LOGINTubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus mendekati Kavian. Sekarang, ia tahu dirinya salah. Tidak semua perasaan harus diperjuangkan sampai membuat orang lain merasa tidak nyaman. Thea memejam sejenak. Ia sudah bukan gadis itu lagi, dan ia tidak ingin kembali menjadi gadis itu hanya karena Kavian tiba-tiba muncul di hadapannya. *** Keesokan paginya, Thea baru saja keluar dari kamar ketika suara ibunya terdengar dari ruang tengah. “Thea, kamu sudah bangun?” Thea mengangguk sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat seorang wanita duduk di sofa bersama ibunya. Wanita itu menoleh. Matanya langsung membesar sebelum wajahnya berubah cerah. “Ya ampun, Thea?” Thea tersenyum sopan. “Tante Vania?” Vania segera berdiri dan menghampirinya. Kedua tangannya bahkan langsung memegang bahu Thea, seolah ingin memastikan gadis manis yang dulu sering datang ke rumahnya benar-benar sudah berdiri di hadapannya sekarang. “Tante sampai pangling, loh. Kamu sekarang makin cantik.” Thea terkekeh kecil. “Ah, Tante bisa aja.” Vania memperhatikannya sekali lagi. “Beneran, loh. Tante jadi makin sayang sama kamu.” Thea hanya tersenyum. Ia memang mengenal Vania sejak kecil. Wanita itu sudah seperti keluarga sendiri baginya. Begitu pula dengan ibunya. Selama ini, kalau keluarga Vania harus pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan, ibunya Thea yang sering datang menemani Vania di rumahnya agar tak terlalu kesepian. Hubungan keduanya memang sudah terjalin sejak lama. “Ngomong-ngomong, Tante datang pagi-pagi begini ada perlu apa?” tanya Thea. Vania langsung menoleh pada Laras, ibu Thea. “Nah, itu. Tante sebenarnya mau minta tolong Ibu kamu.” “Minta tolong apa, Tante?” “Bantu masak dan beres-beres rumah.” Vania tertawa kecil. “Suami dan kedua putra Tante juga pulang. Sudah lama kami nggak kumpul bersama. Jadi, Tante sekalian mau bikin makan malam untuk merayakan kepulangan mereka.” Laras yang masih duduk di sofa pun mengangguk. “Oh, tentu. Nanti aku bisa bantu.” Vania akhirnya tersenyum lega. Namun, beberapa jam kemudian, bukan Laras yang datang ke rumah itu, melainkan Thea. Sebenarnya, sejak mendengar rencana itu, Thea juga sempat enggan datang ke sini. Bukan tak mau membantu Vania, ia hanya tidak ingin terlalu lama berada di rumah ini. Terlalu banyak hal yang masih ia ingat, termasuk kejadian memalukan malam itu masih membekas. Masalahnya, Thea juga ingat kalau ibunya sering mengeluh sakit punggung setiap kali mereka berbicara lewat telepon. Kalau sudah terlalu lama berdiri atau mengerjakan pekerjaan rumah yang berat, punggung ibunya pasti kembali terasa nyeri. Thea tidak tega membiarkan ibunya melakukan terlalu banyak pekerjaan setelah baru saja menyambut kepulangannya. Thea mulai membereskan beberapa bagian rumah. Sementara, Vania sibuk menyiapkan bahan makanan di dapur. Untungnya, Kavian tidak ada. Tadi pagi Vania bilang pria itu sudah keluar rumah dan kemungkinan baru pulang malam. Jadi, seharusnya tidak ada masalah kalau Thea di sini. Ia menyapu ruang tengah, membersihkan beberapa meja, kemudian membantu merapikan bagian dapur. Sesekali pandangannya berkeliling. Rumah ini ternyata masih sama. Dapur yang luas. Ruang keluarga dengan sofa besar. Bahkan beberapa hiasan di dinding masih berada di tempat yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Hanya dirinya yang terasa berbeda. Dulu, setiap kali datang ke rumah ini, matanya selalu mencari satu orang. Sekarang, ia justru berharap tak sampai melihatnya. “Thea.” Suara Vania membuat Thea langsung menoleh. “Bisa tolong bersihkan kamar Kavian?” Tangannya yang sedang memegang kain lap langsung berhenti. “Kamar ... Kak Kavian?” “Iya.” Vania menunjuk ke arah tangga. “Kamarnya paling berantakan. Tante belum sempat membereskan.” Thea menatap tangga di depannya. Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya ia mengangguk. “Ya sudah, Tante.” Thea mengambil sapu dan beberapa perlengkapan lainnya untuk dibawa ke kamar pria itu. Toh, Kavian belum pulang. Ia bahkan belum melihat pria itu masuk ke pintu utama. Thea mulai menaiki tangga. Namun, semakin dekat ke kamar itu, langkahnya malah terasa makin berat. Sampai akhirnya ia berhenti tepat di depan pintu kamar Kavian. Tangannya menggenggam gagang sapu sedikit lebih erat. Ia mengembuskan napas pelan. “Cuma bersih-bersih, kok,” gumamnya seolah berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Thea baru saja mengulurkan tangan untuk membuka pintu ketika pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam. Ceklek. Thea spontan mundur setengah langkah. Pria yang dikiranya sedang tak ada di rumah itu justru muncul di hadapannya dengan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang. Rambutnya masih basah. Bahkan, beberapa tetes air tampak mengalir dari pelipis hingga rahangnya. Thea membelalakkan mata. Wajahnya seketika memanas melihat pemandangan itu. “Aa-aaa!” pekiknya terkejut, namun suaranya langsung teredam saat Kaivan menutup mulut Thea dengan gerakan cepat. “Diam kamu.” Panik, Thea meronta, berusaha melepaskan diri. Sapu yang berada dalam genggamannya pun terlepas dan jatuh ke lantai. Tangan Kavian yang lain mencengkeram lengan Thea, lalu menariknya masuk ke kamar. Brak!Dalam beberapa detik, Thea hanya diam. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan geram. Ia masih tidak habis pikir kalau mulut Kavian ternyata tetap setajam dulu.Delapan tahun berlalu tanpa pertemuan. Thea sempat berpikir waktu akan mengubah banyak hal dalam diri pria itu. Mungkin membuatnya lebih dewasa, lebih lembut. Setidaknya sedikit lebih mudah diajak bicara.Ternyata, ia terlalu banyak berharap.“Kak Kav, kamu ini memang nggak bisa, ya, bicara yang baik sedikit?” balas Thea. Nadanya terdengar lebih ketus dari yang ia inginkan. “Kalau nggak bisa, sebaiknya diam saja.”Tatapan mereka bertemu.Rahang Kavian tampak mengeras. Entah karena tersinggung atau sekadar tidak suka dibantah, namun Thea sama sekali tidak peduli. Kali ini ia tidak akan mundur hanya karena pria itu menatapnya seperti itu.Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa sempit. Untungnya, ketegangan di antara mereka belum sempat berkembang ketika terdengar langkah kaki dari arah dapur.“Lho, kenapa pada berdiri di s
Ketika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa. Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah bany
Thea masih menatap Kavian di hadapannya.Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”Thea terdiam. Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya. “Hah?”“Nggak banyak yang berubah.”Thea menahan napas sejenak.Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya
Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak. Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”Mendengar jawaban itu
Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu. “Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi. “Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus. Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya. “Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.” Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan
Tubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus







