Share

Bab 7

Penulis: Blessy
Keesokan harinya saat Tracy sedang sarapan, Thomas tiba-tiba pulang dengan tergesa-gesa.

"Tracy, dua hari ini aku ada urusan dan harus ke luar negeri."

Tracy agak terkejut. "Secepat itu?"

Terlihat langkah Thomas tidak berhenti sama sekali. Tak lama kemudian, dia sudah membereskan kopernya.

"Klien mendesak. Tracy, kamu yang patuh di rumah ya, tunggu aku pulang." Sambil berkata demikian, Thomas kembali berjongkok dan mengelus perut Tracy dengan lembut.

"Sayang, harus nurut di rumah ya. Papa akan pulang beberapa hari lagi. Jangan merepotkan Mama selama Papa pergi."

Setelah itu, Thomas berdiri dan mengecup kening Tracy. "Tunggu aku pulang."

Saat Thomas berbalik, Tracy menarik tangannya.

"Thomas, di hari pesta ulang tahunmu nanti, kamu akan pulang, 'kan?"

Thomas tertegun sejenak, berpikir sebentar, lalu tersenyum. "Aku akan pulang."

Tracy mengangguk. "Kamu harus pulang. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu."

Senyuman Thomas semakin lebar. "Benarkah? Aku jadi sangat menantikannya!"

Sudut bibir Tracy terangkat, tetapi senyumannya tidak sampai ke mata. "Aku juga sangat menantikannya."

Thomas tidak memperhatikan ekspresi Tracy, hanya memeluknya. "Tracy, maaf. Dua hari ini aku nggak bisa menemanimu. Setelah aku pulang, aku pasti akan menebusnya dengan baik."

Tracy mendorong Thomas menjauh. "Pergilah."

Baru saat itu Thomas menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi Tracy. Dia merasa sedikit gelisah dan buru-buru menggenggam tangan Tracy. "Tracy, tunggu aku di rumah."

Tracy tidak menjawab, hanya mendesaknya agar segera pergi.

Melihat tatapan Tracy yang dingin, hati Thomas diliputi sedikit kepanikan. "Tracy ...."

Thomas masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berbunyi. Setelah mengangkat telepon dan menjawab beberapa patah kata, dia kembali menatap Tracy dengan khawatir.

"Tracy, gimana kalau ...." Ucapan Thomas terhenti, seolah-olah dia sendiri tidak tahu harus berkata apa.

Tracy tersenyum tipis, berjalan mendekat ke hadapan Thomas. Seperti yang selalu dia lakukan selama tiga tahun ini, dia merapikan kerah baju Thomas dengan lembut. "Klien lebih penting. Pergilah dulu, tapi kamu harus pulang untuk pesta ulang tahunmu."

Ponsel Thomas terus bergetar. Melihat Tracy tampak normal kembali, Thomas pun pergi dengan tergesa-gesa.

Sebelum pergi, Thomas menoleh ke belakang. Dia melihat Tracy berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut ke arahnya.

Hati Thomas tiba-tiba menegang, seolah-olah begitu dia pergi kali ini, dia tak akan pernah bertemu Tracy lagi. Dia menggeleng, menepis kegelisahan di hatinya, lalu berbisik untuk menenangkan diri.

"Tracy bahkan sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untukku. Jangan mikir yang aneh-aneh. Lagi pula, Tracy juga nggak tahu keberadaan Yasmin. Apa alasan dia untuk pergi?"

Setelah memikirkannya, Thomas pun merasa lega.

Setelah mengantar Thomas pergi, Tracy membuka ponselnya. Di sana ada pesan dari Yasmin yang dikirim pagi ini. Thomas akan menemaninya ke luar negeri untuk mengurus pernikahan.

Sudut bibir Tracy menampilkan senyuman dingin, lalu dia membalas dengan satu kata.

[ Selamat. ]

Dia kembali ke ruang makan dan menghabiskan sarapannya dengan tenang. Setelah itu, dia mulai membereskan kopernya.

