Share

Bab 4

Penulis: Soni
Kediaman tempat tinggal kami mulai ramai.

Semua orang sibuk mempersiapkan acara pernikahan beberapa hari lagi.

Di tengah kesibukan itu.

Sebuah surat undangan dikirimkan ke rumah.

Itu adalah pesta satu bulan kelahiran anak dari nyonya Keluarga Jardi, teman baikku.

Aku tidak bisa menolaknya, jadi aku mengiyakannya.

Esok harinya saat pagi-pagi sekali.

Aku membawa hadiah ke Kediaman Jardi.

Sahabatku, Rika Jardi, mengerutkan dahi saat melihatku.

"Kenapa mukamu pucat sekali?"

Aku tersenyum tipis.

"Beberapa hari lalu sempat kena angin dingin, tapi sekarang sudah sembuh kok."

Rika tidak percaya. Dia dan aku sama-sama berasal dari perbatasan, tapi sifatnya lebih galak dariku.

"Aku dengar Gofar bawa seorang wanita dari Jakari, mau mengangkatnya jadi selir. Tenang saja, aku pasti bakal melampiaskan kekesalanmu ini."

Begitu kata-kata itu diucapkannya, aku merasa ada hal yang tidak beres.

Aku baru mau buka mulut, seseorang mendadak menerobos masuk.

Wajahnya penuh ketakutan.

"Nyo ... Nyonya, gawat!"

"Anjing pemburu itu mendadak mengamuk, lepas dari ikatan, lalu kabur!"

Wajah Rika seketika berubah drastis.

"Aku cuma nyuruh kalian menakut-nakutinya, kenapa bisa sampai lepas? Sekarang kalian masih diam saja buat apa, cepat tangkap kembali anjing itu!"

Sewaktu di perbatasan dulu, Rika memang suka sekali memelihara anjing pemburu.

Walau anjing-anjing itu biasanya penurut, tapi kalau berdiri, tingginya seukuran orang dewasa.

Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kalau Amel, seorang wanita lemah, bertemu anjing seperti itu.

Wajah Rika pucat pasi karena ketakutan.

"Listya, anjing itu biasanya penurut sekali. Aku cuma mau menakut-nakutinya saja, kenapa tiba-tiba bisa mengamuk?"

Aku menggenggam tangannya.

Di dalam hati aku juga tidak tahu harus bagaimana.

Cuma bisa berharap ini hanya ketakutan yang tidak terbukti.

Tapi mendadak, suasana di pintu depan menjadi keruh.

Beberapa orang dari kantor pemerintahan menerobos masuk sambil membawa tombak.

Suasana pesta yang tadinya ramai seketika menjadi hening.

Orang di barisan depan mengeluarkan surat penangkapan.

Katanya aku sengaja melepas anjing hingga melukai orang.

Kaisar memberi perintah untuk menangkapku dan membawaku kembali.

Melihat Rika hendak berdiri untuk membelaku, aku langsung menahannya.

Hari ini adalah pesta satu bulan anaknya, aku tidak ingin merusak acaranya.

"Tenang saja, ini bukan masalah besar. Aku cuma pergi sebentar lalu pulang lagi."

Setelah menenangankannya, aku mengangkat ujung gaun dan bersiap naik ke kereta.

Prajurit di sampingku justru mengeluarkan rantai belenggu, memberi isyarat hendak memasangkannya padaku.

"Kalian tahu tidak siapa Nyonya kami? Berani-beraninya memperlakukannya begini, apa kalian sudah bosan hidup?"

Nelly marah sekali, lalu pasang badan di hadapanku.

Aku mendongak, menatap para prajurit di hadapanku, suasana seketika menjadi tegang.

Setelah sekian lama, aku mendorong Nelly pelan, lalu mengulurkan tangan membiarkan mereka memasang rantai itu.

"Nyonya?"

Nelly menangis sampai matanya merah sekali.

"Pulanglah ke rumah."

"Iya, benar! Aku bakal pulang cari Tuan, beliau pasti bakal membelamu!"

Usai bicara, Nelly langsung berlari kencang.

Menatap jalannya yang terhuyung-huyung, aku ingin tertawa.

Tapi, mukaku justru terlihat lebih menyedihkan daripada menangis.

Nelly tidak tahu kalau mencari Gofar itu tidak ada gunanya.

