aroma aspal basah dan sisa hujan sore yang belum sepenuhnya menguap.Namun ketenangan itu palsu. Terlalu rapi. Terlalu sunyi. Seolah kota ini sedang menahan napas sebelum sesuatu yang besar terjadi.Andini berdiri bersandar di pagar balkon, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Sweater tipis berwarna krem melekat di tubuhnya, tidak sepenuhnya mampu mengusir dingin yang merayap dari udara malam.Rambutnya tergerai, tertiup angin pelan, membawa sisa aroma musim dingin Eropa, aroma kebebasan yang terlalu singkat.Honeymoon itu seharusnya menjadi pelarian. Dan memang, untuk sesaat, mereka berhasil lupa. Lupa pada nama Khile. Lupa pada intrik keluarga. Lupa pada dunia yang selalu menuntut Naren untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya.Namun kenyataan tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan. Dia h
Pintu ruang kerja itu tertutup perlahan setelah Jefry keluar. Bunyi engselnya nyaris tak terdengar, namun di telinga Karina, suara itu terasa seperti dentuman yang menghantam dadanya.Widia Khile masih berdiri di tempatnya.Tatapannya mengikuti arah pintu yang kini tertutup rapat, lalu perlahan dan sangat perlahan sudut bibirnya sedikit terangkat.Widia tersenyum. Bukan senyum bahagia Bukan pula senyum sedih. Itu adalah senyum dari seseorang yang penuh ambisi yang baru saja menemukan solusi.“Anak yang patuh,” gumam Widia pelan, nyaris seperti pujian. “Dan yang paling penting, ternyata dia memahami arah permainan.”Tongkat kayu jatinya mengetuk lantai satu kali. Ketukan yang terdengar mantap. Penuh ketegasan.Karina yang masih berdiri beberapa langkah dari ibunya merasakan tubuhnya membeku. Ada sesuatu pada senyum itu yang membuat naluri keibuannya berteriak.“Ma, Aku yakin jika Jefry tadi …” suara Karina bergetar lirih dan menggantung.Terlebih lagi saat dirinya menyadari, Widia mena
Malam turun perlahan di kediaman keluarga Khile, membawa hawa dingin yang merayap masuk ke setiap sudut rumah. Lampu-lampu kristal menyala sempurna, seperti biasa semua yang ada di kediaman rumah ini selalu tertata dengan rapi.Akan tetapi kesempurnaan itu kini terasa seperti topeng rapuh yang dipaksa bertahan. Widia Khile berdiri sendiri di ruang kerjanya. Untuk pertama kalinya malam ini, pintu tertutup tanpa kehadiran orang lain. Tanpa Karina. Tanpa Nicholas. Tanpa Jefry.Tongkat kayu jati hitam masih ada di genggamannya, tapi cengkeramannya sedikit longgar dari biasanya. Tangannya sedikit gemetar, nyaris tak terlihat, namun cukup nyata untuk disadari oleh dirinya sendiri.Widia membenci sensasi ini. Matanya berpaling menatap pantulan dirinya di kaca jendela besar. Wajahnya tetap anggun, rahang tegas, mata tajam sekilaa tidak ada yang berubah. Namun dibalik tatapan itu, ada sesuatu yang asing. Yaitu keraguan.Ketukan pelan terdengar di pintu.“Masuk,” ucap Widia tanpa menoleh.Karin
Ruangan itu kembali hening setelah suara isak Jessica mereda menjadi nafas yang tersendat-sendat. Tubuhnya masih berada dalam dekapan Kenzo, namun pikirannya seolah sudah menjauh ribuan kilometer dari tubuh itu sendiri.Jessica menatap kosong ke satu titik di udara. Bukan ke wajah Kenzo. Bukan ke ibunya. Bahkan bukan ke langit-langit kamar. Tatapannya menembus sesuatu yang tidak bisa dilihat siapapun.Tubuhnya memang ada di sana, di atas ranjang rumah sakit, dengan selang infus dan detak mesin monitor yang setia berbunyi. Tapi dirinya… tidak sepenuhnya kembali.Perlahan, jari-jari Jessica terangkat ke depan wajahnya sendiri. Dia menatap telapak tangannya dengan ekspresi asing. Seperti sedang melihat tangan orang lain.“Kenz…” suaranya pelan, datar, nyaris tanpa emosi.Kenzo menegang. Ada sesuatu pada nada itu yang membuat dadanya mencelos.“Kenapa?” jawab Kenzo lembut.Jessica memiringkan kepala sedikit. Tatapannya turun ke dadanya sendiri, lalu ke perutnya, lalu kembali ke tangan itu
Kesadaran Jessica perlahan mulai kembali, rasanya seperti seseorang yang dipaksa naik ke permukaan setelah tenggelam terlalu lama.Awalnya Jessica hanya merasa tidak nyaman. Lalu detik berikutnya Perutnya mulai terasa aneh. Bukan nyeri yang menusuk, melainkan sensasi seperti sebuah gelombang berputar-putar di dalam perutnya yang membuat dadanya sesak.Mendadak Jessica juga merasa asam di tenggorokannya naik perlahan, membuat napasnya semakin terasa pendek. Dia benar-benar merasa tidak nyaman.Jessica mengerang pelan.Belinda yang tertidur berada pada posisi setengah duduk langsung terbangun.“Jessi?” panggilnya panik.Jessica membuka mata setengah. Cahaya lampu terasa terlalu terang, terlalu tajam. Kepalanya berdenyut.Tubuhnya terangkat refleks. Tangannya mencengkeram seprai. Rasa mual itu memuncak tanpa peringatan dan segera mungkin ingin dikeluarkan.Jessica turun dari ranjang tergesa-gesa sambil mendorong tiang infusnya sendiri, Belinda dengan sigap mengikuti Jessica.Lalu, tiba-
Langkah tergesah Andini terhenti tepat di depan pintu ruang rawat inap.Tangannya yang sejak tadi menggenggam lengan Naren perlahan terlepas. Dadanya terasa sesak. Udara di lorong rumah sakit itu seolah lebih berat dari biasanya, menekan paru-parunya tanpa ampun.Bau antiseptik yang tajam membuat matanya perih, bukan karena baunya semata, melainkan karena kenyataan yang perlahan menampakkan wajahnya.Pintu ruang rawat inap itu didorong pelan, saat pintu terbuka, di sanalah di atas ranjang yang memakai sprei putihJessica terbaring lemah, tubuhnya tampak jauh lebih kecil dari yang Andini ingat.Kulitnya pucat, hampir transparan di bawah cahaya lampu temaram. Selang infus terpasang di tangannya, dan alat monitor berdetak pelan, menjadi satu-satunya bukti bahwa tubuh itu masih terus berjuang.Andini menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.“Ya Tuhan.” bisiknya lirih.Ini bukan Jessica yang dia kenal.Bukan perempuan ceri







