MasukLangkah kakinya sempat ragu, namun mata Andini yang terpikat oleh keindahan tempat itu tak sanggup berhenti menelusuri satu demi satu karya yang terpajang di galeri seni tersebut.
Cahaya lampu temaram yang jatuh tepat di atas setiap kanvas membuat lukisan-lukisan itu tampak hidup, seolah bernapas dalam diam. Ada goresan abstrak yang liar, ada juga potret wajah penuh ekspresi, dan lanskap alam yang menenangkan. Semuanya seakan memanggil sisi lain dari dirinya yang telah lama terkubur oleh rutinitas dan tekanan hidup. Saat Andini menyusuri lorong pameran dengan langkah pelan, hatinya berdesir aneh, sebuah rasa yang asing sekaligus begitu akrab menyelinap dalam dada. Pandangannya berhenti pada sebuah sudut ruangan. Di sana, terpajang satu lukisan dengan pencahayaan khusus, seperti sengaja diletakkan agar setiap pengunjung berhenti dan menatapnya lebih lama. Seketika jantung Andini serasa berhenti berdetak. Lukisan itu ... kenapa begitu mirip? Dengan lukisan miliknya. Lukisan yang pernah dia buat dua tahun silam, ketika hatinya hancur setelah pertengkaran hebat dengan kakak dan kedua orang tuanya. Saat itu dia melukis hanya untuk melampiaskan amarah dan kecewa yang membuncah, lalu meninggalkan lukisan itu begitu saja di bawah pohon tabebuya ungu di belakang kampusnya. Andini mendekat, langkahnya semakin pelan. Semakin dekat, keyakinannya semakin kuat, lukisan itu benar-benar hasil tangannya sendiri. Matanya berkedip-kedip menahan keterkejutan. “Kenapa bisa ada di sini? Apa ada seseorang yang mengambilnya?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. Bulu matanya yang lentik bergetar. Jari-jarinya yang halus menyentuh bingkai kayu di sekeliling lukisan itu. Dia mengenal setiap sapuan kuas, setiap perpaduan warna, setiap garis yang membentuk sosok di dalamnya, semuanya adalah cermin hatinya sendiri. Lukisan itu menampilkan seorang perempuan dalam gaun putih yang tampak rapuh, berdiri di tepi jurang. Langit di belakangnya dipenuhi tabebuya ungu yang berguguran, namun mata perempuan itu menatap kosong, seakan telah kehilangan alasan untuk bertahan. Andini ingat betul, jika perempuan dalam lukisan itu adalah dirinya. Suara langkah kaki yang mendekat membuatnya tersadar. Dia buru-buru mundur setengah langkah, mencoba menenangkan degup jantungnya yang kacau. Seorang wanita penjaga galeri menghampiri dengan sopan, namun sebelum Andini sempat bertanya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Terus bergetar, tak berhenti. Akhirnya dia merogoh ponselnya dan melangkah keluar ruangan untuk memeriksa. 27 Panggilan Tak Terjawab — Mami 15 Pesan — Papa 8 Pesan — Kak Bayu Papa: [Andin, kamu di mana? Ini sudah kelewatan!] Kak Arya: [Apa kamu sudah nggak waras lagi, Andin?! Bisa-bisanya kamu kabur malam-malam?!] Papa: [Ingat siapa kamu, Andini. Jangan rusak nama besar keluarga dan suamimu, ingat reputasi kakakmu dipertaruhkan!] Namun dari sekian banyak pesan dan panggilan itu, tak satu pun datang dari Radit. