Partager

Bab 53

Auteur: Kharamiza
last update Date de publication: 2026-11-01 19:20:53

Kavian masih menahan pergelangan kaki Thea ketika gadis itu akhirnya menyerah untuk menariknya menjauh.

Dengan gerakan cekatan, pria itu membersihkan luka lecet di tumitnya, lalu menutupnya dengan plester. Sesekali, ia mengomel kecil karena Thea membiarkan luka itu begitu saja. Katanya, luka sekecil apa pun tetap harus diobati agar tidak berisiko infeksi.

Thea hanya diam mendengarkan. Pikirannya justru melayang pada masa lalu. Andaikan luka hati semudah itu diobati seperti luka di kakinya, mun
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 61

    Thea menunduk menatap map di tangannya. Jari-jarinya sempat mengencang di tepi kertas sebelum perlahan mengendur.Apa tadi katanya? Kavian dan Naura mau dijodohkan?Ia sempat terpaku, berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya. Tetapi, beberapa detik kemudian, Thea buru-buru menggeleng.Kalaupun mereka benar-benar mau dijodohkan, memang kenapa? Itu juga bukan urusannya.“Dan aku sendiri nggak keberatan, Kavian. Kalau kamu juga bersedia, kita bisa mulai membicarakannya dengan keluarga,” ujar Naura lagi.Thea sampai menahan napas mendengarnya. Perlahan, ia menarik gagang pintu, berusaha menutupnya kembali tanpa menimbulkan suara. Ia tidak ingin mengganggu Kavian dan Naura yang sedang membicarakan urusan pribadi. Soal keperluannya sendiri dengan Kavian, ia bisa kembali nanti.Namun, sebelum pintu tertutup sempurna, tiba-tiba seseorang membukanya dari dalam.Thea nyaris melompat mundur. Jantungnya serasa jatuh ke perut saat mendapati Kavian berdiri tepat di hadapannya. Tangannya

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 60

    Meski kesal dengan sikap Kavian yang begitu sulit ditebak, Thea tetap membawa kantong kertas pemberiannya ke atas ranjang setelah menutup jendela kamar.Ia meletakkannya di samping bantal, lalu duduk bersila untuk memeriksa isinya. Paling tidak, ia juga penasaran apa yang dibawa pria itu sampai nekat manjat pagar dan mengetuk ke jendela kamarnya. Dari dalam kantong kertas itu ada kotak berwarna krem terbungkus rapi dengan pita tipis. Thea membuka tutupnya perlahan. Di dalamnya, sebuah tas tangan berwarna cokelat muda terbaring.Thea mengangkat tas itu, memeriksa desainnya yang sederhana, namun elegan. Ia langsung mengenali merek yang namanya begitu besar di dunia fashion. Jelas, bukan barang yang bisa dibeli begitu saja tanpa berpikir panjang, apalagi hanya sebagai oleh-oleh biasa. Alisnya langsung bertaut. Kata Kavian, barang itu dari ibunya. Mengingat hal tersebut, Thea menghela napas berat. Ia sungguh merasa tidak enak pada Vania. Rasa-rasanya wanita itu terlalu royal padanya.“T

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 59

    Dalam beberapa detik, Thea hanya bisa melongo di balik tirai, seolah berusaha memastikan bahwa orang yang berdiri di dekat jendelanya, pelaku yang hampir membuatnya jantungan—memang Kavian, bukan malik yang menyamar dengan wajah tampan.Ia juga sempat heran. Bukankah tadi pagi Rivan bilang Kavian pergi ke Jakarta? Thea mengira tetangganya itu akan tinggal di sana selama beberapa hari, bahkan mungkin sampai minggu depan. Namun, baru beberapa jam berlalu, pria itu sudah berdiri di halaman rumahnya.Masalahnya, kenapa datang-datang malah mengetuk jendela kamar orang? Bukannya lewat pintu depan seperti tamu pada umumnya, Kavian justru terkesan seperti seseorang yang sengaja datang untuk menemui diam-diam.Begitu benar-benar tersadar, Thea membuka jendela sedikit kasar.“Kak Kav ngapain di sini?” semprotnya.Kavian berdiri di luar dengan satu tangan memegang kantong kertas. Wajahnya tetap tenang, seolah mengetuk jendela kamar tetangga wanita malam-malam begini adalah hal yang sangat biasa