Wajah beberapa prajurit di sini pernah kulihat di samping Gofar.

Itu artinya dia sudah tahu soal masalah ini.

Hanya saja, aku tidak paham kenapa masalah ini bisa sampai terdengar oleh Kaisar.

Tapi, tidak lama kemudian aku baru mengerti.

Kaisar berkunjung ke kediaman untuk menjenguk Gofar, tapi kebetulan melihat Amel sedang dikejar anjing pemburu.

Di saat kritis, Gofar memanah anjing itu sampai mati.

Makanya tidak sampai memicu bencana besar.

Tapi, kaisar yang sekarang sangat baik hati dan tidak suka melihat tindakan semena-mena seperti itu.

Beliau marah besar dan memerintahkan penyelidikan ketat.

Para pelayan di Kediaman Jardi tidak berani bicara jujur.

Mereka hanya bilang aku memanfaatkan kebaikan nyonya mereka.

Aku pun dikurung di dalam penjara.

Penjara itu gelap dan pengap, keempat dindingnya dingin dan lembap.

Rasa takut dan ketidakberdayaan menyelimutiku dengan rapat.

Sampai terdengar suara pintu penjara didorong terbuka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 17

    Kalimat yang diucapkannya ini bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah kepastian.Seolah seluruh tenaganya sudah terkuras habis.Aku juga terkulai lemas di atas tempat tidur.Sinar lilin di kamar sudah padam.Kami saling bertatap mata.Begitu dekat hingga bisa melihat bayangan diri sendiri di mata masing-masing.Dia tidak salah ucap.Sebenarnya sejak awal, aku sudah tahu Gofar berpura-pura gila.Sewaktu muda dia sudah ikut ayah dan kakaknya ke medan perang.Adegan yang jauh lebih berdarah pun sudah pernah dia lihat.Umur sepuluh tahun, kepala ayah dan kakaknya dipenggal musuh di hadapan matanya.Esok harinya dia sudah bisa menyuruh orang membakar lumbung pangan musuh tanpa mengubah raut wajah.Dia pernah melihat adegan semengerikan itu.Bagaimana mungkin cuma karena Amel membohonginya, lalu dia bisa gangguan jiwa?Dia meraih kejayaan sewaktu muda, menanggung banyak penderitaan.Mengalami banyak kepahitan yang jarang dilihat orang lain.Kalau dihitung-hitung, aku seharusnya menjadi saksi s

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 16

    Aku tidak pernah mengira masalah ini akan sampai seperti ini.Semua orang bilang Gofar gangguan jiwa.Bahkan tabib istana utusan Kaisar sudah datang memeriksanya beberapa kali.Mereka hanya bilang, emosinya jangan dipancing dulu sekarang.Kalau didampingi orang dekat, masih ada kemungkinan untuk pulih.Tapi sewaktu dia masih muda, ayah dan kakaknya sudah gugur di medan perang.Ibunya bahkan sudah masuk ke kuil, sejak saat itu memutuskan hubungan duniawi sepenuhnya.Seketika itu juga, di dunia ini ternyata cuma aku yang paling dekat dengannya.Kaisar selalu mengingat jasa dan kontribusi Keluarga Gofar bagi negara.Sekarang kaisar hanya bisa memintaku mengalah untuk mendampingi di sisinya.Berputar-putar kembali, Kota Kana ini benar-benar menjadi sangkar yang mengurungku.Hanya saja, kali ini aku tidak menghadapinya seorang diri lagi.Reno dan Ibu yang mendengar kabar ini langsung bergegas menuju ke Kota Kana.Aku tidak menahannya.Gofar sebenarnya tidak gila sepenuhnya.Dia cuma tidak b

