Share

Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!
Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!
Author: Kharamiza

Bab 1

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-09-21 21:18:22

“Delapan tahun kamu tidak pulang, jelas saja kamarmu tidak ada yang urus.”

Thea meringis mendengar komentar ibunya. Ia tidak menyahuti ataupun memberikan pembelaan. Tangannya tetap bergerak merapikan barang-barang lamanya yang sudah rusak dimakan rayap.

Ini adalah sore pertama Thea di kampung halamannya. Ia baru saja kembali ke sini setelah delapan tahun merantau ke ibu kota.

“Nanti taruh di dekat pagar depan saja, biar diambil sama tukang sampah besok pagi.” Ibunya berujar lagi. Wanita itu meletakkan segelas es teh dan camilan di atas meja teras. “Sini istirahat dulu.”

Thea menghampiri ibunya, lalu duduk di kursi teras.

“Wah, buah segar nih,” komentar Thea dengan senyum lebar. Ia mengambil garpu dan menusuk mangga potong yang disajikan ibunya. “Lagi musim mangga ya?”

Sang ibu tersenyum mengamati putri tunggalnya. “Kamu baru sampai. Memang tidak capek langsung beres-beres kamar?”

“Nggak apa-apa, Bu. Biar sekalian capeknya.”

“Kamu ada yang pengen dimakan tidak nanti buat makan malam? Biar Ibu masakin.”

“Mau! Lama banget nggak makan masakan Ibu.”

“Iya, kamu merantaunya kelamaan. Mana tidak pernah mau pulang.”

Thea meringis, merasa canggung.

Tanpa sengaja, pandangannya beralih pada rumah tinggi nan megah di sebelah rumahnya yang tampak dingin dan kosong. Persis seperti sikap pemiliknya padanya dulu.

Sebenarnya ada alasan kenapa ia tidak pernah pulang ke kampung halamannya selama ia merantau ke ibukota. Hal itu dikarenakan Kavian, pemilik rumah sebelah, sekaligus tetangganya.

Yang mana adalah cinta pertamanya.

“Thea, berhenti bersikap seperti perempuan tidak tahu malu. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menyukaimu.”

Itu adalah kalimat terakhir yang Thea dengar dari pria itu. Sekaligus kalimat yang menghantui Thea sampai sekarang.

Tidak peduli ia sudah pergi dari kampung halamannya, meninggalkan pria yang mengucapkan kalimat menyakitkan tersebut.

Waktu itu adalah hari ulang Kavian. Thea turut merayakannya bersama teman-teman pria itu, meskipun Thea masih duduk di kelas dua belas dan mereka ada di tahun keempat kuliah. Meski begitu, malam itu Thea bertekad untuk menyatakan perasaannya sekali lagi pada Kavian.

Ia tidak peduli. Meskipun ia telah berkali-kali ditolak.

Namun, yang ia dapatkan adalah…

“Kamu pikir aku akan menyukaimu hanya karena kamu terus mengejarku?”

Thea mengangkat kepala. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar saat tatapannya bertabrakan dengan sorot mata dingin milik Kavian.

“Kalau sekarang belum,” jawabnya, menguatkan hati. “Mungkin nanti Kak Kavian bisa menyukaiku juga. Kerasnya batu bisa kalah oleh tetesan air.”

“Thea, berhenti bersikap seperti perempuan murahan yang tidak tahu malu.”

Raut wajah Thea seketika berubah, bahkan musik yang sejak tadi terdengar dari speaker terasa semakin keras di telinganya.

“Aku seperti ini hanya pada Kak Kavian,” ucapnya berusaha membela diri meski suaranya mulai bergetar.

Kavian tidak menjawab. Ia mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya sedikit kasar.

Thea yang semula masih ingin mengatakan sesuatu perlahan menutup mulutnya.

“Thea, apa kamu nggak mengerti juga?”

