Say You Remember Me

Say You Remember Me

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-01-14
Oleh:  silent-arlBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
8Bab
6Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Lana Rose, seorang perawat yang dicampakkan mantan kekasihnya secara tidak baik. Ia patah hati, memutuskan ke sebuah bar langganannya. Sialnya, malam itu juga terjadi sebuah kebakaran yang membuatnya bertemu dengan Jasper Nikolai, pria blasteran Amerika-Rusia yang langsung jatuh cinta pada Lana, sayangnya, kisah mereka harus terputus karena pekerjaan.

Lihat lebih banyak

Bab 1

01

Lana menangis sekaligus tertawa di dalam sebuah bar yang ramai. Hidupnya sangat mengejutkan, bagaimana tidak, beberapa jam lalu ia baru saja dicampakkan oleh kekasihnya. Namun tidak sampai 30 menit dia mendapat kabar soal kenaikan gaji dan bonus karena tidak pernah cuti.

Sungguh ironi.

“Aku harus mabuk malam ini. Oh tunggu…” ia meraih ponselnya dari tas selempang hitam yang disimpan dikursi sebelah.

Lana Rose adalah sebuah perawat disalah satu klinik yang ada di pusat kota California. Hidupnya baik-baik saja sampai malam ini. Gadis 26 tahun itu hampir gila karena kekasihnya, atau lebih tepatnya mantan kekasihnya adalah seorang dokter tempat ia bekerja. Lana pikir ia tidak akan pernah putus dengan kekasihnya, tapi malam ini, sang pacar memilih untuk mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas.

Lana memandang ponselnya. “Dia benar-benar tidak mencariku.” gumamnya dengan suara sedih yang terdengar jelas.

Bartender dihadapannya tampak cemas karena Lana bahkan tidak kuat duduk dengan benar.

Lana mengusap wajahnya dengan kasar, menahan diri agar tidak menangis. Ada banyak alasan untuk Lana tidak bersedih, dia cantik, muda dan memiliki pendapatan yang tetap setiap bulannya.

“Lupakan saja dia.” Lana kembali meminum cocktail dengan campuran jus nanas itu. Wajahnya mengerut ketika ia merasa tenggorokannya terbakar.

Gadis itu lantas berdiri dari kursinya, jalan sambil memegang kursi yang berjejer disepanjang konter.

Lana adalah pelanggang tetap bar ini, dia hafal betul dimana letak kamar mandinya.

Saat berjalan menuju kamar mandi, ada dua wanita yang menunggu giliran di depan Lana.

Salah satu wanita itu hendak menyulut rokoknya. Lana langsung berdehem, dengan setengah kesadaran yang ia miliki Lana melipat tangannya di depan dada. “Di dalam Bar ini, kalian tidak boleh merokok.”

“Siapa kau?!” wanita itu langsung gusar dan mendorong Lana.

“Banyak bahan mudah terbakar.” Lana menunjuk semua arah dengan serampangan. “Apa sulitnya mentaati peraturan.”

Gadis itu melempar rokoknya yang sudah menyala ke lantai lalu menatap Lana dengan sangar. Harus diakui Lana tidak memiliki badan seksi layaknya model, dia tidak tinggi, apalagi tubuh yang bisa dibilang kurus itu membuatnya terlihat seperti gadis petit. Rambutnya yang coklat tua selalu ia biarkan panjang, membingkai wajah bulatnya yang pucat.

“Tidak usah diladeni, sepertinya dia mabuk.” ucap teman si wanita itu mencoba melerai.

Terlihat jelas Lana mabuk, dia sudah bersandar di dinding dengan mata sayu.

Sampai tiba giliran Lana masuk ke bilik toilet. Gadis itu dengan cepat melakukan apa yang perlu. Namun, ketika hendak keluar, Lana mencium asap.

Ia terbatuk, tangannya mengepal di depan mulutnya. Seketika kesadaran Lana kembali, ia menoleh kanan dan kiri. Benar saja, ada kobaran api tepat di depan pintu masuk toilet wanita.