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, bahkan sekadar menanyakan “kamu di mana” pun tidak. Hatinya seperti diremas. Bibirnya bergetar saat berbisik lirih, “Jadi ... aku memang nggak pernah dianggap ada oleh kamu, ya Radit?” Tangannya gemetar menahan kecewa yang menyesakkan dada. Setelah lama terdiam di trotoar, akhirnya Andini memutuskan untuk pulang, dia memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Taksi online yang dipesannya melaju perlahan, membawa dirinya kembali ke rumah keluarga Winanto. Begitu turun, langkahnya terasa berat. Dia menatap pintu rumah besar itu dengan perasaan campur aduk. Ketika pintu utama terbuka, suara teriakan langsung menyambutnya. “Andini! Ke mana saja kamu?! Pergi tanpa alasan jelas seperti itu!” Kakaknya, Arya Winanto, sudah berdiri di depan ruang tamu dengan ekspresi kesal dan suara meninggi. Ayahnya berdiri di belakang, wajahnya muram dan penuh kekecewaan. “Kamu mempermalukan keluarga kita, Andin. Di hadapan para tamu terhormat, kamu meninggalkan pesta!” Sang ibu ikut menimpali dengan nada tajam, “Kamu pergi ke klub, ya? Apa yang kamu cari di sana? Mau menjatuhkan nama baik Radit dan keluarganya, hah?” Andini berdiri kaku. Tubuhnya bergetar, namun kedua matanya tetap menatap mereka tanpa berkedip. “Kenapa kalian semua lebih peduli pada reputasi? Kenapa nggak ada satu pun dari kalian yang bertanya ... apa aku selama ini baik-baik saja?” Suaranya pelan, tapi penuh luka. Karena seharusnya mereka tau, tidak mungkin dia pergi tanpa alasan. “Tutup mulutmu!” bentak sang ayah. “Kalau kamu masih ingin dianggap bagian dari keluarga ini, kamu patuh saja!” Arya menimpali dengan nada sinis, “Dengar, kalau sampai jabatanku di perusahaan Radit terganggu karena kamu berulah, lihat saja nanti, aku yang akan membuat perhitungan!” Ibunya pun ikut menuding, “Apa sih yang kamu pikirkan, Andini? Sampai bertingkah konyol seperti ini? Bukankah selama ini kamu hanya perlu duduk manis dan menikmati kemewahan? Mami benar-benar nggak habis pikir sama kamu!” “Jadi perempuan jangan terlalu mendramatisir keadaan, Andini. Sejak dulu kamu itu memang selalu buat masalah dirumah ini.” Arya kembali membentak. Andini tak sanggup berkata apa-apa lagi. Keluarganya benar-benar hanya memikirkan citra dan reputasi, bukan perasaan anak perempuannya. Dia menunduk, menahan air mata yang nyaris tumpah. Setelah puas dicaci maki, dia naik ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Waktu berlalu. Hingga jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam. Di luar, hujan turun gerimis, suara rintik hujan yang jatuh terdengar seperti ritme sepi yang menambah kesedihan. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya. Awalnya pelan, lalu semakin keras. “Andin! Suamimu datang! Cepat turun, atau Mami suruh Kak Arya mu untuk dobrak pintu ini!” Suara ibunya terdengar penuh amarah dari luar. Dengan malas, Andini bangkit dan membuka pintu. Ibunya berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh muak. “Kamu ini seperti anak kecil! Apa pantas istri seorang Raditya Mahesa calon pemimpin daerah harus bersikap seperti ini? Benar-benar memalukan!” katanya ketus, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Andini hanya diam. Tanpa sepatah kata dia pun menuruni tangga, menyeret langkah beratnya dengan hati yang dingin. Baru saja sampai di ujung tangga, Arya menatapnya sinis. “Memalukan,” desisnya pelan namun menyakitkan. Andini menarik napas panjang, lalu melangkah melewatinya tanpa menoleh. Di ruang tamu, Radit terlihat duduk bersama ayahnya. Mereka tampak mengobrol santai, bahkan sesekali tertawa, pemandangan yang ironis di mata Andini. Mereka terlihat seperti menantu dan mertua yang sangat akrab dan bahagia. Ketika Andini mendekat, Radit menoleh dan menatapnya penuh kasih sayang pura-pura. “Sudah marahnya?” ucapnya lembut, seolah tak pernah ada masalah. Andini hanya mengatupkan bibirnya, tak