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 15

    Gofar terbangun di tengah malam.Di sisinya tidak ada bayanganku.Dia agak linglung. Semalam dia ingat betul dirinya memelukku.Tapi, sesaat kemudian dia mendadak sadar sepenuhnya.Dia ternyata salah mengenali orang.Rasa penyesalan menyelimutinya berlapis-lapis.Dia tidak sanggup menahan diri untuk menampar mukanya sendiri.Tapi, begitu teringat pada Amel, dia merasa agak bersalah.Makanya dia bangun hendak mencari Amel.Baru saja sampai di pekarangan, dia melihat Amel berdiri di sudut ruangan.Sebelum dia sempat bersuara.Suara lain terdengar dari balik bayangan."Sudah dicari tahu belum, apa Listya benar-benar sudah kembali?"Cahaya bulan yang terang memancarkan bayangan di wajah Amel.Membuat separuh wajahnya tenggelam dalam kegelapan.Malam makin pekat, dirinya juga tampak sedikit mengerikan seperti iblis."Sudah kembali dari dulu! Bagaimana sih caramu bekerja? Bukannya dulu kamu bilang dia sudah mati, kok bisa-bisanya sekarang pulang dengan baik-baik saja?"Bayangan hitam menekan

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 14

    Aku tersenyum."Gofar, di dunia ini tidak ada orang yang tidak bisa hidup kalau kehilangan orang lain, tiga tahun ini bukannya sudah jadi bukti nyata?"Gofar tertegun."Kamu bilang tidak bisa hidup tanpa aku, bukan karena kamu sangat mencintaiku, tapi cuma karena aku bukan milikmu lagi.""Sikapmu padaku begini, pada Amel juga sama saja."Aku berhenti sejenak lalu kembali bersuara."Dulu kamu bilang cuma bakal mencintai aku seorang, lalu waktu pergi ke Jakari kamu bawa pulang Amel. Saat itu, matamu juga memancarkan rasa cinta padanya, jelas-jelas kami berdua ada di hadapanmu, tapi hatimu selalu condong padanya.""Soal masalah penjara waktu itu, apa kamu benar-benar tidak punya niat pribadi sama sekali? Kamu cuma ingin melihatku tunduk dan mengaku salah, cuma tidak menyangka aku bakal hampir kehilangan separuh nyawaku gara-gara itu."Wajah Gofar makin pucat.Dia ingin mengatakan sesuatu, bibirnya terbuka, tapi pada akhirnya tidak ada satu kata pun yang terucap."Kamu terus-menerus menemp

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 13

    Gofar mengenakan jubah panjang warna biru tua.Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebelumnya.Begitu melihatku, sudut matanya seketika memerah.Rika pernah memberitahuku, setelah aku pergi, Gofar berubah seperti orang yang berbeda, dia tidak pernah menunjukkan wajah ramah pada siapa pun, alhasil bertahun-tahun ini sudah menyinggung banyak orang.Berhubung keberadaanku sudah ketahuan, aku tidak perlu bersembunyi lagi.Pandangan kami bertabrakan, aku bersuara pelan."Sudah lama tidak bertemu."Suaranya sangat serak, seluruh tubuhnya gemetaran karena terlalu emosional."Aku sudah tahu, kamu tidak mati! Maafkan aku, waktu itu aku salah sangka, aku tidak seharusnya ambil keputusan secara gegabah hanya karena melihat liontin giok itu.""Listya, apa kamu masih benci aku? Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau mereka bakal lancang menyiksamu."Aku pernah memikirkan masalah ini sebelumnya.Soal apakah aku membenci Gofar atau tidak.Kalau bilang tidak benci itu terlalu munafik.Dua kehidupa

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 12

    Setelah tubuhku pulih total.Aku mulai membantu adikku, Reno Sukowati mengurus bisnis.Perbatasan terletak dekat dengan Barata, orang-orang di sana sangat menyukai rempah-rempah.Sejak kecil adikku tidak suka berlatih pedang atau tombak.Dia cuma tertarik pada uang.Keluarga kami tidak pernah mewajibkan semua anak laki-laki harus pergi ke medan perang.Makanya bisnis yang dijalankannya terbilang lumayan besar.Hanya saja, sewaktu awal aku mengusulkan untuk membantu mengurus bisnis Reno, ibu menentang keras.Hanya karena bisnis Reno menuntut untuk bepergian jauh ke utara dan selatan, Ibu mengkhawatirkan kondisi tubuhku.Belakangan setelah kakakku, Dimas, dan Reno membujuknya berulang kali.Barulah ibu menyetujuinya dengan berat hati.Hari saat berangkat.Ibu memasangkan jubah tebal warna merah padaku, matanya berkaca-kaca penuh air mata."Listya, kalau kamu lelah, kirim saja surat ke rumah, ibu akan suruh Dimas untuk jemput kamu."Melihatnya bicara sambil mau menangis lagi.Reno memasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status