“Ahh… ini pasti gara-gara yang tadi.” gerutunya.

Ia segera melepas kemejanya, menyisakan tank top putih yang melekat di tubuhnya. Lana membasahi kemeja itu dengan air dan mengikatkan di kepalanya. Ketika ia hendak melewati pintu terdengar suara minta tolong dari bilik pertama.

Lana mengedor pintu itu. “Buka pintunya!”

Pintu terbuka, dua wanita tadi sedang bersembunyi di dalam dengan rokok yang bahkan masih mereka pegang.

Lana mendesah, sambil melirik mereka. “Kalian benar-benar.” Lana menggeleng. “Lepaskan baju kalian, basahi dengan air lalu kita berbaris bersama sampai keluar.”

Lana kerap mendapat pelatihan soal situasi seperti ini, maka dari itu dia bisa sedikit tenang dibanding yang lain.

Dua gadis itu mengikuti saran Lana.

Lana memimpin di depan, melewati api yang untungnya belum terlalu besar.

Mereka sampai keluar dengan selamat, disambut oleh para pengunjung lain yang besorak lega.

Suara sirine pemadam kebakaran kian terdengar, Lana segera memakai kembali kemejanya yang basah.

***

Api berhasil dipadamkan berkat kecepatan para pemadam kebakaran. Seorang pria bertubuh tinggi melepas helmnya.

“Apa kau yang tadi membantu mereka keluar?” tanya pria itu dengan suara yang rendah dan serak.

Lana menunjuk dirinya sendiri.

Pria itu mengangguk tak sabaran, kerutan di kening pria itu semakin dalam. “Pemilik bar yang bilang bahwa kau yang membantu beberapa korban.”

Lana mengedikan bahu, ia ada dipinggir jalan dekat mobil pemadam. “Kami awalnya terjebak di kamar mandi, lalu mereka berteriak. Yah, bisa dibilang aku memang menyelamatkan mereka.”

Semburat merah merekah di pipi Lana, ketika ia sadar ia baru saja menjadi pahlawan.

Pria itu menaikan alisnya. “Kau tau dia membawa korek api?”

Lana mengangguk, sejujurnya ia sudah sangat mengantuk. Lana ingin segera lari dari tempat itu, kembali ke apartemennya yang hangat.

Pria itu mendengus, wajahnya yang terkena jelaga tidak mengurangi ketampanannya.

“Kau tahu bar ini punya aturan ketat dilarang merokok?”

Lagi-lagi Lana mengangguk. Tak sampai semenit Lana menguap.

“Bagaimana kalau bukan aku yang kau introgasi, mereka pelakunya tapi kau seolah-olah menyalahkanku.” gerutu Lana menyelipkan rambutnya ke telinga.

Pria itu menghela napas panjang. “Lihat itu, mereka hanya menangis dan menolak memberi penjelasan. Itu reaksi yang wajar, tapi kau malah…”

“Ada apa? Aku hanya sering mendapat pelatihan dan merasa tadi tidak terlalu menakutkan.” sahut Lana, ia lantas berdiri lalu membersihkan bokongnya dengan telapak tangan. Ia melirik tanda pengenal di dada pria itu. “Oke, Jesper. Aku Lana, kau bisa menginterogasiku besok siang di klinik dekat jalan utama. Saat ini kepalaku seperti berputar.” ia memijat pelipisnya.

Jesper mentap wanita itu cukup lama sampai akhirnya ia menghela napas. “Kau butuh tumpangan?”

Lana menggeleng sambil melambaikan tangannya. “Apartemenku hanya berjarak dua blok dari sini. Kalian bantu si pemilik bar saja, dia cukup pemalu.”

Jesper terkekeh lalu mengangguk. “Ya, dia pemalu. Sangat pemalu.”

Sial, Jesper mau tak mau mendongak menatap Lana yang pergi berjalan, menjauh dari keramaian sisa kebakaran tadi.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status