Saat masuk ke ruang ganti, dia membuka pintu paling dalam. Sebuah gaun pengantin yang dibuat dengan sangat indah langsung terlihat.

Dia masih ingat betul ekspresi bangga Thomas saat membawanya melihat gaun pengantin ini. Thomas menggenggam tangannya dan menjelaskan detail gaun itu kepadanya.

"Lihat, Tracy, bagian ini menggunakan sutra dan renda kualitas tertinggi, juga banyak batu permata dan kristal."

"Aku meminta desainer paling terkenal dari Idari untuk menjahitnya secara manual. Baru saja diterbangkan khusus ke sini. Di seluruh dunia hanya ada satu!"

Saat itu, Tracy bercanda dengan manis, "Apa nggak bakal berat?"

"Ada aku!"

Kenangan itu masih jelas di benaknya, tetapi sekarang Thomas pasti sudah menyiapkan satu gaun pengantin baru dengan penuh perhatian untuk Yasmin.

Tracy memalingkan pandangan, lalu melihat mahkota platinum putih di samping gaun itu. Setelah tiga tahun berlalu, Tracy tetap merasa mahkota itu begitu indah.

Dia mengangkat mahkota tersebut. Di dalam permata-permatanya, terpantul bayangan dirinya yang terdistorsi. Dia tak ingin melihatnya lagi, lalu meletakkan kembali mahkota itu ke dalam kotaknya.

Dia juga mengumpulkan semua perhiasan yang dibelikan Thomas selama bertahun-tahun dan menaruhnya bersama. Setelah itu, dia memanggil kepala pelayan.

Dia menunjuk gaun pengantin dan kotak perhiasan itu. "Jual semuanya, lalu sumbangkan semua uangnya."

Kepala pelayan tampak terkejut. "Nyonya?"

Tracy tersenyum menenangkan. "Biasanya juga nggak kupakai. Aku ingin menyumbangkannya untuk berbuat kebaikan."

Kepala pelayan hanya bisa mengangguk.

Saat kepala pelayan hendak pergi, Tracy tiba-tiba bertanya, "Oh ya, gimana persiapan pesta ulang tahun Tuan?"

"Semuanya sudah dipersiapkan sesuai permintaan sebelumnya."

"Baik, sisanya biar aku yang atur sendiri."

Masih tersisa tiga hari sebelum pesta ulang tahun Thomas. Setelah Tracy menyelesaikan urusan pengalihan restoran, dia pun fokus mempersiapkan pesta ulang tahun Thomas.

"Daftar tamu sudah aku sesuaikan, cetak undangan beberapa set lagi."

"Siapkan layar besar di lokasi acara, nanti akan diputar beberapa video."

"Kali ini, pesta ulang tahun akan menggunakan jalur perusahaan dan disiarkan langsung sepanjang acara."

Kepala pelayan tidak mencurigai apa pun dan menyiapkan semuanya sesuai permintaan Tracy.

Waktu berlalu dengan cepat, hingga tibalah hari pesta ulang tahun Thomas. Tracy mengambil inisiatif menelepon Thomas.

"Kapan kamu kembali?"

"Tracy, aku baru saja turun dari pesawat, sekarang lagi menuju Hotel June. Jangan khawatir."

Nada suara Thomas terdengar agak kesal. Beberapa hari ini Yasmin terus menempel padanya, sehingga dia terpaksa menunda waktu kepulangan berkali-kali. Baru pada hari pesta ulang tahunnya, dia akhirnya kembali.

"Thomas." Suara Tracy terdengar lembut.

"Tracy, tunggu aku sebentar, aku akan segera sampai."

Tracy berdiri di luar bandara, melihat Thomas berjalan dengan tergesa-gesa dari kejauhan. Dia memperlihatkan senyuman dingin.

"Thomas, kamu nggak perlu terburu-buru. Kejutan yang kusiapkan untukmu ada di sana, nggak akan ke mana-mana."

Setelah menutup telepon, Tracy berbalik dan berjalan menuju pintu keberangkatan tanpa menoleh lagi.

'Semoga kamu menyukai kejutan yang kusiapkan untukmu. Selamat tinggal, Thomas.'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 23

    Sejak Thomas kembali ke negara asal, Tracy mulai fokus sepenuhnya mengurus restorannya sendiri.Dia hanya sesekali mengetahui kondisi Thomas lewat percakapannya dengan Shelly."Andai dia tahu hasilnya akan seperti ini, mana mungkin dia melakukan semua itu dulu!"Tracy hanya tersenyum. Menelepon Shelly setiap hari sudah menjadi kebiasaan yang tak pernah berubah. Urusan tentang Thomas dia anggap seperti angin lalu, didengar sebentar lalu dilupakan.Melihat Tracy hanya tersenyum tanpa menanggapi, Shelly tahu bahwa Tracy sudah tidak ingin mendengar kabar apa pun tentang Thomas lagi. Jadi, dia pun mengganti topik."Tracy, hubunganmu dengan Julian gimana sekarang?"Begitu nama Julian disebut, rona merah cepat melintas di wajah Tracy. Sudah lebih dari setahun sejak dia resmi bercerai dari Thomas. Julian juga sudah mengejarnya selama lebih dari setahun."Shelly, menurutmu ... aku bisa percaya pada Julian?"Karena Thomas, Tracy sudah sangat kecewa dengan cinta. Jadi, meskipun selama setahun ini

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 22

    Thomas benar-benar dikirim kembali ke negara asal dengan aman oleh Julian.Hal pertama yang dia lakukan setelah kembali adalah menyuruh orang-orangnya menjemput David langsung ke rumahnya.Thomas duduk di kursi roda, didorong masuk ke ruangan. Saat melihat orang-orang di dalam ruangan itu, pupil mata Thomas langsung menyempit."Yasmin?""Tuan Thomas, kami menemukan David di vila pinggiran kota. Saat itu Yasmin ada di ranjang David, jadi kami membawa mereka berdua sekaligus."Thomas bukan orang bodoh. Seketika, dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Thomas hanya tersenyum tipis. "Siapa yang mau bicara duluan?"David tersenyum menjilat. "Kak Thomas, apa maksudmu? Aku sudah susah payah mengatur agar kamu sampai ke Germina, tapi kenapa setelah pulang dari sana kamu memperlakukanku seperti ini?"Thomas menepuk pahanya dan mencibir sinis. "Kedua kakiku ini adalah hadiah darimu. Masa aku nggak membalasnya sedikit?"Setelah berkata demikian, dia menyuruh para pengawal mengambil tongk

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 21

    Baru setelah Tracy berdiri di depan pintu rumah, dia akhirnya tersadar kembali."Tracy!" Suara cemas Kate terdengar dari belakang.Tracy menoleh, lalu melihat Kate berlari ke arahnya dengan dahi berkerut. "Katanya Thomas mencarimu?"Kate menarik Tracy, mengamatinya dari atas sampai bawah.Oscar mengikuti di belakang, alisnya berkerut rapat. "Entah bagaimana bajingan itu bisa menghindari pengawasan orang-orangku."Melihat wajah orang tuanya yang penuh kecemasan, hati Tracy terasa hangat. "Tadi Julian ada di sisiku, Thomas sama sekali tidak menyentuhku. Ayah, Ibu, tenang saja."Oscar mengangguk sambil mengerutkan kening. "Aku sudah dengar. Besok kita pergi ke rumah Keluarga Bahari untuk berterima kasih pada Julian."Tracy tersenyum sambil mendorong orang tuanya kembali ke kamar. "Kalian tenang saja, aku benaran nggak apa-apa."Sementara itu, setelah Thomas dikawal naik ke mobil oleh pengawal Keluarga Indrawan, sebelum sempat sampai ke bandara, terjadi kecelakaan mobil.Saat Thomas terban

