Share

BAB 14

Penulis: Kupukupu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-09 13:00:07

Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.

Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kem

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 14

    Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan mata dengan rahang yang masih mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena perang batin yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal, sebuah tindakan yang menghancurkan satu-satunya fondasi moral yang tersisa untuk menahan dirinya agar tidak benar-benar tenggelam dalam obsesi gelapnya sendiri.Kyla menarik jas milik Arka yang tadi sempat ia lepas, menyampirkannya kembali ke bahunya yang telanjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak mengeluarkan suara.

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 13

    Pusat perkemahan yang tadinya riuh mendadak kehilangan suaranya. Hujan lebat yang sempat mengguyur selama berjam-jam telah reda, menyisakan tanah yang basah dan aroma pinus yang pekat. Ratusan mahasiswa berkumpul di area lapangan perkemahan, mengelilingi api unggun yang mulai padam, namun mata mereka semua tertuju pada satu sosok yang baru saja membelah kerumunan dengan langkah-langkah lebar yang mengintimidasi.Arka Mahendra tampak seperti bayangan gelap yang datang memburu. Rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi kini tampak berantakan karena sering ia remas dengan frustrasi sepanjang perjalanan, dan wajahnya, yang biasanya memancarkan wibawa CEO yang dingin, kini terlihat seperti topeng kemurkaan yang retak. Sorot matanya tajam, menyapu setiap sudut lapangan dengan tatapan yang mampu membakar siapa saja yang menghalangi jalannya.Kyla, yang sedang duduk di atas kursi lipat dengan selimut wol tebal membalut tubuhnya yang menggigil, tersentak saat menyadari kebera

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 12

    Langit yang tadinya berwarna biru cerah berubah drastis menjadi kelabu pekat dalam waktu singkat. Kabut tebal turun seperti tirai raksasa, menelan pucuk-pucuk pohon pinus dan menyembunyikan jalan setapak yang sebelumnya terlihat jelas. Kyla merapatkan jaket parkanya, merasa suhu udara merosot tajam hingga ke tulang. Di sampingnya, Rio tampak gelisah, sesekali mengintip layar ponsel yang sudah kehilangan sinyal sejak sepuluh menit yang lalu."Sepertinya kita tersesat, Kyla. Jalur kembali ke arah perkemahan tadi seharusnya lewat sini," Rio menunjuk ke arah semak-semak yang kini terlihat identik satu sama lain karena kabut yang membutakan.Kyla tidak menjawab. Pikirannya sudah melayang jauh pada pesan peringatan terakhir dari Arka sebelum sinyal benar-benar hilang. Ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari badai yang mulai menderu di kejauhan. Ia tahu, pengawal Arka pasti sudah melaporkan bahwa dirinya sedang bersama Rio, entah di mana. Dan jika Arka tahu ia terper

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 11

    Matahari pagi baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon pinus, menyisakan butiran embun yang berkilauan seperti berlian di atas daun-daun pakis. Hari kedua perkemahan resmi dimulai. Setelah instruksi singkat dari dosen pembimbing, suasana perkemahan yang tadinya riuh berubah menjadi desas-desus penuh antusiasme. Para mahasiswa dari departemen seni kini berpencar, membawa ransel yang berisi kanvas, kuas, dan cat akrilik, siap memburu objek lukis paling memikat di sepanjang lereng gunung."Aku punya firasat kalau di dekat air terjun nanti warnanya akan sangat magis, Kyla! Kamu harus lihat cahayanya kalau menembus dedaunan," celoteh Riana tanpa henti. Gadis itu berjalan dengan langkah riang di depan Kyla, sepatunya menginjak ranting-ranting kering hingga menimbulkan bunyi patahan yang ritmis. "Bayangkan saja, kontras antara air yang biru dengan lumut hijau di batunya. Bukankah itu alasan utama kita memilih masuk jurusan seni?"Kyla hanya tersenyum tipis, merespons dengan gumam

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 10

    Mesin Range Rover hitam itu menderu pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama kampus yang sudah riuh dengan kerumunan mahasiswa. Pagi itu, matahari masih malu-malu mengintip di balik awan tipis, namun suasana di titik kumpul perkemahan departemen seni sudah terasa seperti sebuah festival kecil. Di sana, deretan bus pariwisata berjejer rapi, sementara para mahasiswa sibuk menaikkan tas-tas besar mereka ke dalam bagasi.Arka tidak mematikan mesin. Tangan kirinya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk paha Kyla yang terbungkus celana kargo praktis. Ia menatap ke luar jendela dengan sorot mata tajam, memindai kerumunan mahasiswa yang tampak seperti sekumpulan semut yang sibuk bagi pria itu."Ingat aturan kita, Kyla," suara Arka memecah keheningan kabin yang sejak tadi terasa mencekam. "GPS di ponselmu akan ku pantau secara real-time. Jika aku melihat titik lokasimu bergerak menjauh dari area perkemahan tanpa sei

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 9

    "Duduk, Kyla."Arka tidak memandang ke arah Kyla saat ia mengucapkan perintah itu. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya di ruang kerja, jemarinya mengetik dengan ritme yang stabil dan dingin. Kamar kerja Arka selalu terasa seperti zona terlarang bagi Kyla, ruangan dengan dinding berlapis kayu mahoni gelap, bau buku tua yang samar, dan atmosfer yang seolah menghisap seluruh kehangatan di udara.Kyla menarik kursi kayu yang berada tepat di hadapan meja kerja pria itu. Ia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, persis seperti seorang siswi yang sedang menunggu hukuman di ruang kepala sekolah. Semalam, ia berhasil mendapatkan perhatian Arka dengan "kepatuhan" yang ia rancang dengan sangat hati-hati, namun kini, ia tahu permainan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.Arka menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang besar. Tatapan mata pr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status