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 58

    “Apa?!” pekik Erin dari balik layar video call. “Serius Naura berkata seperti itu padamu?” Thea mengangguk sambil menopang dagu dengan kedua tangan. Sejak tadi ia tengkurap di atas kasur, sesekali memainkan ujung rambutnya. “Iya. Dia seperti meragukan profesionalitasku.” “Tuh, kan! Apa aku bilang!” Erin menunjuk layar ponselnya seolah sedang berhadapan langsung dengan Thea. “Dia itu punya perasaan sama Kak Kavian. Secara nggak langsung, dia sedang menunjukkan rasa cemburunya karena kamu dekat-dekat sama Kak Kavian.” Sepulang dari bertemu Naura tadi, Thea memang langsung menghubungi sahabatnya. Ia tidak mau terus bertanya-tanya sendirian soal sikap Naura padanya. Walaupun Erin bukan pakar ekspresi, setidaknya pengalaman sahabatnya di dunia percintaan itu jauh lebih banyak daripada dirinya. Bagaimana tidak? Sekali punya pacar, Erin bisa langsung lima. Anehya, tidak pernah ada satu pun yang sampai membuatnya berakhir di pelaminan. Sementara Thea? Satu saja tidak punya. Bahkan, ke

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 57

    Thea tiba di restoran yang alamatnya dikirimkan Naura beberapa menit sebelum waktu yang mereka sepakati siang tadi.Restoran itu berada di salah satu sudut kawasan bisnis Bandung, dengan interior hangat dan pencahayaan temaram. Seorang pelayan mengantarnya ke meja dekat jendela, tempat Naura sudah duduk lebih dulu.Wanita itu menyambutnya dengan senyum ramah. Penampilannya tetap elegan seperti biasa, dari blus berpotongan sederhana hingga rambut yang tertata rapi.“Terima kasih sudah datang, Thea.”Thea menarik kursi di hadapannya. “Sama-sama, Teh. Kebetulan malam ini saya nggak ada jadwal lain.”Naura terlihat melirik kaki Thea sekilas, lalu bertanya dengan raut sedikit sendu, “Bagaimana kakimu? Masih sakit nggak?”“Udah nggak, Teh. Cuma lecet sedikit, kok.”“Syukurlah.” Naura mengembuskan napas lega. “Saya juga sekalian mau minta maaf soal kejadian di galeri kemarin. Saya benar-benar nggak bermaksud mencelakaimu.”

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 56

    Thea menggigit bibir bawahnya. Meski menyesal sudah membalas pesan Kavian seperti itu, entah kenapa sekarang ia justru penasaran bagaimana reaksi pria itu sekarang.Tanpa sadar, matanya kembali melirik layar ponsel. Belum ada balasan.Ia mengembuskan napas berat, lalu memasukkan ponsel ke saku jaket. Rasanya tak perlu menunggu. Kalaupun Kavian membalas, memangnya kenapa?Sialnya, belum sampai beberapa detik, ia kembali mengeluarkan ponselnya.Hanya ingin memastikan tidak ada pesan masuk. Bukan karena menunggu, tentu saja.Thea menggeleng kecil. Konyol sekali. Ia bahkan belum tahu apa yang akan dikatakan Kavian, tetapi sudah sibuk membayangkan berbagai kemungkinan. Padahal, menghadapi pria itu secara langsung saja terkadang membuatnya kewalahan. Mungkin tak beda jauh juha kalau harus beradu kata melalui pesan.“Melamun, ya?”Suara yang muncul dari belakang membuat Thea spontan menoleh.Rivan berdiri beberapa langkah darinya dengan senyum lebar. Entah sejak kapan pria itu kembali muncul

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status