MasukMalam turun perlahan di kediaman keluarga Khile, membawa hawa dingin yang merayap masuk ke setiap sudut rumah. Lampu-lampu kristal menyala sempurna, seperti biasa semua yang ada di kediaman rumah ini selalu tertata dengan rapi.Akan tetapi kesempurnaan itu kini terasa seperti topeng rapuh yang dipaksa bertahan. Widia Khile berdiri sendiri di ruang kerjanya. Untuk pertama kalinya malam ini, pintu tertutup tanpa kehadiran orang lain. Tanpa Karina. Tanpa Nicholas. Tanpa Jefry.Tongkat kayu jati hitam masih ada di genggamannya, tapi cengkeramannya sedikit longgar dari biasanya. Tangannya sedikit gemetar, nyaris tak terlihat, namun cukup nyata untuk disadari oleh dirinya sendiri.Widia membenci sensasi ini. Matanya berpaling menatap pantulan dirinya di kaca jendela besar. Wajahnya tetap anggun, rahang tegas, mata tajam sekilaa tidak ada yang berubah. Namun dibalik tatapan itu, ada sesuatu yang asing. Yaitu keraguan.Ketukan pelan terdengar di pintu.“Masuk,” ucap Widia tanpa menoleh.Karin
Ruangan itu kembali hening setelah suara isak Jessica mereda menjadi nafas yang tersendat-sendat. Tubuhnya masih berada dalam dekapan Kenzo, namun pikirannya seolah sudah menjauh ribuan kilometer dari tubuh itu sendiri.Jessica menatap kosong ke satu titik di udara. Bukan ke wajah Kenzo. Bukan ke ibunya. Bahkan bukan ke langit-langit kamar. Tatapannya menembus sesuatu yang tidak bisa dilihat siapapun.Tubuhnya memang ada di sana, di atas ranjang rumah sakit, dengan selang infus dan detak mesin monitor yang setia berbunyi. Tapi dirinya… tidak sepenuhnya kembali.Perlahan, jari-jari Jessica terangkat ke depan wajahnya sendiri. Dia menatap telapak tangannya dengan ekspresi asing. Seperti sedang melihat tangan orang lain.“Kenz…” suaranya pelan, datar, nyaris tanpa emosi.Kenzo menegang. Ada sesuatu pada nada itu yang membuat dadanya mencelos.“Kenapa?” jawab Kenzo lembut.Jessica memiringkan kepala sedikit. Tatapannya turun ke dadanya sendiri, lalu ke perutnya, lalu kembali ke tangan itu
Kesadaran Jessica perlahan mulai kembali, rasanya seperti seseorang yang dipaksa naik ke permukaan setelah tenggelam terlalu lama.Awalnya Jessica hanya merasa tidak nyaman. Lalu detik berikutnya Perutnya mulai terasa aneh. Bukan nyeri yang menusuk, melainkan sensasi seperti sebuah gelombang berputar-putar di dalam perutnya yang membuat dadanya sesak.Mendadak Jessica juga merasa asam di tenggorokannya naik perlahan, membuat napasnya semakin terasa pendek. Dia benar-benar merasa tidak nyaman.Jessica mengerang pelan.Belinda yang tertidur berada pada posisi setengah duduk langsung terbangun.“Jessi?” panggilnya panik.Jessica membuka mata setengah. Cahaya lampu terasa terlalu terang, terlalu tajam. Kepalanya berdenyut.Tubuhnya terangkat refleks. Tangannya mencengkeram seprai. Rasa mual itu memuncak tanpa peringatan dan segera mungkin ingin dikeluarkan.Jessica turun dari ranjang tergesa-gesa sambil mendorong tiang infusnya sendiri, Belinda dengan sigap mengikuti Jessica.Lalu, tiba-
Langkah tergesah Andini terhenti tepat di depan pintu ruang rawat inap.Tangannya yang sejak tadi menggenggam lengan Naren perlahan terlepas. Dadanya terasa sesak. Udara di lorong rumah sakit itu seolah lebih berat dari biasanya, menekan paru-parunya tanpa ampun.Bau antiseptik yang tajam membuat matanya perih, bukan karena baunya semata, melainkan karena kenyataan yang perlahan menampakkan wajahnya.Pintu ruang rawat inap itu didorong pelan, saat pintu terbuka, di sanalah di atas ranjang yang memakai sprei putihJessica terbaring lemah, tubuhnya tampak jauh lebih kecil dari yang Andini ingat.Kulitnya pucat, hampir transparan di bawah cahaya lampu temaram. Selang infus terpasang di tangannya, dan alat monitor berdetak pelan, menjadi satu-satunya bukti bahwa tubuh itu masih terus berjuang.Andini menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.“Ya Tuhan.” bisiknya lirih.Ini bukan Jessica yang dia kenal.Bukan perempuan ceri
Malam semakin larut. Lampu di ruang rawat inap diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang jatuh lembut di wajah Jessica.Suara mesin monitor masih berdetak teratur, menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu terus berjalan meski hati mereka seolah tertahan di satu titik yang sama.Jessica tertidur. Namun tidurnya bukan tidur yang tenang. Alisnya berkerut. Nafasnya berubah tidak beraturan. Jari-jarinya menggenggam selimut seolah sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang nyaris direnggut kembali.“Kenz…”Suara itu keluar lirih, patah.Belinda yang duduk di sisi ranjang langsung terbangun.“Jessi?” panggilnya panik.Tubuh Jessica tiba-tiba menegang. Kepalanya menggeleng lemah ke kanan dan kiri, keringat dingin membasahi pelipisnya.“Jangan, jangan sentuh aku.” gumamnya dengan suara bergetar.“Gelap, aku nggak bisa bernafas.”Belinda berdiri, tangannya gemetar menyentuh bahu putrinya.“Jessi, ini Mami. Kamu aman, Nak.”Namun Jessica tidak mendengar.Matanya masih terpejam, tapi air mata m
Disaat suara Isak tangis itu terdengar samar Kenzo dan William baru saja tiba dirumah sakit.Mereka baru saja pulang dari kantor polisi memantau hasil dari penyelidikan polisi dari hasil interview dengan laki-laki yang mereka tangkap malam itu.Dan saat ini laki-laki bertubuh gendut itu masih dianggap sebagai tersangka utamanya.Kenzo berdiri di ambang pintu.Langkahnya terhenti sebelum benar-benar masuk. Dadanya naik turun perlahan, tapi nafasnya terasa berat, seakan setiap tarikan udara mengandung beban yang tak kasat mata.Saat Jessica yang berada di dalam ruang rawat inap menyadari kehadiran Kenzo dan William.Matanya membulat, tatapan Jessica terpaku ke arah ambang pintu, tepat pada sosok yang berdiri di sana.Dunia seolah berhenti bergerak dalam satu detik yang terasa begitu menyakitkan.Jantung Jessica berdetak terlalu cepat, seakan ingin keluar dari dadanya. Nafasnya tercekat, jantungnya mendadak seperti lupa cara bekerja. Seluruh tubuhnya menegang, kaku, seperti ada gelomban







