เข้าสู่ระบบ"Duduk, Kyla."
Arka tidak memandang ke arah Kyla saat ia mengucapkan perintah itu. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya di ruang kerja, jemarinya mengetik dengan ritme yang stabil dan dingin. Kamar kerja Arka selalu terasa seperti zona terlarang bagi Kyla, ruangan dengan dinding berlapis kayu mahoni gelap, bau buku tua yang samar, dan atmosfer yang seolah menghisap seluruh kehangatan di udara.
Kyla menarik kursi kayu yang berada tepat di hadapan meja kerja pria itu. Ia du
Mesin Range Rover hitam itu menderu pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama kampus yang sudah riuh dengan kerumunan mahasiswa. Pagi itu, matahari masih malu-malu mengintip di balik awan tipis, namun suasana di titik kumpul perkemahan departemen seni sudah terasa seperti sebuah festival kecil. Di sana, deretan bus pariwisata berjejer rapi, sementara para mahasiswa sibuk menaikkan tas-tas besar mereka ke dalam bagasi.Arka tidak mematikan mesin. Tangan kirinya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk paha Kyla yang terbungkus celana kargo praktis. Ia menatap ke luar jendela dengan sorot mata tajam, memindai kerumunan mahasiswa yang tampak seperti sekumpulan semut yang sibuk bagi pria itu."Ingat aturan kita, Kyla," suara Arka memecah keheningan kabin yang sejak tadi terasa mencekam. "GPS di ponselmu akan ku pantau secara real-time. Jika aku melihat titik lokasimu bergerak menjauh dari area perkemahan tanpa sei
"Duduk, Kyla."Arka tidak memandang ke arah Kyla saat ia mengucapkan perintah itu. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya di ruang kerja, jemarinya mengetik dengan ritme yang stabil dan dingin. Kamar kerja Arka selalu terasa seperti zona terlarang bagi Kyla, ruangan dengan dinding berlapis kayu mahoni gelap, bau buku tua yang samar, dan atmosfer yang seolah menghisap seluruh kehangatan di udara.Kyla menarik kursi kayu yang berada tepat di hadapan meja kerja pria itu. Ia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, persis seperti seorang siswi yang sedang menunggu hukuman di ruang kepala sekolah. Semalam, ia berhasil mendapatkan perhatian Arka dengan "kepatuhan" yang ia rancang dengan sangat hati-hati, namun kini, ia tahu permainan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.Arka menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang besar. Tatapan mata pr
Napas Kyla memburu, tidak teratur, membentuk irama yang selaras dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Di atas ranjang king size yang berantakan, ia masih merasakan sisa sengatan panas dari setiap inci sentuhan Arka. Kamar itu kini terasa begitu pengap, seolah oksigen telah habis terserap oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Kyla merutuk dirinya sendiri dalam diam. Jemarinya mencengkeram sprei dengan buku-buku jari yang memutih. Mengapa? Mengapa ia justru begitu menikmati setiap cumbuan pria itu? Mengapa pertahanan dirinya runtuh semudah kertas yang terbakar api saat Arka menyentuhnya? Ia membenci bagaimana tubuhnya berkhianat, bagaimana ia justru mendambakan lebih, mendambakan dominasi pria itu yang meremukkan sisa harga dirinya.Arka, yang berada tepat di atasnya, tiba-tiba berhenti. Pria itu menahan napas sejenak, otot-otot lengannya yang menekan matras tampak menegang hebat. Ia memejamkan mata, rahangnya mengunci rapat. Ia tahu, jika ia melanjutkan ini satu langkah lebih ja
"Siapa dia, Kyla?"Suara itu tidak lagi terdengar seperti desis, melainkan geraman rendah yang mengguncang udara di sekeliling Kyla. Arka berdiri membelakanginya, namun aura dominasi yang terpancar dari punggung tegapnya mampu membuat Kyla merasa seolah-olah ia sedang terpojok oleh predator paling berbahaya di dunia. Amplop biru pastel itu kini telah hancur di tangan Arka, robek tak berbentuk, seolah melambangkan nasib siapa pun yang berani mencoba mengusik wilayah kekuasaannya.Kyla berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih yang melilit tubuhnya terasa begitu tipis, seakan tidak memberikan perlindungan apa pun dari tatapan tajam pria itu yang, meskipun kini membelakanginya, bisa ia rasakan sedang membakar seluruh kulitnya. Sisa air dari rambutnya menetes dingin ke tulang selangka, namun sensasi itu kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat adrenalin yang meledak."Itu... itu hanya teman kampus, Om," jawab Kyla, berusaha menjaga suaranya tetap stab
Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan wali
"Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla."Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah