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 20

    Tracy mengangguk kepada para pengawal Keluarga Indrawan yang sejak tadi sudah mengepung. Para pengawal pun maju dan menyeret Thomas pergi.Thomas seolah-olah benar-benar terpukul, sampai-sampai tidak mengucapkan sepatah kata pun saat dikawal masuk ke mobil."Nona, maafkan kami. Bocah ini nggak datang dengan pesawat. Saat kami menemukan jejaknya, dia sudah memasuki wilayah Germina."Pengawal yang memimpin melihat Thomas dibawa masuk ke mobil, lalu segera berlari ke hadapan Tracy untuk meminta maaf."Ini kelalaian kami, sampai membuat Nona terkejut."Tracy menggeleng. "Nggak apa-apa. Terima kasih atas kerja keras kalian."Setelah para pengawal membungkuk dan pergi, Tracy tersenyum canggung ke arah Julian. "Maaf, konyol sekali ya. Dia mantan suamiku. Aku memergokinya berselingkuh."Julian menggeleng, menandakan tidak masalah. "Yang penting kamu nggak sampai syok."Karena gangguan Thomas, Tracy juga sudah tidak berminat melanjutkan pemilihan lokasi. "Julian, maaf. Hari ini aku nggak ada mo

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 19

    Sejak Tracy dan Julian saling bertukar kontak, Julian jadi sering mengundang Tracy untuk bertemu dengan alasan konsultasi.Orang tua Keluarga Bahari tentu memahami maksud putra mereka, jadi membiarkannya saja.Hari itu, Tracy justru yang mengundang Julian untuk menemaninya melihat lokasi calon restoran baru.Karena itu, Julian datang lebih awal ke rumah Keluarga Indrawan."Om, aku datang mencari Tracy." Julian menyerahkan hadiah yang dia siapkan untuk Oscar dan Kate kepada pelayan, lalu menyapa Oscar yang duduk di sofa.Oscar melirik Julian sekilas, lalu mengangguk.Kebetulan Tracy turun dari lantai atas. Dia sedikit terkejut melihat Julian. "Bukannya kita janjian ketemu di restoran?""Pagi tadi ada sedikit urusan. Kebetulan lewat sini, jadi kupikir sekalian menjemputmu." Sebenarnya Julian memang sengaja datang, tetapi karena dia mengatakannya dengan serius, Tracy pun tidak berpikir terlalu jauh.Setelah bersiap sebentar, Tracy pun berangkat bersama Julian."Aku sudah meninjau ruko di

  • Janji Kosong Suami Pengkhianat   Bab 18

    Thomas terpental keras akibat tabrakan. Para pejalan kaki yang terkejut segera menelepon ambulans.Saat Thomas dilarikan ke rumah sakit, dia sudah tidak sadarkan diri. Untungnya dia jatuh ke area taman hijau sehingga tidak sampai mengancam nyawa.Rendy bergegas ke rumah sakit dan melihat Thomas terbaring tak sadarkan diri di ranjang. Hatinya terasa sakit hingga dia terkulai lemas di kursi.Ketika Thomas membuka mata, yang pertama dia lihat adalah wajah Rendy yang penuh kekhawatiran. "Ayah."Rendy segera mendekat ke sisi Thomas. "Dasar bocah, kamu hampir membuat ayahmu mati ketakutan.""Ayah, aku mohon, tolong carikan Tracy ya?" Suara Thomas terdengar lemah.Hati Rendy terasa perih. Dia hanya bisa mengangguk berulang kali dan menyetujuinya.....Di sebuah vila di pinggiran kota, Yasmin berbaring di sofa. Kepalanya bersandar di paha seorang pria.Pria itu menggigit sebatang rokok. Tatapannya muram. Dialah David, orang yang memperkenalkan Yasmin kepada Thomas."Belum mati?" Begitu mendeng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status