MasukLangit yang tadinya berwarna biru cerah berubah drastis menjadi kelabu pekat dalam waktu singkat. Kabut tebal turun seperti tirai raksasa, menelan pucuk-pucuk pohon pinus dan menyembunyikan jalan setapak yang sebelumnya terlihat jelas. Kyla merapatkan jaket parkanya, merasa suhu udara merosot tajam hingga ke tulang. Di sampingnya, Rio tampak gelisah, sesekali mengintip layar ponsel yang sudah kehilangan sinyal sejak sepuluh menit yang lalu.
"Sepertinya kita tersesat, Kyla. Jalur kembal
Langit yang tadinya berwarna biru cerah berubah drastis menjadi kelabu pekat dalam waktu singkat. Kabut tebal turun seperti tirai raksasa, menelan pucuk-pucuk pohon pinus dan menyembunyikan jalan setapak yang sebelumnya terlihat jelas. Kyla merapatkan jaket parkanya, merasa suhu udara merosot tajam hingga ke tulang. Di sampingnya, Rio tampak gelisah, sesekali mengintip layar ponsel yang sudah kehilangan sinyal sejak sepuluh menit yang lalu."Sepertinya kita tersesat, Kyla. Jalur kembali ke arah perkemahan tadi seharusnya lewat sini," Rio menunjuk ke arah semak-semak yang kini terlihat identik satu sama lain karena kabut yang membutakan.Kyla tidak menjawab. Pikirannya sudah melayang jauh pada pesan peringatan terakhir dari Arka sebelum sinyal benar-benar hilang. Ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari badai yang mulai menderu di kejauhan. Ia tahu, pengawal Arka pasti sudah melaporkan bahwa dirinya sedang bersama Rio, entah di mana. Dan jika Arka tahu ia terper
Matahari pagi baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon pinus, menyisakan butiran embun yang berkilauan seperti berlian di atas daun-daun pakis. Hari kedua perkemahan resmi dimulai. Setelah instruksi singkat dari dosen pembimbing, suasana perkemahan yang tadinya riuh berubah menjadi desas-desus penuh antusiasme. Para mahasiswa dari departemen seni kini berpencar, membawa ransel yang berisi kanvas, kuas, dan cat akrilik, siap memburu objek lukis paling memikat di sepanjang lereng gunung."Aku punya firasat kalau di dekat air terjun nanti warnanya akan sangat magis, Kyla! Kamu harus lihat cahayanya kalau menembus dedaunan," celoteh Riana tanpa henti. Gadis itu berjalan dengan langkah riang di depan Kyla, sepatunya menginjak ranting-ranting kering hingga menimbulkan bunyi patahan yang ritmis. "Bayangkan saja, kontras antara air yang biru dengan lumut hijau di batunya. Bukankah itu alasan utama kita memilih masuk jurusan seni?"Kyla hanya tersenyum tipis, merespons dengan gumam
Mesin Range Rover hitam itu menderu pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama kampus yang sudah riuh dengan kerumunan mahasiswa. Pagi itu, matahari masih malu-malu mengintip di balik awan tipis, namun suasana di titik kumpul perkemahan departemen seni sudah terasa seperti sebuah festival kecil. Di sana, deretan bus pariwisata berjejer rapi, sementara para mahasiswa sibuk menaikkan tas-tas besar mereka ke dalam bagasi.Arka tidak mematikan mesin. Tangan kirinya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk paha Kyla yang terbungkus celana kargo praktis. Ia menatap ke luar jendela dengan sorot mata tajam, memindai kerumunan mahasiswa yang tampak seperti sekumpulan semut yang sibuk bagi pria itu."Ingat aturan kita, Kyla," suara Arka memecah keheningan kabin yang sejak tadi terasa mencekam. "GPS di ponselmu akan ku pantau secara real-time. Jika aku melihat titik lokasimu bergerak menjauh dari area perkemahan tanpa sei
"Duduk, Kyla."Arka tidak memandang ke arah Kyla saat ia mengucapkan perintah itu. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya di ruang kerja, jemarinya mengetik dengan ritme yang stabil dan dingin. Kamar kerja Arka selalu terasa seperti zona terlarang bagi Kyla, ruangan dengan dinding berlapis kayu mahoni gelap, bau buku tua yang samar, dan atmosfer yang seolah menghisap seluruh kehangatan di udara.Kyla menarik kursi kayu yang berada tepat di hadapan meja kerja pria itu. Ia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, persis seperti seorang siswi yang sedang menunggu hukuman di ruang kepala sekolah. Semalam, ia berhasil mendapatkan perhatian Arka dengan "kepatuhan" yang ia rancang dengan sangat hati-hati, namun kini, ia tahu permainan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.Arka menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang besar. Tatapan mata pr
Napas Kyla memburu, tidak teratur, membentuk irama yang selaras dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Di atas ranjang king size yang berantakan, ia masih merasakan sisa sengatan panas dari setiap inci sentuhan Arka. Kamar itu kini terasa begitu pengap, seolah oksigen telah habis terserap oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Kyla merutuk dirinya sendiri dalam diam. Jemarinya mencengkeram sprei dengan buku-buku jari yang memutih. Mengapa? Mengapa ia justru begitu menikmati setiap cumbuan pria itu? Mengapa pertahanan dirinya runtuh semudah kertas yang terbakar api saat Arka menyentuhnya? Ia membenci bagaimana tubuhnya berkhianat, bagaimana ia justru mendambakan lebih, mendambakan dominasi pria itu yang meremukkan sisa harga dirinya.Arka, yang berada tepat di atasnya, tiba-tiba berhenti. Pria itu menahan napas sejenak, otot-otot lengannya yang menekan matras tampak menegang hebat. Ia memejamkan mata, rahangnya mengunci rapat. Ia tahu, jika ia melanjutkan ini satu langkah lebih ja
"Siapa dia, Kyla?"Suara itu tidak lagi terdengar seperti desis, melainkan geraman rendah yang mengguncang udara di sekeliling Kyla. Arka berdiri membelakanginya, namun aura dominasi yang terpancar dari punggung tegapnya mampu membuat Kyla merasa seolah-olah ia sedang terpojok oleh predator paling berbahaya di dunia. Amplop biru pastel itu kini telah hancur di tangan Arka, robek tak berbentuk, seolah melambangkan nasib siapa pun yang berani mencoba mengusik wilayah kekuasaannya.Kyla berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih yang melilit tubuhnya terasa begitu tipis, seakan tidak memberikan perlindungan apa pun dari tatapan tajam pria itu yang, meskipun kini membelakanginya, bisa ia rasakan sedang membakar seluruh kulitnya. Sisa air dari rambutnya menetes dingin ke tulang selangka, namun sensasi itu kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat adrenalin yang meledak."Itu... itu hanya teman kampus, Om," jawab Kyla, berusaha menjaga suaranya tetap stab