Tatapan Kavian langsung berhenti tepat di wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot mata pria itu malam ini. Tatapannya yang biasanya dingin kini tampak lebih gelap.

Tanpa mengatakan apa-apa, Kavian tiba-tiba melangkah mendekat, mengungkungnya ke dinding. Mata tajam pria itu tampak dingin.

“Kalau kamu terus mengejarku, datang ke rumahku, menungguku, bahkan mengatakan perasaanmu berkali-kali.” Kavian berucap dengan nada rendah. “Kamu tahu bagaimana kelihatannya dari luar? Murahan.”

Wajah Thea seketika pucat.

“K-Kak–”

“Atau memang kamu begitu putus asa?” lanjut Kavian. Thea merasakan pria itu memandangnya seakan-akan ia dalah serangga kecil yang mengganggu. “Daripada dikejar oleh gadis sepertimu, aku lebih baik dibenci olehmu.”

Ucapan itu membuat pertahanan Thea benar-benar runtuh. Air matanya mulai menggenang di pelupuknya.

Ia tak pernah menyangka pria yang selama ini begitu ia sukai bisa menilainya seperti itu.

Ia mendorong Kavian sekuat tenaga, lalu berlari keluar dari sana.

Dadanya naik turun dengan cepat, sementara air mata mulai mengalir di pipinya. Pulang ke rumah.

Mulai saat itu, Thea berjanji ia tidak akan pernah lagi terlibat dengan pria itu.

Ia memilih pergi ke kota. Alasannya sederhana, ingin kuliah di sana, kemudian bekerja dan membangun hidupnya sendiri.

Tidak ada yang perlu tahu bahwa sebenarnya ia sedang melarikan diri dari kampung halaman karena ingin menghindari Kavian. Bahkan ibunya sendiri tidak tahu.

Setiap kali diminta pulang, Thea selalu menemukan alasan untuk menolak. Sekarang, katanya pria itu sibuk dengan cabang perusahaan di kota. Jadi minim kemungkinan ia akan–

“Eh, Nak Kavian. Ada apa?”

Thea tersentak pelan. Fokusnya kembali dari ingatan masa lalu.

Di hadapannya, berdiri seorang pria bertubuh tinggi tegap dalam balutan baju santai. Wajah tampannya masih tampak dingin saat berucap, “Kapan pulang?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 6

    Ketika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa. Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah bany

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 5

    Thea masih menatap Kavian di hadapannya.Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”Thea terdiam. Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya. “Hah?”“Nggak banyak yang berubah.”Thea menahan napas sejenak.Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 4

    Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak. Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”Mendengar jawaban itu

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 3

    Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu. “Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi. “Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus. Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya. “Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.” Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 2

    Tubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 1

    “Delapan tahun kamu tidak pulang, jelas saja kamarmu tidak ada yang urus.” Thea meringis mendengar komentar ibunya. Ia tidak menyahuti ataupun memberikan pembelaan. Tangannya tetap bergerak merapikan barang-barang lamanya yang sudah rusak dimakan rayap. Ini adalah sore pertama Thea di kampung halamannya. Ia baru saja kembali ke sini setelah delapan tahun merantau ke ibu kota. “Nanti taruh di dekat pagar depan saja, biar diambil sama tukang sampah besok pagi.” Ibunya berujar lagi. Wanita itu meletakkan segelas es teh dan camilan di atas meja teras. “Sini istirahat dulu.” Thea menghampiri ibunya, lalu duduk di kursi teras. “Wah, buah segar nih,” komentar Thea dengan senyum lebar. Ia mengambil garpu dan menusuk mangga potong yang disajikan ibunya. “Lagi musim mangga ya?” Sang ibu tersenyum mengamati putri tunggalnya. “Kamu baru sampai. Memang tidak capek langsung beres-beres kamar?” “Nggak apa-apa, Bu. Biar sekalian capeknya.” “Kamu ada yang pengen dimakan tidak nanti buat makan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status