membalas sepatah kata pun. Ayahnya lalu menimpali, “Nak Radit, tolong di maklumi ya. Andini memang agak manja. Tapi kami sudah menasehatinya. Dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.” Radit tersenyum ramah, memainkan perannya dengan sempurna. “Nggak apa-apa, Ayah mertua. Andini begitu karena aku yang salah, aku nggak datang tepat waktu ke pesta pernikahan kami. Bukan apa-apa, tadi itu terlalu banyak urusan kantor yang penting. Ayah mertua nggak perlu khawatir nanti aku akan membujuknya sendiri.” Ayah Andini mengangguk puas. “Nah, itu baru menantu yang bijak. Andini seharusnya bersyukur punya suami sepertimu. Baiklah, malam sudah larut. Kalian pulanglah, dan lupakan semua masalah.” tutur Sanjaya sambil menepuk lembut pundak Radit penuh rasa bangga. Sementara Andini, dia hanya bisa diam. Dalam diam itu, hatinya semakin terasa hancur berkeping-keping.Naren masih duduk di sisi ranjang Andini. Perempuan yang selama ini menjadi rumah bagi jiwanya kini terbaring pucat, nafasnya pelan namun teratur.Monitor jantung di samping ranjang berbunyi ritmis, seperti pengingat bahwa hidup masih bertahan untuk saat ini.Naren mengusap punggung tangan Andini perlahan.“Maaf,” bisiknya lagi, lebih lirih dari sebelumnya. “Semua ini seharusnya nggak pernah menyentuhmu dan anak kita.”Matanya memejam sesaat. Di kepalanya, wajah Widia muncul tanpa diundang. Senyum tenang yang selalu menyimpan niat. Perempuan yang bertahun-tahun disebut sebagai pelindung keluarga, padahal sejatinya adalah algojo paling berbahaya.Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Panggilan masuk dari nomor milik Kenzo, sahabat sekaligus tangan kanannya“Bos,” suara Kenzo terdengar tegang, “Saya ingin menginformasikan bahwa ada permintaan resmi dari lembaga psikologi untuk memeriksa kondisi mental Jessica.”Naren langsung berdiri.“Apa maksud mereka?”“Permintaan itu dat
Dimanapun adanya, rumah sakit tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu saja ada suara langkah tergesa, mesin yang berdetak tanpa emosi, dan doa-doa yang hanya berani diucapkan dalam hati. Naren terlihat sedang duduk kaku di kursi lorong lantai tiga, menatap pintu ruang observasi yang sejak satu jam lalu seolah menelan Andini. Lampu indikator di atas pintu masih menyala merah. Menandakan jika keadaan belum aman. Tangannya saling menggenggam, kuat, seolah jika dilepas sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Jas mahal yang biasanya melekat rapi di tubuhnya kini terlihat kusut. Sedangkan dasi yang biasanya tergantung rapi kini sudah dilepas entah sejak kapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naren Khile merasa tidak berdaya. “Pak Naren.” Dia menoleh cepat. Dokter spesialis kandungan yang menangani Andini kini berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya terlihat profesional, tapi sorot matanya memancarkan kejujuran yang terlalu jujur. “Kondisi istri Anda, saat i
Suara mesin monitor medis berdetak pelan di ruang ICU, ritmenya stabil tapi terasa kejam bagi telinga Naren. Setiap bunyi bip seperti pengingat bahwa satu detik saja keterlambatan bisa merenggut segalanya.Andini terbaring di atas ranjang putih dengan tubuh yang tampak terlalu kecil untuk semua selang dan kabel yang menempel padanya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kedua matanya terpejam rapat seolah berusaha menahan rasa sakit bahkan dalam tidur.Tangan kanannya terhubung dengan infus.Tangan kirinya kosong.Naren berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia tidak mencoba terlihat kuat.“Maaf,” bisiknya.Suaranya hampir tenggelam oleh dengung alat medis.Maaf karena terlalu percaya bahwa semua bisa dihadapi dengan kepala dingin.Maaf karena berpikir bahwa kebenaran cukup dicari, bukan diperjuangkan.Maaf karena membiarkan orang-orang yang dia cintai menjadi tameng
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, seperti mata-mata yang mengawasi setiap sudut kota.Di ruang rawat inapnya Jessica duduk di sofa dengan selimut tipis melingkari tubuhnya. Lampu ruang tamu sengaja diredupkan. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita malam yang terus mengulang namanya bahkan foto wajahnya.Kenzo berdiri di dekat jendela, ponsel menempel di telinga sejak sepuluh menit lalu.“Iya,” katanya pendek.Jeda.“Nggak, dia nggak keluar sejak sore.”Jeda lagi. “Baik. Terima kasih.”Kenzo mematikan panggilan dan menoleh ke arah Jessica.“Mereka mulai bergerak,” katanya tenang, tapi rahangnya mengeras. “Dua orang asing yang dianggap mencurigakan terlihat mondar-mandir di lorong rumah sakit sejak satu jam lalu.”Jessica tidak terlihat terkejut.“Aku sudah menduga,” jawabnya pelan. “Musuh kita bukan tipe yang menunggu sampai pagi.”Kenzo mendekat. “Kita bisa pindah rumah sakit untuk sementara.” Kenzo kembali mengulangi ucapannya.Jessica menggeleng. “Itu yang mereka
Nama Jessica Parker kembali memenuhi layar-layar digital kota Kurta. Bukan dengan simpati. Bukan dengan empati.Melainkan dengan tudingan yang dibungkus rapi oleh kata-kata bernada netral.“Korban Diduga Alami Trauma Berat, Kesaksiannya Tidak Konsisten.”“Sidang Ditunda, Publik Pertanyakan Kredibilitas Korban.”“Ahli Psikologi mengatakan jika Korban Bisa Terdistorsi.”Jessica membaca semua itu dari layar ponselnya tanpa berkedip. Tangannya mendadak jadi dingin. Dadanya seketika terasa sesak. Tapi bukan karena sedih. Karena marah.Dia duduk di kursi dekat jendela ruang rawat inap rumah sakit. Di luar, matahari bersinar terang, terlalu terang untuk suasana batinnya yang gelap. Burung-burung terbang bebas, dunia terus berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.Seperti tubuhnya tidak pernah dilanggar.Seperti hidupnya tidak pernah diremukkan.“Mereka benar-benar berani,” gumam Jessica pelan.Bukan Jefry yang dia benci.Bukan pula sidang yang kacau itu.Yang dia benci adalah cara mere
Cafe Jasmine, Pukul DelapanPagi di kota Kurta selalu dimulai dengan kesibukan yang teratur. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan dengan tujuan, dan kafe-kafe mulai membuka tirai kaca mereka satu per satu. Akan tetapi, di sudut jalan kecil dekat taman kota, Cafe Jasmine berdiri seperti ruang waktu yang terpisah dari hiruk-pikuk itu.Jam dinding menunjukkan pukul delapan tepat ketika Naren mendorong pintu kaca kafe tersebut.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan.Aroma kopi pahit dan bunga melati yang menjadi ciri khas tempat itu menyambut indera penciumannya. Cafe Jasmine tidak ramai. Hanya ada tiga meja yang terisi, dua diantaranya oleh pasangan lansia yang tampak menikmati pagi dengan sunyi, dan satu lagi oleh seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang duduk membelakangi jendela.Naren berhenti melangkah. Itu pasti dia.Pria itu mengenakan kemeja abu-abu sederhana, tanpa jas, tanpa atribut mencolok. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Punggungnya sedikit membun







